Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 118 - Gadis Belut Baja Listrik II


__ADS_3

Xu Zetian mengernyitkan alis tanpa mengurangi kewaspadaan. Dia melihat Xin Fai tengah berlari ke arahnya tanpa membawa senjata apapun.


"Tendangan Bulan Sabit!"


Hampir satu lingkaran penuh tendangan itu menerjang Xu Zetian namun dia lebih dulu menghindar dan mencari posisi aman dari lawan sebisa mungkin.


Xin Fai berlari dengan Langkah Kilat tingkat tinggi hingga kecepatan berlarinya bisa disetarakan dengan Xu Zetian dalam beberapa detik, gadis itu terkejut saat ada orang yang bisa mengimbanginya. Dia lagi-lagi mencoba menghindari serangan fisik dari Xin Fai, jika terkena salah satunya saja dia yakin itu akan berakibat fatal.


Serangan terus datang beruntun ke arah Xu Zetian tanpa ampun namun tak satupun berhasil menggoresnya, dalam kurun waktu lima belas menit tak ada satupun dari mereka yang tampak akan memenangkan pertandingan. Keadaan begitu berimbang dan hanya menguras tenaga Xin Fai saja.


Xin Fai mulai geram karena Xu Zetian sengaja mengulur waktu dan membuatnya kelelahan sedangkan gadis itu sendiri sudah terbiasa berlari dalam kecepatan tinggi seperti ini bahkan hingga satu hari penuh. Merasa telah lama membuang waktu Xu Zetian akhirnya mengeluarkan suara.


"Sudahlah menyerah saja, meskipun kau bisa mengimbangiku sekalipun aku lebih lincah dalam hal menghindari serangan."


"Kau barusan bicara apa? Aneh juga menyuruh orang menyerah seenaknya."


Xin Fai melepaskan ratusan pisau angin untuk yang ke sekian kalinya namun Xu Zetian lebih dulu memutar tubuhnya cepat hingga pisau itu tertangkis angin yang sangat kencang mengitari tubuhnya.


"Mustahil kau bisa melukaiku, semua musuhku tak pernah ada yang berhasil menggores kulitku asal kau tahu," ucap Xu Zetian sombong.


"Benarkah? Aku malah merasa kau sedang memohon kemenanganmu karena kau sendiri takkan bisa menyerangku."


Perkataan Xin Fai sangatlah tepat sampai Xu Zetian terbatuk-batuk kecil dibuatnya, baik dirinya dan juga Xin Fai tak ada yang saling unggul. Mereka memiliki kelebihan masing-masing dan sulit bergerak untuk mengalahkan lawannya.


"Hahaha baiklah, aku juga tidak peduli, silakan buang-buang waktumu untuk menyerangku, karena semua itu akan sia-sia."


"Hm? Sia-sia? Coba tanyakan pada pedang di belakangmu itu, mungkin dia bisa menjawabnya." Xin Fai tersenyum miring sembari mengangkat tangannya, saat itu juga pedang miliknya yang tadi dia jatuhkan di lantai arena melayang karena digerakkan menggunakan kekuatan roh.


Xu Zetian terkejut bukan main dan dia langsung saja menghindar, namun serangan dari pedang lebih dulu melesat tajam lurus ke depan. Pemandangan sebuah pedang melayang itu membuat Yong Tao memajukan tubuhnya untuk melihat lebih jelas lagi. Bukan hanya dia, seluruh penonton terdiam melihat kejadian tersebut.


Lengan kiri Xu Zetian tersayat oleh pedang sebelum gadis itu menghindar, meskipun tak terlalu dalam menusuknya namun cukup membuat gadis itu kesakitan dan tak bisa fokus seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Tadi sepertinya ada yang mengatakan padaku kalau mustahil sekali melukaimu."


"Jangan besar kepala dulu! Hanya luka seperti ini takkan membuatku kalah!"


Xin Fai lagi-lagi tersenyum miring dan sontak saja hal itu membuat betis Xu Zetian bergetar ketakutan, dia mundur beberapa langkah dan bersiap berlari jika Xin Fai maju menyerangnya.


"Lihat. Ada kejutan di atasmu."


Saat Xu Zetian mendongak matanya langsung melotot lebar, dia jatuh terduduk saat melihat lebih dari dua ratus pisau emas akan menghantamnya dari atas sana.


Xin Fai menunggu sebentar karena merasa tak perlu melukai seorang wanita, dia tak mau melepaskan ratusan pisau emas yang akan membahayakan nyawa seperti ini hanya demi memenangkan pertandingan.


Xu Zetian yang sudah jatuh terduduk tak bisa berkata-kata lagi, bibirnya bergetar hendak mengatakan sesuatu.


"Aku... Aku menyerah."


Dalam sekejap ratusan pisau emas itu bergerak kembali ke tubuh Xin Fai dan menyerap ke dalam dirinya. Sedangkan pedang miliknya telah kembali ke dalam sarungnya.


Seperti biasa semarak di bangku penonton terdengar gaduh, mereka meributkan tentang pedang yang bisa bergerak sendiri itu dengan sangat seru bahkan ada yang mengatakan Xin Fai merupakan murid dari Kekaisaran lain yang datang ke turnamen ini.


