
Keadaan menjadi ribut diakibatkan para pendekar aliran hitam saling berdebat hendak menangkap Xin Fai, keributan itu sejenak lenyap ketika seorang anak perempuan kecil nan cantik datang bersama seekor siluman laba-laba.
"Nona Xin... Nona Xin bahkan ikut turun tangan!"
Pendekar lainnya memberi hormat padanya, mereka membuka jalan hingga anak perempuan yang nampaknya begitu belia itu berhadapan dengan Xin Fai.
Sedangkan itu jantung Xin Fai terasa berhenti berdetak ketika dirinya merasa sangat tidak asing dengan wajah tersebut, apalagi para pendekar aliran hitam memanggilnya dengan sebutan Xin yang erat kaitannya dengan nama keluarganya sendiri.
Tangan Xin Fai bergetar sebelum sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya. "Siapa kau...?"
"Siapa aku?" Gadis kecil itu melompat dari siluman laba-laba. Masih menahan napasnya kini Xin Fai semakin mengenali siapa anak kecil yang berdiri di hadapannya ini.
Xin Fai ragu ketika mengatakannya, namun dia sendiri tidak bisa menahan diri untuk mengetahui indentitas anak kecil ini lebih jelas. "Apa kau dari keluarga Xin?"
Gadis kecil itu mengangguk pelan.
"Kau... Apa kau Xin Xia?"
Terjadi keheningan sejenak tanpa ada jawaban dari gadis kecil itu, membuat Xin Fai mengepalkan tangannya erat saat memandangi parasnya yang begitu tak asing di matanya. Dia merasa mengenali gadis kecil ini adalah adiknya yang dulu tertembak anak panah tepat di jantung ketika di desa Peiyu dulu, Xin Xia.
Meskipun berharap demikian namun nyatanya lawan bicaranya sama sekali tidak membuka suara setelah itu dan justru melakukan perlawanan terhadapnya.
Para pendekar aliran hitam mundur beberapa langkah merasa tidak mau ikut campur dalam urusan ini tapi di mata Xin Fai mereka lebih terlihat takut terhadap kekuatan anak kecil bersama siluman laba-labanya yang sangat tidak biasa itu. Mereka malah lebih memilih bertarung dengan pendekar agung dari golongan aliran putih daripada harus bergabung dengannya.
__ADS_1
Aura siluman laba-laba ini mengingatkan Xin Fai pada siluman tikus dari Hutan Terkutuk itu, dia sangat mengenalinya karena aura itupun kini juga berada dalam permata di tubuhnya. Lama kelamaan aura pembunuh dari tubuh gadis kecil memekat hingga membuat orang yang berdiri di sekitarnya merasa tubuhnya semakin berat, mereka mencoba menjauh saat melihat gadis kecil yang mereka sebut dengan Nona Xin ini hendak mengamuk.
Demi membuktikan kebenaran, Xin Fai beranjak maju namun tidak mengeluarkan pedangnya. Dia yakin satu hal, gadis kecil ini memiliki wajah dan tanda lahir yang sama di bawah matanya seperti Xin Xia.
Gadis kecil itu mengangkat wajahnya, menatapi Xin Fai dalam diam sebelum akhirnya terjadi pergerakan secara tiba-tiba. Dia menerjang lawan begitu cepat bahkan kecepatan tersebut bisa disejajarkan dengan kecepatan lari Lang. Xin Fai melindungi tubuhnya menggunakan kedua tangan tanpa berniat mengeluarkan pedangnya sama sekali. Sebenarnya dia begitu yakin akan satu hal dan tidak berniat melukai gadis kecil itu sama sekali.
Darah segar mengalir dari kedua lengan Xin Fai, meskipun demikian dia tetap tidak ingin menyakiti gadis kecil di hadapannya. Serangan beruntun terus saja dilepaskan tanpa ampun dan Xin Fai menerima semuanya begitu saja.
Tentu saja banyak pendekar aliran putih yang menyayangkan tindakannya itu, sebelumnya mengalahkan pimpinan Darah Putih yakni Zhao Chen saja dia bisa melakukannya namun di hadapan gadis kecil yang sangat berbahaya ini justru dirinya seolah menyerahkan diri.
"Kenapa tidak menggunakan kekuatanmu saja untuk menghadangku?" Gadis kecil bersuara dingin menatapi tubuh lawannya yang berbeda bercucuran darah, Xin Fai mengangkat wajahnya dan seketika mata emas miliknya bertemu dengan mata gadis kecil tersebut. Tatapan sedih terlihat jelas di sana tanpa sedikitpun dia tutupi.
