
"Kau hanya bawahannya, memang sebegitu yakinnya kau dengan kekuatanmu itu?"
"Tidak perlu banyak bicara, aku akan menunjukannya padamu. Tanpa menggunakan pedang sekalipun."
Xin Fai menjatuhkan pedang milik komandan tersebut, belasan pengawal di depan sana mulai bergerak mengincarnya namun justru dia memejamkan mata pelan.
"Kitab Terlarang - Ilusi Hujan Darah."
Zhu Yue berusaha melihat rumahnya dari kejauhan dan dapat melihat kobaran api mengamuk di rumah tua milik neneknya, dia berniat mengatakan pada Xin Fai.
"Ketua Xin! Aku akan menyusul adikku!"
"Aku ikut denganmu."
"Bagaimana bisa, kau belum membunuh mereka–" Zhu Yue menelan kata-katanya saat melihat semua orang di hadapannya telah tak bernyawa tanpa bekas luka maupun keberisikan sedikitpun.
Tak mampu berkata-kata lagi Zhu Yue hanya mampu memandang pimpinannya sedikit ketakutan. Tatapannya jauh lebih waspada. Xin Fai tidak memedulikan itu lagi, dia segera berlari.
Tak menunggu lama keduanya segera bergerak menuju rumah nenek Zhu Yue, kayu bakar yang diletakkan di samping rumah habis terbakar mengakibatkan api menjalar ke dalam rumah. Zhu Yue mendobrak pintu dan mendapati adik perempuannya Zhu Ye sudah terbaring di tengah ruangan dalam keadaan tak bernyawa.
"Ye'er! Bertahanlah! Kau harus hidup!" Zhu Yue menggerakkan pundak adiknya, nada bicaranya serak. Zhu Ye sudah dirawatnya sejak kecil, dia begitu melindungi adik kecilnya itu, tidak ada satupun bocah yang mau mengganggunya karena Zhu Yue selalu ada untuk adiknya.
Xin Fai merunduk mendengar ratapan Zhu Yue, pria itu memeluk adiknya dengan erat. Dirinya seakan dihadapkan pada masa lalu. Kebakaran ini, arti tangisan kehilangan dan juga bekas dendam yang tak kunjung sembuh.
"Oh tidak... Manusia Darah Iblis sudah kelewatan! Aku akan membunuh mereka semua!"
"Kendalikan dirimu, Wakil Zhu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Ketua! Mereka sudah mengambil adikku dan juga nenekku! Mereka merampas semuanya, dan kau tidak tahu bagaimana rasanya!"
__ADS_1
"Aku sudah lebih dulu merasakannya."
Zhu Yue tertegun, air mata memenuhi matanya dan mengalir begitu saja. Dia bersimpuh di hadapan gadis kecil yang baru berusia 11 tahun, kulitnya hitam dilalap api, gadis kecil itu meninggal akibat kehabisan oksigen.
Xin Fai memilih pergi membiarkan Zhu Yue tenang dengan sendirinya, keadaan desa sudah hancur lebur. Untungnya penduduk yang tersisa masih bisa diselamatkan oleh Aliansi Pedang Suci, mereka mendirikan tenda darurat dan menyelamatkan beberapa yang terluka.
Kayu telah menjadi abu, Xin Fai menggerakkan pasukan menembus rumah warga yang telah terbakar untuk memakamkan korban di dalamnya, mayat tidak baik dibiarkan begitu saja. Mereka segera mengumpulkan mayat-mayat di satu tempat.
Sedangkan Aliansi Pedang Suci masih sibuk membantu, Zhu Yue duduk menyendiri di tangga rumah merenung dalam diam. Dia tersadar akan kehadiran Xin Fai dan sama sekali tidak menyapa seperti biasanya.
Xin Fai menepuk pundak Zhu Yue pelan. "Semua orang mempunyai penyesalan, yang berbeda hanya bagaimana kita menyikapi itu semua."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku menggunakan penyesalan itu untuk menguatkan diriku," ucapnya pelan, sembari menatap langit yang sudah sore dan para burung imigran yang sibuk mencari rumah baru.
"Aku tidak ingin melihat orang lain merasakan penyesalan yang sama, dengan itu aku ingin menjadi kuat."
Meskipun masih berkabung Zhu Yue masih bisa berdiri tegap, dia berjalan menuju makam adik dan neneknya yang baru saja dibuat. Hampir ratusan penduduk yang selamat ikut berkabung di tempat itu, pemakaman massal dilakukan dalam suasana yang buruk. Awan mendung bersama angin sore bertiup kencang membuka kain-kain yang menutup mayat.
Zhu Yue menangis saat melihat wajah adiknya yang terlihat di balik kain putih, sia-sia sudah dia menjaganya selama ini. Pria itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak bersedih lebih lama, dia memalingkan muka setelahnya.
