
Puluhan rumah panggung menjajari tempat yang berkemungkinan besar adalah daerah Manusia Darah Iblis menyimpan semua persediaan barang mereka. Habis mengelilingi seluruh rumah yang diisi oleh banyak barang keperluan dan tidak menemukan satu petunjuk pun mengenai Shen Xuemei, Xin Fai berhenti sejenak.
Tatapannya jatuh pada rumah paling besar, berlambangkan tengkorak merah bertali-tali. Di dalamnya hanya terdapat banyak sekali tong minyak dan juga persediaan kapas, terlihat juga tumpukan kain layar yang kemungkinan besar mereka dapatkan dari hasil merampok kapal-kapal.
Ini menunjukkan penyerangan Manusia Darah Iblis semakin meluas hingga sampai ke perairan, demi membayar gaji seluruh anggota yang semakin banyak mereka semua merampok uang dan juga barang-barang yang sekiranya bisa dijual.
Xin Fai mengingat kembali ucapan pendekar itu sembari menggumam. "Rumah paling besar, tiga rumah sebelah kanan..."
Langkah kakinya beralih melewati dua rumah dan berhenti di rumah selanjutnya. Zhuan Ang sampai membuka tutup mulutnya. "Apa yang sedang kau lakukan?"
"Ikuti aku," perintahnya sambil merunduk memasuki kolong rumah panggung yang agak tinggi itu, jaring laba-laba langsung saja lengket ketika mereka memaksa masuk.
"Bisa kau jelaskan kita sedang apa di sini?" Mulut Zhuan Ang kembali mengomel, tentu saja karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan di bawah rumah panggung berbau kencing tikus ini.
Pemuda itu menutup mulutnya risih, mengumpat lagi dan hasilnya membuat telinga Xin Fai panas mendengar celotehannya.
"Kalau kau tidak sanggup keluar saja, biar aku yang mencarinya sendiri."
"Kau bahkan belum mengatakan apa yang sedang kau cari di sini!"
"Memang kau pikir aku mencari apa selain Shen Xuemei?" Xin Fai akhirnya menampakkan wajah kesalnya yang sedari tadi dia tahan, juga karena tidak mendapatkan petunjuk apa-apa setelah setengah jam berkeliling di bawah rumah ini membuat emosinya gampang terpancing.
Zhuan Ang mendesis samar. "Ya, ya. Kau cari saja sampai puas. Aku akan menjaga-jaga dari depan agar tidak ada yang mencurigai kita."
Tempat dia berdiri tak lebih dari tanah liat yang becek, Xin Fai menarik kembali kakinya yang hampir tenggelam. Tiga jam mondar-mandir di atas tanah kotor membuat tubuhnya mulai kumal, tidak ada pilihan lain. Ini semua demi menyelamatkan teman satu sektenya dulu.
"Hah... Ini benar-benar tidak masuk akal..." gerutunya. "Mana mungkin mereka mau menyembunyikan sandera di bawah kolong rumah seperti ini."
Zhuan Ang mulai kelabakan di depan rumah, salah seorang menyadari tindakan mereka sejak dua jam yang lalu dan merasa curiga akan hal itu.
__ADS_1
Pendekar tersebut mengernyitkan dahi saat mengintip di bawah kolong rumah. "Oi bocah, apa yang kau lakukan di tempat seperti itu? Kurang kerjaan, ya?"
Sontak saja Zhuan Ang panik, dia mencoba mencari alasan yang masuk akal namun bibirnya kelu mengatakan. Kepanikannya berhenti ketika Xin Fai yang ambil alih menjawab.
"Tidak usah dipikirkan, tadi koin emasku jatuh saat masuk ke rumah ini. Sepertinya jatuhnya tak jauh dari sini..." ucapnya sembari melemparkan pandangan mencari-cari.
"Aih, menyedihkan sekali kau nak! Bajumu sampai kotor begitu, sudahlah keluar saja biar aku ganti dengan koin emasku!"
"Tidak usah, paman. Aku akan mencarinya saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku," balasnya. Pendekar itu masih rela tak rela meninggalkan tempat tersebut, dia sempat menoleh sekilas sebelum benar-benar pergi dari sana.
Xin Fai benar-benar buntu, dia tidak bisa menemukan sebuah ruang bawah tanah setelah memutari seluruh bagian tempat ini berkali-kali. Sembari berpikir lebih jauh matanya menatap ke tanah yang lebih kering di depan sana. Sebuah tali menjulur di tanah menuju tempat lain, dia tersenyum tipis.
