
Pasukan Aliansi Pedang Suci digerakkan menuju Desa Guangfu berada, hanya membutuhkan tiga jam perjalanan untuk sampai ke tempat itu. Rou Han mengatakan dia tidak bisa mengantar mereka dengan alasan sibuk atau mungkin saja dia memang menghindari desa angker tersebut. Hanya anak buahnya yang mengantar mereka, raut wajahnya sama sekali tidak bisa dikatakan baik. Sepanjang perjalanan dia bergumam seperti berdoa.
Tiba di sebuah gerbang dengan tiang penyangga yang terlihat seperti akan roboh dua pendeta dengan jubah besar berdiri di hadapan mereka, mereka berbicara sebentar dengan anak buah Rou Han sembari mengeluarkan sebuah surat. Meskipun agak berat membiarkan Lan An dan Xin Fai masuk ke dalam tapi mereka memiliki pilihan lain.
Sementara itu anggota aliansi menunggu tak jauh dari mereka, saat Lan An dan Xin Fai berada dalam bahaya mereka akan melakukan komunikasi jarak jauh dengan menggunakan petasan.
Zhu Yue terlihat ingin menyusul keduanya, dia baru tahu hanya Lan An dan Xin Fai yang masuk sejak semalam pemuda yang menjadi pimpinan aliansi itu mengatakannya. Zhu Yue ingin ikut untuk memastikan dua orang itu aman, tapi di sisi lain dirinya sendiri tidak yakin apa akan berguna seandainya ikut ke sana.
Xin Fai berjalan lebih dulu dari Lan An, detik pertama menapaki tanah di des Guangfu satu-satunya yang dia dapatkan adalah energi jahat yang begitu kuat. Membuat pundaknya seperti ditimpa sebuah batu besar, pikirannya pun tidak bisa fokus sepanjang perjalanan.
Pemandangan sebuah desa yang telah berpuluh-puluh tahun ditinggalkan nampak di hadapan mereka, kayu penyangga roboh digerogoti oleh rayap. Suara burung hutan terdengar jelas karena tidak ada satupun aktivitas terdengar, membuat suara sekecil apapun bisa terdengar dengan sangat jelas.
Hanya kerangka tulang manusia yang telah berusia puluhan tahun terlihat di sana, serta beberapa mayat yang terlihat agak baru mungkin baru beberapa bulan yang lalu tewas. Xin Fai dapat menebak mereka adalah orang-orang yang mencoba diam-diam memasuki desa ini. Mencari harta tersembunyi yang disimpan, beberapa mungkin sudah menyadari ada satu benda pusaka hebat yang menyebabkan besarnya energi jahat di tempat ini, yakni Pedang Manusia Iblis. Pedang pusaka langit dengan kekuatan tanpa banding.
Hanya menebak saja Pedang Kaisar Langit juga bersama pedang itu, Xin Fai tidak bisa memastikannya seratus persen. Tanpa sadar langkahnya sudah semakin memasuki ke bagian tempat yang mulai jarang terlihat perumahan. Hanya sumur-sumur yang kotor terlihat di sana serta rumput liar yang tumbuh subur.
Berita tentang para penduduk yang mati dengan mata terbuka sendiri belum bisa dipastikan benar atau tidak, tapi melihat bagaimana posisi kerangka tulang ini bergeletakan membuatnya sadar mereka mati dalam keadaan tidak bisa menguasai diri, bisa jadi kerasukan ataupun sama sekali tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
Selagi Xin Fai menalar keadaan di sekitarnya Lan An terfokus pada satu titik, dia melirik dari sudut matanya dan menyadari tempat ini ditinggali oleh banyak binatang buas. Beberapa adalah macan buas. Monyet-monyet hutan bertengger di atas pohon, berteriak seakan mengusir dua manusia yang tengah berjalan itu agar segera pergi dari wilayah kekuasaannya.
Dalam hitungan detik berikutnya sesuatu yang dikhawatirkan Lan An benar-benar terjadi, dua ekor macan berukuran tubuh besar menghampiri mereka. Berjalan pelan mengitari mereka sambil memasang wajah waspada.
