
Seorang murid perwakilan sekte Lembah Kabut Putih memasuki arena pertandingan, di saat bersamaan pula Lan An maju sebagai perwakilan sekte Pasukan Seribu Kaki. Beberapa pendekar dari sekte tersebut yang kebetulan berada di Kota Renwu sengaja memberikan dukungan padanya dengan menghadiri turnamen ini.
Dalam kurun waktu kurang dari setahun nama Lan An mulai terkenal di sekte mereka setelah pemuda itu datang bersama sisa pasukan dari Kota Anguo. Dalam beberapa hari saja, Lan An sudah bisa menaklukkan murid-murid hebat di sana. Dia terus mengabdi pada sekte dengan sepenuh hati tanpa banyak mengeluh, berlatih keras siang malam dan membantu segala pekerjaan yang bisa dilakukannya.
Hal itulah yang membuatnya begitu disegani, kini dengan membawa nama Pasukan Seribu Kaki dia akan bertanding untuk mendaki ke puncak. Lan An tersenyum kecil saat memikirkan impiannya itu, dia menatapi Xin Fai sebentar kemudian memejamkan mata.
'Mendaki puncak, ya? Melawan adik kecil sendiri? Sungguh tidak keren.'
She Xing mulai menarik senjatanya, dia mengembuskan napas perlahan. Matanya memejam sebentar setelah membaca situasi dan memikirkan dari mana dirinya akan memulai serangan. Sedangkan Lan An sama sekali tidak ada persiapan. Dia hanya akan menyambut serangan dan sesekali membalas balik.
Mereka berdiri saling berhadapan dan di tengah mereka Yang Guifei baru saja menyatakan pertandingan dimulai.
Tapak She Xing seketika menimbulkan asap putih ketika dia berlari kencang, dengan Langkah Cahaya tertinggi dia bertukar serangan dengan Lan An. Permainan pedang keduanya sangat unik, teknik pedang She Xing yang berasal dari Lembah Kabut Putih beradu dengan pola serangan Lan An yang berasal dari Kekaisaran Qing.
Penonton dibuat terpana beberapa saat, keadaan imbang ini saling memperlihatkan kelebihan dua pendekar muda hebat ini. Baik She Xing maupun Lan An masing-masing memiliki potensi yang besar untuk memenangkan pertandingan.
Namun satu hal yang menjadi kesalahan She Xing adalah dia terlalu memperhitungkan setiap pergerakan hingga membuatnya lebih lamban daripada Lan An yang menyerang dengan sembarang. Sifat She Xing ini tentu saja mempermudah Lan An untuk membaca gerakannya, dia tersenyum tipis ketika melihat celah terbuka.
"Terlalu perhitungan seperti itu takkan membuatmu lebih baik."
Lantas saja She Xing terkejut.
"Apa salahnya?" She Xing mengerutkan alis merasa tersinggung, di satu sisi dia merasakan perkataan Lan An benar. Menghadapi lawan seperti Lan An yang menitikberatkan pada kecepatan dan ketepatan sungguh beresiko. Berbeda dengan lawan She Xing sebelumnya yang hanya unggul dalam hal kekuatan, bukan dalam teknik maupun kecerdikan.
Lan An tak mengendurkan kecepatan serangannya walaupun sedang menjelaskan, hal ini sudah biasa dia lakukan. Sebelumnya saat berlatih dengan Xin Fai di Kota Anguo mereka sama-sama berlatih dan belajar pedang.
"Dengan pikiran itu kau pasti akan memikirkan langkah terbaik yang akan diambil selanjutnya, di sisi lain lawanmu bisa mengetahui langkah terbaik itu sendiri. Hal itulah yang membuat gerakanmu sangat mudah terbaca."
She Xing mundur beberapa meter saat pedangnya berbenturan dengan pedang Lan An. Dia merapatkan gigi dengan kesal.
__ADS_1
"Jangan mengguruiku! Kau hanya berasal dari sekte menengah!"
Lan An dengan sengaja membuat She Xing terpojokkan, dia menyerang secara acak namun setiap gerakan yang diperlihatkannya tepat dan tajam. She Xing mundur hingga ke batas garis arena.
"Aku pernah mendengar kisah seorang pendekar buta yang hebat dari Kekaisaran Qing, mau kuceritakan sambil bertarung?" Lan An tersenyum kecil dan di saat bersamaan keringat dingin mengucur di kening She Xing karena posisinya sama sekali tidak menguntungkan.
"Pendekar itu selalu mengatakan begini. Orang buta, yatim piatu, miskin, anak haram dan tak memiliki apa-apa sekalipun akan menjadi seorang yang tak terkalahkan jika dia memiliki tekad."
She Xing sama sekali tidak mau berpikir untuk kisah itu, dia lebih memilih memusatkan perhatian menahan serangan Lan An yang semakin mengganas.
"Kau tahu, bagaimana cara orang buta bertarung?"
