Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 55 - Keterkejutan Xin Fai


__ADS_3

Seorang pria paruh baya memasuki ruangan dan langsung mendapatkan tatapan mematikan dari Lian Sheng. Keringat dingin mengucur deras di dahinya sampai membuatnya menelan ludah berkali-kali.


Tentu saja dia sudah tahu kesalahan yang diperbuatnya dan hal itu akan berakibat fatal.


Sambil menunduk pria bernama Wu Ang tersebut menghadap pada Lian Sheng, dia tak berani mengangkat kepalanya.


"Ada yang ingin kutanyakan padamu tentang harga penginapan ini," ucap Lian Sheng tegas. Wajahnya sangat berbeda ketika berbicara dengan Xin Fai tadi.


"Apa kau sengaja menaikkan harga penginapan ini untuk anak kecil sepertinya?"


"A-aku tak tahu, kukira dia hanya bermain-main padaku tadi..." Wu Ang tak bisa berpikir karena rasa takutnya lebih besar pada Lian Sheng yang seperti hendak memakannya hidup-hidup.


"Walaupun kau tahu dia membawa seorang bayi dalam gendongannya?"


"Tuan, aku–" Wu Ang menatapi Xin Fai yang kini menatapnya kecewa. Anak itu tak menduga dirinya telah ditipu karena sebenarnya dia sendiri tak pernah menyewa penginapan.


"Dan kau tahu? Bayi yang berada di dalam gendongannya itu anakku. Bagaimana nasibnya jika seandainya Xin Fai tak memiliki koin emas untuk membayarnya?!" Nada bicara Lian Sheng meninggi, dia sangat geram pada kelakuan pemilik penginapan ini.


"Maafkan aku, Tuan. Aku memang bersalah. Kumohon maafkan aku," pinta Wu Ang sungguh menyesali perbuatannya. Dia meminta maaf pada Xin Fai yang kini hanya memasang wajah cuek.


"Seharusnya kau tidak memperlakukan orang berdasarkan penilaianmu semata." Xin Fai menggelengkan kepalanya pelan. Dia tak begitu mengerti dengan dunia bisnis seperti ini hingga tak mempermasalahkannya lebih jauh namun berbeda dengan Lian Sheng yang masih saja kesal.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu, penginapanmu akan segera digusur dari tempat ini."


"Tuan, kumohon jangan! Aku tak punya pekerjaan lain selain ini... Bagaimana nanti aku menghidupi anak istriku?"


"Apa kau pernah berpikir seperti itu juga pada anak ini jika tak memiliki uang untuk menyewa penginapanmu?"


"Tuan aku sudah menyesali perbuatanku..."


Lian Sheng berdecih, dia sungguh muak dengan kelakuan seperti ini. "Hanya menyesali perbuatanmu menurutmu bisa membuatku memaafkanmu?"


Dibujuk sekalipun Lian Sheng tetap akan menggusurkan penginapan ini karena dirinya punya pengaruh besar serta kekuasaan di Kota Houbi, jadi bukan hal sulit untuk melungsurkan usaha milik Wu Ang.


Tatapan Wu Ang yang kini berkaca-kaca jatuh pada Xin Fai, ia mendekati anak itu hendak mengadu.


"Tuan, aku minta maaf telah menaikkan harga terlalu tinggi padamu... Aku sungguh menyesali perbuatanku ini. Aku akan mengembalikan sepuluh lipatnya padamu, kumohon bantu aku agar penginapanku tak digusur dari sini," Wu Ang memasang wajah penuh harap. Dia merasa Xin Fai adalah orang yang baik.


"Untuk apa aku harus membantumu?"

__ADS_1


Respon itu di luar dugaannya, wajah Wu Ang berubah buruk. Kedua alisnya menurun dan air matanya hendak keluar.


"Aku harus memberi makan istriku yang sedang hamil, jika begini..."


Terdengar suara helaan napas yang berasal dari Xin Fai.


"Sudahlah lupakan, lagian tadi aku sudah memaafkanmu. Jadi masalah ini tidak usah dibuat semakin melebar." Usulan Xin Fai membuat Lian Sheng tak berkedip, dia tak menyangka setelah diperlakukan begitu Xin Fai tetap mengasihani Wu Ang.


Wu Ang berterimakasih puluhan kali padanya.


"Hei, bukan berarti aku tidak bisa melakukannya, kan meskipun kau sudah mendapatkan dukungan Xin Fai?"


"Tuan...."


"Hoaammm..." Xin Fai menguap lebar, dia seperti kelelahan menyimak semuanya. Setidaknya dia ingin membaringkan tubuhnya sekarang juga.


