
Di dunia nyata tampak dua puluh pendekar tumbang tanpa sebab, mereka menjerit kesetanan. Jauh lebih menyakitkan daripada dibakar hidup-hidup. Lolongan itu terus terjadi sampai dua menit kemudian tanpa siapapun yang bisa menolong. Anggota dari sekte Gunung Angin Timur terdiam mematung melihat pemandangan tragis itu, entah apa yang mereka pikirkan namun semenjak itu tatapan mereka berubah terhadap Xin Fai.
Lamat-lamat suara jeritan tak terdengar lagi, bergantikan dengan kesenyapan yang begitu menusuk. Kini tersisa seorang pendekar aliran hitam yang masih bertahan jatuh terduduk, dia berada di luar jangkauan jurus Ilusi Hujan Darah. Nyawanya masih tertolong setidaknya beberapa detik kemudian sebelum pemuda yang kini berjalan mendekat datang seakan ingin memenggal kepalanya.
"Kau yang tadi, ya?"
"Y-ya?" Pria itu kelabakan menjawab, oksigen terasa menipis di sekitarnya akibat takut yang dia rasakan.
"Orang yang ingin memberiku emas di rumah panggung tadi, kurasa kau punya simpati terhadap sesamamu. Tapi tidak dengan musuhmu."
Lantas saja tatapan pria itu jatuh ke bawah, dia merunduk dalam menyesali perbuatannya.
"Aku... Aku melakukan ini semua hanya demi uang dan kekuatan semata. Aku memang berdosa, walaupun aku tahu ini salah namun aku tidak punya pilihan lain untuk terus bertahan hidup."
Pria itu melanjutkan. "Kami yang seringkali dianggap sebagai sampah, akan terus hidup menjadi sampah, Tuan Pendekar. Hanya Manusia Darah Iblis yang bisa menampung kami semua, para pecundang seperti kami tidak layak diterima oleh orang-orang baik seperti kalian."
"Memang kau pikir kami semua orang baik?"
Pria itu terdiam lagi, dia memejamkan mata. "Kalau kau ingin membunuhku, silahkan. Aku tidak keberatan, mungkin dengan mati di tanganmu rasa bersalah yang selama ini kurasakan akan berkurang."
"Kau tahu di mana Xin Xia disembunyikan?"
Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pria itu mendongak cepat. Dia seperti ingin berbicara namun sesuatu menahannya. "Maafkan aku, aku tidak bisa memberitahumu."
"Baiklah, kau boleh hidup. Setidaknya sampai aku mendapatkan informasi darimu. Perkenalkan aku Xin Fai, pimpinan Aliansi Pedang Suci."
"Ketua Xin, apa maksudnya ini semua?" Zhu Yue datang, dia baru saja membunuh lawan dan mendapati pimpinan mereka tengah berdiskusi dengan musuh.
"Tapi, Tuan, aku sudah cukup berdosa, lebih baik kau membunuhku langsung karena aku sendiri tidak bisa memberikan informasi apa-apa padamu." Pria itu memperlihatkan tato kalajengking di dadanya.
__ADS_1
"Jika mengatakan informasi rahasia kami, tato ini akan segera bereaksi dan memecahkan tubuhku detik itu juga. Kami yang memasuki kelompok ini masing-masing memiliki iblis penjaga di dalam tubuh."
"Aku sudah mengetahuinya, yang perlu dilakukan adalah cara menyingkirkan iblis itu bukan?"
Zhu Yue yang sedari tadi diabaikan akhirnya menahan diri dan menyimak lebih lama obrolan tersebut, tanpa sadar musuh yang berada di tempat lain telah habis dibantai oleh pasukan sekte Gunung Angin Timur dan Aliansi Pedang Suci.
"Itu tidak mungkin..."
"Kau merasa cukup berdosa? Kenapa tidak mencoba menebus itu semua dengan membantu mendamaikan dunia ini?"
Kata-kata pria itu tertahan di ujung tenggorokan, matanya mencoba menelisik lama sembari berpikir keras. Selagi pria itu mempertimbangkan Xin Fai beralih menatapi Zhu Yue.
"Setelah ini kita akan pergi ke sekte Kuil Teratai untuk mengantarkan Shen Xuemei, lagipula sejak awal aku ingin bertemu dengan teman-temanku yang lain di sana."
"Baik Ketua Xin. Semua keputusan berada di tanganmu."
"Ya, aku akan ikut. Terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk hidup, Tuan Pendekar. Sebelum itu perkenalkan namaku Ho Xiuhan."
Sesaat sebuah uluran tangan menawarkannya berdiri, Ho Xiuhan tersenyum kecil dan segera menyambutnya. Dia tidak menyangka hari ini akan dipertemukan dengan sosok seperti Xin Fai.
Belum bisa menarik napas lega mendadak keributan terjadi di belakangnya, Xin Fai menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Zhuan Ang sedang jatuh dengan mulut dipenuhi darah. Dia menahan rasa sakit yang luar biasa sejak bertarung tadi, berupaya memaksakan diri agar tidak terlalu menjadi beban pada rekan-rekannya.
