
"Hey sob, kau pernah membuat pedang dari cakar naga?" Tanya mael setelah tiba di hutan garo.
Teo menyilangkan kedua lengannya, "apakah pernah kita membuat pedang selain dari biji besi?"
"Itu adalah pemberian dari glador untukmu, jadi aku cuma akan membantumu. Aku tidak mau berfikir terlalu keras dan akhirnya malah membuat pedang untukku sendiri. Tapi menurutmu kenapa Glador mengangkat kita jadi murid?" Dengan raut muka yang sangat datar Teo mengarahkan pandangannya keatas langit.
"Aku hanya ingat waktu memukul kepalanya lalu menebaskan pedang hitam ini, setelah itu aku tidak tau kelanjutannya. Mungkin kakek yang disana waktu itu berbicara sesuatu sampai glador mengangkat kita menjadi murid. Tapi sampai ia memberikan cakarnya, aku tidak tau apa yang ia pikirkan," Teo terus membahas masalah itu dalam perjalanan pulang.
Menanggapi pembicaraan Teo, Mael hanya tertawa dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sang surya semakin redup, bulan semakin terang memancarkan sinarnya. Mael dan Teo Telah tiba dirumah yang disediakan Leo.
__ADS_1
Setelah meletakan barang bawaan mereka, kedua sahabat itu hanya terdiam karena tidak tau apa yang terjadi siang itu. Entah keberuntungan atau malah mala petaka yang akan datang.
"Aku akan segera ke bengkel. Kau mau ikut?" Ajak Mael karena ia ingin segera menyelesaikan pedangnya.
Teo tampak sangat pucat dan ingin segera merebahkan tubuhnya, "tidak. Aku akan beristirahat. Tubuhku seakan akan sudah hancur. Kau bisa menyelesikan pedangmu sendiri. Aku yakin itu."
"Ayolah sob, kawanmu ini membutuhkan bantuanmu. Kau sudah mendapat pedang aneh itu. Dan pedang aneh itu terlihat sangat kuat." Pendapat Mael tidak didengar oleh Teo. Mael segera meninggalkan Teo begitu ia tau Teo sudah memejamkan matanya.
Di bengkel tempat biasa mael membuat pedang, ia hanya membolak balik cakar naga dari glador. Mael tidak tau apa yang harus ia lakukan.
"Apa yang akan aku lakukan dengan ini? Perintah Glador cuma membuat pedang. Cukup sederhana tapi kenapa hal itu membuatku bingung. Ahhhh... aku pusing memikirkannya. Lebih baik aku tidur, badanku juga terasa akan hancur," gumam Mael yang terus mengamati cakar itu.
__ADS_1
Keesokkan harinya Teo memeriksa bengkel dan melihat Mael yang terus melihat cakar naga dari Glador.
"Hey sob, sudah sampai mana kau berfikir? jika kau cuma melihat dan memikirkan cakar itu terus, pedang tidak akan jadi dengan sendirinya." Teo menarik pundak dari Mael dan betapa kagetnya ia saat melihat wajah mael. "Astaga dragon, kau belum tidur atau terlalu banyak menhayal?" Melihat Mael yang begitu kusut mukanya.
Mael tidak bisa tidur walau sudah mencoba untuk tidur.
"Sob, bantulah aku berfikir! Aku tidak tau apa yang akan aku lakukan. Aku tau terlalu banyak berfikir tidak akan membuat cakar ini jadi pedang. Tapi aku benar benar bingung. Ayolah, bantu aku sob!!!" Mata Mael begitu tampak kelelahan dan menatap Teo penuh harap.
Teo mengerutkan alisnya dan menarik Mael keluar gudang. "Cepat pergi mandi. Kita akan ke kota mencari pembuat pedang pembunuh naga."
Mendengar ucapan Teo, Mael berjalan terseok seok menuju kamar mandi.
__ADS_1
Teo menunggu Mael dan sudah menyiapkan segala hal yang akan dia bawa ke kota, termasuk pedang buatan mereka yang tersisa untuk dijual. Tak lupa Teo membungkus pedangnya dengan kain putih seperti nasehat Leo ketika akan berpisah.
"Hemmmm, lama sekali kutu kupret itu. Mandi atau mati dia?" Gumam Teo sambil memasukan cemilan kedalam mulutnya.