Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 54 - Bertemu Putri Kecil - Lian Kaili


__ADS_3

Tidak menunggu lama untuk sampai di kamar Xin Fai, Lian Sheng harap-harap cemas di depan pintu namun Xin Fai itu tak kunjung membuka pintu kamarnya. Dia terlihat berpikir sebentar sambil menyapu pandangan ke sekitanya.


"E... Kurasa kau tak perlu membawa orang sebanyak ini ke kamarku."


Pengawal yang ditunjuk Xin Fai saling berpandangan, setelah diperintah oleh Lian Sheng mereka akhirnya mundur dengan teratur. Adik Lian Sheng sendiri memilih tidak ikut campur dan segera kembali ke kediamannya.


Xin Fai membuka pintu yang disambut oleh keterkejutan Lian Sheng.


Pria itu menghambur ke arah anaknya yang kini berada di atas perut Lang. Lian Kaili tertidur pulas karena sudah terbiasa tertidur di sana selama perjalanan, bulu Lang sendiri terbilang hangat dan membuatnya sangat nyaman.


"Apa yang kau lakukan pada anakku?! Kenapa kau mendekatkannya pada siluman itu?!" Lian Sheng menggendong anaknya panik, ia memeluk Lian Kaili sangat erat.


Xin Fai mengela napas, "Seandainya serigalaku memang jahat dia takkan menyelamatkan anakmu yang kedinginan di tengah hutan."


"Dia?" Lian Sheng memandangi Lang tak percaya, Lang membuang matanya ke arah lain entah apa yang sedang dipikirkannya.


"Yang menemukan anak Anda serigala itu." Xin Fai duduk bersila dan diikuti oleh Lian Sheng yang kini duduk berhadapan dengannya.


Mata Lian Sheng berbinar-binar ketika menggendong anaknya yang terlihat sehat, air mata menetes dari pelupuk matanya. Lelaki itu menatapi Lang.


"Terimakasih telah menyelamatkan nyawa anakku," katanya. Meskipun telah kehilangan istrinya, setidaknya Lian Sheng masih memiliki anaknya. Ia mencium kepala anaknya dengan lama.


"Grrrhhh... Berterimakasihlah pada Tuanku sana." Lang menanggapi jutek, dia menggulung ekor seperti biasa hendak tidur, perjalanan kali ini cukup membebankan tubuhnya.


Sejurus mata Lian Sheng terpaku pada Xin Fai, ia mengucapkan terimakasih pada Xin Fai berkali-kali bahkan berjanji akan memberikan hadiah yang banyak. Xin Fai tersenyum kecil tak ingin melewatkan keuntungan itu, meski sudah menolak halus namun Xin Fai tetap menerimanya.


Mengingat perjalanannya ke Kota Zhu masih sangat panjang setidaknya Xin Fai harus memiliki uang yang cukup, sementara itu Lian Sheng menatapi anaknya dengan sendu.


"Aku merasa tak berguna karena membiarkanmu dan Ibumu pergi ke Hutan itu. Seandainya jalur di Kota Renwu aman..."


"Kota Renwu? Ada apa dengan kota itu?"

__ADS_1


Lian Sheng memanggil pelayan untuk membawa Lian Kaili. Tentu saja wajah lelaki itu lebih cerah dari sebelumnya, setidaknya dia masih memiliki harapan hidup yakni anaknya sendiri.


"Kudengar kota Renwu sedang rawan, kota itu sudah jatuh ke tangan Manusia Darah Iblis sepenuhnya dan mereka sedang beroperasi mencari sesuatu di sana..."


Lian Sheng menaikkan sebelah alisnya. "Kau tahu Manusia Darah Iblis, kan? Akhir-akhir ini kudengar mereka melakukan pembantaian di desa-desa kecil, membunuh banyak pendekar aliran putih bahkan sempat menghancurkan satu sekte menengah. Perbuatan mereka sangat tak bisa dimaafkan." Wajah Lian Sheng berubah serius, tentu saja dia tak bisa tinggal diam melihat situasi kacau ini.


Terlebih lagi Xin Fai, rasa marahnya bertambah berkali-kali lipat dari sebelumnya. Rasanya orang seperti mereka yang tak menghargai nyawa orang lain tak beda halnya seperti binatang.


Selagi tenggelam dalam pikirannya sendiri Lian Sheng kembali bercerita.


"Tapi akhir-akhir ini kudengar ada seorang anak kecil yang membunuh Manusia Darah Iblis sendirian saat mereka melakukan pembantaian. Ah, mungkin hanya gosip yang dilebih-lebihkan saja. Tak perlu terlalu dipikirkan."


