
"Setiap satu tahun sekali cuaca ekstrem akan datang melanda, bisa dua kali setahun atau bahkan lebih. Biasanya kalau kau melihat di arah mata angin Utara akan ada topan besar yang merangkak ke atas langit, dia menggulung–dan sangat mengerikan."
Palma menceritakannya sambil bergidik ngeri, dia memang tahu betul tentang apa yang diceritakannya ini. Dua tahun silam dirinya sempat bepergian hampir menuju bagian paling Utara tersebut dan melihat dengan mata kepala sendiri fenomena alam yang ganjil tersebut.
Bagi orang-orang sepertinya dia hanya akan menganggap fenomena tersebut sebagai wujud kemarahan alam.
"Topan besar yang menggulung ke atas? Lalu, apa kau memiliki peristiwa aneh yang terjadi akhir-akhir ini?" Xin Fai mengajukan pertanyaan berikutnya demi memastikan tebakannya benar atau salah.
Palma mengernyit lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada sepertinya. Memangnya kenapa?"
"Benar-benar tidak ada? Misalnya... Sesuatu yang berhubungan dengan es ataupun cuaca dingin ini?"
Lagi-lagi Palma menggelengkan kepalanya, dia mengatakan permintaan maaf. Sebenarnya Palma ingin sekali membantu Xin Fai tapi apa daya tidak terlalu banyak informasi yang dimilikinya.
Marcos masuk ke dalam setelah melepas sepatunya, seperti biasa lelaki itu menepuk salju-salju yang turut masuk bersamanya ke dalam rumah.
"Ah... Aku memiliki satu berita, entah ini akan berguna atau tidak..." Ucap Marcos sembari mendekat ke tempat mereka duduk.
"Akhir-akhir ini es di Kutub Utara mulai mengalami keretakan secara besar-besaran, ah, mungkin memang alam sedang marah. Aku pun tidak mengetahui bagaimana pastinya, kupikir kau membutuhkan informasi tentang ini."
"Ya, informasi itu sangat berguna. Terimakasih paman. Besok aku akan bersiap-siap pergi, terimakasih sudah mau mengijinkanku tinggal di sini."
Sontak Palma dan Marco saling bertatapan, padahal baru sehari pemuda itu tinggal di rumah mereka. Dan sekarang mengatakan akan segera pergi. Emilia mendekat padanya dan duduk di pangkuannya.
"Kakak sudah mau pergi?"
__ADS_1
"Tidak malam ini, mungkin besok pagi."
Sebenarnya Palma ingin sekali melarangnya pergi mengingat cuaca seminggu lagi akan berubah drastis, tapi dia tidak memiliki hak untuk mencegahnya pergi. Xin Fai hanya orang yang singgah, bukan anak laki-lakinya. Berbeda halnya dengan Marcos, laki-laki paruh baya itu mengeluarkan nasihatnya.
"Sebaiknya tunggu sampai tiga atau empat hari ke depan, Nak. Tidak ada apapun yang bisa kau cari di luar sana selain kematian."
"Justru kalau menunggu kesempatan itu akan hilang. Aku tetap akan pergi, tidak ada pilihan lain lagi." Sesaat setelah membalas dia tersenyum pada Marcos, berharap laki-laki itu mengerti tujuannya datang ke sini demi apa.
Marcos menarik napas berat sekali, dengan tak enak hati dia mengiyakannya. Dan hanya berharap pemuda itu memiliki umur panjang untuk bisa kembali ke rumahnya nanti.
*
Marcos, Palma dan Emilia mengantarkan kepergian pemuda itu sampai di luar rumah, badai salju membuat rambut mereka dipenuhi es yang putih. Sekilas dapat dilihatnya Emilia tersenyum dengan eskpresi khas akan kecil, senyum lebar itu terlihat sangat cantik untuk anak sekecil Emilia.
Di sisi lain Palma berdiri di belakangnya, terlihat sedikit khawatir tapi berusaha menyembunyikannya. Sedangkan Marcos hanya bisa pasrah, dia sudah menawarkan akan mengantarkan Xin Fai sampai ke tempat tujuan tapi pemuda itu menolak mentah-mentah. Mungkin dia memiliki rahasia yang tak seharusnya dilihat oleh orang biasa seperti Marcos dan keluarganya.
