Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 97 - Siluman Penguasa Air VI


__ADS_3

Membutuhkan waktu yang agak lama bagi Xin Fai untuk memahami situasi sekitarnya, yang pertama kali dicarinya adalah Li Yong dan temannya. Mereka masih berada di bawah dalam kondisi selamat.


Xin Fai berdalih menatapi Siluman Penguasa Air di depannya sangat takut, bernapas saja dia sudah segan.


Serangan dari Siluman Penguasa Air sudah berhenti sejak Kaibo mengembalikan kesadarannya tadi, kini keadaan sudah mulai aman.


Li Yong mendongak melihat Xin Fai tengah berdiskusi dengan sang siluman naga air. Bola matanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan, sementara pendekar lainnya yang masih hidup mencoba mengorek identitas Xin Fai dari Shen Xuemei.


Xin Fai bersikap setenang mungkin di hadapan sang Siluman Penguasa Air, dia menunggu siluman itu berbicara lebih dulu.


"Aku sebenarnya tak berniat bertarung denganmu, tapi temanmu itu yang memancing emosiku."


"Ma-maafkan kesalahan pria tua itu, dia memang kurang ajar padamu," kata Xin Fai sesegan mungkin. Dia tak mau memiliki kesan buruk pada siluman setingkat dewa ini.


Namun jumlah korban jiwa yang diambil oleh Siluman Penguasa Air merenggut setidaknya setengah lebih nyawa penumpang kapal, Xin Fai memilih tak memprotesnya setelah berpikir-pikir lagi.


"Baiklah. Kuharap kau tak menaruh dendam padaku. Apa kau membawanya bersamamu?"


"Apanya? Memang aku membawa apa?"


"Benda dalam sakumu itu, aku ingin melihatnya sebentar."


Xin Fai merogoh sakunya dan mendapatkan permata cahaya biru dari sana, warnanya menyala terang tak seperti biasanya.


"Kau benar-benar memilikinya... Darimana kau mendapatkan Permata Cahaya Biru itu?" tanya sang siluman naga.


"Ibuku memberikanku ini, katanya ini bisa menyelamatkanku dari marabahaya... Tapi justru, eh lupakan saja, ini milikmu kan?"


Sesaat keadaan hening bercampur canggung, Xin Fai mengingat kembali kata-katanya dan berharap tak menyinggung mahkluk mengerikan di depannya ini.


"Kau boleh memilikinya," kata sang siluman tiba-tiba. Hal itu sontak saja mengundang banyak pertanyaan besar di kepala Xin Fai.


"Tapi---"


"Kembalilah ke sini saat kau memiliki kekuatan untuk menaklukkanku. Roh yang merasukimu tadi mengatakan kau memiliki kekuatan besar, suatu saat aku ingin melihatnya."


"E... Ini terlalu tiba-tiba, aku..." Xin Fai menggaruk kepalanya secara tak sadar, wajahnya berubah kikuk.

__ADS_1


Mengingat dirinya hari ini sama sekali tidak memiliki daya di hadapan siluman naga, Xin Fai memilih tak bertindak gegabah lagi. Yang terpenting sekarang adalah siluman itu sudah berhenti menyerang manusia.


"Baiklah, aku berjanji akan mengembalikan permata ini ketika kembali ke sini, lalu kita akan bertarung."


"Kau tak perlu mengembalikan permata itu. Itu sudah menjadi milikmu."


"Bagaimana bisa? Aku bahkan belum bisa menyentuhmu, hahaha." Xin Fai tertawa canggung, setelahnya dia menelan ludah pahit. Di masa depan sekalipun jika dipikir-pikir lagi, dirinya takkan bisa mengalahkan siluman naga ini.


"Aku punya satu persyaratan. Jika kau bisa melakukannya, kau bisa memiliki permata itu."


Xin Fai sebenarnya tak terlalu mengerti apa kegunaan Permata Cahaya Biru ini, dia tak berniat mencari tahu permata tersebut dari sang siluman naga karena situasinya tak memungkinkan.


"Aku akan melakukannya sebisaku."


Setelah menunggu sebentar akhirnya siluman naga kembali berbicara.


"Roh di tubuhmu mengatakan kalau kau memiliki kekuatan siluman, roh, iblis dan juga manusia. Aku ingin suatu saat nanti kau bisa membuat para manusia tak lagi menganggap kami sebagai mahkluk buas yang harus dibunuh dan diasingkan."


Permintaan siluman itu sungguh aneh dan tidak masuk akal, Xin Fai merasa hidup selama puluhan ribu tahun dalam bawah laut membuat sang Siluman Penguasa Air muak.


