
Zhuan Ang menyodorkan tangannya masih merasa belum aman. Sedangkan Xin Fai menarik alisnya ke atas. "Maksudnya?"
"Lencanamu itu, berikan padaku. Aku tidak mau mati muda sebelum menikahi Nona Ren yang cantik jelita."
Dengan memutar bola matanya malas Xin Fai memberikan lencana miliknya itu, seharusnya dia mengajak Gong Li saja tadi karena sepertinya dia masih bisa diajak kompromi. Kalau Zhuan Ang mungkin pemuda itu sudah lebih dulu tidak menyukainya, atau malah menyimpan dendam kesumat padanya.
Zhuan Ang telah bergerak menjauh mengitari daerah yang harus disusupinya, paling tidak pemuda itu terbilang bagus dalam hal menyamar dan gerak-geriknya pun tidak mengundang rasa curiga orang-orang.
Beralih pada tugasnya sendiri Xin Fai memutar arah perginya ke sebelah kanan, terdapat beberapa tempat jual beli dan juga rumah hiburan di tempat itu. Tak disangka juga dalam markas ini mereka membangun sebuah kedai arak yang ramai oleh pendekar. Mereka rusuh seperti biasa dan bercengkrama sampai membuat meja-meja berantakan.
Di dalam kebisingan itu Xin Fai masuk tanpa mengundang perhatian lebih jauh, dia seperti menyatu dengan alam sampai orang-orang tidak menyadari kehadirannya. Kursi paling belakang kosong menjadi pilihannya sedang sebagian orang memilih berkumpul di bagian tengah.
Satu jam menunggu tak kunjung juga dia mendengar informasi yang berguna, yang ada hanya pembahasan mereka tentang bagaimana cara mereka memotong lawannya dengan bangga. Dosa-dosa itu seakan menjadi tolak ukur kekuatan masing-masing pendekar di sini, mereka kebanyakan menyombongkan diri dan akan terus berselisih jika pendapatnya dikoreksi.
Mulai muak juga dirinya kian lama mendengar obrolan tak berguna itu, Xin Fai menaruh beberapa keping perunggu dan keluar dari kedai arak begitu saja. Sialnya, ketika dia terlanjur keluar dari sana justru mereka sudah beralih ke topik yang ingin didengarnya sejak tadi.
Xin Fai menahan langkah sejenak, dia fokus mendengarkan di depan kedai arak. Membuat sebagian orang yang lalu lalang di depan kedai arak kebingungan.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya salah satu pendekar heran. "Kau mau minum-minum tapi sepertinya tidak memiliki uang, hahaha..." ejeknya dengan nada yang dibuat-buat. Andai situasinya memungkinkan mungkin Xin Fai sudah menjejali mulut itu dengan sepatunya.
Pria itu berlalu begitu saja begitu juga dengan topik yang dibicarakan orang-orang di dalam kedai itu, karena omongan pendekar tadi mengacaukan pikirannya Xin Fai jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia menarik napas berat, mencari di sekitarnya dan tidak menemukan apapun yang menarik.
Tidak tahu harus mencari informasi mengenai keberadaan Shen Xuemei Xin Fai menggerakkan langkah kaki gontai menuju sebuah rumah hiburan. Sepintas sebuah ide timbul secara tiba-tiba di kepalanya, dia mulai mencari-cari target lebih dulu saat memasuki rumah dipenuhi hingar bingar tersebut.
Seorang pria duduk malas di kursinya, dia menenggak arak kesusahan setelah berjam-jam lamanya membuang waktu menghadapi rasa stress yang menghantui pikiran. Bergabung dengan rekan-rekannya yang sibuk meributkan bunuhan masing-masing seolah membuatnya merasa kurang percaya diri. Dia masih baru dalam hal membunuh, bisa menjadi bagian Manusia Darah Iblis saja adalah berkat faktor keberuntungannya selama ini. Semakin sedikit yang dibunuhnya uang yang didapatkan pun hanya seberapa, tidak berhutang saja rasanya sudah besar sekali menurutnya.
Laki-laki itu tenggelam pada pemikirannya sendiri, matanya mengawang-awang langit ruangan yang temaram, mencari hiburan tersendiri sebelum kesadarannya semakin menipis.
"Boleh aku duduk di sini?" Seorang pemuda datang, dia menyodorkan sebuah arak yang sempat dibelinya tadi. "Hm boleh saja. Tidak ada yang melarangmu."
