
Hari beranjak cerah, matahari merangkak naik membuat udara seperti membakar tubuh para penduduk yang berseliweran di jalan kota. Baru kali ini Ren Yuan melihat Lembah Kabut Putih seramai ini, dia tak henti-hentinya takjub melihat keriuhan sekitar hingga akhirnya wajahnya menabrak punggung seseorang di depannya.
"Kau–!? Kenapa tiba-tiba berhenti?!" marah Ren Yuan mengusap pangkal hidungnya beberapa kali, mendorong punggung pemuda itu ke depan.
"Sampai di sini saja kau ikut, selebihnya aku akan pergi sendiri." Xin Fai meninggalkan Ren Yuan dan pergi menuju dermaga. Jembatan besar melintang di perairan yang menjadi ujung Kota Renwu.
Ren Yuan mengejarnya buru-buru tak rela ditinggalkan sendiri seperti itu, mana mau dia menurut begitu saja tanpa penjelasan. Apalagi di tengah panas teriknya matahari, namun Ren Yuan agak meragukan cuaca hari ini. Di atas langit sana teriknya matahari ternyata tengah dibayang-bayangi awan gelap di ujung selatan. Tampaknya dalam kurun waktu kurang satu jam lagi akan turun hujan.
"Tunggu! Kamu mau ke mana? Heiii..."
Xin Fai menunjuk lautan lepas yang terbentang di depan sana, awan gelap serta petir yang menyerupai rantai listrik mengamuk di sana. Seketika itu pula angin badai berembus kencang membuat baju keduanya berterbangan tak karuan.
"Sebentar lagi akan turun hujan, lebih baik kau kembali ke kediaman. Aku bisa menyelesaikannya sendiri."
"Mungkin aku bisa membantumu?" Ren Yuan masih bersikukuh ikut. Walaupun rasa penasarannya akan sosok yang hendak ditemui Xin Fai telah hilang.
"Kau tidak membantu sama sekali masalahnya." Pemuda itu berceloteh datar tapi cukup membuat Ren Yuan tersinggung, mau bagaimanapun gadis itu tidak melakukan apapun yang berguna sejak tadi pagi.
"Kalau begitu... Izinkan aku ikut, cuma ingin melihat-lihat saja."
"Nah, sekarang kau anggap ini perjalanan pariwisata? Sudahlah, jangan menyusahkan aku lagi. Pulang saja laut lepas terlalu berbahaya buatmu."
Tidak mendengar balasan lantas Xin Fai mengubah pandangannya ke arah Ren Yuan, kelihatan sekali wajah gadis itu tengah murung. "Kau menganggapku bagaimana?"
"Hah?"
"Aku menyusahkanmu?"
Lagi-lagi keduanya dihadapkan pada situasi canggung, sementara Xin Fai sibuk memikirkan jawaban Ren Yuan hanyut dalam pikirannya sendiri. Merasa terlalu memaksakan diri demi pemuda di sampingnya ini padahal belum tentu dia menerimanya.
Ren Yuan berpikir untuk tidak menyusahkan pemuda itu kali ini setelah melihatnya sangat serius. Dan juga dari kata-katanya yang memang terbilang sangat jujur, Ren Yuan memang menyusahkan urusannya.
__ADS_1
"Maaf tadi aku bilang menyusahkan... Tapi, maksudku kau tidak perlu ikut. Ini semua demi keselamatanmu."
"Kau mengkhawatirkanku?" ucap Ren Yuan hati-hati, pipinya mulai bersemu merah saat melihat lawan bicaranya memalingkan muka ke laut lepas. Tidak mau menjawabnya lagi.
Akhirnya Ren Yuan memutuskan untuk menunggunya di dermaga sampai Xin Fai pulang, senyumnya terus mengembang sejak beberapa menit yang lalu. Xin Fai baru saja memesan satu kapal untuk dirinya sendiri. Dia menoleh ke arah Ren Yuan lama, sedikit mengeluarkan kata-kata.
"Kalau aku tidak pulang sampai nanti malam, segera kembali ke rumahmu. Mungkin perjalanan ini akan menjadi sangat lama."
Ren Yuan mengangguk kecil sembari melambaikan tangannya saat kapal menjauh, meninggalkan kebisingan Kota Renwu yang kini mulai gelap oleh awan mendung.
Kapal kecil menyeberangi lautan luas di tengah terjangan ombak besar tanpa henti, Xin Fai menggunakan tubuh roh saat kapal kecil miliknya karam digulung ombak. Kini dia melayang di udara sembari melihat ke sekitarnya. Entah di mana letak pasti Siluman Penguasa Air bersemayam, dia hanya bisa mencari sambil mengusap wajahnya yang setiap detik ditampar air hujan.
