
Dalam beberapa saat beradu pedang, posisi mereka terus berimbang. Kadang Huang Kun yang mundur kadang juga Ren Yuan yang terpojokkan. Pertarungan tidak bisa dibilang berjalan mulus, disebabkan Huang Kun yang tak kunjung menyerang dengan serangan penuh dan Ren Yuan sendiri tak memiliki kesempatan untuk mengalahkan Huang Kun.
Huang Kun berbicara sambil menyunggingkan senyum. "Sepertinya kau ingin sekali memenangkan pertandingan ini."
Ren Yuan menaikkan sebelah alis bersamaan dengan senyum miringnya. "Jadi? Aku memang ingin menjadi nomor satu di sini. Tidak ada yang bisa menghentikanku termasuk kau sekalipun!"
"Hahahaha sungguh lucu. Aku ingin sekali melihat kau berhadapan dengan Fai'er nanti." Huang Kun melompat mundur dan berhenti menyerang.
"Jika dipikir-pikir lagi, masuk ke babak utama saja sudah merupakan keajaiban bagiku. Aku tak memiliki tekad untuk memenangkan pertandingan ini, lebih tepatnya aku hanya mencari pengalaman saja, sedangkan tujuanmu jauh lebih besar dariku."
Ren Yuan menurunkan pedangnya. Huang Kun bertolak pinggang.
"Aku menyerah."
Shen Xuemei dan Xin Fai menepuk jidat di bangku peserta, mereka memalingkan muka saat Huang Kun menatapi mereka. Keduanya benar-benar kesal pada keputusan Huang Kun ini. Sungguh mengecewakan.
"Dasar tidak berguna!" rutuk Xin Fai kesal, setidaknya meskipun Huang Kun kalah dia harus kalah dengan bertarung mati-matian bukan menyerah dari seorang gadis seperti ini.
Kekecewaan penonton sama sekali tak dipedulikan Huang Kun, pemuda itu turun dari arena tanpa beban. Dia merasa lega tak perlu bertarung lagi melawan musuh yang lebih kuat darinya.
Sebenarnya Li Yong sendiri sudah mengatakan pada Huang Kun tadi malam agar tak memaksakan diri untuk bertarung namun pemuda itu salah tangkap. Dia lepas tangan begitu saja dan menyerah kalah dari lawannya.
Li Yong pun hanya bisa menyesali perkataannya semalam. Kini harapannya bertumpu pada Xin Fai dan Shen Xuemei yang belum tampil sama sekali.
Perhatian penonton kini teralihkan pada pertarungan Gong Li dan juga seorang pemuda yang memakai seragam selaras dengan para murid dari sekte Lembah Kabut Putih. Pemuda itu adalah salah satu perwakilan sekte tersebut yang menduduki julukan sebagai murid jenius kedua, kekuatannya pun tak bisa diremehkan.
Pertarungan keduanya berjalan sangat cepat, setiap detik begitu berharga jika tak ingin keadaannya berbalik begitu saja.
Gong Li yang hebat dalam permainan pedang mundur beberapa langkah diakibatkan tusukan pedang murid Lembah Kabut Putih bernama She Xing itu hampir mengenainya. Andai telat menghindar sepersekian detik saja, tubuh Gong Li sudah pasti mendapat luka fatal dari hunusan pedang tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya Gong Li semakin terpojokkan karena ilmu pedang She Xing lebih tinggi di atasnya, semua penonton mengakui kehebatan pemuda bernama She Xing ini, tak heran dia menduduki posisi kedua sebagai murid jenius di sekte besar Lembah Kabut Putih. Dia tak banyak bicara, namun setiap tindakannya penuh perhitungan. Pemuda ini sangat layak menduduki Pilar Kekaisaran berikutnya dikarenakan dia memiliki wibawa dan kekuatan untuk hal itu.
Gong Li yang sudah terjatuh dan mengalami pendarahan serius hanya bisa tersenyum pahit saat Yang Guifei menyatakan She Xing sebagai pemenangnya.
Gong Li mengumpat kesal karena merasa malu pada dirinya sendiri, dia padahal dengan lantangnya menantang Xin Fai untuk bertarung di babak final nanti namun dirinya harus gagal memasuki babak 16 besar. Gong Li mencengkram pedang sangat kesal, dia menatap tajam ke satu titik di mana Xin Fai sedang memperlihatkan tersenyum meremehkannya.
Seakan terbakar amarah, Gong Li bahkan membuat para murid yang hendak mengantarkannya ke ruang medis cedera, Gong Li tak peduli lagi dirinya akan dikenakan pelanggaran. Setelah Zhuan Ang kalah di babak penyisihan dan dirinya pun gugur di babak utama, keduanya merasa telah gagal menjaga nama baik Ren Yuan. Gadis itu membuang muka tak peduli, beda halnya Ho Shing yang sejak tadi memandanginya sangat dingin.
**
Pertandingan demi pertandingan Li Yong saksikan dengan antusias, dia dapat memastikan masa depan dunia persilatan akan semakin cerah mengingat para pendekar muda generasi ini begitu berbakat, kadang pertarungan hanya bisa dimenangkan dengan selisih amat tipis dan seringkali muncul para jagoan baru dalam turnamen ini.
Shen Xuemei baru saja dipanggil untuk tampil bertarung melawan seorang gadis berseragam serba tertutup yang bersenjatakan golok.
Seperti biasa, Yang Guifei mempersilahkan keduanya memulai pertandingan.
Shen Xuemei memerhatikan gerak-gerik lawannya dengan cermat, gadis itu nampaknya akan menyerang lebih dahulu. Dia berlari dengan gerak berliku tajam, golok yang berada di tangannya mengeluarkan aura kuat yang berbeda dari senjata pada umumnya.
