Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 175 - Kapal Budak


__ADS_3

Bunyi guntur menggema di malam yang mencekam itu, suara bunyi kayu akibat gesekan kapal terdengar menderit-derit memekakkan telinga. Ketika para awak kapal sudah bisa melihat kembali dengan jelas ke arah jembatan pelabuhan di situlah mereka dibuat kebingungan.


"Hei? Apa aku salah lihat? Kurasa di sana tadi ada seseorang?" tanya salah satu awak kapal.


"Jangan bercanda! Barusan tadi aku berbicara dengannya tidak mungkin aku berhalusinasi!"


"Mungkin dia sedang sembu–" salah seorang pendekar menghentikan kalimatnya ketika melihat sebuah kepala menggelinding di bawah kakinya.


"Arrrgh!" Dia menjerit ketakutan, pendekar kelas teri ini menenggak ludah kasar saat bisa melihat siapa dalang di balik ini semua.


"Kau cari mati, ya?!" teriak salah satu dari mereka sembari menggertak dengan tatapannya yang dibuat tajam tetapi aura mengerikan dari tubuh Xin Fai jauh lebih menekan mentalnya.


Pemuda itu mengangkat pedangnya ke arah kurungan para gadis budak di atas kapal. "Aku hanya ingin melepaskan mereka."


"Kau pikir semudah itu? Jangan besar kepala dulu, bocah! Aku tidak takut padamu. Hanya memenggal kepala seperti itu siapa yang tidak bisa!?"


"Hm? Aku cuma bilang ingin melepaskan mereka semua."


"Jangan banyak omong! Kalian semua cepat hajar pemuda itu!"


Pertarungan di atas kapal berlangsung sangat sengit, tetesan darah mengalir di lantai kayu kapal dengan gelombang laut yang semakin naik mengguncang kapal. Xin Fai baru saja hendak memenggal lawannya lagi sebelum salah satu dari mereka membuka kurungan budak dan menyandera salah satunya.


"Me-menyerahlah atau aku akan membunuh gadis ini!" Pria itu menarik rambut sang gadis begitu kasar tanpa mengalihkan pandangannya ke depan takut jika Xin Fai bergerak tiba-tiba.


Xin Fai melepaskan lawannya yang hendak dihabisinya itu, dalam seketika puluhan orang menyerbunya di segala arah membuat dia tidak memiliki jalan untuk keluar.


Belum menarik pedangnya lagi-lagi pria yang kini menyandera budak berteriak lantang. "Jika kau membunuh teman-temanku aku akan membunuhnya!"

__ADS_1


Merasa cara menyandera seperti ini berhasil si pendekar itu tersenyum laknat, dia mulai menatapi pedang Xin Fai yang terlihat amat berharga dan merasa itu bukan barang biasa.


"Kau ingin dia tetap selamat, bukan? Aku berjanji tidak akan membunuhnya sampai tiba di tempat tujuan kami dan kau bisa pergi dengan meninggalkan pedang itu."


Terdiam beberapa saat Xin Fai akhirnya mundur sambil berdecih, dia akhirnya bisa membebaskan diri dari puluhan pedang yang diletakkan tepat di depan matanya. Setelah meletakkan pedangnya di lantai dirinya mundur tertib ke turun dari kapal.


Ketika Xin Fai telah kembali ke jembatan para pendekar aliran hitam itu baru bisa bernapas lega, mereka buru-buru menyuruh pengemudi kapal untuk segera bergerak.


"Kalau terlalu panik begitu kalian jadi lengah, ya?"


Perkataan Xin Fai tentu saja mengundang banyak pertanyaan di kepala para awak kapal. Mereka mulai merasakan ancaman yang begitu berbahaya saat terdengar bunyi aliran listrik di atas sana.


Pendekar yang tadinya menyandera gadis mendongakkan kepalanya pelan sebelum matanya melebar ketika melihat ratusan pisau cahaya bermuatan listrik hendak menikam dari atasnya.


Belum sempat berteriak tenggorakan pria itu telah tembus oleh pisau cahaya tersebut, dengan kekuatan seperti itu mereka tidak memiliki waktu untuk melarikan diri dari serangan. Lantas saja dalam hitungan kurang dari sepuluh detik belasan nyawa telah melayang menyisakan para budak dan pengemudi kapal yang tersisa.


