
"Berhenti memukulku, mau dijadikan seperti apa betisku ini sampai kau bersedia berhenti?"
"Sampai kau paham dengan maksud perkataanku!"
"Kalau begitu cepat katakan..." Xin Fai membuang napas gusar, dia sama sekali tidak bisa berkutik di hadapan Kaibo. Pria itu seperti ibunya dulu, senang sekali mengomel dan mencubit-cubit geram. Jika dibandingkan dengan Li Yong, Kaibo masih menang galak daripada pria itu.
Kaibo menukikan alis dengan serius. "Kutanya sekali lagi, untuk apa kau mengangkat pedangmu?"
Xin Fai menarik napas sebentar sebelum menjawab dengan mantap. "Untuk menciptakan kedamaian, melindungi banyak orang dan menjadi pedang kuat yang menghancurkan musuh-musuh!"
"Bagus! Itu yang ingin kudengar daritadi! Memang otakmu baru bisa jalan setelah menerima pukulan tongkatku!"
Xin Fai tertohok mendengar pujian agak terasa seperti hinaan itu, bagaimanapun dia hanya bisa tersenyum kelu pada Kaibo yang sama sekali tidak menunjukkan tampang bersalah.
"Sekarang, angkat pedangmu!"
Xin Fai mengangkat tangannya sejajar dengan dada ke arah Kaibo, seperti hendak menghunuskannya. Segera Kaibo berjalan mendekat, membetulkan caranya memegang pedang tersebut agar lebih tegak.
Kaibo menepuk punggung Xin Fai, pemuda itu segera berdiri tegap dengan panik. Tongkat pria itu kini memukul belakang betisnya agar berdiri lebih kokoh lagi.
Setelah agak lama sibuk membetulkan cara Xin Fai berdiri akhirnya Kaibo berhenti, dia menghadap tepat di depan pemuda itu sembari berkacak pinggang. "Beginilah pahlawan yang sebenarnya."
"Ah begitu, ya?" Dirinya hanya bisa menjawab kaku, masih memegang pedangnya.
"Jangan lupakan semua perkataanmu tadi, jadilah pedang yang melindungi semua orang. Benci dan dendam itu hanya menggiringmu menjadi iblis yang sebenarnya. Lebih berbahaya dari musuhmu sendiri."
Kaibo menurunkan tangan Xin Fai, setelah agak lama berdiri dalam posisi kaku akhirnya dia bisa menarik napas lega. Namun tak habis di situ, Kaibo masih memberikan arahan kepadanya.
__ADS_1
"Hal yang harus kau hindari saat menghadapi iblis adalah ketika kau menjadi iblis itu sendiri. Jangan termakan oleh jiwa gelap dalam dirimu, ingat itu baik-baik."
Setelahnya Kaibo menghilang di kegelapan malam, berubah ke wujud rohnya tanpa menyisakan apapun selain kata-katanya yang masih membekas jelas di kepala Xin Fai. Dia termenung sangat lama ditemani kunang-kunang kecil.
Xin Fai menatapi tangannya sebentar. "Pedang yang melindungi semua orang?" Dia tersenyum, sesaat menemukan sesuatu yang telah hilang lama dalam pikirannya. Beberapa tahun belakangan dendam pada Liu Fengying semakin membakar dirinya, tak hanya ingin menghabisi pria itu bahkan tujuannya sekaligus untuk membunuh puluhan ribu pendekar dalam Manusia Darah Iblis. Kebencian itu tanpa disadari menjadi ambisi buta yang melenyapkan sisi manusianya, menjadi seorang iblis haus darah.
Kekhawatiran ini sebelumnya sudah sempat dia pikirkan, saat melawan musuh-musuhnya dulu. Dia tetap menolak disebut sebagai pembunuh haus darah, namun setelah Kaibo mengingatkannya dengan caranya sendiri entah mengapa Xin Fai bisa menerima semua itu dengan lapang dada.
Ada yang harus diubah dalam cara berpikirnya, Xin Fai masih mencari cara untuk itu semua tapi dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa yang aku inginkan sekarang adalah untuk memastikan semua musuhku mati, bersamaku menuju neraka."
Langit mulai menunjukkan tanda-tanda hendak pagi, meski masih terlalu awal namun suasananya begitu terasa menenangkan. Xin Fai teringat lagi saat dulu kecil, mengambil kayu bakar bersama ibunya dan menceritakan bagaimana dirinya melindungi adiknya.
