
Gong Li yang sedari tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara. "Kalau begitu kita tak lebih dari sekedar mengantarkan nyawa saja, taktik yang seperti itu hanya akan membuat misi ini akan gagal total. Setelah satu bulan mereka menyandera Shen Xuemei akhirnya kita mengetahui di mana dia dibawa. Kesempatan ini tidak boleh kita sia-siakan. Kekuatan Shen Xuemei juga termasuk lima besar saat Turnamen Pendekar Muda dulu."
Zhu Yue memerhatikan peta itu lagi, dia juga tahu markas Manusia Darah Iblis dibatasi dengan sebuah pagar tinggi yang sulit dilewati. Api siluman di atas pembatas bisa membakar manusia dalam hitungan beberapa detik sedangkan melewati gerbang mereka juga sepuluh kali lebih sulit.
Tidak mendapatkan strategi terbaik untuk menghadapi ini semua Ren Yuan terdiam sejenak. Helaan napasnya terdengar berat dalam satu waktu. "Ini mungkin akan membahayakan nyawa kita semua. Tapi mau bagaimana lagi, Shen Xuemei membawa informasi berharga bersamanya."
"Informasi berharga?" Xin Fai bertanya.
"Aku akan mengatakannya nanti ketika Shen Xuemei berhasil diselamatkan. Untuk sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara masuk ke markas mereka?"
Di sisi lain Walikota turut mengeluarkan suara. "Ayahnya membayar cukup banyak untuk misi ini, semoga kalian bisa melakukan tugas ini dengan baik." Walikota berbicara sembari menatapi semua orang di dalam lekat-lekat meskipun demikian Ren Yuan masih tidak dapat menemukan cara terbaik untuk melakukan misi ini.
Sedikit ragu Ren Yuan rasakan saat hendak mengatakan keputusannya, dia yakin strategi ini pasti akan menuai banyak perdebatan. "Kita akan membagi pasukan dalam tiga tim, pertama yang berdiri di gerbang depan. Orang-orang yang berdiri di sini adalah yang paling kuat, selagi mereka menarik perhatian musuh tim yang lainnya harus bergerak diam-diam memasuki markas mencari Shen Xuemei. Sisanya sebagai pasukan bertahan di dalam markas. Tugasnya sama seperti tim pertama, bisa dibilang mereka sebagai pengecoh sekaligus pelindung untuk tim yang bertugas mencari Shen Xuemei."
Benar saja dugaannya, banyak anggota Aliansi Pedang Suci yang tidak setuju. Mereka saling berbisik-bisik, hingga salah satu di antaranya angkat tangan.
"Nona Ren, memasuki markas tidak semudah itu. Kemungkinan besar tempat Shen Xuemei disandera tidak bisa dimasuki sembarang orang. Lagipula, saat kita menyerang gerbang depan sudah pasti mereka akan terancam dan membawa sandera itu ke tempat lain."
"Lalu, kau sendiri punya solusi untuk hal ini?
Pendekar itu terdiam menyadari perkataannya sama sekali tidak membantu.
Suasana lengang karena Ren Yuan berhenti berbicara sedangkan yang lainnya sibuk berpikir dan tidak mendapatkan gambaran sama sekali menghadapi situasi ini.
"Kalau begitu boleh aku menyarankan sesuatu?"
__ADS_1
Semua mata teralihkan pada wajah Xin Fai, sejak daritadi diam tanpa banyak komentar ternyata pemuda itu sibuk mengatur rencananya sendiri. Zhu Yue menaikkan sudut bibirnya bangga, pimpinan Aliansi Pedang Suci tentu memiliki taktik sendiri dalam menghadapi ini semua.
"Ya, rencanamu akan kami pertimbangkan jika itu benar-benar berguna." Zhuan Ang seperti menyiratkan sesuatu dalam perkataannya, tentu saja pemuda itu makin tidak menyukai Xin Fai. Bukan perkara kekalahannya dulu saat bertarung dengannya tapi masalah pujaan hatinya yang kini telah berlabuh hati pada orang itu.
Zhu Yue hampir saja menimpuk wajah menyebalkan itu andai saja dia tidak sadar situasinya sedang rumit, Xin Fai menahannya agar tidak lepas kendali. Meskipun Zhu Yue lebih tua sepuluh tahun darinya tapi lelaki itu masih payah dalam hal mengendalikan emosi.