Xin Fai tersadar kini mereka berada dalam ancaman, dirinya mungkin terbiasa dengan binatang buas seperti ini tapi tidak dengan Lan An. Pemuda itu menghabiskan waktu bertahun-tahun di medan perang melawan sesama manusia. Ketika macan yang berada di depan Lan An mengaum, Xin Fai segera berjaga-jaga. Dia menarik pedang secara cepat, menunggu binatang itu melompat.
Xin Fai mengambil alih menyerang binatang buas itu, tapi tak lama berselang macan satunya lagi juga melakukan penyerangan.
Lan An menahan cakar macan besar itu menggunakan pedangnya menimbulkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Dia bertarung dengan binatang itu setelahnya, beberapa kali harus mundur karena jangkauan cakarnya terlalu lebar. Telat satu detik menghindar saja kulitnya bisa terkoyak sangat dalam.
Lan An mengeluarkan serangan tapak saat berada di atas udara, macan tersebut terkena di bagian kepala dan segera mengaum. Seperti sedang menunjukkan kemarahannya. Tidak disangka Lan An telah membuat macan itu menjadi lebih berbahaya dari sebelumnya, dia menerkam terus-terusan tanpa memberikan ruang untuk bernapas.
Macan yang menjadi lawan Xin Fai mengaum keras, menurut pemuda itu sendiri yang paling mengancam saat bertarung dengan binatang ini adalah taring dan cakarnya. Kini dia telah kehilangan cakar, Xin Fai menargetkan taringnya setelah itu.
Sedikit gerakan menipu dilakukannya, pemuda itu memutar poros tubuhnya dan kini langsung menghadap ke arah macan. Dia tersenyum sekilas. "Jangan menangis kalau aku mengambil taring kebanggaanmu itu!"
Benar saja, macan itu terlanjur membuka mulutnya lebar-lebar dan pedang masuk begitu saja ke sana. Membuat mulutnya koyak dan kini dua taringnya telah jatuh ke tanah. Xin Fai memungutnya sebentar lalu menatap lawannya bergantian.
__ADS_1
"Aku sudah selesai, bagaimana denganmu?" tanyanya pada Lan An, lawan bicaranya itu menjawab dengan nada berat seperti sedang berusaha menahan sesuatu.
"Tunggu sebentar lagi–" Akhirnya setelah lama beradu kekuatan dengan lawannya Lan An bisa melepaskan diri, dia membabatkan pedang dengan pergerakan cepat akan tetapi lawannya masih tetap bisa menghindar. Dia bahkan bergerak lebih dulu sebelum Lan An menyelesaikan serangannya.
Pemuda itu terdiam menerka-nerka. Dia masih tidak mengerti bagaimana macan ini jauh lebih pandai dari binatang biasanya.
"Macan itu bergerak mengikuti instingnya," ujar Xin Fai menunjuk Lan An kemudian. "Di awal-awal kau bisa mengalahkannya, kan?"
Lan An tidak mengerti lagi mengapa Xin Fai dapat mengetahuinya padahal dia yakin pemuda itu sendiri tidak memiliki waktu untuk mengamati pertarungannya.
"Pola serangan yang sama tidak akan berpengaruh pada macan itu, dia bergerak mengikuti insting. Pengalaman bertarungnya jauh lebih banyak dari kita, dengan begitu dia tanpa sadar sudah menghafal pergerakanmu itu."
Beriring setelahnya Lan An menatapi sang macan tersadarkan akan sesuatu, dia merasa ucpaan Xin Fai benar adanya. Tak menanyakan bagaimana dia bisa mengetahuinya karena sudah lebih dulu tahu bahwa jalan hidup yang ditempuh Xin Fai jauh lebih keras darinya.
Lan An mengangkat senjata dengan tatap mata tajam. Dia berjalan pelan dan semakin cepat saat hampir bertemu dengan musuh, dengan menggerakkan pedangnya dari atas hingga ke bawah sebagai permulaan Lan An berusaha mencari celah untuk menyerang.
Sesaat dia menyadari bagian perut macan tersebut bisa dapat diserangnya dengan mudah.
__ADS_1
Namun Xin Fai mengoreksinya dari kejauhan. "Sebelum kau menyadari celah itu, si macan sudah lebih dulu menyadarinya. Serang dia dari bagian tak terduga."
***