
Naga Air mengeluarkan wujudnya yang sebenarnya, kini tubuhnya ratusan ribu kali lipat lebih besar dari ukuran semula. Garis mukanya yang tajam dan kokoh seperti batu logam terlihat berkilat-kilat saat diterpa terik matahari yang melewati celah-celah awan. Angin topan besar akan segera berlangsung bersama retakan keras di permukaan es.
Perlahan-lahan bebatuan es berderak, menandakan akan terjadi bencala alam besar selanjutnya. Naga Es yang berwarna putih perak telah merangkak naik ke atas langit, ekornya terlihat berada di atas permukaan es yang mencair.
Tidak ada yang hendak bergerak dari tempat masing-masing, baik Naga Air maupun Xin Fai sama-sama terdiam memperhatikan kengerian Naga Es di depan sana. Suara naga menggema dari atas langit, mengaung-ngaung seperti sedang meneriakkan sesuatu. Ekor sang Naga Es melibas daratan dengan sangat kasar, membuat bebatuan es tinggi terpental begitu saja.
Xin Fai terkejut dengan situasi tersebut, dia menyadari arah terpentalnya batu es runcing itu adalah ke pemukiman warga kutub. Dia khawatir akan menyerang rumah Marcos dan keluarganya.
Tanpa berpikir banyak lagi pemuda itu mengejarnya dengan kecepatan kilat, Naga Air segera menyusul. Dia menggulung tubuh Xin Fai di ekornya lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga.
Alhasil kecepatan terbangnya bertambah, jarak dengan batu es mendekat dan semakin mendekat. Ketika hanya berjarak satu meter lagi hendak mengenai batu tersebut Xin Fai mengepalkan tangannya erat kemudian menumbuknya dengan kekuatan besar.
Bongkahan batu es yang telah menjadi lebih kecil berjatuhan ke permukaan air yang membeku, membuatnya berlubang-lubang saat batu tersebut jatuh ke bawah.
Xin Fai membalikkan badannya ke belakang, jaraknya dengan Naga Es sudah cukup jauh. Dia harus segera kembali atau Naga Air takkan mampu mengimbangi siluman itu seperti perkataannya tadi.
Saat meneliti lebih tajam lagi ternyata Naga Es sudah keluar dari gulungan angin topan, cuaca dingin terasa semakin menusuk saat siluman terkuat itu memunculkan seluruh tubuhnya dengan jelas.
Mata Naga Es berwarna merah darah dan tubuhnya sendiri didominasi oleh warna putih seputih salju.
__ADS_1
Satu hal yang membedakan Naga Air dengan Naga Es adalah Naga Es memiliki sayap. Siluman itu jelas hidup jauh sebelum Naga Air hidup. Tak terbayangkan lagi setinggi apa kekuatan yang dia dapatkan dengan umur selama itu.
Geraman Naga Es terdengar dari kejauhan seperti akan menyerang Naga Air yang sejak tadi waspada terhadap situasinya yang tak memungkinkan. Mereka berdua terbang di udara dengan poros saling memutar, saling memasang sikap waspada akan serangan tak terduga.
Sebelum Xin Fai sempat menyusul ketertinggalannya bentrok besar telah terjadi lebih dulu, Naga Es menyerbu lawannya dengan sangat gesit. Menggulung Naga Air dalam sekali gerakan dan mencengkeramnya hingga tak mampu bergerak lagi.
Naga Air melibaskan ekornya untuk menyerang Naga Es namun apa daya hanya satu pukulan biasa takkan mampu membuat lawannya itu menyerah, Naga Air berteriak kencang dan terdengar seperti membelah langit. Pertarungan antar siluman sengit di Utara sana menjadi sangat gaduh, entah sudah ke berapa kalinya bebatuan es pecah dibuat oleh mereka.
Yang jelas dalam situasi ini Naga Air sama sekali tak berdaya di hadapan Naga Es, level kekuatannya mungkin saja sudah melebihi tingkat dewa-dewi. Kini langit yang menurunkan salju berubah sangat terang, ribuan helai sayap turun dari atas sana. Setiap satu helainya akan menggores tubuh seperti halnya pedang.