"Aih, capek-capek aku pikirkan ternyata jawabannya ada di depan mataku sendiri."
Zhuan Ang mengamati sekitarnya mulai bosan, ketika dia memutuskan untuk mengajak Xin Fai berbicara lagi ternyata pemuda itu tengah berjalan mengendap-endap membunuh musuhnya di tempat yang sepi. Dia menyusul bingung.
"Kau mau mengganti baju? Untuk apa?"
Langkah kaki mereka berderap pelan melewati rombongan Manusia Darah Iblis yang baru saja menyelesaikan latihan memanah, Xin Fai merundukkan kepalanya agar komandan itu tidak mengenalinya. Lagipula sepertinya orang baru dalam kelompok mereka tidak terlalu dipedulikan.
Arah tali yang terjulur dari rumah tadi mengarah ke sebuah daerah di mana terdapat sebuah tempat memasak, beberapa daging kering yang sudah diasap berhari-hari digantung membuat lalat mengerubungi tempat itu, dan juga sebuah sumur kering di sampingnya semakin membuat orang-orang malas melewati tempat tersebut.
"Kurasa Manusia Darah Iblis ini cukup pintar juga menyembunyikan rahasianya," ucapan Xin Fai berhenti saat tali sampai tempat kotor itu.
"Selebihnya kita cari sendiri."
Zhuan Ang tiba-tiba menarik tubuhnya kencang, mereka berdua menunduk di balik sumur saat dua orang penjaga melintasi tempat tersebut. Mereka mengawasi selama lima menit hingga akhirnya pergi ke tempat lain.
"Rupanya ada guna juga kau ke sini," gumam Xin Fai pelan.
__ADS_1
"Apa katamu? Aku juga banyak bekerja dari tadi!"
"Maksudmu mengomel-ngomel tidak jelas?"
Kala itu Zhuan Ang seperti sedang menelan emosinya sendiri, dia tahu berdebat dengan pemuda itu hanya akan memperjelas kekalahannya dalam berargumen. Zhuan Ang mengintip memastikan tidak ada lagi yang lewat dan bangkit dari jongkoknya memeriksa sekitar.
Hal yang sama juga dilakukan Xin Fai, dia mengangkut beberapa papan mencari petunjuk, tempat itu juga bisa dibilang luas.
Mendadak Zhuan Ang mengeluarkan pendapatnya. "Kalau aku jadi mereka, sudah pasti aku akan menyembunyikan sandera di ruang bawah tanah daripada di rumah-rumah panggung seperti tadi."
"Aku juga berpikir seperti itu, permasalahannya bagaimana kau menandai letak tempat itu tanpa bisa diketahui oleh orang?"
Zhuan Ang mencoba berpikir-pikir lebih jauh tapi otaknya terasa memanas, dia mendengus berat. "Kalau kau sendiri? Bagaimana menurutmu?"
"Aku akan membuat tempat itu menyatu dengan daerah sekitarnya agar tidak mudah diketahui."
"Caranya?"
"Seperti..."
Mereka berdua buntu sampai di situ, Zhuan Ang menggerutu kelelahan, dia duduk di atas tanah sembari mendongakkan kepalanya ke langit. "Ais kalau begini terus kita hanya akan terhenti di sini sampai Ren Yuan memilih kembali ke kota."
"Baru segitu kau sudah menyerah? Kenapa tidak sekalian saja kau pulang pada ayah ibumu."
"Berhenti menghinaku, kau ini mulutmu sama saja seperti ibuku. Sekalinya mengomel membuatku ingin sekali menangis."
"Hahahaha," tawa Xin Fai terdengar mengejek, dia puas membuat Zhuan Ang begitu. "Makanya jangan mengeluh terus, semua ini akan sia-sia kalau kau merengek tanpa bekerja."
Pencarian berikutnya masih belum menemukan titik terang, Xin Fai berhenti sebentar sembari duduk menyenderkan kepalanya di batang pohon. Udara panas bertiup menerpa wajahnya siang itu, entah sudah berapa kemungkinan dicobanya namun semuanya gagal dan malah menambah pusing kepalanya.
__ADS_1
Xin Fai mencoba mengingat-ingat kembali beberapa rahasia Manusia Darah Iblis sebelumnya yang berhasil dia pecahkan, alisnya mengerut dalam setelah itu. "Biasanya mereka menyembunyikan sesuatu dengan cara yang sederhana, tapi juga mengecoh. Sederhana tapi rumit, begitu cara mereka berpikir."