Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 242 - Nomor Satu


__ADS_3

Xin Fai membuang pandangan saat sang siluman kucing menoleh padanya, dia menjadi tidak nyaman karena siluman tersebut tak kunjung melepaskan pandangan darinya.


"Jangan bertingkah seolah-olah aku tidak bisa melihatmu, manusia."


"Ahahaha, anggap saja aku debu." Xin Fai berkata pelan, sungguh dia tidak mau dihadapkan pada mulut tajam siluman seperti Lang lagi. Tuan Kucing ini agaknya memiliki sifat yang hampir sama dengan Lang.


"Tuan Kucing, aku adalah salah satu Pejuang di Lembah Kabut Putih. Kurasa pendiri kelompok Pejuang bisa mengulurkan tangannya sedikit membantu Kaisar kami yang terluka."


Xin Fai baru teringat dengan cerita awal mula berdirinya kelompok Pejuang ini, berarti si Tuan Kucing ini adalah siluman yang berinisiatif membentuk Pejuang demi menghormati majikannya yang telah tiada. Biarpun wajahnya imut, tapi tetap saja kelakuannya sangat mengerikan. Xin Fai penasaran orang seperti apa yang telah membuat siluman itu bertekuk lutut di hadapannya.


"Kau seorang Pejuang?"


"Benar, Tuan Kucing. Tapi akhir-akhir ini aku diizinkan bergabung dengan Aliansi Pedang Suci untuk menghancurkan musuh terbesar Kekaisaran. Mereka Manusia Darah Iblis."


"Manusia Darah Iblis, ya..." Kilat mata siluman kucing berubah kesal, tersirat amarah mendalam dalam tatapannya yang tajam. "Mereka adalah orang yang telah membunuh Tuan-ku."


Kucing itu menunjuk Xin Fai.


"Dan kau! Siapa kau?"


Pemuda itu agak tersentak. "Aku... Sudahlah lupakan saja aku, anggap saja cuma butiran debu."


"Jangan bercanda."


"Ya, ya. Dasar kucing serius." Dia hanya menggumam pelan, mata pemuda itu melirik pada Kaisar Qin yang telah pingsan. Bisa-bisanya kucing itu masih sempat mengajak mengobrol sedangkan orang yang dia berusaha selamatkan sudah tidak sadarkan diri begitu.


"Jangan kira aku tidak mendengarnya."


"Daripada aku, bisa kau sembuhkan Kaisar Qin dulu?" pintanya pada Tuan Kucing, memang terkesan tidak sopan tapi mau bagaimana lagi. Sikap takut ditunjukkan oleh pria di sampingnya, dia berbisik pelan


"Saat berhadapan dengan Tuan Kucing, Ketua Xin harus jaga sikap. Nanti dia mengamuk."


"Kalau dia mengamuk kasih ikan saja, bukannya dia juga kucing?"


"Hais... Ketua tidak akan mengerti kalau belum melihat–"


"Apa yang sedang kalian bisikkan di sana?"


"Ti-tidak ada, lupakan saja." Pria di sebelahnya menyahut gugup. Dia menunduk dalam setelahnya.

__ADS_1


Xin Fai mengembuskan napasnya berat, dia membawa tubuh Kaisar Qin ke sebuah tempat dan membaringkannya di sana. Jari telunjuk dan tengahnya mengeluarkan cahaya keemasan saat dialiri tenaga dalam dengan jumlah banyak, dia mengalirkan energi itu pada Kaisar Qin menghentikan pendarahan yang terus berlanjut sejak tadi.


Menyadari Xin Fai mulai tidak bisa diajak berbasa-basi pendekar aliansi tersebut hanya bisa memakluminya, dia sadar keselamatan Kaisar Qin jauh lebih utama daripada rasa takutnya terhadap siluman kucing ini.


"Hei, siapa yang memberimu izin untuk meletakkan tubuh pria itu di sana?"


"Tidak ada yang menyuruhku, aku melakukannya sendiri."


"Ck, bocah manusia ini. Dia sepertinya sama menyebalkan dengan majikanku dulu."


"Tuan Kucing, apa kau punya semacam kain untuk membalut luka ini?"


"Tidak ada. Pakai saja bajumu sendiri." Siluman tersebut hanya menjawab malas. Dia memejamkan mata merasakan pergerakan di atas, tampaknya beberapa musuh mengetahui ada ruangan bawah tanah. Dengan kekuatannya, siluman kucing menyembunyikan pintu masuk dari luar. Hal ini biasa dia lakukan ketika tidak ingin menerima tamu masuk ke tempatnya bersemayam.


"Ketua Xin, aku harus segera pergi membantu yang lainnya. Kaisar Qin aku titip bersama kalian, tidak apa?"


"Ya, pergilah. Sekaligus pastikan keluarga Kaisar Qin aman. Gerakkan pasukan aliansi untuk menyelamatkan orang-orang."


"Siap, Ketua."


