
Firasat buruk bahwa hari ini akan terjadi sesuatu benar-benar terjadi, kekhawatiran Huang Kun sekarang terbukti saat dia keluar dan mendongak ke atas langit menatapi Siluman Naga yang telah hidup puluhan ribu tahun tengah mengambang di atas sana disertai angin kencang dan juga sambaran petir.
Huang Kun hampir saja jatuh pingsan, seorang pendekar yang umurnya bahkan lebih sudah tua saja ada yang pingsan apalagi dirinya.
Sama halnya dengan Shen Xuemei yang biasanya tidak banyak bereaksi kini ikut membelalakkan mata, ekspresi terkejut itu sama sekali tak pernah nampak di wajahnya.
"Itukah Siluman Penguasa Air? Dia... Dia sangat mengerikan." Li Yong menelan ludah, bulir keringat mengalir di pelipisnya perlahan. Saat ini badan kapal berada tak jauh dari pusaran air yang menggulung ke dasar laut dan itu semua disebabkan oleh siluman tersebut. Nampaknya Siluman Penguasa Air tak menyukai kedatangan mereka.
"Tamatlah sudah riwayat kita... Kita takkan bisa hidup lagi setelah hari ini," salah seorang penumpang mengatakannya dengan pasrah. Sebelumnya, dia pernah melewati laut ini juga dan hanya melihat siluman dewa itu mengamuk dalam jarak satu kilometer. Hari ini, dia melihatnya dengan jelas tepat di depan matanya sendiri.
Awan hitam berkumpul membuat langit lebih mencekam disertai dentuman gemuruh yang bersahut-sahutan di atas, sang Siluman Penguasa Air mengarahkan mata biru menyalanya ke bawah, menatap kapal yang ditumpangi Xin Fai.
Xin Fai menelan ludah kasar, dia tahu sang siluman tengah mencari keberadaan Permata Cahaya Biru miliknya. Karena sejak awal permata tersebut menunjukkan reaksi aneh ketika tiba di laut ini, seperti tadi permata tersebut mengeluarkan cahaya yang terang membuat sang naga keluar dari persemayamannya.
Permukaan laut lama kelamaan bergelombang, angin topan datang dari kejauhan sana.
"Tunggu apalagi! Jika terus di sini kita sudah pasti akan mati! Gerakkan kapal ini dengan seluruh kemampuan kalian!!" Sang pemilik kapal memberikan arahan tiba-tiba, beberapa pendekar lainnya bergerak cepat menurunkan layar dan mendayung kapal.
Namun tindakan itu membuat sang Siluman Penguasa Air marah, terdengar suaranya menggema dari atas langit.
Orang-orang di kapal berhenti dengan sekujur tubuh gemetaran, Xin Fai tak bisa berkata-kata apalagi. Melihat Siluman Penguasa Air itu rasanya nyawanya hanya tersisa beberapa menit lagi.
Sang pemilik kapal terus mendayung dengan tingkah gegabah, hal tersebut memancing kemarahan sang Siluman Penguasa Air.
"Manusia bodoh."
__ADS_1
Suara sang siluman dapat didengar oleh puluhan orang di kapal, mereka layaknya seekor kutu yang sedang diintai monster dari atas langit. Xin Fai merutuk keras melihat tingkah sang pemilik kapal, dia justru mengundang bahaya bagi keselamatan semua orang di kapal.
Sang Siluman Penguasa Air turun ke bawah, wajah mengerikannya membuat jantung siapapun akan berhenti berdetak. Susunan kulitnya yang besar serta kokoh berkilat-kilat ketika petir menyambar, bola matanya biru dan wujudnya persis seperti dongeng yang sering diceritakan ketika tidur.
Xin Fai berusaha bernapas sepelan mungkin karena kini siluman dewa telah berada di dekatnya, tubuhnya bahkan hampir menyentuh permukaan laut.
"Apa nama depanmu?"
"Xin, Xin Fai, na-namaku Xin Fai."
Terdengar Xin Fai menelan ludah dengan napas berantakan, kali ini ketakutannya bahkan melebihi orang yang akan dibantai. Dia tidak tahu maksud pertanyaan siluman itu, dan memilih menjawab segera tanpa membiarkan Siluman Penguasa Air menunggu.
"Xin... Aku sudah lama tak mendengar nama it---"
Sebuah busur dilepaskan dengan begitu kencang dan mengenai mata sang Siluman Penguasa Air, meskipun sama sekali tak melukainya namun kemarahan besar berkobar di mata siluman dewa itu.
