
"Senior Yong, aku ingin membunuh laki-laki itu. Boleh kita putar posisi?"
Yong Tao ingin sekali membantahnya karena merasa Liu Fengying amat berbahaya namun setelah mengingat kembali betapa mengerikannya kekuatan pemuda ini dirinya pun mengiyakan.
Aura pembunuh yang begitu kuat keluar begitu saja saat Xin Fai bertatapan dengan Liu Fengying, sekilas dirinya mengingat kembali adiknya Xin Xia yang kemungkinan berada dalam kelompok Manusia Darah Iblis.
"Apa seorang gadis bernama Xin Xia ada dalam pasukan kalian?"
"Cih, kau kira Ketua akan memberitahumu?" gerutu salah satu penjaga.
"Dia memang telah bergabung dengan kami atas kemauannya sendiri." Liu Fengying berucap.
Xin Fai mengeratkan pegangannya pada pedang. Sedangkan Yong Tao bercelutuk.
"Katanya tidak mau memberitahu, tapi malah dikasih tahu..."
"Itu tadi aku keceplosan." Liu Fengying meralat datar.
"Apa hubungan kalian dengan Xin Xia? Kenapa dia ada di kelompok kalian dan di mana dia sekarang?"
Salah seorang penjaga menjawab. "Gadis itu adalah pedang bagi kami. Darah murninya yang membuat kelompok kami bisa berkembang secepat ini dan jika kau menanyakan di mana dia tinggal–"
"Cukup-!" teriak Liu Fengying dibuat murka, dia kembali fokus dengan musuh di hadapannya. "Jangan salah, setelah kami memberitahu kalian jangan harap bisa keluar hidup-hidup dari sini. Aku akan membunuhmu."
Xin Fai menghela napas berat. "Sepertinya anakmu pernah bilang akan membunuhku juga sebelum dia sendiri yang mati.."
Pernyataan tersebut membuat kelopak mata Liu Fengying melebar kuat, perlahan demi perlahan wajahnya berubah kesetanan. "Jadi kau yang telah membunuh anakku!?"
__ADS_1
"Mau bagaimana lagi. Anakmu sendiri yang datang padaku."
Merasa detik berikutnya akan terjadi pertarungan yang hebat Yong Tao berinisiatif mengambil langkah awal mengurangi jumlah musuh guna memudahkan pertarungan Xin Fai nantinya. Baik Xin Fai dan juga Liu Fengying sama-sama menatap dengan penuh dendam kesumat, kedua orang itu tidak peduli akan sekitar dan fokus pada musuhnya.
Keduanya saling membatu di posisi masing-masing sebelum akhirnya melesat secepat kilat dan saling bertubrukan.
Pertarungan tersebut mengeluarkan jumlah tenaga dalam paling besar setelah Xin Fai keluar dari Hutan Kabut, inilah pertarungan yang paling terpenting baginya setelah mengarungi perjalanan hingga sejauh ini. Pemuda itu bersiap dengan posisi serang yang kuat dan membabat berani menghancurkan pimpinan Manusia Darah Iblis itu.
Seperti biasa keberuntungan Liu Fengying sangatlah besar, tak lama setelah bertarung sengit orang-orang kuat aliran hitam mulai berdatangan. Salah satunya si pimpinan kelompok aliran hitam yang usianya sudah senja, pria berjanggut itu mendekat ke arah pertarungan keduanya dengan tenang.
Xin Fai mendecak samar saat tahu orang itu hendak memasuki pertarungan sedang dirinya sendiri masih memikirkan cara untuk mengalahkan sosok pria yang telah berdiri di puncak dunia persilatan bertahun-tahun ini.
Baik Liu Fengying dan juga Yong Tao adalah orang nomor satu dalam pihak aliran putih-netral maupun hitam, kekuatan yang terbilang hebat ini pernah beradu 7 tahun silam mengakibatkan luka fatal yang harus mereka tanggung hingga hari ini.
Xin Fai menatap tajam ketika teman Liu Fengying bergabung dengan pria itu, Yong Tao yang menyadari keadaan mulai memburuk segera mengambil sikap. Dia melepaskan para penjaga ruangan dan beralih pada sosok yang berdiri di sebelah Liu Fengying.
"Amat disayangkan hari ini kita tidak bisa bertarung, pendekar nomor satu," tutur Liu Fengying pada Yong Tao. Mereka fokus pada musuh masing-masing. Liu Fengying akan bertarung dengan Xin Fai dan Yong Tao melawan pimpinan kelompok aliran hitam bernama Serikat Sembilan Siluman.
