
Dengan memanfaatkan beberapa pil yang diberikan Lian Sheng untuk menambah stamina, Xin Fai tak henti-hentinya melancarkan serangan ke batu sedari tadi. Hal itu membuat Lang menguap lebar, hari yang begitu cerah ini bukan hanya membakar kulit manusia, tapi juga membakar semangat seorang bocah bernama Xin Fai ini.
Terkadang setelah kelelahan melakukan serangan beruntun Xin Fai berpikir sebentar, lalu mencari cara lain untuk membelah batu tersebut. Dengan mengandalkan tenaga dalam, Xin Fai menebas pedang dengan laju cepat.
Kali ini pisau angin yang dilepaskan berjumlah dua belas, meskipun ukurannya lebih kecil namun daya rusak yang dihasilkan jauh lebih tajam.
"Angin dari Desa Daan, ya? Jurus ini kelihatannya sangat berbahaya jika digunakan oleh pendekar setingkat pendekar agung."
Perkembangan Xin Fai tergolong cukup cepat karena sedari tadi dia terus memaksakan diri. Menurut Xin Fai kekuatannya akan bertambah jika dia berhasil melampaui ambang batas kekuatannya. Dia akan terus memaksa tubuhnya berlatih, setidaknya sampai dirinya berhasil membelah batu itu.
Tanpa disadarinya Lang sudah pergi berburu, meninggalkannya sendirian di hutan rimba tersebut.
Beberapa saat setelah berhenti latihan, Xin Fai kembali berdiri hendak melanjutkan latihannya tadi.
Belum berjalan satu meter dari tempatnya, Xin Fai dikagetkan oleh kedatangan lima serigala buas yang kelaparan.
"Aih... Aku kedatangan tamu yang merepotkan." gerutunya jengkel karena merasa waktu latihannya terganggu. Dia menarik salah satu pedang di punggungnya sambil mendecak pelan.
Tiga serigala maju secara bersamaan dan langsung menerkamnya dari tiga arah berbeda.
"Grrroaah!"
Traaang!
Xin Fai menahan seekor serigala di hadapannya, sedangkan dua serigala lagi hendak menyerang dari belakangnya.
Serangan dari berbagai arah ini membuat Xin Fai waspada, dia menarik pedangnya yang satu lagi dan menahan pergerakan dua serigala di belakangnya.
Xin Fai mengokohkan kuda-kudanya agar tak mudah goyah. Dengan pedang ukiran emas di sebelah kirinya, Xin Fai mengarahkan serangan pada dua serigala di belakang.
"Kitab Tujuh Kunci - Angin Desa Daan!"
Pisau angin yang sebelumnya berwarna transparan berubah emas jika memakai pedang pemberian Zhishu Yan.
Lima dari pisau cahaya itu mengenai tubuh musuhnya. Sedangkan itu dua serigala lain tak tinggal diam, mereka mengincar Xin Fai dari depan. Dengan membuka lebar mulutnya salah seekor serigala mendarat di depan Xin Fai.
__ADS_1
Melihat itu Xin Fai tak tinggal diam, dengan cepat dirinya melepaskan diri dari serigala lain dan memasang kuda-kuda.
"Tendangan Bulan Sabit!"
Tendangan telak berbentuk bulan sabit menghantam kepala serigala kuat, serigala itu terkapar menghantam tanah. Dengan segera Xin Fai menancapkan pedang Manusia Darah Iblis di kepalanya hingga menembus tanah.
Kehilangan banyak tenaga dalam dengan waktu yang cukup singkat membuat Xin Fai berada dalam posisi tak menguntungkan, apalagi staminanya sangat buruk karena malam tadi tidak tidur dan malah memaksakan diri untuk latihan berat.
Kecepatan berlari serigala sangatlah cepat, beberapa di antara mereka ada yang berhasil mencakar tubuh Xin Fai, dalam pertarungan tersebut luka yang didapatkannya tidak bisa dibilang sedikit.
Xin Fai melompat mundur beberapa meter, sambil menstabilkan napasnya dia mencoba memulihkan tenaga dalam. Namun empat serigala yang tersisa tak bisa tenang setelah salah satu teman mereka dibunuh.
Kali ini penyerangan jauh lebih buas dari sebelumnya, dari empat penjuru berbeda Xin Fai dikepung secara serempak.
Kedua pedang miliknya diacungkan dengan berani, sambil memasang kuda-kuda mantap Xin Fai merapatkan gigi. Terlihat asap putih keluar dari deretan giginya, menggunakan teknik pernapasan dia mengumpulkan kembali beberapa tenaga dalamnya yang hilang.
Sebelum empat serigala mendarat, Xin Fai memutar kakinya ke belakang diikuti dengan kedua tangannya yang melibas pedang membentuk pusaran kematian bagi serigala-serigala tersebut.
"Kitab Tujuh Kunci - Angin Desa Daan!"