__ADS_1
Melihat betapa sulitnya raut wajah lelaki itu Xin Fai berusaha menawarkan araknya, benar saja lelaki itu menyambutnya cepat. Dia menenggak habis minuman itu tanpa malu.
Merasa pria di depannya mulai mabuk berat Xin Fai menoleh sekitarnya, sepertinya semua orang sibuk sendiri. Tatapannya berganti menatap pria di depannya, dengan sedikit membungkukkan badan dia berbisik.
"Apa kau tahu kabar tentang penyanderaan orang bernama Shen Xuemei?"
Di alam bawah sadarnya laki-laki itu hanya bisa asal menjawab, refleks dia mengatakan apa yang berada di pikirannya.
"Oh... Maksudmu si Kebal Racun itu! Haehh, anak muda yang malang itu! Benar-benar kasihan!"
"Boleh kau katakan lebih rinci?"
"Kebetulan pekan lalu aku dapat bagian memberikan anak itu makan. Yang kulihat hanya sebuah tulang yang bisa bernapas, tangan dipenuhi rantai dan juga tatapan matanya itu... Benar-benar kosong!" Sebentar kemudian laki-laki itu mulai memuntahkan isi perutnya, Xin Fai memandangi pria itu kalut. Gambaran keadaan Shen Xuemei benar-benar menyedihkan.
"Di mana kau melihat dia?"
"Mana ada teman di dunia ini!"
"Kecuali jika aku memberimu uang?" tanggap Xin Fai sembari tersenyum penuh arti.
"Nah, kau memang betul temanku!" Tertawaan meledak keluar dari mulut pria itu, Xin Fai mengeluarkan puluhan keping emas. Tampaknya dengan jumlah itu si pendekar juga merasa terhibur.
Dia menerima dengan senang. "Dari sini kau lurus saja sampai di tempat latihan memanah, akan ada deretan rumah besar yang bersusun membentuk bulatan di sana. Nah, setelah itu kau berdiri saja di rumah paling besar dan bergerak tiga rumah ke sebelah kanan."
Pria itu kembali memuntahkan isi perutnya, wajahnya kian merah semakin lama. "Setelah itu?"
Pria itu menunjukkan tanda-tanda seperti orang hendak pingsan, Xin Fai membantunya sebentar. "Hei, cepat katakan."
"Kolong rumahnya, kau lihat..."
__ADS_1
Brukkk
Pria itu lebih dulu ambruk di atas kursi, Xin Fai menelan ludah pahit. Dia segera meninggalkan rumah hiburan itu, dan bergerak ke tempat sebelumnya di mana latihan panah yang cukup sadis dilakukan.
Para Manusia Darah Iblis melatih kemampuan membidiknya dengan menembak anak panah ke manusia sungguhan, mungkin agar pengalamannya jauh lebih berkesan.
Namun tetap saja menggunakan manusia sungguhan dalam latihan sangat tidak wajar, ketika melewati tempat itu ternyata lima orang yang digunakan sebagai bidikan telah mati dengan tubuh penuh tertancap anak-anak panah.
Baru saja dia tiba di rumah-rumah aneh yang membentuk bundaran tersebut, seseorang mengejutkannya.
"Oi, kukira aku sudah datang cukup cepat. Malah sekarang kau datang lebih dulu..."
Zhuan Ang menggerutu di belakangnya, Xin Fai menghela napas lega. "Baguslah kau di sini."
"Apa kau berpikir aku sudah mati?" Zhuan Ang mencibir kesal.
Tanggapan judes itu membuatnya kembali teringat betapa menyebalkannya si Zhuan Ang ini. "Jangan salah paham dulu, maksudku untung saja kau ada di sini karena aku tidak tahu pasti di mana lokasi tepatnya Shen Xuemei disembunyikan."
Zhuan Ang mengernyit lama. "Kau tidak tahu?"
"Kau tahu, kan?"
"Tidak."
Pundak Xin Fai merosot, kecewa dia mendengarnya. "Jadi apa juga yang kau tahu?"
"Seorang pak tua bilang lokasinya ada di sekitar sini, selebihnya aku tidak tahu apa-apa."
Merasa Zhuan Ang sama sekali tidak membantu Xin Fai mengalihkan pandangannya. Berusaha memikirkan lanjutan kalimat yang hendak disampaikan pendekar tadi.
__ADS_1