Ketika pertarungan antara orang-orang kuat ini dimulai para penjaga mulai bergerak menyerang saat menemukan celah, strategi keroyokan ini bisa dibilang ampuh untuk memojokkan dua orang ini. Hal itu terbukti saat Yong Tao mulai muntah darah ketika serangan tapak penghancur dari musuh menghantam dadanya.
Xin Fai memalingkan muka khawatir akan keadaan Yong Tao, sejauh ini dia terus memaksakan diri dan jika diteruskan mungkin saja nyawanya dalam bahaya. Ingin melarikan diri juga tidak akan mungkin karena para penjaga sudah menutup jalan dengan jumlah mereka yang tak terkira.
"Senior Yong, di atasmu!"
Yong Tao mengangkat pedangnya gemetar saat pedang musuh hendak membelah kepalanya, pedang miliknya menahan laju serangan tersebut dengan sisa tenaganya. Tak jauh darinya Xin Fai terus menggencarkan serangan ke arah Liu Fengying. Tubuh keduanya mulai mengalami luka saat itu.
"Kitab Tujuh Kunci - Seratus Pedang Purnama!"
__ADS_1
"Tarian Dewa Iblis!"
Kehancuran dari daya serang yang mereka timbulkan membuat langit-langit mulai berderak, Xin Fai berhenti mengayunkan pedangnya saat menyadari jurus pria itu bisa mematahkan semua serangannya sekuat apapun. Pedang yang digunakan Liu Fengying juga bisa dikatakan pusaka yang jauh lebih hebat dibandingkan pedangnya.
"Apa kau mulai ragu bisa mengalahkanku?" tantang Liu Fengying mengejek.
"Sepertinya mulutmu harus dijahit setelah aku membunuhmu nanti, pak tua jelek."
Liu Fengying ikut jengkel akan balasan tersebut. "Mulutmu itu yang harusnya dijahit, bocah!"
Yong Tao sendiri bisa melihat dendam di balik mata Xin Fai maupun Liu Fengying yang kini telah kehilangan putra semata wayangnya karena Xin Fai. Dia sendiri tidak tahu apa yang membuat Xin Fai begitu membenci pimpinan Manusia Darah Iblis ini, yang pastinya sesuatu yang buruk telah terjadi di masa lalu dan membuatnya menanggung dendam yang dibawanya seumur hidup.
Ketika sibuk meladeni pergerakan Xin Fai yang terus mengalir tanpa jeda, rupanya di saat bersamaan ratusan pisau cahaya terbentuk di atasnya siap menikam. Satu detik sebelum pisau itu bergerak Liu Fengying buru-buru memundurkan diri dan selamat begitu saja dari serangan tersebut.
Xin Fai mencebik kesal, Liu Fengying tidak sedikitpun lengah ketika bertarung dan pantas saja dia kini bisa menduduki gelar pendekar aliran hitam nomor satu. Meskipun kekuatannya sedikit lebih lemah dari Yong Tao, namun dengan kejelian dan taktik serangnya itu bukan tidak mungkin lawan yang lebih kuat darinya pun bisa kalah dengan mudah.
"Kuakui kekuatanmu memang jauh lebih hebat, itu juga jika kau bertarung dengan manusia yang selalu menggunakan otak ketika bertarung..."
"Apa maksudmu?" Liu Fengying mengernyitkan dahinya heran mendengar perkataan Xin Fai.
"Kau belum tahu betapa mengerikannya serangan binatang buas yang telah hidup beratus-ratus tahun di hutan rimba, kalau kau ingin melihatnya aku bisa menunjukkannya padamu." Xin Fai bersiap bertarung namun gerakannya terasa aneh di mata Liu Fengying.
Hidup tujuh tahun di alam bebas yang begitu keras mengajarkannya banyak hal, salah satunya bertarung tanpa menggunakan akal dan hanya mengandalkan insting.
Liu Fengying menjadi sedikit gentar saat merasakan banyak aura siluman keluar dari tubuh Xin Fai dan seperti menyatu dalam tulangnya.
***
__ADS_1
**jangan lupa untuk like setiap chapter, vote, komen dan follow authornya wkwk. kalau ada koin lebih juga kasih tips gak apa kalo gak ada cukup like aja author udh seneng kok😉besok lebaran idul adha ya? hehehe mungkin bakal crazy up sih tapi gak bisa janji, doain aja bisa yaa
see you, salam chicken 🐣**