
Ren Yuan yang menonton dari kejauhan cukup tercengang dibuatnya, bola mata gadis itu bergerak mencoba memerhatikan lebih jelas karena merasa dirinya telah salah melihat. Namun teriakan Zhuan Ang memperjelas bahwa yang dia lihat tadi bukan kebohongan.
"Kau-!? Ini pasti tipu dayamu! Aku tidak mau pakai tongkat kayu menyedihkan ini!" teriak Zhuan Ang melempar kayu di tangannya sembarangan, dia menarik pedang.
"Oh, oke. Kayu lawan pedang. Aku juga tidak keberatan," kata Xin Fai.
Walaupun Zhuan Ang memakai pedang setajam apapun, Xin Fai kurang lebih sudah tahu bagaimana cara menangkis mata pedang agar tak membelah tongkat kayunya. Dengan pengalamannya bertarung dengan pembunuh bayaran untuk menyelamatkan Putri Kaili dulu, melawan Zhuan Ang dengan kayu bukan masalah besar lagi baginya.
"Kau meremehkanku!?" Zhuan Ang terbakar emosinya sendiri. "Dasar tidak tahu malu, mempermalukanku seperti ini di hadapan Nona Ren!"
Zhuan Ang melesat maju, pedangnya bertemu dengan tongkat Xin Fai. Selama pertukaran serangan beberapa menit kayu yang menjadi senjata lawannya sama sekali tak mengalami kerusakan.
Xin Fai memainkan tongkat kayu dengan tempo semakin cepat hingga Zhuan Ang sulit menandinginya.
Melihat teknik pedang Xin Fai ternyata lebih tinggi darinya Zhuan Ang hanya bisa mengutuk keras dalam hati, dia masih belum mengakui kehebatan Xin Fai dan ingin terus melakukan perlawanan.
"Sudahlah cukup main-mainnya."
Setelah mengatakannya tongkat Xin Fai menepis pedang milik Zhuan Ang, pedang pemuda itu tertangkis kuat hingga lepas dari tangannya dan menancap ke tanah.
Ren Yuan makin melotot melihat temannya mengalami kekalahan, padahal jika di dalam sekte Gunung Angin Timur kekuatan Zhuan Ang termasuk lima besar.
Begitupun dengan Gong Li hatinya tak terima sahabatnya dikalahkan oleh seorang bocah yang umurnya bahkan lebih muda dari mereka, apalagi dia bukan berasal dari keluarga bangsawan.
Amarah dalam diri Gong Li memuncak, dia menarik pedangnya dengan cepat dan tanpa aba-aba berlari ke arah Xin Fai. Kecepatannya setara dengan Langkah Cahaya, meski baru memasuki tahap tersebut.
Xin Fai memutar langkahnya dan menghadap ke arah serangan Gong Li, tongkat dan pedang beradu selama beberapa detik hingga akhirnya timbul bunyi retakan.
Xin Fai mundur beberapa langkah. "Sangat menyebalkan, saat temanmu kalah dan malu begini baru kau menolongnya? Bukankah dari awal sudah kubilang kau saja yang maju sehingga temanmu ini tak perlu merasakan kekalahan dariku?"
"Tutup mulutmu, sialan!" Zhuan Ang juga terpancing emosinya dibuat Xin Fai yang kini tergelak melihat wajahnya, dia ingin sekali mencakar wajah Xin Fai saat ini juga.
__ADS_1
"Hahahaha... Lucu sekali melihatmu kalah sampai sewot seperti itu. Mana gaya sok hebatmu tadi? Aku ingin melihatnya sekali lagi," ejeknya semakin menjadi-jadi.
Zhuan Ang ingin sekali menggunakan kata-kata kotor namun Gong Li lebih dulu menahannya.
Gong Li masih saja terdiam di tempatnya tak bergeming, saat Xin Fai menahan pedangnya menggunakan tongkat kayu dalam beberapa detik dia mulai menyadari ada banyak kekuatan aneh mengalir di dalam tubuh Xin Fai.
Meskipun tak mendapati aura pembunuh dari tubuh Xin Fai, namun Gong Li bisa merasakan aura siluman di sekitarnya.
Gong Li menepis pikiran itu, dia memegang gagang pedang dengan mantap. "Sekarang aku yang akan jadi lawanmu," ucap Gong Li dengan air muka serius.
Xin Fai bergantian menghadapi Gong Li, gerakan yang dia perlihatkan sejak tadi membuat Ren Yuan terkagum-kagum tanpa dia sadari, gadis itu menikmati permainan pedang Xin Fai dari kejauhan.
