Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 235 - Permohonan Pejuang


__ADS_3

Ho Xiuhan mengangkat wajahnya merasa dapat mengenali siapa gerangan yang berbicara, dia menoleh mendapati seorang pria ringkih tengah menatapnya hina.


"Justru sekarang kau berada di pihak musuh? Apa gerangan yang terjadi? Bukankah mereka telah membunuh seluruh keluargamu hari itu?"


Chang Wei menahan lengan Ho Xiuhan. "Jangan dengarkan omongannya."


"Apa yang aku katakan salah?" Musuh mengangkat dua tangannya. "Saudara Ho sendiri yang mengatakan, para pendekar aliran putih telah menancapkan pedang di dada ayahnya. Kalian, orang-orang sok suci tak jauh beda dengan kami. Dengan mengandalkan kekuasaan bisa menganggap apapun berada dalam genggaman tangan kalian–"


Kepala pria itu terpenggal dan menggelinding seketika di tanah, darah mencuat dari leher yang telah terpotong itu. Ho Xiuhan menatapi siapa pelaku yang telah mengambil nyawanya.


"Jangan dengarkan omongan mereka, aku tahu kau juga tidak mau diingatkan dengan masa lalu.


Ho Xiuhan mengangguk meski masih terkejut melihat lawan bicaranya tewas seketika.


Xin Fai menarik napas kelelahan, dia berhenti sejenak setelah melihat Ho Xiuhan dan Chang Wei terdiam di satu titik. "Sebenarnya aku dan kau tidak jauh berbeda."


"Ketua Xin, maksudnya apa?"


Xin Fai mengarahkan tatapannya ke arah lain, mengamati rekan-rekannya yang sibuk berjuang di medan pertempuran. "Kau hidup di perbatasan, peperangan dan kehancuran sudah setiap hari kau rasakan. Dari wajahmu aku tahu, di balik itu semua yang ingin kau cari hanya kedamaian."


Ho Xiuhan hanya bisa tersenyum miris, meskipun pemuda di hadapannya 8 tahun lebih muda daripadanya namun pemikirannya jauh lebih dewasa.


"Kau benar, aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang kucari selama ini. Terimakasih sudah memberitahuku."


"Kau sudah berterimakasih berapa kali sejak kita pertama kali bertemu?"


"Maafkan aku." Ho Xiuhan tidak tahu harus menjawab apalagi, dia mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Cepat angkat pedangmu, kita akan segera menciptakan kedamaian untuk semua orang."


"Baik, Ketua."


**


Butuh waktu berjam-jam demi bisa menghabisi seluruh musuh dan memastikan tidak ada yang melarikan diri dari mereka, ratusan mayat tergeletak tak bernyawa dalam pertempuran besar yang tak terduga itu. Bahkan tidak hanya di dalam desa, para musuh juga datang dari berdatangan dari arah tak terduga.


Mereka membangun perkemahan kecil di balik hutan-hutan lebat dan tampaknya telah lama bermukim di desa ini.


Pertarungan telah berakhir lebih dari satu jam yang lalu namun pasukan tidak bisa digerakkan dikarenakan banyak anggota aliansi terluka berat. Salah satunya Chang Wei, pemuda itu mengalami pendarahan hebat di bagian perutnya. Meskipun telah mendapatkan pertolongan namun kondisinya tak kunjung membaik daritadi.


"Kita tidak bisa menunda terlalu lama..." gumam Xin Fai saat melirik sekitarnya, sembilan orang terluka parah sedang sisanya mengalami luka ringan. Persediaan obat dan sumber daya tidak terlalu memadai, mereka telah menunda terlalu lama dan kini langit mulai menggelap pertanda akan malam.


Ho Xiuhan masih berusaha menyembuhkan tubuh Chang Wei, namun pemuda itu bersikeras untuk berdiri, tertatih-tatih dia menghadap pada Xin Fai.


"Bagaimana bisa? Lukamu masih belum pulih, kau tidak akan bisa menaiki kuda dengan luka menganga seperti itu." Balasan itu membuat Chang Wei membungkam beberapa waktu, namun masih terdengar bantahan setelahnya.


"Kita harus segera menyusul musuh, Ketua. Keluargaku berada di Kota Renwu, jika kita tidak sampai tepat waktu dan kehancuran lebih dulu terjadi.." Chang Wei tak sanggup berkata-kata lagi. Sesaat salah satu temannya yang terluka ikut berbicara.


