Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 43 - Pertolongan Xin Fai


__ADS_3

Rombongan orang mengerubungi gerbang desa berduyun-duyun. Ternyata sejak matahari belum terbit Xin Fai sudah membuat anak panah dan menembakkannya ke burung-burung yang terbang.


"Cepat bakar burung itu dan beri makan pada mereka yang kelaparan."


Salah seorang wanita mengambil burung yang sudah tak bernyawa, air matanya mengalir deras.


"Terimakasih sudah mau membantu kami, aku tidak punya apapun yang bisa kuberikan untuk membalas kebaikanmu.."


"Tidak perlu sungkan. Aku hanya membantu sebisaku."


Dengan pengalaman Xin Fai sebelumnya saat di desa pembantaian, dia bisa mengarahkan panah dengan cukup tepat. Burung-burung yang kebetulan sedang bermigrasi ke arah selatan menjadi sasarannya. Dari bidikan tersebut Xin Fai berhasil mengumpulkan tujuh burung.


Xin Fai membawa tiga burung tersisa, dia memberinya pada wanita yang sedang menghidupkan api.


"Semoga dengan ini kalian bisa bertahan hidup sampai aku kembali."


"Kakak... Kau akan pergi ke mana?" Salah seorang anak kecil yang akrab dengannya hendak menangis.


"Ah, aku akan mencari makanan untukmu. Tenanglah aku akan kembali nanti."


"Janji?"


"Iya..."


Seorang nenek mendekati Xin Fai, ia memberikan sebuah kalung jimat dengan batu berbentuk persegi panjang hitam sebagai perhiasannya.


"Ini jimat dari kami, semoga kau bisa kembali dengan selamat. Jangan berurusan dengan harimau di sana, dia sangat berbahaya."


Xin Fai mengangguk kepala tanda mengerti sembari menunduk ketika nenek tersebut mengalungkan jimat tersebut, untuk sementara dia hanya fokus mencari cara agar penduduk desa ini bisa bertahan hidup.


Xin Fai menatapi Lang yang sedang dikerubungi anak kecil, serigala itu memutuskan untuk mendekatinya.


Sebelum pergi Xin Fai sempat meminta pada seorang pemuda yang merupakan pejuang untuk menjaga mereka dari serangan harimau. Pemuda itu mengiyakan dengan hormat.


Xin Fai sudah berjanji bahwa dirinya takkan tinggal diam membiarkan orang-orang yang tidak berdosa mati karena pendekar aliran hitam. Tentu akan banyak kesedihan jika itu terjadi lagi, salah satunya kesedihan yang ada dalam diri Xin Fai. Hari-harinya terasa berat kala ia mengingat keluarganya.


Lang berlari sekencang mungkin, dengan itu tidak ada satupun binatang buas maupun perampok yang berniat menganggu mereka. Sebelumnya Xin Fai sudah mengambil koin emas yang tergeletak di samping mayat Dong Chai, uang itu akan digunakannya untuk membeli makanan di kota Anguo.

__ADS_1


Perjalanan menghabiskan waktu setengah hari untuk kembali di kota Anguo. Xin Fai membeli beberapa makanan dan mengangkutnya ke dalam tas. Tas itu diselipkan di punggung Lang membuat serigala itu marah.


"Apa-apaan serigala buas sepertiku malah jadi seekor keledai! Lepaskan tas ini atau akan kuseruduk kau?!" Lang memberontak, dia bergerak liar berusaha melepas tas itu.


"Sabarlah Lang, kau nampak makin gagah dengan tas itu. Layaknya seekor serigala pengembara..."


Xin Fai hampir saja tertawa melihat Lang yang termakan omongannya. Dia pergi ke sebuah toko dan membeli benih padi dan tumbuhan lainnya.


Meskipun masih kecil Xin Fai memiliki pandangan yang jauh. Dia memikirkan nasib desa itu ke depannya dengan membeli benih sebanyak mungkin.


Saat hendak membeli lebih banyak lagi Xin Fai dikejutkan dengan tepukan di pundaknya. Dia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria tengah tersenyum lebar di belakangnya.


"Anak kecil! Kau si Xin Fai itu bukan?"


Xin Fai mengernyit lama mengenali pria itu, dia teringat dengan seorang pria tukang bercerita dari Kota Huo. Yang sering menjadi temannya bicara, To Mu.


"Ahaha, lama tak berjumpa." Xin Fai menggaruk kepalanya sambil menyengir kecil.


"Apa yang sedang kau lakukan di toko tani seperti ini? Apa kau sudah beralih profesi sebagai petani? Sayang sekali, pahlawan sepertimu harus bernasib buruk, aku turut prihatin." To Mu mengelus punggung anak itu menyesal.


