Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 119 - Babak Utama


__ADS_3

Huang Kun, Shen Xuemei dan juga Li Yong baru saja terbangun pagi itu. Mereka langsung saja bersiap-siap untuk pergi ke lokasi turnamen secepat mungkin demi tidak terlambat mengikuti babak utama namun dalam beberapa saat mereka terdiam saat menyadari ada yang kurang. Li Yong bertanya sambil memutar sekelilingnya, "Xin Fai mana? Apa dia belum bangun?"


Huang Kun dan Shen Xuemei mengangkat bahu membuat hembusan napas berat keluar dari mulut Li Yong.


Li Yong berjalan cepat ke arah kamar Xin Fai, setelah mengetuk lama tak ada jawaban dia memaksa masuk dan bisa dilihatnya sama sekali tidak ada orang di dalam ruangan itu. Lantas saja Li Yong dibuat panik, pendeta itu berjalan sangat tergesa keluar dari kediaman Kuil Teratai. Pikiran negatif serta segala kemungkinan buruk mulai datang akan menghilangnya Xin Fai pagi ini.


Huang Kun dan Shen Xuemei yang melihat guru mereka itu berlari keluar kediaman hanya bisa terdiam lalu menyusulnya.


Rasa cemas Li Yong berubah lega saat dilihatnya Xin Fai sedang berlatih pedang di depan kediaman, pemuda kecil itu menoleh dengan senyum tipis.


"Pagi, Senior Li."


"Ah, pagi juga Fai'er..." Li Yong batuk pelan, "Bagaimana latihanmu? Ada angin apa sepagi ini sudah berlatih?"


"Hem? Apakah salah? Aku hanya merasa harus menjadi lebih kuat untuk masuk ke babak final nanti."


Li Yong agak terkagum melihat ketekunan Xin Fai ini, sebenarnya dalam hati dirinya sudah sangat yakin Xin Fai dapat maju ke babak final tanpa masalah mengingat sebelumnya dia juga pernah melawan musuh yang jauh lebih hebat seperti Siluman Penguasa Air. Meskipun begitu Xin Fai tak langsung lengah dan justru terus berlatih untuk mendalami ilmu pedangnya.


Shen Xuemei dan Huang Kun baru saja keluar dari pintu mendengarkan perkataan tersebut, memang babak penyisihan kemarin cukup membuat mereka bertiga kelelahan namun Xin Fai tetap memaksakan diri untuk latihan. Huang Kun tak bisa diam saja melihat hal itu, dia berlari menuju Xin Fai.


"Benar juga, hari ini adalah penentuan hasil latihanku selama ini. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!"


Huang Kun menarik pedang dan langsung saja disambut oleh Xin Fai, selagi mereka memiliki waktu tidak ada salahnya untuk latihan.


Shen Xuemei dan juga Li Yong menunggu mereka sambil berbincang-bincang kecil, hingga akhirnya matahari menampakkan sinarnya dan mereka bergegas menuju lokasi turnamen.

__ADS_1


Xin Fai mengerutkan alisnya saat menyadari jumlah penonton berkurang dari sebelumnya, bukan hanya dia namun Li Yong juga menyadari hal tersebut. Setidaknya sepertiga dari penonton kemarin tak datang, saat mencoba membaca situasi lebih jelas bahu Xin Fai didobrak oleh seseorang.


Gong Li, Ren Yuan dan Zhuan Ang berjalan angkuh di depan mereka. Xin Fai dapat melihat gadis sombong itu meliriknya dengan ujung mata, merasa kesal dia melepaskan aura pembunuh ke arah tiga orang tersebut.


Li Yong tak pernah menyangka Xin Fai dapat mengeluarkan aura pembunuh sekuat ini, selain itu orang sekitarnya mulai merasakan hal tersebut dan segera menjauh dari mereka.


Aura pembunuh dari permata siluman tikus memang sangat berbahaya menyebabkan aura yang dimilikinya pun sangat pekat penuh ancaman. Ketiga orang itu menahan napas saat merasakan tekanan berat di tubuh mereka.