"Yang dikatakannya benar, Ketua. Kami tidak masalah dengan luka ini. Nyawa orang-orang sedang dalam bahaya dan mereka lebih memerlukan pertolongan daripada kami."


Mendengar yang lainnya juga satu suara dengan Chang Wei, Xin Fai tidak memiliki alasan untuk berkilah lagi. Dia memejamkan mata seakan berpikir-pikir dulu sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Siapkan kudanya, kita akan berangkat sekarang juga."


Udara malam begitu dingin menusuk kulit, tak terasa malam telah berganti pagi kembali saat mereka terus melanjutkan perjalanan. Setibanya di kota selanjutnya yang pertama kali mereka cari adalah obat dan sumber daya demi membantu proses penyembuhan anggota aliansi.


Tidak ada waktu untuk beristirahat, setiap melewati desa maupun kota mereka hanya sekedar mengisi persediaan makan dan barang-barang lainnya yang sekiranya diperlukan. Ini semua agar mereka tidak terlambat datang ke Kota Renwu, lebih tepatnya ke Lembah Kabut Putih.

__ADS_1


Kemungkinan kudeta akan dilakukan di sana. Apalagi mengingat tempat itu sedang kosong, dalam artian beberapa jagoan seperti Yong Tao dan Pilar Kekaisaran lain tengah berpergian ke kota lain. Bukan tidak mungkin Kaisar Qin akan tamat riwayatnya di tangan putranya sendiri saat kudeta berlangsung.


Muncul banyak sekali kemungkinan buruk dalam pikirannya, Xin Fai hanya bisa menarik napas lagi dan lagi. Perjalanan tiga hari berikutnya terasa amat lama, berhubung keadaan anggota sudah lebih bagus dari beberapa hari terakhir dia mempercepat laju kuda. Tentu agar pengejaran mereka tidak terlambat.


Tiba di pelabuhan kecil yang akan mengantarkan mereka pada Kota Renwu, sebuah kabar beredar di tengah-tengah kota. Xin Fai mencoba mendengar cerita dari penduduk secara diam-diam.


Perlahan raut wajahnya memburuk kala mendengar berita itu, dari yang didengarnya dua hari terakhir satu kota makmur telah hancur binasa di tangan Manusia Darah Iblis. Mereka menjadikan kota yang menjadi sumber terbesar penghasil beras itu sebagai markas. Secara tidak langsung hal ini akan berdampak besar pada persediaan makanan di seluruh Kekaisaran.


Salah satu Pejuang datang memberi hormat pada mereka, dia menunduk begitu dalam bersama tatap penuh harapnya.


"Tuan-tuan Pendekar, bisakah kalian tinggal di sini selama dua hari lagi?"


Xin Fai menjawab. "Kami dalam keadaan terburu-buru, kurasa tidak bisa. Memangnya untuk apa?"


"Tuan, akhir-akhir ini desa yang berseberangan dengan kami telah dikuasai oleh musuh. Salah satu Pejuang mengatakan rombongan mereka akan datang kira-kira dalam dua hari lagi. Aku tidak mau desa kami dalam bahaya."


Zhu Yue memotong. "Bukankah kalian memiliki Pejuang untuk melindungi desa?"


"Tuan, Pejuang di tempat kami telah gugur memperjuangkan desa yang tadi kubicarakan. Tidak ada satupun yang kembali dan sekarang jumlah kami hanya seperempatnya."


Kembali lagi Xin Fai dihadapkan pada situasi sulit, dia menoleh ke arah laut lepas di mana Kota Renwu menunggunya di sana. Sedangkan di desa ini puluhan orang juga berada dalam ancaman besar. Jika membiarkan satu desa ini dalam kehancuran markas musuh akan semakin banyak.


Sedangkan itu terlihat di kejauhan berbondong-bondong warga mendekat ke arah mereka, tampaknya sebagian orang sudah mengenali siapa mereka dari bendera yang mereka bawa. Melihat harapan banyak orang bergantung pada mereka Xin Fai menjadi serba salah.


Semua orang terdiam menunggu apapun keputusannya, Xin Fai angkat bicara setelah itu. Berharap tidak mendapatkan penentangan dari anggotanya sendiri. Ikat kepalanya bergerak ditiup angin, dalam satu tarikan napas dia berucap tegas.


"Kami akan mempertahankan desa ini sebaik mungkin. Terimakasih sudah mempercayakan tugas ini kepada kami."

__ADS_1


***


__ADS_2