Memilih tak memusingkan sekitarnya Xin Fai membuang napas, dia tersenyum sebentar ke arah Li Yong yang duduk jauh dari arena. Pendeta itu selalu saja mengkhawatirkan para perwakilan sekte mereka setiap pertandingan hal itulah yang membuat Xin Fai semakin ingin memenangkan turnamen ini demi membuat Li Yong lega.


Dengan ini turnamen babak penyisihan dinyatakan selesai dan akan dilanjutkan dengan babak utama, dalam satu hari penuh babak penyisihan bisa diselesaikan lebih cepat dari target yang ditetapkan.


Setelahnya mereka segera kembali ke kediaman Kuil Teratai untuk beristirahat.


Baru saja mereka sampai dan hendak mengisi perut sebuah ketukan terdengar di depan, Xin Fai membuka pintu dan mendapati Lian Sheng sedang berdiri di sana dengan senyum terkembang lebar bersama putri kecilnya.


"Fai'er... Sudah lama aku tidak melihatmu." Pria itu berkata hangat, tatapannya begitu lembut pada Xin Fai.


"Senang bertemu dengan Paman, masuklah, kebetulan kami sedang makan. Kita bisa makan bersama sambil berbincang-bincang."

__ADS_1


Lian Sheng dan anaknya masuk disambut oleh Li Yong, Huang Kun dan Shen Xuemei.


Terjadi perbincangan hangat di antara mereka, namun lama kelamaan ternyata Lian Sheng lebih banyak berbicara kepada Li Yong, mungkin mereka berdua sangat cocok karena seumuran. Sedangkan Xin Fai sibuk membahas pertandingan tadi bersama Huang Kun dan Shen Xuemei.


Xin Fai berbicara sebentar pada Lian Sheng.


"Paman, boleh aku menggendong Putri Kaili?"


"Oh, tentu saja boleh."


Lian Kaili tertawa saat Xin Fai menggendongnya, keduanya terlihat sangat akrab bahkan Huang Kun sendiri dibuat aneh dengan tingkah bayi itu, dia tampaknya sangat menyukai Xin Fai.


Xin Fai yang bisa membaca pikiran Huang Kun akhirnya bicara. "Aku dan Putri Kaili sebelumnya sudah pernah bersama-sama, makanya kami bisa akrab begini."


"Hm... aku heran mengapa kau memiliki begitu banyak kenalan seperti Lan An dan Lian Sheng, sebelumnya Pejuang dari desa Hemei juga mengenalmu. Aku merasa seluruh orang di dunia ini seperti mengenalmu."


Xin Fai menanggapinya dengan cengiran kecil dan tak tahu harus menjelaskannya dari mana.


Sebenarnya Huang Kun juga ingin menanyakan bagaimana Xin Fai bisa menggerakkan pedang yang bahkan tidak ada dalam jangkauannya tadi namun agaknya Huang Kun sudah memiliki jawaban. Yaitu tentang roh yang pernah Xin Fai ceritakan di kapal waktu itu.


Terlalu banyak hal yang terjadi membuat Huang Kun pusing, pemuda itu menghabiskan makanannya dan bergegas kembali ke kamar.


Sedangkan Xin Fai berfokus mendengar cerita Lian Sheng dan juga Li Yong, keduanya sedang membahas hal penting, Shen Xuemei merasa tak enak di tempatnya dan langsung pamit untuk tidak menggangu obrolan.


Lain halnya dengan Xin Fai yang memilih mendengar pembicaraan itu sambil bercanda dengan Lian Kaili, sejenak alisnya berkerut saat Lian Sheng mengatakan bahwa baru-baru ini para pembunuh bayaran dari Kota Houbi tempat tinggal Lian Sheng telah ditarik, mereka menghilang begitu saja dan dikabarkan juga di tempat lain pergerakan kelompok itu telah berhenti tanpa sebab.


Lian Sheng memang sengaja mencari informasi tentang pembunuh bayaran itu karena sebelumnya anaknya menjadi sasaran mereka, jika benar seluruh pembunuh bayaran di Kekaisaran Shang telah ditarik pasti akan ada sesuatu yang terjadi setelahnya. Pergerakan ini layaknya ombak laut yang surut sebentar untuk mendatangkan gelombang dahsyat.


Xin Fai tampak pucat pasi di tempatnya, dia mulai menduga-duga segala kemungkinan yang akan terjadi dan semua hal itu kembali lagi pada ucapan seorang gadis pembunuh bayaran tempo lalu yang mengatakan ribuan pembunuh bayaran akan bergerak untuk menangkapnya.


Jika hal itu benar-benar akan terjadi, Xin Fai takkan punya kesempatan untuk lari lagi. Dia menarik napas dalam dan izin pamit dari keduanya dengan alasan kurang enak badan.

__ADS_1


Lian Sheng hanya menatap kepergian Xin Fai dan berusaha mengerti sedangkan Li Yong kurang lebihnya tahu apa yang Xin Fai rasakan. Dia hanya berharap dugaannya itu salah.


__ADS_2