Sebaliknya Gong Li mengumpat-umpat dalam hati, ternyata saat melawan Zhuan Ang, Xin Fai hanya mengeluarkan sebagian kekuatannya agar setara dengan temannya itu. Saat menghadapi Gong Li kekuatan yang dikeluar Xin Fai menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
'Sial!' umpat Gong Li dalam hati, dia mundur sejenak membaca situasi, jika dilihat-lihat lagi Xin Fai sama sekali tak membuat celah.
"Anak ini... Siapa kau sebenarnya?"
"Aku? Aku Xin Fai."
"Tapi aku tak pernah mendengar nama itu... Apa dia sengaja menyembunyikan identitasnya? Boleh kutahu, kau berasal dari sekte mana?" tanya Zhuan Ang mulai menurunkan intonasi berbicaranya menjadi lebih sopan, setelah melihat Xin Fai dapat bertarung seimbang dengan Gong Li yang lebih kuat darinya, Zhuan Ang merasa harus menjaga sikap mulai sekarang jika tak ingin mendatangkan masalah di kemudian hari.
"Sekte Kuil Teratai. Aku berasal dari sana."
Gong Li maupun Zhuan Ang sama-sama berpikir keras, satu-satunya nama dari sekte Kuil Teratai yang pernah mereka dengar adalah Shen Xuemei.
"Sudah jelas, kan? Kalian bisa pergi dari sini kalau kalian mau, aku tak ingin mencari masalah lagi." Xin Fai berkata pelan namun masih bisa terdengar.
Saat Xin Fai hendak berjalan meninggalkan mereka mendadak Gong Li menahan lengannya, dia berbicara dengan lantang setelahnya.
"Aku tidak bisa menerima ini, siapa yang menang juga belum jelas. Mari kita bertarung sekali lagi untuk menentukan siapa pemenangnya."
__ADS_1
Xin Fai menghela napas berat sembari memegang kepala. "kau sungguh keras kepala, ya? Orang-orang dari keluarga bangsawan memang semuanya keras kepala."
Sindiran itu tetap mengundang kemarahan di hati kedua pemuda itu, namun mereka memilih diam tanpa mengatakan apapun.
"Baiklah, kalian berdua mau melawanku sekaligus juga aku tidak keberatan."
Penawaran Xin Fai langsung disetujui Zhuan Ang tanpa pikir lebih panjang, dia tak peduli Gong Li hendak memprotes di sampingnya. Yang kini dia pikirkan adalah bagaimana cara mengalahkan Xin Fai.
Baik Gong Li maupun Zhuan Ang memasang kuda-kuda, mereka kali ini lebih serius dari sebelumnya.
Gong Li memerhatikan gerak-gerik Xin Fai lebih lama, pertanyaan bagaimana tubuh Xin Fai bisa tembus ketika bertarung dengan Zhuan Ang tadi masih berkelebatan di kepalanya.
Zhuan Ang maju disusul Gong Li, mereka memasang formasi serang yang cukup ampuh untuk menyudutkan musuh dalam duel dua lawan satu.
Langkah Xin Fai mundur dan semakin mundur diakibatkan serangan gencar-gencaran yang dilepas dua pemuda itu. Meskipun mundur sampai beberapa langkah namun dia tak panik, tetap tak membiarkan satupun serangan pun masuk menyentuh tubuhnya.
Keadaan imbang tersebut berlangsung agak lama, Ren Yuan menonton dengan mata lebar. Terasa sedikit rasa kagum saat melihat gerakan Xin Fai yang memiliki pola serangan layaknya air terjun, tak terputus-putus.
Di sisi lain saat Ren Yuan sedang menonton pertarungan dua lawan satu ini, seorang pria berusia 40-an juga sedang menonton mereka dari kejauhan.
'Hm, lumayan juga teknik berpedangnya.' batin lelaki misterius itu menikmati tontonan di depan sana.
Keadaan Xin Fai semakin terpojokkan membuat Gong Li maupun Zhuan Ang merasa di awan-awan.
Zhuan Ang yang merasa sangat senang akhirnya berbicara dengan nada menyombongkan diri.
"Bagaimana? Bagaimana? Hahaha lihatlah kau sama sekali tak berbicara setelah dibuat terpuruk begini. Mana kata-kata bualanmu tadi?"
Gong Li menyambut. "Ch, omongannya saja besar. Lihatlah betapa menyedihkannya rakyat jelata ini."
Tak mendengar jawaban akhirnya mereka semakin mempercepat laju serangan, belasan jurus saling beradu selama beberapa menit.
__ADS_1
Saat itu juga Gong Li menyadari ada sesuatu yang salah, dia mengerutkan keningnya.
***