Salah satu dari gadis yang berhasil selamat berterimakasih padanya, Xin Fai mengangguk pelan sebelum akhirnya menghilang di balik bangunan perumahan warga.


Api kobaran agaknya telah berlangsung cukup lama dan kini mulai merambat ke tempat yang lebih jauh, Xin Fai mengumpat dalam hati saat melihat beberapa anggota Gagak Putih masih terlihat mengobarkan api tersebut sampai ke toko-toko barang berharga. Kerugian yang dibuat oleh mereka bukan hanya melingkupi korban jiwa, namun juga kerugian material di desa ini.


Sepanjang jalan Xin Fai membabatkan pedangnya kencang hingga dalam satu tebasan berhasil membunuh dua lawan atau paling tidak melumpuhkan mereka. Pasukan armor yang dibawa Yong Tao juga tak kalah kuatnya, mereka beramai-ramai menghancurkan kelompok Gagak Putih yang baru saja memasuki area pertarungan.


Jumlah mereka bisa dikatakan hampir setengah dari jumlah Manusia Darah Iblis di pusat kota Sanmin namun dibanding kekuatan mereka jauh lebih unggul dalam hal strategi.


Kecerdikan pihak Gagak Putih terlihat dari pertarungan antara kedua kubu yang terus tarik ulur, padahal pihak Yong Tao bisa dikatakan unggul dalam kekuatan. Tapi tetap saja satu demi satu anggotanya mulai mengalami cedera berat membuat musuh dengan bebasnya menggencarkan serangan membabi buta.


Merasakan keadaan mulai tidak membaik Xin Fai memilih turun tangan dan hadir di tengah-tengah pendekar Gagak Putih.

__ADS_1


Salah satu dari mereka kebingungan ketika tiba-tiba Xin Fai datang di sana seperti hantu.


"Hai."


Pendekar itu membuka mulutnya bingung harus menjawab apa. Dia belum sempat berpikir sebelum satu gerakan mencurigakan membuat nyawanya terasa dalam ancaman.


Yong Tao baru saja membereskan pihak aliran hitam di sayap kiri sebelum matanya menangkap sosok pemuda yang kini berdiri di tengah ratusan anggota Gagak Putih.


Di detik berikutnya hal mengejutkan terjadi, sebuah pusaran berkecepatan tinggi bergerak liar membantai orang-orang di sana tanpa pandang bulu. Bahkan pendekar besar pun tak luput dari serangan mengejutkan ini, mereka berusaha melarikan diri namun pedang di dalam pusaran tersebut terus bergerak melepaskan tebasan mematikan.


"Tidak heran mengapa dia bisa membantai 500 pendekar sendirian..." Yong Tao hanya bisa menggumam kecil ketika melihat pemandangan tersebut, dia berusaha membunuh pendekar tersisa menggunakan kekuatannya sambil sesekali melirik ke arah Xin Fai.


Beberapa saat kemudian pemuda itu berhenti menyerang dan memerhatikan sisa pendekar di sekitarnya. Merasa masih memiliki waktu untuk memohon ampun beberapa anggota Gagak Putih mengemis nyawa.


"Tuan tolong ampuni nyawaku, aku berjanji akan menjadi orang berguna setelah ini. Kau bisa memegang kata-kataku ini..." Ucapnya memelas. Tangannya menyatu ke depan penuh harap.


"Apa saat orang-orang yang kau bakar meminta seperti itu, kau akan membiarkannya hidup?"


Pendekar itu membungkam mulutnya ketakutan.


"Kalau begitu kau pantas mati!" Xin Fai tidak merasa harus melepaskan pria yang satu itu, lagipula kehidupannya sudah terlalu buruk untuk diperbaiki. Daripada membiarkannya terus hidup dan berbuat dosa, menurutnya lebih baik mengakhiri hidupnya sampai di detik itu juga.


Pupus sudah harapan laki-laki itu, dia pasrah ketika pedang mengayun cepat memotong lehernya, beberapa pendekar lain yang hendak mengemis nyawa pun mengurungkan niatnya dan memilih berlari atau bertarung dengan Xin Fai daripada harus mati sia-sia seperti lelaki itu.


"Oh, tak kusangka desa menyedihkan seperti ini akan didatangi jagoan sepertimu. Apa kau Lan An dari Pasukan Seribu Kaki?"


***

__ADS_1


__ADS_2