Sebuah lencana berlambangkan kalajengking merah tersodor di atas meja, Xin Fai menggeret lencana itu ke hadapan Ren Yuan yang hanya bisa terkejut memandangi benda itu.
"Kau–"
"Jangan salah paham dulu," potongnya. Dia yakin semua orang akan mencurigainya karena tergabung sebagai kelompok aliran hitam nomor satu itu. Bahkan beberapa Gong Li sudah bersiap-siap mengeluarkan senjata dengan aura bertarung.
"Aku mendapatkan lencana ini sebelum membantai kelompok mereka di Kota Sanmin. Kurasa kalian sudah tahu hal itu sebelumnya. Seseorang mengatakan padaku, dengan menggunakan lencana ini aku bisa dengan mudah menghancurkan mereka dari dalam."
Ren Yuan baru memahami keadaan, dia memegang lencana itu dengan berpikir-pikir. "Lalu, apa langkahmu selanjutnya?"
"Aku akan membawa seluruh anggota Aliansi Pedang Suci untuk menghancurkan mereka semua. Tujuan kelompok kami adalah untuk itu semua, kebetulan kami tidak perlu pergi jauh-jauh lagi mencari mereka."
Tiga orang di depannya mengangguk mengerti, berbeda dengan Walikota yang sedikit terkagum mendengar rencana ini. Menghancurkan satu markas kecil saja bukan perkara mudah, kelompok itu memiliki banyak trik kotor untuk membantai semua lawannya secara massal. Salah satunya dengan membakar hidup-hidup musuhnya di dalam besi besar. Layaknya memanggang daging.
"Pertama, kita harus menghancurkan pasukan pemanah mereka. Di markas mereka terdapat beberapa menara, tempat para pemanah itu menyerang secara diam-diam."
Xin Fai sendiri sudah melihat bagaimana bagian dalam markas mereka serta seluk beluknya, hanya perlu waktu beberapa saat baginya untuk memikirkan cara menghancurkan markas itu tanpa membuat keributan.
"Aku akan mencari cara untuk menyamar, setidaknya satu orang harus ikut bersamaku."
__ADS_1
Ren Yuan menjawab lebih dulu. "Aku akan ikut denganmu."
Sedikit kesal Zhuan Ang mendengarkan, dia menyerobot. "Aku yang akan ikut. Setidaknya jika harus mati nanti, Nona Ren tidak harus berada di posisi itu."
"Benar sekali, sebaiknya yang ikut denganku laki-laki saja. Kalau perempuan mereka akan curiga."
Ren Yuan membuang pandangannya agak sebal, selanjutnya dia hanya mendengarkan beberapa arahan lagi dengan wajah jutek. Padahal dirinya yakin akan menjadi penggerak dalam misi rahasia ini tetapi posisi itu diambil alih oleh Xin Fai, gadis itu menatapinya lekat-lekat.
Di satu sisi kemarahannya masih terasa namun ketika melihat bagaimana cara pemuda itu memberikan arahan pipinya kembali bersemu merah.
Xin Fai mengangkat wajahnya.
"Bagaimana? Kau setuju?"
"A-apa?"
"Eh? Kau tidak mendengarkanku?"
Raut wajah panik tergambarkan di wajah gadis itu, dia semakin malu menghadapi lawan bicaranya ini. "Aku sudah dengar, bodoh! Kau kira aku tuli?"
"Kalau begitu jelaskan pada mereka tentang strategi ini, masih ada di antara mereka yang tidak paham."
Semakin panik Ren Yuan dibuatnya, dia terbata-bata hendak menjelaskan rencana ini. Merasa Nona Ren dalam keadaan terpojokkan, Gong Li lebih dulu memotong.
"Biar aku yang menjelaskan." Terdengar tarikan napas panjang dari mulut Gong Li, dia tahu benar apa yang sedang dirasakan Ren Yuan. Sikap kerasnya dalam pertarungan berbanding terbalik hari ini, di hadapan pemuda itu dia sama saja seperti gadis kebanyakan yang pernah ditemuinya.
__ADS_1