
Di tengah tanah lapang sangat luas Xin Fai berhenti berlari dan menghadap para Manusia Darah Iblis di sekitarnya. Perlahan dia menarik napas dalam demi mengembalikan staminanya sebelum akhirnya menangkap seorang penjaga dan membunuhnya langsung di depan mereka.
"Siapa dia-!?" Yang lainnya terkejut saling menatap.
"Sial! Ada penyusup!"
"Bunuh dia! Cepat!"
Serentak saja belasan orang berlari sambil mengacungkan pedang ke arahnya, Xin Fai bersiap menyambut serangan itu dan merasa tidak perlu menggunakan tenaga dalam karena mereka hanya pendekar kelas teri.
Dalam satu ayunan pedang dua leher terpotong bersamaan, Xin Fai bergerak lincah hingga melompat dengan tumpuan tubuh lawan kemudian menancapkan pedang miliknya tepat di ubun-ubun lawannya sampai ke bawah.
Bunyi retak tulang terdengar ketika Xin Fai mencabut pedang itu kembali, lawan mengepungnya dari berbagai sisi. Dia merebut senjata lawan dan melemparkannya ke arah lain hingga gagang pedang tersebut menembus tenggorokan lawannya.
Tak terhitung berapa jeritan akibat pembunuhan sadis ini, para pendekar besar yang baru saja tiba setelah mendengar kegaduhan ini dibuat membelalak tak percaya.
"Apa pendekar sepertinya berasal dari aliran putih?"
"Kukira dia berasal dari kelompok aliran hitam juga, tapi kalau benar apa kita pernah mencari masalah dengan kelompok lain?" Pendekar besar lain berpikir lagi, dia menggelengkan kepala dan bersiap membantu temannya di depan sana.
"Salah satu dari kita minta bantuan sebanyak mungkin! Selebihnya bantu aku menghadapi dia!" Perintahnya tegas, pria itu hampir saja muntah saat melihat Xin Fai mengeluarkan sebuah cahaya emas dari tangannya dan mencengkram perut lawan hingga ususnya pecah.
Kesadisan yang nampak di depannya itu membuat dia mulai ragu untuk melawan, langkah pendekar lainnya mulai gentar ketika Xin Fai menatap mereka bengis.
"Maaf kalau terlalu sadis, aku terbiasa membunuh binatang dengan cara seperti ini."
'Dan kau menyamakan kami dengan binatang!?' teriak lawannya tentu saja hanya dalam hati.
"Kalian ingat penyerangan saat Turnamen Pendekar Muda dulu? Apa kalian ada di sana?"
Salah satu dari mereka mengangguk ketakutan, dia menebak Xin Fai adalah salah satu jagoan dari aliran putih yang menyamar.
__ADS_1
"Hari itu adalah sejarah di mana kalian melakukan pembantaian terbesar, bukan?"
Lantas saja bulu kuduk lawannya terasa berdiri ketika pedang pusaka di tangannya terpantul cahaya kilat dari langit yang terus saja hujan deras.
"Kalau begitu, ingat hari ini sebagai awal mula pembantaian besar-besaran seluruh Manusia Darah Iblis. Apa menurut kalian aku bercanda?"
Xin Fai hampir saja tertawa melihat wajah-wajah ketakutan di hadapannya, sebenarnya dia juga tidak ingin berbicara panjang lebar seperti ini.
"Kau... Sebenarnya apa salah kami padamu?"
"Salah kalian? Dari puluhan ribu manusia yang berhasil kalian bunuh, aku adalah satu orang yang kehilangan semua yang kumiliki setelah pembantaian kalian."
Pendekar lain yang telah putus asa buru-buru memohon ampun, dia segera memasang wajah memelas. "Kasihanilah aku, aku bukan orang yang telah membunuh keluargamu! Kau tahu, kan bagaimana rasanya kehilangan seluruh keluargamu? Bagaimana jika itu terjadi pada anakku juga?" Dia berlutut di tengah air banjir.
Sejenak nampak ekspresi tak tega membuat sang pendekar itu mulai tersenyum lega, ketika dia menengadah lagi rupa-rupanya wajah mengerikan sudah menyambutnya di sana.
"Kalau begitu salahkan anakmu mengapa memiliki ayah sepertimu!"
Pedang pusaka miliknya kembali memancarkan sinar yang tidak biasa bagi sebagian orang, ukiran emas mulai mengisi gagang pedang tersebut hingga cahaya kilat terpancar dari badan pedang.