"Aku ingin melindungi kebahagiaan orang-orang, agar tidak ada lagi yang merasakan kehilangan. Kurasa hanya itu yang bisa kupikirkan."
*
Xin Fai dapat memastikan semenjak datang ke tempat ini tubuhnya kembali dipenuhi oleh energi roh, dia mulai mencoba kekuatan dari roh ini dengan melayangkan diri ke udara. Benar saja, tubuhnya melayang seperti tidak memiliki bobot, layaknya sebuah kapas. Saat mengaktifkan mode roh tubuhnya tidak bisa disentuh oleh apapun namun kekuatan itu hanya bertahan selama tiga detik, tidak lebih.
Selagi menunggu matahari naik dirinya duduk di dekat api unggun, mengistirahatkan tubuhnya dan beralih ke dimensi ruang untuk berlatih kekuatan dengan Iblis Merah.
Kurang lebih dalam satu jam kemudian akhirnya seseorang menyerukan namanya. Xin Fai membuka mata kembali ke alam sadar, dia menoleh ke belakang di mana Zhu Yue sedang melambaikan tangan.
"Ketua Xin! Aku melihat seekor ayam hutan di dekat sini!"
Xin Fai menarik senyumnya, Zhu Yue sudah bisa tampak seperti biasanya. Tampaknya pria itu tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan akan kematian adiknya.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa kau tidak menangkapnya?"
"Ayamnya mematokku!"
"Kalau mencakar dia bukan ayam lagi, malah jadi beruang," jawabnya sembari mendekati Zhu Yue. Tak disangka ternyata sudah banyak yang terbangun dan mencari danau terdekat untuk mencuci muka. Salah seorang anggota berdiri di sebelah Zhu Yue.
"Ketua Xin, kalau ayamnya suka menggoda bagaimana?"
"Nah, yang itu kau sebut saja dia buaya!" Xin Fai menyahut, membuat yang lainnya tertawa lucu.
"Hahahaha kalian ini ada-ada saja kelakuan."
Saat memasuki hutan tidak terlihat ayam hutan yang disebutkan Zhu Yue, lima orang mencari-cari ke segala arah dan masih tidak menemukan. Xin Fai berhenti menoleh, dia mendengar suara aliran sungai dari kejauhan mengandalkan pendengarannya yang tajam.
Segera saja rombongan anggota mengemas barang-barang mereka lalu berjalan ke arah danau dengan mengikuti Xin Fai, tak jauh dari mereka sebuah air terjun terpampang di depan mata. Tentu saja para anggota langsung bersemangat melihat itu semua, mereka bergerak lebih cepat.
Setibanya di lokasi air terjun yang dapat dirasakan oleh mereka hanya hawa dingin yang begitu menusuk, menghirup udara saja paru-paru seakan ingin membeku. Tidak ada yang berani mendekati air terjun itu karena merasa aneh namun Xin Fai berjalan ke sana sendirian.
Air terjun ini berkebalikan dengan air terjun yang pernah ditemuinya dulu, suhu airnya dingin bukan panas. Melihatnya saja air terjun tersebut jauh lebih berbahaya jika tidak berhati-hati mendekatinya. Apalagi saat melihat di sekitar tempat ini tidak ada tumbuhan yang tumbuh dalam jarak hingga dua puluh meter.
Xin Fai melompat ke bebatuan tinggi dan tiba tepat di bawah aliran air yang begitu deras, yang membuatnya heran adalah bagaimana air terjun ini masih tetap mengalir dan tidak membeku meskipun suhunya jauh di luar nalar. Dia meletakkan tangan di bawah tetesan air dan dapat merasakan sebuah neraka yang begitu dingin.
"Air ini lima atau sepuluh kali lebih mematikan dari yang pernah kutemukan," ucapnya pada diri sendiri. Para anggota yang terlanjur mendengar hanya bisa menggigil kedinginan.
"Ketua, kita pergi ke tempat lain saja. Tempat di sini sepertinya tidak aman!"
Xin Fai seperti menahan rombongan untuk berhenti. "Justru ini yang kita perlukan, kalian bisa menyembuhkan semua luka akibat pertarungan beberapa hari terakhir dengan air ini."
__ADS_1
Semua orang melotot tak percaya.
"Daripada menyebutnya menyembuhkan ini lebih seperti membunuh diri sendiri."