Xin Fai mengakhiri perdebatan di antara mereka dengan tenang, "Penginapan ini tidak akan dilungsurkan. Tapi, jika Paman Sheng ingin memberikan sedikit perhitungan padanya silahkan."


Wu Ang sedikit menarik napas lega mendengar keputusan tersebut, dia kini memahami karakter Xin Fai sepenuhnya. Anak itu bukan anak polos seperti yang kebanyakan dilihatnya, pemikiran Xin Fai jauh lebih dewasa. Orang-orang seperti itu sendiri biasanya adalah orang yang telah merasakan pahitnya kehidupan.


Wu Ang keluar dari ruangan saat Lian Sheng mengibaskan tangannya, lelaki itu sangat tak menyukai Wu Ang sedikitpun. Dia memalingkan wajahnya ke arah Xin Fai dan seketika itu juga wajahnya kembali menghangat.


Meskipun tak biasa dipanggil seperti itu kecuali oleh keluarganya Xin Fai juga sebenarnya tak keberatan, mengingat sifat Lian Sheng padanya yang begitu ramah.


"Iya, aku kelelahan setelah menempuh beberapa hari perjalanan."


"Nah kalau begitu, daripada aku menganggumu terus lebih baik kau menyetujuinya sekarang. Nanti sore pengawalku akan menjemputmu ke sini dan kita akan makan malam bersama di kediamanku."


Xin Fai hendak menolak dengan cepat sebelum Lian Sheng lebih dulu menyanggah.


"Bagaimana jika aku memberimu hadiahnya sekalian?"


Xin Fai meringis kecut. Yang namanya hadiah sudah pasti menggiurkan, apalagi jika hadiah tersebut berasal dari keluarga bangsawan. Dia mencoba berkilah lagi.


"Paman Sheng, aku senang dengan tawaranmu tapi aku tak bisa tinggal di sini terlalu lama."


Sembari mempertimbangkan perkataan Xin Fai, Lian Sheng terdiam lama. Sebenarnya dia punya alasan lain.


"Ah... Kukira kau bisa menginap di tempatku sampai mayat istriku ditemukan. Aku sangat ingin kau datang nanti," keluhnya dengan membuang napas kecil.

__ADS_1


"Aku sudah berkabung sebelumnya untuk Nyonya Xia He."


"Ngomong-ngomong, tentang pemakaman istriku... Apa kau yang membuatkan makam di sana untuknya?"


Pertanyaannya dibalas dengan anggukan Xin Fai, Lian Sheng semakin tak tahu harus membalas kebaikan anak itu seperti apa. Rasanya harta miliknya sekalipun tak cukup untuk membayarnya.


"Kau sungguh anak yang baik, aku tak tahu harus berkata apa lagi..."


Lian Sheng mengeluarkan sebuah medali milik keluarga Lian. Ia menyodorkannya begitu saja pada Xin Fai.


"Apa ini?"


"Aku ingin menjadikanmu anak angkatku."


"Apa?!!" Sontak Xin Fai menjerit dibuatnya.


Saat hendak memprotesnya lagi Lian Sheng langsung mengatakan pamit, dia beserta pengawalnya pergi dari sana meninggalkan Xin Fai yang kini terbelalak tak percaya. Dia kebingungan berusaha memahami keadaan.


"Apa aku salah dengar?!"


Lang terbangun karena jeritan Xin Fai, dia mendengus lalu menguap begitu lebar.


"Siang bolong seperti ini bisa membuatmu kerasukan? Setan jenis apa yang datang padamu?"


Xin Fai masih tak bisa berkata apa-apa dan berharap perkataan Lian Sheng hanya candaan.


"Hei aku lapar. Apa kau membeli sesuatu yang bisa kumakan?" Lang membongkar barang bawaan Xin Fai tadi namun tak menemukan daging sama sekali. Ekornya melibas sana-sini saat tak menemukan makanan.


"Hei bocah aneh, kau mendengarku?"


"Diam sebentar kau serigala cerewet, tidak terlihat kah di matamu itu aku sedang terkejut?!" marah Xin Fai ikutan naik darah.


"Apa hubungannya rasa terkejutmu dengan perutku yang kelaparan? Mana makananku?!"


Xin Fai membuang napas kasar sambil berdiri di tempatnya, setelah pikirannya agak jernih dia baru teringat lupa membeli daging. Yang diingatnya hanya makanan bayi serta baju-baju kecil yang seharusnya dipakaikan pada Lian Kaili. Tapi bayi itu sudah dibawa oleh Lian Sheng.


"Hm... Bagaimana ini? Tidak ada makanan lain selain ini. Apa kau mau makan bubur balita?"


Lang menggeram jengkel.

__ADS_1


"YANG BENAR SAJA!"


__ADS_2