"Demi Lang dan seluruh keluargaku, kalian semua harus mati hari ini!"
Dalam sedetik saja pendekar di depan Xin Fai terpotong menjadi dua, dan orang yang berdiri di belakangnya juga tak luput dari tebasan itu. Tanah tempat mereka pun mulai berwarna merah pekat dan terus mengalir hingga yang tampak kini adalah seperti tanah pembantaian.
Tidak puas menghabisi sisa pendekar di dekatnya Xin Fai beralih mengejar orang-orang yang hendak mengincarnya di depan sana. Mereka yang awalnya berniat mengepung Xin Fai malah ingin mundur saat tatapan mengerikan melayang kepada mereka.
"Apa-apaan tatapannya itu-!?"
"Dia seperti iblis saja!"
"Dia seperti iblis yang berani menantang langit! Kau lihat petir di atas seperti memihaknya!"
__ADS_1
Tidak ada waktu lagi untuk mengundurkan diri dari tempat ini, para pendekar memilih bertahan sebisa mungkin tapi dalam kurun waktu cepat jumlah mereka berkurang sangat cepat.
Pisau cahaya dan tebasan beriringan menghancurkan tubuh musuh-musuhnya tanpa ampun, Xin Fai terus menerobos ke depan hingga korbannya bertambah banyak dalam waktu singkat.
Kontan saja keributan ini mengundang banyak Manusia Darah Iblis yang lainnya, mereka berdatangan dalam jumlah yang tiga kali lebih besar dibandingkan sebelumnya. Tentu saja sorot mata heran terlihat jelas saat ratusan anggota mereka telah terkapar tak bernyawa dan satu orang dalam jubah penjaga markas berdiri di tengah tumpukan mayat tersebut.
Banyak dari mereka yang mengira Xin Fai adalah seorang yang handal dari kelompok pembunuh bayaran namun permasalahannya saat ini mereka memiliki hubungan baik dengan kelompok tersebut.
"Cih, pasti para pembunuh bayaran itu mulai berkhianat setelah melihat Ketua Liu sakit parah..." decih salah satunya.
Mereka tidak peduli lagi pada kematian rekan-rekan mereka dan melakukan perlawanan kuat setelahnya.
Xin Fai mengangkat pedang pusaka sambil melihatnya. "Pedang pusaka ini sangat tajam, memotong tulang siluman saja bukan masalah apalagi manusia."
Lamat-lamat terdengar suara teriakan mulai mendekat ke arahnya, Xin Fai melajukan langkahnya semakin kencang hingga akhirnya kedua kubu saling bertabrakan.
Area sekitar Xin Fai bertarung menjadi seperti pusaran kematian yang terus merenggut nyawa, tidak terhitung sudah berapa manusia yang berhasil dibantainya hari ini, mungkin bisa melampaui jumlah bunuhan terbanyaknya selama ini.
Selang beberapa waktu akhirnya Xin Fai berhenti bergerak, di sekitarnya lautan darah semakin menjadi hingga bau amisnya terasa menusuk hidung. Dia berdiri di atas tubuh mayat sambil menengadah ke langit yang terus menurunkan hujan deras.
"Ayah, aku akan membunuh mereka semua. Aku tidak akan meminta pendapatmu seandainya kau masih hidup, karena aku yakin kau pasti akan melarangnya." Xin Fai membiarkan wajahnya basah oleh air hujan, berharap Ayahnya masih berada di sampingnya mendengarkan.
Namun tiba-tiba sebuah serangan datang hendak menebasnya, sebuah cambuk iblis menjulur dan siap menghantam tubuhnya secara cepat namun Xin Fai sudah lebih dulu menyadarinya.
Pedang pusaka dan cambuk iblis saling beradu, Xin Fai mengalihkan tatapannya ke arah musuh dan dia dapat mengenali siapa orang tersebut.
"Kau-!?" Pemuda yang berdiri tak jauh darinya membelalakkan matanya selebar mungkin. "Kau masih hidup setelah memasuki hutan siluman itu?"
Jelas sekali Liu Yun tidak mempercayai apa yang terlihat di depannya, dia dapat merasakan hawa begitu mencekam sedang tertuju ke arahnya.
"Masih ingat denganku? Kenapa tidak ingat pedang pedangku yang kau curi dulu?" sahut Xin Fai dingin, Liu Yun menelan ludah ketakutan.
__ADS_1
"Kebetulan sekali kau ada di sini, aku tidak perlu mencarimu lagi. Hari ini kau harus membayar pedang itu dengan nyawamu!"
**