Acara berkabung selesai, pada malam harinya Aliansi Pedang Suci dipersilahkan tidur di rumah warga yang tidak terbakar. Meskipun harus bersempit-sempitan mereka tidak punya pilihan lain.
Sedangkan Zhu Yue dan Xin Fai duduk di dekat api unggun, hanya menatap api lama tanpa obrolan berarti. Baru saja membuka mulutnya hendak mengajak bicara Zhu Yue sudah bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju rumah.
Xin Fai memaklumi sikapnya, siapapun yang merasakan kehilangan pasti akan sangat sensitif. Dia tidak berniat mengobrol lagi dan hanya beralih menatap api unggun hingga tertidur.
Esok paginya keadaan dibuat ricuh oleh satu anggota Aliansi Pedang Suci, dia mengaku tidak melihat Zhu Yue sejak tadi pagi dan tak menemukannya di manapun. Xin Fai terbangun oleh suara berisik itu, ketika menyadari hal buruk mungkin saja sudah terjadi mereka segera bergegas mencari Zhu Yue.
__ADS_1
Seorang pria menahan kepergian mereka sejenak membuat yang lainnya berhenti dalam perasaan bimbang sekaligus cemas, air muka takut terpampang jelas di wajah tua itu saat berbicara.
"Jika kalian mencari Zhu Yue, kemungkinan dia berada di sekitar patung Qiang Jun. Di sana musuh-musuh membangun markas kecil..." Tak lama wajahnya berubah penuh sesal. "Maafkan aku, aku yang memberitahunya tentang markas itu. Mungkin dia pergi karena diriku..."
"Tidak usah terlalu cemas, kami akan mencari Zhu Yue secepatnya." Xin Fai berbicara, dia bersiul kecil memanggil kudanya di kejauhan. Kuda berwarna hitam memekik dan berlari kencang ke arahnya.
"Ayo pergi!"
Selagi dua puluh orang pergi bersama Xin Fai mencari keberadaan Zhu Yue, yang lainnya tetap tinggal memastikan keamanan para rakyat sekaligus membantu memperbaiki beberapa rumah yang masih layak dipakai.
Pasukan tiba di sebuah jalan besar yang terhubung dengan jembatan, puluhan mayat tergeletak di atas bebatuan danau di bawahnya. Mata Xin Fai melirik lurus ke depan dan mendapati Zhu Yue tengah berduel lima lawan satu di sana.
Langsung saja tanpa berpikir lama Aliansi Pedang Suci turun tangan membantu Zhu Yue, pertarungan berat sebelah itu dengan mudah dimenangkan mereka. Agak terkejut juga Xin Fai melihat jumlah para musuh yang berhasil dikalahkan Zhu Yue, mungkin jumlahnya bisa menyentuh angka 50 orang.
"Baiklah, kau orang pertama yang mendapatkan hadiah di kelompok kita."
"Aku tidak peduli dengan itu, Ketua Xin. Aku hanya ingin membunuh mereka semua!" Zhu Yue mengacungkan pedangnya di udara, namun kaki kanannya berdenyut perih akibat luka tusuk membuat pria itu ambruk seketika.
Xin Fai menopang tubuhnya sambil menatap ke depan, terlihat sebuah markas kecil yang hanya dilindungi oleh 2 menara kecil dan empat pendekar menengah.
"Istirahatlah, sisanya biar aku yang bereskan."
Zhu Yue tidak berani membantah lebih jauh lagi, wajah pimpinan Aliansi Pedang Suci kini berubah lebih serius. Para manusia berdosa di dalam markas sana sama sekali tidak akan diampuninya, membunuh mereka semua adalah langkah terbaik untuk mengurangi korban jiwa di masa depan. Iblis tetaplah iblis. Mengampuni mereka hanya menunda masalah lebih besar datang ke depannya.
Xin Fai menarik ujung panah di tangannya, membidik tepat di kepala musuh yang berada di menara markas. Dalam kecepatan tinggi anak panah menembus kepala musuh di atas sana. Kekuatan daya panah yang tidak terlalu besar membuat tubuh pria itu tidak jatuh ke tanah, membuat musuh lainnya tidak menyadari keberadaan mereka.
Nasib penjaga menara yang satu lagi juga sama, dia mati tanpa tahu siapa gerangan yang mengambil nyawanya. Usai membunuh penjaga menara pasukan Aliansi Pedang Suci bergerak secara terang-terangan membasmi musuh.
Seketika peperangan tak terelakkan, pembantaian berlangsung sangat sengit di antara kedua kubu yang saling bertubrukan. Bunyi derit pedang bersambung tanpa henti di tengah-tengah mereka.
__ADS_1
Xin Fai menarik pedangnya dari jantung musuh, dia berniat melenyapkan dua orang di belakangnya sebelum sebuah suara berat menyapa tak jauh darinya.
"Ternyata kau sudah dewasa, kita dipertemukan lagi hari ini."