Saat Lang di sibukkan dengan serigala-serigala tersebut Xin Fai teralihkan ke arah lain. Dia menatapi dengan cermat bongkahan tanah es yang terlihat retak di depan sana, garis retakannya berbentuk lurus dan sedikit melintang.
"Mungkin tempat ini pernah dilewati Naga Es?" ujarnya sembari berpikir keras, dia dapat menebak Naga Es memang pernah memasuki tempat ini.
Tempat yang jaraknya agak jauh dari pemukiman manusia. Saat Naga Es tahu banyak manusia tinggal di sini dia segera berputar arah dan beranjak ke arah lain. Itu semua dapat Xin Fai lihat dengan jelas dari bekas jejak retakan yang dihasilkannya.
Lang berjalan pelan di atas retakan es, serigala tersebut dapat merasakan sebuah kekuatan tak biasa melindungi Kutub Utara ini dengan sangat hebat. Tak terbayangkan andai para manusia di sini tahu bahwa seekor Siluman Penguasa Bumi terkuat tinggal di sini mereka pasti takkan percaya.
Bongkahan es yang lebih besar terlihat di kejauhan sana, menjulang tinggi dan terlihat menakutkan. Xin Fai mengamati badai salju yang semakin kuat, tampaknya jalur darat terlalu sulit untuk mereka berdua tempuh.
__ADS_1
"Lang, kau masuk saja dulu. Kita takkan menempuh jalur darat."
Lang dapat mengerti situasi tak menguntungkan, angin yang membawa salju dalam skala besar tersebut hanya akan membuat tubuh mereka terdorong saat mencoba maju. Siluman itu kembali dalam wujud cahayanya.
Xin Fai segera beralih ke mode roh yang mana membuat tubuhnya sangat ringan, dia melayang menembus badai salju dan bergerak dengan kecepatan tinggi menuju Utara. Tampaknya dari ujung sana sebuah pergerakan besar sedang terjadi. Bunyi retakan lamat laun terdengar di telinganya yang tajam.
"Siluman Penguasa Es... Hari ini akan menjadi penentuan segalanya." Dia membatin, tangannya mengeluarkan cahaya biru yang sangat terang bahkan hingga membuat permukaan laut es bersinar akibat pantulan terangnya.
Sebuah kekuatan besar keluar dengan amat sangat cepat, kekuatan yang bersembunyi dalam tubuh Xin Fai tersebut membentuk sebuah naga kecil berwarna biru bening. Naga Air yang ukurannya sangat kecil itu mewaspadai sekitarnya saat mulai merasakan kekuatan Naga Es.
"Apa-apaan ini?!" Naga Air terkejut histeris.
"Memangnya kenapa?" Xin Fai bertanya bingung sekaligus panik, dia dapat membaca situasi buruk dari perkataan Naga Air.
"Terakhir kali aku bertemu dengannya kekuatannya tak sehebat ini... Sial, kalau begini kemungkinan kau dan aku masih bisa hidup hanya 50 banding 50."
Naga Air yang sebelumnya percaya diri dengan perkiraannya mulai berubah pikiran. Dengan menyatukan kekuatan Manusia Iblis dan Siluman Penguasa Air sepertinya yang menjadi siluman terkuat ketiga bukanlah hal sulit untuk menjatuhkan Naga Es.
Berbeda cerita dengan sekarang. Kekuatan Naga Es dapat mengimbangi keduanya, bahkan Pedang Kaisar Langit dan Pedang Manusia Iblis pun belum tentu bisa menembus kulit tebalnya.
Naga Air mulai mencemaskan banyak hal, di bawah mereka bongkahan es dilalui begitu saja dan kini mereka telah tiba di tempat tujuan.
Suhu yang tidak lagi manusiawi mulai membekukan tubuh Xin Fai, pemuda itu menahannya sebaik mungkin dengan tenaga dalam. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar, merasa kekuatan Naga Es sudah tak jauh lagi dari tempatnya berdiri.
Angin mulai berderu kencang dan bergerak menggulung ke atas langit, fenomena hebat itu berlangsung begitu saja. Dari dalam gulungan angin itu Naga Es naik dari permukaan laut menuju cakrawala langit. Membuat bumi bergetar seperti akan kiamat.
__ADS_1
Satu hal yang Xin Fai rasakan saat melihat Naga Es, rasa ketakutan yang begitu nyata. Siluman itu terlalu menyeramkan.