Pria itu berlalu meninggalkan mereka di ruangan bawah tanah atau lebih seperti penjara bawah tanah yang dihuni oleh seekor siluman kucing. Xin Fai mengedipkan matanya saat melihat sebuah kain tergeletak di sebelahnya. Dia menarik kain itu dan hendak memakainya untuk menghentikan pendarahan sang Kaisar.


"Lepaskan tanganmu dari kain itu!" bentak siluman kucing menggeram kesal. Xin Fai melepas kain itu dari tangannya sedikit terkejut.


"Siapa namamu?"


Pertanyaan tiba-tiba itu membuatnya kebingungan, dia menaikturunkan alisnya seraya memerhatikan si kucing agak lama. "Kenapa? Kau penasaran dengan siapa aku?"


"Kalau tidak mau memberitahu ya sudah. Aku juga tidak memaksa."


"Oh. Begitu. Baguslah." Pemuda itu menggaruk kepalanya tidak tahu harus menjawab apa selain mengangguk, dia berusaha menyembuhkan Kaisar Qin kembali serta tak menghiraukan perkataan siluman kucing.


"Tanggapanmu itu menyebalkan sekali, dua kali aku bertemu orang sepertimu dan rasanya masih sama menyebalkannya."


"Dua kali? Maksudmu aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?"


"Bodoh, bodoh!"


Xin Fai makin pusing melihat kelakuan si kucing, dia berhenti memulihkan Kaisar Qin dan hanya menunggunya bangun saja. Selagi itu sebenarnya dia hendak menitipkan pria ini pada si kucing, namun entah kenapa Xin Fai masih belum terlalu percaya padanya.

__ADS_1


"Kucing, bisa kau jagakan Kaisar Qin sebentar? Aku ingin keluar, masih banyak yang harus kulakukan."


"Seenaknya memerintah siluman sepertiku, kurasa sepertinya kau memiliki banyak pengalaman bersama siluman?"


Nyatanya yang dikatakan siluman kucing dengan bulu seputih salju itu benar adanya. Telah banyak dia bertemu dengan siluman kuat seperti Lang, Rubah Petir, dan Naga Air. Rasanya perasaan was-was terhadap mereka tidak terasa lagi.


"Kurang lebih seperti yang kau katakan. Aku bahkan pernah bertemu dengan siluman yang mulutnya bisa membuatmu menangis darah."


"Sepertinya aku tahu siapa yang kau bicarakan, manusia."


"Kau tahu?" Pemuda itu menggeser posisinya agar bisa melihat siluman kucing dengan jelas. Lawan bicaranya mengangguk kecil. "Maksudmu si serigala milik Qiang Jun, bukan? Aku pernah sekali bertemu dengannya saat di hutan, dan tidak berharap dipertemukan untuk yang kedua kalinya."


"Hahahaha kau memiliki trauma pada sesama siluman juga."


"Kupikir mulutmu itu juga sebelas dua belas dengan si serigala itu, bukankah benar?"


Hanya terdengar suara batuk-batuk setelahnya, Xin Fai tidak menyangka kata-kata itu justru keluar dari mulut si kucing yang baru beberapa menit lalu bertemu dengannya. "Padahal aku cuma bercanda tadi, kau memang si kucing serius. Kolot."


"Apa katamu?"


Kaisar Qin Gaozu terbangun dari pembaringan, dia meringis sakit memegangi perut sebelah kirinya. Xin Fai membantunya agar bisa duduk, berusaha mengurangi rasa sakit menggunakan kekuatannya.


Terdengar suara berisik di tempat siluman kucing, tubuhnya yang bisa dibilang berisi mendekat pada Kaisar Qin.


Kaisar Qin mengerutkan dahi tapi hanya bisa terdiam membiarkan tangan siluman itu menyentuh dahinya, sebuah kekuatan tidak biasa terpancar dari dahinya dan dalam seketika menyembuhkan tubuh Qin Gaozu.


Luka tusukan menutup dengan sendirinya dalam hitungan detik, tak lama setelahnya siluman kucing berbicara.


"Kau boleh menitipkannya padaku, aku tidak akan melukainya. Kau boleh memercayai perkataanku."


Xin Fai tersenyum lantas memberikan hormat. "Terimakasih Tuan Kucing yang Serius."


"Apaan dengan nama itu? Tidak ada yang lain?"


"Tuan Kucing yang Kolot?"


Kucing itu bersiap-siap hendak menerkamnya. "Pergi saja kau sebelum aku mencakarmu!"


Xin Fai tertawa mengejek, dia beralih pada Kaisar Qin sejenak. "Yang Mulia, aku akan kembali saat keadaan di luar sudah aman. Tunggulah di sini bersama Tuan Kucing itu."

__ADS_1


"Baiklah, lakukan yang terbaik, Nomor Satu."


Langkah pemuda itu sedikit berhenti mendengar julukan itu, dia menyengir kecil sebelum benar-benar berlari meninggalkan ruangan bawah tanah.


__ADS_2