Melihat Siluman Penguasa Air tak berbicara, Xin Fai menganggapnya sebagai persetujuan.


"Baiklah, baiklah. Aku akan memikirkan caranya, mungkin butuh waktu puluhan tahun. Bahkan ratusan tahun, namun aku berjanji akan melakukannya."


Mereka saling sepakat, namun ada sedikit rasa tak puas dalam diri Xin Fai mengingat sang naga air sama sekali tak menyinggung tentang Dataran Yang. Dia berniat menanyakannya, karena tempat itu merupakan tujuan hidupnya juga. Ayahnya dulu sangat ingin Xin Fai menemukan Dataran Yang dan hidup di sana selamanya.


"Ehm... Jadi begini, apa kau tahu sesuatu mengenai Dataran Yang? Aku yakin bahwa ayahku pernah menceritakan tempat itu dan erat kaitannya dengan Siluman Penguasa Bumi sepertimu."


"Dataran Yang, itu tempat yang terletak jauh dari tempat manusia. Tempat mahkluk sepertiku hidup tenang, tanpa kehadiran kalian."


"Apa di tengah lautan ini?"


"Bukan. Di tengah samudera sana," sangkal sang siluman mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Xin Fai membulatkan mulutnya seolah mengerti.


"Apa kau ingin tinggal di sana juga seperti leluhurmu dulu?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Xin Fai terdiam beberapa saat, tak mendapatkan jawaban siluman naga melanjutkan. "Namun aku tak bisa menjamin keturunanmu nantinya tinggal lama, mereka pasti akan berbuat kerusakan di sana."


"Aku tak berniat tinggal di Dataran Yang, aku hanya ingin menginjakkan kakiku di sana untuk memenuhi janjiku pada Ayah."


Jawaban tersebut membuat sang siluman kecewa, dia sejujurnya tak keberatan hidup berdampingan dengan manusia yang baik seperti Xin Fai.


"Aku harus menghancurkan kelompok bernama Manusia Darah Iblis sampai akhir hayatku. Dan tentang janjiku tadi padamu, aku berjanji akan mewujudkannya. Terimakasih sudah bersedia memaafkan kami."


Tatapan mata siluman sekarang tak semengerikan tadi, kini dia lebih bersahabat dari yang sebelumnya.


"Ah, sudah lama aku tak berbicara banyak begini. Andai saja aku memiliki teman berbicara," gumam sang siluman.


Xin Fai baru berpikir, ternyata siluman seperti ini jika hidupnya sudah sampai puluhan ribu tahun maka dia juga bisa memiliki emosi layaknya seorang manusia. Rasa kesepian yang selalu bersamanya puluhan ribu tahun selama di dasar laut nampak jelas dari mata Siluman Penguasa Air.


"Hahaha, kalau kau mau kau juga bisa ikut berkelana denganku."


Perkataan Xin Fai tersebut membuat siluman naga menatap lama.


"Bagaimana ikut denganmu? Apa kau sudah tidak waras?"


"Eh? Kurasa sama seperti Lang, kau cukup masuk ke tubuhku dan bisa keluar kapan saja saat kau mau." Pendapat Xin Fai sama sekali tak masuk akal, dia bahkan tak tahu menahu tentang hal ini.


"Ya, kalau aku masuk ke tubuhmu kau bisa langsung jatuh pingsan. Kekuatanku tak sama dengan serigalamu itu."


Xin Fai tertawa garing sembari menyengir lebar. "Aku kan tidak tahu, hahaha. Maafkan aku, suatu saat nanti jika kekuatanku sudah cukup besar aku akan menjemputmu di sini dan kita akan berkelana mengelilingi dunia."


"Kau serius?"


"Ya! Kau setuju?"


Li Yong yang memerhatikan dari bawah kagum saat Xin Fai berbicara akrab dengan siluman dewa itu. Beberapa orang berdecak kagum tak henti-hentinya dari tadi melihat pemandangan tersebut, mereka yakin setelah ini nama Xin Fai akan menjadi nama terkenal di dunia persilatan.


"Dengan senang hati, bocah. Aku akan menunggumu. Tapi kalau sampai kau berbohong dan mengingkari janjimu..."


Petir dan angin bersahut-sahutan mengisi kengerian malam itu, lima naga yang sebelumnya dipakai untuk mengalahkan Kaibo juga bersiap memasang ancang-ancang.


"Kau akan merasakan akibatnya."

__ADS_1


__ADS_2