Xin Fai bergerak lebih lamban karena sayap tersebut, sedikit demi sedikit kulitnya tergores dan akan terus bertambah saat dia melayang di udara. Sedangkan dirinya hanya bisa menggunakan mode roh selama 3 detik, pemuda itu mencari cara lain. Dalam pertarungan kali ini semakin cepat dia terluka semakin kecil pula kemungkinan untuk menang.
Naga Air pun sedang berada dalam situasi terpojokkan dalam satu kali serang, Xin Fai memutar otaknya untuk menghadapi keadaan ini.
"Memusatkan tenaga dalam ke seluruh tubuh dan melepaskannya dengan stabil, benar sekali!"
Cahaya emas mengitari tubuhnya dan perlahan-lahan menjadi perisai alami yang memblokir helaian sayap Naga Es.
Xin Fai mengeluarkan Pedang Manusia Iblisnya saat jaraknya dengan Naga Es hanya tersisa seratus meter, menggunakan perpindahan ruang untuk tiba di titik buta Naga Es.
__ADS_1
Ruang hampa tercipta dengan sangat cepat bahkan Naga Air pun tak tahu Xin Fai sudah berada di belakang kepala Naga Es, mengangkat Pedang Manusia Iblis hendak menikam lehernya.
Belum sempat menurunkan pedangnya ke bawah Naga Es bergerak menghindar dan melibaskan ekornya, mengenai Xin Fai telak dan menghempaskannya jauh menghantam batu es. Pemuda itu terkejut bukan main lagi, selama ini tak ada satupun yang bisa mengimbangi kecepatannya lagi. Baik itu Ratu Iblis, pendekar jagoan bahkan siluman lainnya. Tidak pernah.
Benar dugaannya, ternyata Naga Es yang telah hidup jauh sebelum manusia tercipta ini memang memiliki kekuatan misterius yang tak pernah tercatat dalam sejarah. Kilat merah berkobar di matanya menggambarkan kematian paling mengerikan yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
"Ini daerah kekuasaan ku, atas alasan apa kalian datang dan menyerang?" Naga Es membanting Naga Air ke bumi, membuat gelombang besar seperti tsunami di lautan Kutub Utara.
Siluman itu kini menghampiri Xin Fai yang masih berada dalam retakan es akibat hantaman tubuhnya tadi. Dia berusaha mengeluarkan diri dari sana, mengangkat wajahnya berani terhadap Naga Es.
"Atas alasan apa? Kau merebut sesuatu seharusnya tahu suatu saat nanti akan ada yang datang mengusikmu."
Naga Es mendesis, mendekatkan mukanya pada manusia tersebut. Meskipun emosinya masih tampak stabil namun Naga tersebut terlihat sedikit tersinggung oleh perkataannya.
"Merebut sesuatu? Aku sudah hidup jutaan tahun, kau pikir aku mengingat semuanya yang sudah kucuri?"
"Jutaan tahun?!" Xin Fai tersentak kaget lagi dan lagi, dia kini mengerti alasan Rubah Petir tak mau merebut kembali batu kehidupannya adalah karena hal ini. Rubah itu lebih tahu tentang Naga Es dibanding dirinya, harusnya Xin Fai menanyakan sedikit tentang siluman nomor satu ini sebelum datang bertarung dengannya.
"Katakan apa yang membawamu ke sini, dan asal kau tahu walaupun alasanmu bagus pun aku takkan membiarkan siapapun yang telah mengganggu ketenanganku hidup. Kalian harus mati seribu kali dulu baru ruh kalian kubiarkan tenang."
__ADS_1
Tepat saat suara Naga Es berhenti saat itu pula ekor naga tersebut melibas tubuhnya lagi, Xin Fai sampai tak berkutik dengan kecepatan Naga Es ini. Benar-benar melampaui level kekuatan dewa.
***