"Kau... Xiaxia? Tebakanku benar, bukan?"
Senyum lemah nampak di wajah Xin Fai, jika dipikir lagi semua yang dilakukannya selama ini hanya demi membalaskan kematian keluarganya, melihat seseorang yang amat mirip dengan adiknya dulu membuat Xin Fai tak tahu harus berbuat bagaimana lagi.
"Kau berbohong..." Xin Fai berusaha bangun meskipun tubuhnya telah dipenuhi sayatan pedang di sekujur tubuh.
"Keras kepala. Aku bahkan tidak mengenalmu!"
Siluman laba-laba kembali bergerak hendak menerkam Xin Fai, sedangkan mangsanya hanya berdiri termenung memahami semuanya. Dia menatapi gadis kecil tersebut sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk bertarung.
Xin Fai berkata pelan sembari mengayunkan pedangnya ke kaki siluman laba-laba. "Aku tidak memaksamu untuk berkata jujur, jika ini benar dirimu aku juga tidak akan bertanya kenapa kau berada di antara kelompok seperti mereka..."
__ADS_1
Sedikit senyum kecil menghiasi wajah Xin Fai, tatapan sedih tergambar sempurna di dalamnya. "Kau masih tidak pandai berbohong, ya? Aku bahkan tidak mengatakan kalau kau adalah adikku. Dan kau tiba-tiba saja mengatakannya."
"A-aku hanya menebak pikiranmu! Jangan bodoh-!"
Siluman laba-laba tersebut bergerak semakin brutal karena salah satu kakinya berhasil dipotong, dia berteriak hingga suaranya terdengar menggema melolong di dalam stadium.
Xin Fai dan siluman laba-laba bersiap di posisi masing-masing tanpa melepaskan pandangan. Sedetik kemudian kaki Xin Fai menapak lalu berlari secepat kilat menghantamnya.
Puluhan ayunan pedang mengejar tubuh sang siluman laba-laba dengan tempo begitu cepat, dia sulit menghindari seluruh serangan tersebut akibat kakinya yang terus saja menjadi sasaran Xin Fai. Gadis kecil itu tentu saja tidak terima siluman peliharaannya dibunuh dengan cara tragis seperti ini.
Sekilas tatapan kagum nampak di kedua bola mata gadis kecil ini sebelum akhirnya dia menggeleng dan menyerang Xin Fai balik.
Terjadi pertarungan dua lawan satu di depan pintu stadium, benda-benda di sekitar mereka mengalami kerusakan berat dari serangan besar tersebut. Pertempuran terjadi begitu sengit hingga akhirnya perlahan demi perlahan keadaan itu mulai berbalik.
Tanpa diduga-duga setelah mengalami luka yang cukup berat di tubuhnya, permata siluman yang diberikan Fu Shi dulu mulai bereaksi, tubuh Xin Fai memancarkan aura kehijauan dengan proses pemulihan tubuh yang terjadi sangat cepat. Asap putih mengepul kala luka sayatan yang membelah kulitnya tertutup sempurna tanpa jejak sedikitpun.
Melihat hal itu musuhnya hanya bisa berpikir keras untuk menalar semua yang baru saja terjadi, namun jelas-jelas kini tubuh Xin Fai telah kembali seperti semula. Darah yang sedari tadi mengalari keningnya berhenti keluar
Di tempat lain tanpa disadari Li Yong telah berada di posisi terpojokkan. Pendeta itu berada di titik tersulit untuk bangkit, kepalanya diinjak keras oleh Yin Baoyu yang sedang tertawa-tawa keras.
"Mati! Mati! Mati!" Yin Baoyu memelototkan matanya geram sembari menghentakkan kaki di atas kepala Li Yong. "Laki-laki menjijikkan sepertimu pantas untuk mati!"
Sedangkan Li Yong sama sekali tidak membuka matanya lagi, dia merasa telah gagal melindungi Xin Fai dan juga lainnya. Tangannya yang bersimbah darah mengepal tak berdaya, dia memukul lantai lemah karena tidak berhasil mengalahkan pimpinan Darah Merah ini.
__ADS_1
"Hahahaha... Sudahlah jangan putus asa begitu, aku akan segera membunuhmu agar semua penyesalanmu berakhir hari ini..."