Lan An tersenyum sembari melanjutkan, ketika itu juga pedangnya telah bersiap menyerbu She Xing.
"Menggunakan insting bertarung yang kuat!"
Pedang di tangan She Xing terlepas, dia membelalak seakan tersadar oleh sesuatu. Pemuda itu menatap pedang yang terpental tak jauh darinya dan hendak mengambilnya, namun tangan She Xing hanya bisa mengepal erat.
"Dengan kekuatan seperti ini..." She Xing menggumam pelan, dia tak lagi berniat mengambil pedangnya. Langkah kaki She Xing tertuju pada Lan An.
Mendadak suasana hening saat She Xing menundukkan kepalanya di depan Lan An.
"Terimakasih sudah mengajariku, aku mengaku kalah."
Xin Fai jelas saja bangga melihat Lan An kini berhasil mencuri perhatian penonton, dia semakin mengagumi pemuda itu. Dulu Xin Fai sempat bermimpi untuk menjadi sosok seperti Lan An namun sekarang mimpinya lebih tinggi lagi, dia ingin menjadi sosok seperti Qiang Jun yang pernah berada di puncak dunia persilatan.
Pertarungan antara She Xing dan Lan An berakhir ketika wasit menghentikan dan menyatakan Lan An sebagai pemenangnya, pertarungan ketiga ini cukup berbeda. Baik Lan An maupun She Xing sama sekali tidak menyimpan dendam. Keduanya berjabat tangan dengan akrab di tengah arena.
She Xing berbicara pelan namun masih dapat didengar oleh Lan An.
__ADS_1
"Suatu saat nanti aku ingin bertarung lagi denganmu, tentu saja setelah aku menjadi lebih kuat dan memiliki sesuatu yang kau sebut dengan insting bertarung itu."
She Xing menarik napas hingga senyum cerah terbit dari bibirnya. "Aku akan menunggu sampai saat itu tiba."
"Ya, aku tidak keberatan." Lan An membalas dengan senyum terbaiknya, setelah itu pertandingan berakhir yang menandakan Lan An telah berhasil lolos ke 4 besar.
Waktunya pertandingan terakhir dilakukan, kini seorang gadis cantik maju ke arena pertandingan. Sedikit terlihat sudut bibirnya terangkat memperlihatkan ekspresi angkuh, Ren Yuan menatapi Xin Fai yang tengah menaiki panggung arena.
"Persiapkan kata-kata maafmu mulai sekarang, rakyat jelata. Aku tidak akan segan-segan lagi padamu."
"Hem? Kurasa kau yang harus persiapkan mental sebelum merasakan kekalahan terpahitmu hari ini."
Keduanya sama-sama yakin dengan pendirian masing-masing. Pemandangan ini begitu berbeda dengan pertarungan She Xing dan Lan An yang berjalan damai. Nampaknya dendam yang dalam mengisi kobaran mata kedua pendekar muda ini.
Qin Gaozu tak melepaskan pandangannya dari arena, dia tentu saja mengenal Ren Yuan seperti apa. Gadis itu adalah orang yang pekerja keras, dirinya seringkali kedapatan diam-diam berlatih saat semua orang tertidur, mematangkan teknik berpedangnya ketika para bangsawan lain sibuk memamerkan kekayaan dan lebih tertarik pada ilmu silat dibandingkan ilmu politik.
Kehadiran Ren Yuan ini menjadi pusat perhatian orang-orang Kekaisaran, jarang ada keturunan bangsawan yang tekun berlatih pedang apalagi dengan kekuatannya kini Ren Yuan masuk ke 8 besar.
"Sepertinya pertandingan ini akan menjadi sangat menarik," ujar Qin Gaozu sembari memerhatikan satu pedang lainnya di punggung Xin Fai. Pedang itu dililit oleh kain putih untuk menyembunyikan identitasnya.
Meski begitu aura pembunuh dari Pedang Manusia Darah Iblis tetap saja terasa oleh Yang Guifei, wanita itu mengernyit sebentar namun tak lama kemudian dia memilih menutup mulut karena merasa Xin Fai bukan orang berbahaya.
Yang Guifei tak terlalu mempermasalahkannya, wanita itu segera mempersilakan mereka bertarung demi mempersingkat waktu.
***
heee... btw terimakasih masih bersedia baca sampai chapter ini, kalian benar2 keren😄thanks sebanyak2nya deh buat kalian yg terus support, aku padamuuu:"> meskipun cerita ini ala2 kadar dan sering kali komennya pd bikin uht semua tapi author harus ttp semangat.
c'mon babe, nulis itu susah klo gampang mah semua org pasti nulis jadi tolong hargai lah para author dgn tidak memberi komentar nyinyir yg bikin authornya uht yayayayaya, kalo ada masukan komentar aja dgn bahasa sopan, pasti dibaca kok😊🙏
__ADS_1