Dengan gerakan berputar-putar tersebut Xin Fai mengeluarkan pisau angin dengan jumlah banyak, tiga serigala yang terkena paling banyak pisau angin tumbang. Darah mereka menyerap ke dalam tanah, sedangkan satu yang tersisa mengalami pendarahan cukup serius.
Xin Fai membuang napas berat, dia kehilangan hampir seluruh tenaga dalam karena pertarungan tak diduga itu. Sedangkan matahari mulai sore, Xin Fai berniat duduk untuk memulihkan tenaga dalamnya sebentar.
Dalam barang bawaannya, Xin Fai mendapatkan beberapa pil bulat hijau yang kemungkinan besar berguna untuk menambah stamina. Dia membuka isi tasnya, dan baru teringat dulu Chuan Gui dari sekte Pasukan Seribu Kaki sempat memberinya beberapa pil saat di penginapan.
Barang bawaan yang Xin Fai dapatkan belakangan ini sangatlah banyak membuatnya malas memeriksa barang tersebut, terlepas dari ribuan keping emas yang diterimanya ini bukan tidak mungkin dia bisa membeli apapun yang diinginkannya.
Sebuah pil berwarna hijau diambilnya, pil itu memiliki aroma khas tanaman herbal. Saat menelannya, sensasi hangat terasa di tubuhnya.
Setidaknya dengan tiga pil tersebut Xin Fai mendapatkan kembali sepertiga tenaga dalamnya.
Batu di hadapan Xin Fai masih nampak kokoh, hanya saja banyak goresan pedang di mana-mana. Setelah sepuluh menit beristirahat sejenak Xin Fai melompat tepat di atas batu untuk melanjutkan latihan, dia memegang gagang pedangnya secara terbalik.
Mata pedang kini tepat berada di puncak batu, sambil mengalirkan tenaga dalam dengan jumlah besar Xin Fai berteriak lantang.
__ADS_1
"Pecahlah!"
Usahanya masih belum berhasil sama sekali, Xin Fai hanya bisa merapatkan gigi. Kali dia melakukan hal tersebut sampai berkali-kali, namun batu di hadapannya sama sekali tak bergeming.
Untuk membelah batu tersebut tidak hanya dibutuhkan kekuatan namun sedikit teknik seperti yang diajarkan Lang tadi.
Pedang ukiran emas yang kini tertancap di batu Xin Fai tarik dengan kecewa, wajahnya semakin memburuk karena tak mendapatkan kemajuan apapun.
"Aku yakin batu ini pasti memiliki kelemahan, tapi di mana?" gumamnya sembari menopang dagu.
Xin Fai menunduk memerhatikan permukaan batu besar tersebut, setelah mencari dengan teliti sedikit senyuman terkembang di bibirnya.
Xin Fai kembali mengarahkan pedang ke bawah, kali ini dengan seluruh kekuatan sekaligus tekadnya. Bola mata Xin Fai seketika memancarkan cahaya emas, pusaran pisau emas juga mengelilingi seluruh tubuhnya dengan cepat.
"Kitab Tujuh Kunci - Angin Desa Daan!"
Mata pedang mengarah pada sebuah lubang kecil di batu, seketika pusaran angin mengitari pedangnya membuka retakan di batu tersebut semakin besar.
"Belum cukup!" Xin Fai mengalirkan tenaga dalam semakin cepat, membuat setengah pedangnya masuk ke dalam batu dengan pisau angin yang muncul semakin banyak.
Setelah pedang emasnya tertancap sepenuhnya di batu, Xin Fai menarik pedang Manusia Darah Iblis. Kali ini kekuatannya jauh lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Sama seperti pedang sebelumnya, pedang yang kini dia pakainya juga mengeluarkan cahaya emas namun bercampur dengan aura merah pekat.
Xin Fai melompat sambil mengayunkan pedang dengan seluruh kekuatannya.
"Kitab Tujuh Kunci - Jurus Seribu Roh!"
Dengan mengarahkan pedangnya membentuk setengah lingkaran, pedang itu membuat jejak asap berbentuk bulan sabit selama beberapa detik.
Batu di hadapannya mengalami keretakan besar saat ditebas oleh pedang dari atas sampai ke bawah.
"Belum cukup!!!" Semakin banyak tenaga dalam yang dilepaskannya, pedang menembus batu di depannya semakin dalam.
Teriakan Xin Fai terdengar kencang saat batu tersebut menimbulkan bunyi retak, ternyata semakin banyak pedang Manusia Darah Iblis menerima aliran tenaga dalam maka ketajamannya jauh lebih mengerikan dari yang sebelumnya.
***
__ADS_1
Terimakasih masih mengikuti ceritaku sampai di siniš hehe walaupun masih bnyk kurangnya, aku bakal nulis sebaik mungkin tapi kalo masih jelek ya pahamilah aku juga baru2 ini memberanikan menulis di sini
Thanks atas dukungannya dgn vote, komen, like dan favorit, makasiih banget heheā¤ļø Udah itu aja bubayy~`