"Apa-apaan gayamu itu?" ucap Ren Yuan berusaha tetap tenang, dia berpaling badan menghadap Xin Fai sembari mengoceh sok berkuasa.


Di tempat umum seperti ini siapa yang tak mengenal gadis angkuh bernama Ren Yuan si Duri Mawar dari keluarga bangsawan, dia memiliki paras bak seorang dewi dan kekuatannya pun sama sekali tak bisa diremehkan meskipun dirinya berasal dari keluarga terpandang. Melihat Ren Yuan bisa masuk ke babak utama sebagai salah seorang keluarga bangsawan inti saja sudah hal yang luar biasa dalam sejarah keluarga besar Ren.


Xin Fai agak tersinggung mendengar perkataan Ren Yuan tadi.


"Bertanya balik. Kau yang menyenggolku duluan. Apa masalahmu denganku?"


"Kita pergi saja dari sini. Tunggu saja, aku akan mempermalukannya saat turnamen nanti. Berharap saja kau takkan menjadi lawanku." Gong Li menatap remeh hingga terdengar tawa mengejek dari mulut Xin Fai.


"Bukannya terbalik? Seharusnya kau yang memohon untuk tidak berhadapan denganku, daripada harus menanggung malu karena kalah untuk yang kedua kalinya nanti."


Huang Kun, Shen Xuemei dan juga Li Yong tidak bisa mengerti apa yang terjadi di antara mereka. Namun situasinya tak terlalu baik untuk saat ini.


Pendeta Li Yong melerai.


"Sudahlah Fai'er, jangan mencari masalah terus."

__ADS_1


"Senior, sebenarnya mereka yang terus mencari masalah denganku."


"Kau mengalah saja, tidak baik berurusan dengan mereka." Bisik Li Yong pelan, dia memasang wajah tak enak pada Ren Yuan yang kini menaikkan sebelah alisnya.


"Ck, kenapa selalu aku yang disalahkan?" Xin Fai hanya bisa mendecak kesal, dia beralih menghadap tiga orang tersebut. Nampak dari kejauhan sana, guru mereka Ho Shing sedang menyusul.


Li Yong langsung saja panik, dia merasa Ho Shing ini adalah orang yang mudah tersinggung, sebaiknya dia tak memiliki dendam pada Xin Fai agar tak terjerat masalah ke depannya dengan keluarga bangsawan Ren.


"Fai'er, cepat minta maaf!"


Huang Kun pun menyetujui usulan Li Yong, mereka berdua mendesak Xin Fai untuk meminta maaf secepatnya.


Ren Yuan menaikkan sedikit sudut bibirnya, dia nampak begitu puas ingin membuat Xin Fai malu.


"Tidak mau meminta maaf, ya? Aku bisa mengatakannya pada guru kami nanti."


Ancaman tersebut tentu saja seperti guncangan bagi Li Yong, dia semakin memaksakan Xin Fai untuk meminta maaf.


Ho Shing sebenarnya bukan masalah besar bagi Xin Fai namun yang paling dirinya takuti adalah mulut Li Yong. Pendeta itu kalau sudah melihat sedikit hal yang salah saja akan mengomel sepanjang hari tanpa makan dan minum, setidaknya setelah mengenal pendeta itu agak lama Xin Fai bisa mengenali wataknya juga termasuk cerewet dan senang sekali mengomel-ngomel. Maka dari itu Xin Fai memutuskan untuk mengalah.


"Ayolah mengalah saja Fai'er, daripada kita berurusan dengan sekte Gunung Angin Timur."


"Iya... Iya. Aku minta maaf."


"Bukan seperti itu cara meminta maaf!" Zhuan Ang berseru, dia nampak sekali sedang menguji kesabaran Xin Fai. Melihat tingkah Zhuan Ang semakin melunjak, dia hanya bisa menggeram kesal.

__ADS_1


"Jadi? Coba kau contohkan bagaimana caranya," jawab Xin Fai cukup sabar meladeni pemuda itu, dia siap-siap melempar batu andai saja Zhuan Ang sampai menyuruhnya bersujud di depan Ren Yuan.


***


__ADS_2