Kini sisa tenaga dalamnya telah habis, dia tidak memiliki kekuatan lagi untuk menahan racun-racun di dalam tubuhnya yang semakin mengganas. Zhuan Ang terbaring di tanah, mencoba menarik napas dalam namun paru-parunya semakin sesak. Pemuda itu ingin sekali meringis namun ketika melihat Ren Yuan berjongkok di sampingnya semua erangan itu ditahannya sebisa mungkin.
Zhuan Ang hanya tidak ingin terlihat lemah.
"Bodoh! Apa yang terjadi padamu?!" Ren Yuan menepuk pipinya pelan, hanya menurutnya pelan tapi yang dirasakan Zhuan Ang justru tamparan itu seperti tamparan orang yang sedang tersulut dendam kesumat.
Salah satu anggota Aliansi Pedang Suci menyadari hal itu sejak tadi, dia melihat bagaimana perjuangan Zhuan Ang. "Dia terkena racun, mungkin racun itu terlalu berbahaya. Lihatlah wajahnya mulai membiru."
__ADS_1
Xin Fai baru saja datang menyusul mereka, dia berlutut di samping Zhuan Ang yang sedang mempertahankan nyawanya.
Di satu sisi Xin Fai tidak memiliki solusi karena di dalam cincin ruangnya tidak ada lagi sisa penawar segala racun karena sebelumnya telah dia pakai. Ditambah lagi umur Zhuan Ang mungkin tidak akan bertahan lama jika harus dibawa ke kota terdekat untuk membeli penawar.
Ho Xiuhan ikut berlutut di samping tubuh Zhuan Ang yang terbaring lemah. Dia mengangkat wajah. "Racun ini bisa disembuhkan dengan meminum darah orang itu," ujarnya sembari menunjuk Shen Xuemei yang berdiri tak jauh dari sana, kebetulan dia juga sedang berjalan ke arah mereka.
Tanpa banyak mengeluarkan kata-kata lagi Shen Xuemei menyayat jarinya sedikit, beberapa tetes darah membasahi bibir Zhuan Ang. Tak lama setelahnya darah itu mulai bereaksi, racun-racun di dalam tubuh Zhuan Ang mulai berhenti menggerogoti tubuhnya.
Melihat keadaan Zhuan Ang mulai membaik akhirnya Xin Fai sadar mengapa tubuh si Kebal Racun ini begitu diincar. Darahnya bisa digunakan sebagai penawar segala racun. Jika dipikir-pikir lagi entah apa saja yang telah Shen Xuemei rasakan selama hidup dalam pelarian, mungkin juga tubuhnya mengering karena darahnya selalu dihisap seperti ini.
Senja perlahan undur, biasanya terlihat mentari terbenam menghadirkan rasa damai, Xin Fai menarik napasnya dalam. Mereka semua menang dalam penyerangan kali ini, bisa dikatakan ini adalah kemajuan setelah beberapa tahun ini pihak aliran putih sering kalah dalam memperebutkan wilayah kekuasaan.
Di sisi lain dia dapat melihat Ho Xiuhan membantu Shen Xuemei berdiri, tampaknya lelaki itu benar-benar serius ingin mengubah jalan hidupnya. Meski Xin Fai tidak begitu yakin untuk saat ini, dia juga harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan kembali adiknya yang mungkin saja sedang berada dalam bahaya.
Lagipula rencananya untuk mengorek informasi dari para petinggi Manusia Darah Iblis agaknya keliru, mereka sama seperti Ho Xiuhan, jika mengatakan rahasia kelompok maka tubuhnya akan dipecahkan oleh iblis yang ditanam di tubuh mereka tanpa pandang bulu.
Meski belum pernah melihat kematian anggota Manusia Darah Iblis akibat mengatakan rahasia ini secara langsung namun kurang lebihnya Xin Fai sudah percaya, karena dia sendiri pernah melihat bagaimana orang-orang itu merekrut anggota dan menanamkan iblis jahat di tubuh mereka.
Hari senja seperti ini membuatnya semakin pusing berpikir, Xin Fai mencoba mencari ketenangan dengan melihat semburat jingga di atas langit. Ketenangan itu seketika sirna saat telinganya disapa suara seorang gadis cantik.
Baru saja Ren Yuan hendak mengatakan sesuatu setelah sebelumnya malu-malu berbicara, Xin Fai sudah lebih dulu berlalu darinya. Dia tidak memiliki waktu untuk sesuatu yang bernama cinta, ada begitu banyak hal yang harus dikejarnya.
"Hei, tidak sopan! Aku baru saja mau berbicara!"
"Ajak bicara yang lain saja, aku harus menjarah semua barang di tempat ini sebelum kita pergi."
**
jangan lupa dukungannya, dgn vote, komen dan like 😉
__ADS_1