Sedangkan di tempat Li Yong sendiri terjadi keributan di antara para penonton yang sibuk berdiskusi, mereka menyebut gadis dengan golok itu adalah salah satu perwakilan sekte aliran putih menengah, setidaknya kekuatannya adalah yang terkuat dari sekte tersebut.
Shen Xuemei sendiri adalah murid jenius nomor satu di sekte Kuil Teratai, hal imbang ini telah diketahui banyak orang dan tampaknya lagi-lagi pertarungan ini akan memakan waktu yang agak lama dibandingkan yang lainnya.
Shen Xuemei melepaskan jurus milik Kuil Teratai, jurus tersebut cukup terkenal di Kekaisaran Shang. Di saat bersamaan lawannya mengeluarkan satu golok lagi yang berada di punggungnya dan segera menangkis serangan tersebut dengan cepat.
Dengan menggunakan dua golok pergerakan lawannya jauh lebih menakutkan dari sebelumnya, Shen Xuemei menahan sebisa mungkin tetapi salah satu dari belasan serangan bertubi-tubi itu mengenai pipinya.
Darah segar keluar dari sayatan di pipi Shen Xuemei, dia mengelapnya menggunakan punggung tangan. Sembari membetulkan posisi berdiri, Shen Xuemei menajamkan konsentrasinya setinggi mungkin dalam pertarungan ini.
Agak lama pertandingan terus berlangsung sengit, satu per satu goresan yang cukup dalam terlihat melukai tubuh keduanya. Semakin lama jumlah luka berat terus bertambah membuat Shen Xuemei maupun gadis dengan golok itu mengalami pendarahan serius di sekujur tubuh.
__ADS_1
Shen Xuemei yang huyung karena tenaganya habis meladeni serangan gadis golok ini mencoba mengokohkan pijakannya, di depannya gadis itu menarik napas dengan terputus-putus. Darah dari tangan dan kakinya bercucuran hebat, saat dia hendak berlari untuk menggencarkan serangan lagi gadis itu terjatuh.
Yang Guifei memeriksa keadaannya sejenak kemudian wanita itu menyatakan Shen Xuemei keluar sebagai pemenang.
Shen Xuemei bernapas lega, meskipun hampir seluruh tubuhnya terluka dan tenaga dalamnya hampir habis setidaknya dia berhasil memasuki babak 16 besar. Li Yong terharu melihat perjuangan Shen Xuemei, dia merasa pemuda itu tak pernah terlihat sungguh-sungguh ketika berlatih di Kuil Teratai dulu, namun hari ini dia sangat berbeda.
Perlahan mata Shen Xuemei bergulir pada Xin Fai, dia tersenyum seolah menantang pemuda itu untuk ikut lolos ke babak final bersamanya.
Xin Fai membalas tatapan itu dengan cengiran khasnya, dia merasa bangga melihat Shen Xuemei. Dalam perjalanan menuju ruang medis, tak disangka Shen Xuemei malah jatuh pingsan.
Orang-orang panik, Xin Fai malah tertawa senang. Dilihatnya para murid Lembah Kabut Putih sibuk mengangkat Shen Xuemei untuk segera dipulihkan dari luka beratnya.
Satu per satu peserta telah gugur menyisakan setengah dari seluruh jumlah peserta yang masuk ke babak utama menuju putaran kedua. Tahun ini merupakan sebuah prestasi bagi Kuil Teratai dalam sejarah disebabkan dua perwakilan mereka bisa masuk di babak 16 besar ini, sama seperti mereka dua perwakilan sekte Lembah Kabut Putih berhasil lolos menuju putaran berikutnya. Yaitu She Xing dan Xiu Juan.
Li Yong yang menjadi perwakilan mereka tentu tak bisa menahan senyumannya yang terus terkembang sejak tadi, bisa dilihat dengan jelas suasana hati pendeta itu amatlah baik.
Kini tepat setelah Shen Xuemei berhasil lolos ke putaran kedua, Xin Fai maju menuju arena dan dilihatnya peserta yang akan menjadi lawannya menatap penuh ketakutan. Xin Fai mengembuskan napas saja sudah membuatnya takut, apalagi saat matanya bertemu dengan pemuda itu.
Tepat setelah Yang Guifei menyatakan pertandingan dimulai pemuda itu buru-buru mengatakan menyerah dan langsung mengundurkan diri seakan jika dia telat mengatakannya, nyawanya akan habis.
Meskipun kecewa tak bisa melihat penampilan Xin Fai namun penonton agaknya paham mengapa pemuda itu melakukannya, menurut mereka daripada menguji keberuntungan dengan bertarung sampai membuat tubuh terluka serius lebih baik menyerah saja, apalagi masih ada pertarungan yang mengerikan ke depannya dan belum tentu mereka bisa menang tanpa mengalami cedera.
Xin Fai kembali tanpa sedikitpun rasa puas, dengan ini setelah satu jam beristirahat mereka akan kembali bertarung demi memasuki 8 besar.
***
**Kuota-ku habis, yg ada paket malam doangan wkwk:,D jd ya maap up-nya tengah malam gini
Btw sebentar lagi masa liburku berakhir, pdhl cerita ini dibuat demi mengisi waktu kosong dan gak nyangka ceritanya masih panjang lagi. Alaamaaak𤣠mgkin mulai skrg aku bakal sibuk buat persiapan utbk dan tes masuk PTN. Walaupun begitu diusahakan tetap nulis paling sedikit dua chapter sih, semoga aja bisa ya wkwk doakan saja lah
__ADS_1
Semoga cerita ini masih bisa menghibur, bubayyyyyš£**