Beberapa lama mencari Xin Fai akhirnya menyerah, dia memanggil Lang keluar dan dalam seketika pula serigala itu muncul. Berdiri tenang di atas gelombang yang bergejolak, serigala itu mengitari sekitarnya teliti.
"Kau mencari Siluman Penguasa Air itu?"
"Ya, sejak tadi aku mencarinya tapi dia tidak muncul-muncul. Kenapa, ya?" ucapnya bertanya-tanya. Mungkin Lang memiliki jawaban untuk hal ini mengingat serigala itu memang terbilang pintar.
Xin Fai tertawa kecil. Memang wajah galak serigala itu yang paling dirindukannya. "Iya. Kalau perlu aku akan menceritakan serigala betina yang pernah kujumpai, barangkali kau tertarik."
Lang mendengus sambil memutar bola mata malas, membuat majikannya tertawa terbahak-bahak.
"Kau sendiri dengan gadis itu, sejak aku mati rupanya hidupmu semakin berwarna," ujar Lang mengejek balik. "Takut saja gadis itu malah tertular kebodohanmu." Lanjutnya datar, membuat Xin Fai tertohok setelah bertahun-tahun lamanya tidak mendengar kata-kata mengandung hinaan tersebut.
"Kau benar-benar Lang..."
"Maksudnya?"
"Mulutmu itu seperti pisau, disandingkan dengan pedang pusaka langit pun kurasa masih tajam lagi lidahmu itu."
Lang menunjukkan tanda-tanda seperti ingin mengamuk, dia mengais kakinya di air seperti ingin menanduk. "MAU KUCABIK, YA?!"
__ADS_1
"Ampun, ampun, jangan marah-marah dulu. Sekarang kita harus fokus mencari Naga Air. Gelombangnya semakin tinggi, kalau begini kita akan digulung oleh laut ini."
Lang mulai jinak seperti semula, "Keluarkan Permata Cahaya Biru milik Naga Air itu, saat merasakan kekuatan benda itu dia akan keluar mencarinya."
Xin Fai mengeluarkan Permata yang dimaksud Lang dari cincin ruang, permata pemberian ibunya itu kini bersinar terang di dalam genggaman tangannya. Perlahan-lahan namun pasti kini gelombang tinggi mulai surut, berganti ketenangan laut beserta angin kecil.
Tak begitu lama kemudian gelombang yang lebih besar muncul menampakkan sosok Siluman Penguasa Air yang kini bobot tubuhnya semakin besar, wajahnya yang mengerikan mencari ke segala arah dan kini terfokus pada satu titik. Dia dapat melihat jelas ada seorang pemuda bersama seekor serigala di sana. Terasa tidak asing.
Tubuh besarnya menggulung dan berputar arah, menguasai langit sepenuhnya. Xin Fai merasa sedikit segan saat melihat kembali siluman ini, rasanya masih sama mengerikan seperti dulu.
"Kau benar-benar menepati janjimu?"
"Y-ya... Begitulah, tapi...." Xin Fai menggaruk belakang telinganya ragu-ragu meminta bantuan, dia yakin sangat sulit membujuk Naga Air untuk membantunya.
"Tapi apa?"
"Apa kau mau membantuku mengalahkan Siluman Penguasa Es?"
Naga Air berubah terkejut saat mendengarnya, seumur-umur dalam kurun waktu ribuan tahun belakangan tak pernah dia merasakan keterkejutan seperti ini. Siluman itu mengendus air membuat permukaannya bergelombang.
"Kau datang kemari untuk membuat lelucon? Atau memang sedang berada dalam masalah besar dengan si penguasa kutub Utara itu?"
Lang sudah menyadari ini semua ada kaitannya dengan kebangkitannya kembali, setahunya Rubah Petir tidak akan membantu manusia tanpa imbalan. Karena memang dasarnya Rubah itu memang tak begitu menyukai manusia.
"Kau melakukan ini karena aku?" tanya Lang curiga, wajahnya berubah muram ketika Xin Fai mengelak. Jelas sekali tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Rasa bersalah kini menghantuinya, Lang sendiri tidak tahu mengapa Xin Fai membangkitkannya kembali seperti ini. Dia harus menanggung banyak pertanggungjawaban.
"Lang, aku memang tidak bisa berbohong. Rubah Petir menginginkan permata kehidupannya dari Naga Es. Dan aku harus mengalahkannya untuk mendapatkannya."
"Kau tidak seharusnya melakukan ini, kan? Apa gunanya menghidupkanku kembali?"
__ADS_1
"Gunanya? Apa, ya? Aku tidak memiliki alasan, yang jelas karena kau adalah teman pertamaku."