Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 272 - Kebimbangan


__ADS_3

Shen Xuemei duduk sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tampak sedang memikirkan sesuatu lalu merundingkannya di sidang rapat tersebut. Selebihnya mereka membahas tentang jumlah pasukan musuh yang harus dihadapi.


Shen Xuemei mengatakan baru-baru ini dia mendapatkan informasi bahwa jumlah pendekar di pusat utama markas Manusia Darah Iblis memiliki setidaknya seratus ribu pendekar.


Yang mana dua puluh persennya didominasi oleh pendekar besar, sebanyak limapuluh persen pendekar menengah, 10% pendekar agung, dan sisanya adalah pendekar kecil. Hanya beberapa yang memiliki kekuatan tanpa batas dan itu semua bisa dihitung dengan jari.


Sedangkan di pihak mereka sendiri hanya memiliki 50 ribu pendekar, jumlah yang jelas membuat mereka terbanting di awal pertarungan.


Untuk itu Shen Xuemei menyarankan mereka untuk mengumpulkan pendekar dari seluruh Kekaisaran sehingga mencapai jumlah setidaknya 70ribu. Dia meminta waktu satu bulan.


Meskipun merupakan hal yang cukup sulit dilakukan namun Shen Xuemei berjanji akan mendapatkan jumlah pasukan yang dibutuhkan. Dengan berakhirnya sidang rapat tersebut, para tamu diperkenankan untuk beristirahat.


Xin Fai masih duduk di kursinya, berpikir sendirian tak ingin diganggu bahkan oleh Zhu Yue sekalipun. Dia mulai memikirkan strategi yang akan menjamin kemenangannya di medan tempur nanti, andai saja rencana yang dipersiapkan tidak berhasil. Kemudian pemuda itu tiba pada satu kesimpulan.


Dia harus mengunjungi sosok yang telah lama tak ditemuinya itu. Entah sosok itu masih mengingatnya atau tidak, Xin Fai merasa harus menepati janji kepadanya.


Di bawah kaki lembah berkabut yang luas membentang berdiri lima puluh ribu pendekar yang berhasil dikumpulkan, mereka mengibarkan bendera Kekaisaran Shang dengan gagah berani.


Terdengar sorak-sorai saat Qin Minjie berdiri di atas benteng pertahanan, menghadap ke arah puluhan ribu orang yang tak lama lagi akan menghadapi perang besar.


Semangat mereka berapi-api tak terbendung, tidak sedetikpun terlewatkan tanpa teriakan menyanjung Kaisarnya.


"Hidup Kaisar Qin!" Teriakan itu menggema dan terus terjadi selama beberapa menit, Qin Minjie mengangkat tangannya. Seketika membuat semuanya diam tertib, tak lama muncul seorang pemuda di depan mereka.


Dengan jubah kehormatan yang didesain khusus untuk pimpinan Aliansi Pedang Suci, dia Xin Fai, tercengang melihat banyaknya pendekar di depan.


Seumur hidup dia tidak pernah merasakan suasana seperti ini, kelak dirinyalah yang akan memimpin pasukan berperang ini. Tugas yang ratusan kali lebih sulit dibanding memandu Aliansi Pedang Suci.


"Yang Mulia Qin Minjie telah datang! Dan Panglima Besar kita, Xin Fai akan memimpin langsung dalam peperangan ini, demi satu kesatuan Kekaisaran! Dan juga demi perdamaian dunia, tidak ada alasan untuk takut terhadap kejahatan!" Seorang pria yang berdiri di samping Xin Fai menyeru sangat keras sehingga dapat didengar oleh semua orang.


Qin Minjie berdiri di depan, menyampaikan beberapa pesannya pada para pasukan ini. Tiap-tiap pasukan dibagi atas seribu orang, dengan perlengkapan senjata masing-masing.


Ketika berteriak suara mereka terdengar seperti menggema, lagi-lagi Xin Fai dibuat terpana akan pemandangan ini. Entah kenapa baru pagi ini dia dibuat gugup sekali, tak bisa menyembunyikan ekspresinya sama sekali.

__ADS_1


Qin Minjie menyadari hal itu, dia beralih menatapnya. "Aku tahu tugas ini sangatlah berat, jangan jadikan sebagai beban di pundakmu. Jadikan perang besar ini sebagai kewajibanmu. Lakukan yang terbaik."


"Terimakasih Kaisar Qin, kurasa aku harus serius dalam pertempuran ini..."


"Apa kau sudah mempunyai rencana untuk perang ini? Kurasa kau orang yang suka berpikir keras, sejak semalam aku memperhatikanmu masih duduk di ruangan yang sama." Qin Minjie mengucapkannya dengan datar, membuat Xin Fai bingung apakah pria di depannya ini sedang berniat basa-basi atau memang curiga terhadapnya.