Xin Fai, yang saat itu sadar tak sadar mendengar omongan Lian Sheng tersedak napasnya sendiri.


Dia tertawa canggung sembari menyengir dengan senyum khasnya. "Iya, tidak usah terlalu dipikirkan. Yang terpenting sekarang anak Anda selamat."


Lian Sheng memegang pundak Xin Fai erat, dia sangat tertarik dengan bocah di hadapannya. Selain karena seekor Serigala Berbulu Emas yang ada bersamanya, ada satu hal lagi yang membuatnya penasaran.


"Kudengar raja siluman tikus sudah terbunuh. Kau pasti tahu, kan?"


"Bocah sepertimu tidak bisa mungkin melewati hutan itu begitu saja jika tak punya kemampuan setidaknya setara pendekar Agung. Apa kau mempunyai sesuatu seperti trik atau apalah itu untuk membunuhnya?"


Kepala Xin Fai menggeleng, bagaimana dia bisa memakai trik sedangkan bernapas sedetik saja rasanya susah saat ribuan tikus mengejarnya.


"Ahli sulap sekalipun akan langsung mati jika berhadapan dengan ribuan tikus di sana."


"Ribuan tikus? Aku pernah mendengarnya. Jadi, bagaimana kau bisa lolos dari mereka semua?"


"Aku membunuh mereka. Tidak ada jalan keluar lain selain itu." Xin Fai menjawabnya dengan datar, pengakuan itu membuat Lian Sheng menutup mulut dengan mata membesar.


"Yang benar saja!"

__ADS_1


Lian Sheng mencoba mencari kebohongan namun semua fakta yang diterimanya memang benar adanya. Bocah seperti Xin Fai tak mungkin selamat dari hutan itu jika tak memiliki kekuatan yang besar. Serigala Berbulu Emas sendiri pasti akan kesusahan menghadapi ribuan tikus beserta rajanya itu.


"Aku tidak butuh mau kau percaya atau tidak. Tapi dengan kembalinya putri kecil Anda bukannya itu semua jadi buktinya?" kata Xin Fai agak terganggu dengan tatapan Lian Sheng.


"Bukan maksudku begitu... Terlepas dari usiamu yang begitu belia kau berani memasuki hutan itu? Seorang Pendekar Agung sekalipun takkan mau melewati tempat itu walaupun dibayar dengan sangat mahal!"


Lian Sheng memujinya beberapa kali yang hanya dibalas Xin Fai dengan mengulas senyum tipis. Sebenarnya dia tak menyangka juga, bangsawan seperti Lian Sheng tak sesombong yang dipikirannya dulu. Pertemuannya dengan Lian Sheng membuat pemikirannya sedikit terbuka.


"Kalau kau mau ikutlah makan malam di kediaman kami, aku ingin membalas kebaikanmu ini."


"Ah, tidak perlu, aku–"


"Jangan menolak begitu. Kau tahu? Semua anggota keluarga besar Lian sudah berkumpul di sini karena mendengar berita tentang anak istriku yang telah tiada... Mereka pasti akan terkejut saat melihat putri kecilku masih hidup dan itu semua berkat dirimu..."


"Tapi, aku..." Xin Fai menggaruk kepalanya, tentu saja dia takkan siap makan malam di antara para bangsawan.


Xin Fai menyesal, seharusnya selain belajar jurus-jurus bela diri dia juga harus belajar ilmu silat lidah. Agar bisa mengelak ketika dihadapkan pada situasi seperti ini.


"Akan kuusahakan datang, jika bisa."


Namun wajah Lian Sheng tak kunjung puas, dia bahkan mengajak Xin Fai untuk tinggal bersama keluarganya daripada harus tinggal di penginapan seperti ini.


"Ayolah, daripada harus membuang koin perunggumu untuk tinggal di tempat seperti ini lebih baik kau tinggal di rumah kami. Aku berjanji akan menjamumu dengan baik."


Lantas pernyataan Lian Sheng membuat dahi Xin Fai mengerut beberapa detik.


"Koin perunggu? Yang benar saja, aku membayar sampai tiga keping emas untuk tinggal di sini," gumamnya heran. Ia berpikir sebentar sebelum terdengar Lian Sheng ikut menimpali.


"Maksudmu koin emas? Bukankah itu terlalu mahal?"


Lian Sheng merasa ada yang tak benar di sini, dia menyipitkan matanya dengan geram. Dia berteriak lantang.

__ADS_1


"Pengawal! Panggilkan pemilik penginapan ini sebentar!"


***


__ADS_2