"Pahlawan? Petani? Apa maksudmu?"


Xin Fai mencerna perkataan To Mu, ternyata namanya sudah cukup tenar di sana. "Aku tidak membeli benih ini untuk bercocok tanam."


"Jadi?"


"Maksudku, bukan aku yang bercocok tanam."


Xin Fai menjelaskan tentang desa yang sedang dilanda musibah kelaparan. Dia berniat membantu dengan membeli segala bahan yang berguna.


"Hm..." To Mu mengelus dagunya. "Kurasa aku bisa membantumu. Tujuanmu mulia sekali, anak kecil. Aku tidak punya alasan untuk membiarkanmu berjuang sendiri."


Senyuman Xin Fai melebar lagi. "Benarkah?"


"Iya. Kebetulan pasukan yang kupimpin sedang beristirahat di sini dan tujuan kami memang ke arah sana. Kurasa kuda-kuda kami bisa membantu membawa barang bawaanmu." To Mu memberi penjelasan sembari menunjuk Lang dengan dagunya.


Barang yang diangkut Lang berkurang, namun serigala itu tidak protes lagi. Dia menatap bayangannya di genangan air dan merasa percaya diri.

__ADS_1


"Serigala pengembara. Nama itu cocok untukku." Lang bergumam namun bisa terdengar oleh Xin Fai.


"Anak kecil, apa yang begitu lucu sampai kau tertawa begitu?"


"Tidak, lupakan saja."


Pasukan yang dibawa To Mu bergerak membawa bahan makanan dengan jumlah yang sangat banyak, sedangkan Xin Fai dan Lang mengangkut benih tumbuhan dan beberapa obat-obatan yang akan berguna nantinya.


Meskipun sudah berlari dengan kecepatan paling tinggi namun tetap saja kuda-kuda tersebut tak bisa menandingi kecepatan kaki Lang. Xin Fai sudah tiba di desa ketika jam dua malam dan segera memberikan beberapa obat dan sedikit makanan yang ada bersamanya.


Ketika mendengar makanan susulan akan datang Xin Fai bisa melihat betapa bahagianya rakyat itu. Salah seorang kepala desa berlutut dengan air mata bersimbah. Napasnya tersedak dengan suara bergetar.


"Aku tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu seperti apa... Tuan Xin Fai, apa yang bisa kuberikan padamu?"


Xin Fai menunduk sambil membantu pria berumur 40-an itu berdiri. Ia berucap halus.


"Aku ingin paman nanti yang mengarahkan penduduk di sini untuk menanam semua benih yang kubeli, pastikan kelaparan ini tidak akan terjadi lagi setelah aku pergi."


Istri kepala desa itu memberikan sebuah kantong kecil berisi emas-emas cantik miliknya, Xin Fai menolaknya dengan halus.


"Aku tak bisa menerimanya, maafkan aku. Emas itu akan lebih berguna untuk kalian ke depannya."


Beberapa kali wanita itu membujuk tetap tak membuat Xin Fai menerima emas tersebut. Saat rombongan berkuda telah datang kebahagiaan kembali datang, mereka menerima makanan dengan sukacita.


Beberapa pemuda meminum air bersih dengan rakus karena belakangan yang masuk ke tenggorokan mereka hanya air sumur yang keruh.


To Mu berbincang-bincang dengan penduduk sambil membanggakan sektenya, Bukit Daun Kemangi. Xin Fai hanya bisa menahan senyumnya melihat tingkah lelaki itu. Sangatlah meninggikan sektenya, mungkin dia merasa niat To Mu membantu desa ini adalah untuk mempromosikan sektenya.


Hari sudah mulai gelap ketika Bukit Daun Kemangi hendak meneruskan perjalanan ke tempat lain, mereka menitipkan dua kuda agar bisa dipakai penduduk desa untuk pergi ke manapun.


Xin Fai juga hendak pergi setelah selesai berbincang dengan kepala desa.


Puluhan orang mengerubungi pintu gerbang desa dengan suasana haru, mulai dari anak kecil, para lansia, pemuda dan orang dewasa lainnya. Mereka memasang wajah yang sama, bahagia.


Dari kejauhan seorang pemuda berteriak lantang ketika Xin Fai dan Lang yang sudah berjalan cukup jauh.


"Xin Fai, kami penduduk Desa Hemei akan selalu mengingat jasamu! Aku berjanji akan menceritakannya pada anak cucuku nanti!!"

__ADS_1


Xin Fai menyengir dengan senyum khasnya sembari melambaikan tangan. Sedangkan Lang baru tersadar, ada sedikit rasa bahagia yang dirasakannya ketika menolong orang lain. Itu menjadi pengalaman yang sangat berharga baginya.


***


__ADS_2