"Kita harus menyerang siluman ini jika ingin hidup!"
Tak ada yang mau mengikuti perintah lelaki bodoh itu, semua orang mengutuknya dalam hati. Seandainya saat ini tidak ada siluman naga di depan mereka sudah dipastikan beberapa detik sebelumnya pria itu telah dicincang sampai kecil dan diberikan kepada burung camar sebagai makanan.
Xin Fai mengutuk keras dalam hati. 'Sial, pria bodoh ini malah mencari-cari perkara!'
Siluman Penguasa Air mengamuk, tubuh panjangnya menggulung di langit, berputar kemudian terbang dengan kecepatan tinggi menuju kapal mereka.
"Dalam sekali tabrak saja, aku yakin badanku akan remuk dihantam naga itu..." Huang Kun seperti hendak menangis, tatapannya kosong mengingat tiada hari esok lagi untuknya.
"Masih belum! Aku harus hidup untuk membalaskan dendamku!"
__ADS_1
Xin Fai menggertakkan giginya keras meskipun rasa takut memenuhi kepalanya, dia menarik napas dalam membuat asap tipis keluar dari mulutnya.
"Xin Fai, ini sungguh tidak mungkin. Melawan siluman tingkat dewa sepertinya... Pilar Kekaisaran saja belum tentu bisa menaklukannya."
Li Yong nampaknya hendak melakukan perlawanan namun sudah habis harapannya saat melihat siluman naga itu. Melakukan perlawanan sia-sia hanya akan mengantarkan nyawanya lebih dicepat daripada yang lainnya.
"Fai'er, tenanglah. Sebaiknya kita cari cara lain untuk melarikan diri." lagi-lagi usulan dari Shen Xuemei sama sekali tak bisa diterima.
"Melarikan diri? Di tempat seluas ini, Senior? Tempat untuk bersembunyi saja tidak ada! Aku tak peduli akan hidup atau mati sekalipun saat melawannya, setidaknya jika aku mati aku tidak ingin ke mati dengan menunggu dibunuh seperti ini."
Mendengarnya para pendekar sempat tertegun, termasuk Li Yong. Perkataan itu membuatnya merasa tak berguna sama sekali, dia adalah guru yang harusnya memberikan contoh baik pada muridnya namun kali ini dirinya malah memberikan contoh yang buruk. Justru Xin Fai lah yang sekarang mengguruinya.
"Mati tanpa perlawanan apa-apa memang menyedihkan," kata Shen Xuemei. Dia menatapi siluman naga yang semakin mendekat dengan tatapan serius. "Aku memilih mati di mulut siluman itu daripada menunggu seperti orang bodoh di sini."
Saat Siluman Penguasa Air menghantam badan kapal sampai pecah berkeping-keping, para penumpang meloncat ke air dan mencari benda yang mengapung sebagai pegangan.
Xin Fai mengatur pernapasan lebih tinggi, di atas satu serpihan kayu dia berusaha berdiri dengan lebih tenang.
Li Yong menatapi muridnya itu yang sama sekali tidak menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan diri, justru dia meloncat ke potongan kayu kecil dan berdiri seimbang di atasnya.
Sebelumnya ketika latihan di air terjun Xin Fai sempat melatih Langkah Air, teknik yang memungkinkan penggunanya berjalan di atas air dengan mengandalkan keseimbangan tubuh. Sebenarnya, menguasai Langkah Air akan sangat mudah jika penggunanya telah menguasai Langkah Kilat, dengan menyempurnakan sedikit pemahamannya, Xin Fai dalam waktu singkat bisa menguasai Langkah Air.
Li Yong memanjat di serpihan badan kapal berukuran besar, dia menginjak air dan bisa berdiri di atasnya. Untuk tingkat pendekar agung sepertinya, Langkah Air memang bisa dia kuasai tanpa masalah. Namun tetap saja hal itu tidaklah mudah karena membutuhkan waktu yang lama untuk menguasainya. Melihat Xin Fai bisa menggunakan Langkah Air, membuat Li Yong yakin dia memang berpotensi tinggi menjadi sosok legenda suatu hari nanti.
Namun rasa putus asa kembali datang saat melihat siluman naga kini memutar tubuhnya dan hendak menyerang orang-orang yang mengapung di air. Mungkin hari ini mereka semua akan mati bersama-sama. Li Yong tak berharap banyak akan hidup lebih lama lagi setelah ini.
***
__ADS_1