"Rencana? Tidak bisa kubilang rencana juga, Yang Mulia, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Dengan senang hati."


"Apa Yang Mulia tahu apa rencana yang tidak akan gagal?" Pertanyaan itu sebenarnya tidak pernah diduga Qin Minjie, dia terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat.


Namun Qin Minjie sepertinya tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan tersebut, wajah pendiamnya terlihat sangat bingung. Dia menggelengkan kepala pelan.


"Tidak ada rencana, tidak akan ada kegagalan. Ya... Hidup tidak bisa direncanakan, seperti saat kau lahir, apa Yang Mulia pernah merencanakan akan lahir sebagai anak seorang Kaisar?" ucapnya.


Xin Fai tersenyum sedikit saat melanjutkan. "Aku selalu melakukan semuanya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi besok atas perbuatanku dan semuanya berjalan seperti air."


Qin Minjie mengalihkan pandangannya ke puluh ribu pendekar di depan sana, tak terasa percakapan ini membuka sedikit pemikirannya.


"Yang Mulia terlalu memuji," balasnya. Xin Fai terdiam sejenak, mungkin saat ini dia harus menyampaikan sesuatu yang penting pada Qin Minjie.


"Yang Mulia, sebelum perang ini aku harus pergi ke suatu tempat."


Sesaat ekspresi Qin Minjie berubah, terlihat sedikit cemas. "kau bisa memastikan tetap akan memimpin perang ini, kan?"


Xin Fai tertawa kecil, hanya sebentar hingga iris matanya kembali menatapi Kaisar Qin. "Aku ingin menemui seseorang dan ini sangat penting, mungkin suatu saat aku tidak bisa kembali untuk menepati janjiku. Izinkan aku menemuinya sebelum perang ini."


Qin Minjie sesaat terdiam, tak terasa sekilas senyumnya terlihat di wajah kakunya. Entah pria itu salah mengartikan maksudnya, Xin Fai pun tidak tahu.


"Kau ingin menemui orang yang kau cintai? Ah, maaf aku tidak mengerti kondisimu saat ini."


Xin Fai terbatuk-batuk pelan, dia berniat meluruskan ucapannya namun terlanjur matanya melirik ke arah lain. Tampak Ren  Yuan berdiri tak jauh dari mereka, bersama beberapa pendekar jagoan lainnya. Dia berhenti berjalan membuat yang lainnya pun ikut kebingungan.

__ADS_1


Ren Yuan menunduk kemudian pergi begitu saja, Qin Minjie berdehem pelan. "Kau boleh pergi kapanpun, ingatlah untuk kembali sebelum satu bulan ke depan."


"Baiklah."


Derap langkah terdengar di sepanjang lorong, terburu-buru melintasi tempat tersebut. Ren Yuan terdorong kuat saat bahunya menyenggol tubuh Lan An, pemuda itu mengerjapkan mata beberapa kali saat melihat gadis itu.


Wajah cantiknya yang biasa terlihat galak kini menjadi sembap. Tak tahu mengapa.


"Hei, apa yang terjadi denganmu? Siapa yang berani-beraninya melukai gadis cantik sepertimu?" Lan An bersikap seolah pahlawan, dia selalu menghormati wanita manapun. Terkhususnya ibunya sendiri.


Ren Yuan menggelengkan kepalanya dua kali, masih menangis.


"Aish... Benar-benar yang membuatmu menangis seperti ini, kalau aku tahu siapa sudah pasti aku akan meninju kepalanya!"


Andai Lan An sadar siapa orang yang telah membuat Ren Yuan menangis, dia akan berpikir seribu kali untuk melakukannya. Ren Yuan mengangkat kepalanya perlahan, terlihat hidungnya memerah.


"Kau sudah bersama Xin Fai selama bertahun-tahun... Apa kau tahu seseorang yang mungkin dekat dengannya?"


Lan An sedikit bingung tapi dia segera menjawab. "Zhu Yue?"


"Selain itu?"


"Em... Shen Xuemei? Huang Kun?"


"Yang lain?"


"Para anggota Aliansi Pedang Suci? Apa kau mau aku sebutkan satu per satu namanya?"


Ren Yuan menggeleng kencang. "Maksudku bukan dekat dalam artian itu, seperti... Dengan seorang gadis?" Gadis itu sedikit hati-hati saat menanyakannya. Dia menoleh kanan-kiri berharap tak menemukan sosok yang tengah mereka bicarakan.


"Oh... Kalau itu..." Lan An berpikir-pikir keras, membuat Ren Yuan menunggu dalam kebimbangan.


***

__ADS_1


covernya tiba2 berubah gk tau knp🤔😂


__ADS_2