Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ketenangan


__ADS_3

"Ayo kita lanjutkan ke toko untuk segera menjual pedang," ujar Teo kepada wanita berambut pirang yang tidak lain adalah Rosa.


Rosa segera melangkahkan kakinya dengan berat kearah Teo. Ia menatap kearah luka di wajah Teo dan bertanya tanya kenapa ada luka diwajahnya. Sedangkan ia baru saja melihat kekuatan Teo yang begitu menakjubkan.


Pasar sangat ramai saat siang hari, berbagai barang terlihat jelas dimata Rosa dan Teo. Baik disisi kanan maupun kiri, para penjaga toko menawarkan barang dagangannya. Suara bising memenuhi pasar layaknya kicauan burung saling bersahutan.


"Silahkan tuan dilihat lihat dulu!" tawar penjaga toko saat dilewati oleh Teo dan Rosa. "Tidak pak, terima kasih," ucap Rosa dengan suara lembut mirip suara hujan yang menenangkan jiwa.


Mata mereka berdua langsung tertuju pada toko penjual perlengkapan bertarung. Mereka segera bergesas masuk kedalam toko tersebut. Rosa sedari tadi memperhatikan punggung Teo yang terlihat lebar.


"Permisi!?" Ucap Teo dengan muka datar tanpa ekspresi. Tidak terlihat penjaga ditoko itu, sampai terdengar suara berat seorang kakek, "bisa saya bantu anak muda?"


Teo dan Rosa menoleh kekanan. Tepat diarah pintu datangnya suara, mereka melihat kakek berbadan kekar dengan rambut putih cepak. Rosa terlihat kaget saat melihat kakek itu. Ia tidak pernah bertemu kakek dengan badan sebesar itu karena ini pertama kalinya ia menjual pedang buatannya ditoko tersebut.


"Kami ingin menjual pedang buatan kami disini, apakah toko ini menerima jasa jual beli kek?" Tanya Teo kepada kakek itu.


Kakek itu tersenyum setipis kertas, "Tentu saja anak muda, boleh aku lihat barang apa yang mau kau jual?" Tanya kakek itu dengan lirih.


Teo menyodorkan 5 pedang buatan Mael dan 4 pedang buatannya sendiri. Sedangkan Rosa menyodorkan 2 pedang buatannya.


"Untuk 5 pedang dan 4 pedang ini aku hargai 90 perak," kata kakek itu.


"Apakah tidak bisa lebih mahal kek?" Tanya Teo kembali.


"Tidak bisa anak muda, pedang buatanmu hanya pedang rank b. Pembuatannya memang sangat bagus, tapi bahan yang kamu pakai hanya bahan biasa." Jelas kakek dengan mata biru itu.


Teo segera bertanya kepada kakek itu tentang rank dalam pedang. Ini pertama kalinya Teo tau bahwa pedang ada tingkatan seperti itu. "Bisa anda jelaskan tentang rank pedang kek? aku baru saja menjual sendir pedang buatanku dan temanku!"


Kakek itu lalu menjelaskan secara terperinci tentang rank dalam pedang.


Rank pedang terbagi menjadi 5 bagian yaitu, rank C, rank B, rank A, rank S, dan rank SS.


Rank C menggunakan bahan biji besi biasa dengan buat seadanya.


Rank B menggunakan bahan biji besi biasa tetapi berhasil dibuat secara maksimal.


Rank A menggunakan biji besi yang berumur cukup tua, baik di buat seadanya ataupun secara maksimal. Tetapi harganya berbeda jika dibuild dengan maksimal.


Rank S menggunakan bahan dari anggota tubuh binatang buas langka atau makhluk langka. Senjata Rank S mengeluarkan aura yang dahsyat.

__ADS_1


Rank SS menggunakan bahan super langka seperti Cakar, taring, kulit, tulang naga atau iblis. Senjata Rank SS tidak sembarang orang bisa memakainya.


Kakek itu menjelaskan dengan singkat dengan sangat diperhatikan setiap ucapannya oleh Teo. Rosa hanya tertawa kecil dengan menutup mulutnya dengan tangan kanan.


"Jangan tertawa!" Teo melirik Rosa dan membuatnya terdiam membisu.


"Jangan kasar kasar pada wanita anak muda! Suatu hari istrimu juga seorang wanita, jadi bersikaplah lembut pada wanita!" potong kakek bertubuh kekar itu.


Selanjutnya, kakek itu memeriksa pedang milik Rosa yang dihargai dengan 500 perak. Pedang yang dibuat Rosa adalah pedang dengan Rank A. Ia membuat pedang itu dengan baik dan mulus tanpa cacat.


Mereka berdua menerima uang itu, "terima kasih kek, semoga kakek sehat selalu!"


"Sama sama. Kau tidak ingin menjual pedang itu juga anak muda?" Tanya kakek itu.


Teo dengan muka datar menjawab kakek itu dengan santai, "Tidak kek, ini pedang yang berharga bagiku."


"Apakah aku boleh melihatnya?" Tanya kakek itu dengan sopan.


Teo membuka kain putih yang membalut pedangnya, sedangkan Rosa sangat penasaran dengan pedang yang dibawa oleh teo.


Betapa terkejutnya Rosa dan kakek itu. Mata mereka terbelalak karena aura yang membuat tekanan begitu dahsyat seisi ruangan. Kakek itu langsung tau bahwa pedang yang dimiliki Teo bukan sembarang pedang.


"Pedang langit?" Rosa sontak mengucapkan nama pedang itu karena dia baru saja melihat pedang langit yang menjadi sebuah legenda.


"Aaaa.... Kalian tidak apa?" ucap Teo sembari membungkus kembali pedang miliknya.


Masih dalam kondisi kaget, Teo dan Rosa pamit meninggalkan toko kakek itu. Rosa segera bertanya pada Teo, "bagaimana caramu mendapat pedang langit?" sambil berbisik kepada Teo.


Teo bingung harus menjawab apa, ia hanya diam saat mengantarkan Rosa kembali ke rumahnya.


Hari semakin petang saat Rosa dan Teo sampai dirumah Rosa. Rumah Rosa dan penginapan Teo sangat jauh, mungkin sekitar 150km.


Rosa menawarkan agar Teo menginao dirumahnya karena ia tau bahwa penginapan Teo sangat jauh. Karena hari sudah petang, Teo tidak menolak tawaran Rosa.


Rosa menyiapkan makanan dan ruang untuk tidur Teo. Selesai makan, mereka berbincang sedikit karena Teo sangat cuek. Salah satu pertanyaan Rosa adalah luka yang ada di wajah Teo. Sedangkan untuk pedang langit tidak dijawab Teo.


"Bagaimana luka itu bisa ada diwajahmu?" tanya wanita bersuara lembut itu.


"Bertarung dengan naga..." Jawab Teo sangat cuek dengan menyeruput minuman yang ada didepannya.

__ADS_1


Rosa dengan penasaran bertanya kembali, "pedang itu apakah kau buat sendiri?" tidak ada jawaban dari pria berambut panjang terkuncir itu. Ia malah berpamitan untuk segera beristirahat.


"Huft..." Hela nafas Rosa saat ditinggal sendiri oleh Teo. "Pria yang baik... Sayang sangat cuek," batin Rosa.


*****


Keesokan harinya, Rosa terbangun karena suara yang ditimbulkan Teo.


"hah...hah...hah.." Suara Teo saat tengah berlatih pedang. Ia berlatih dengan pedang yang masih terbungkus kain putih.


Rosa mengusap usap matanya yang masih sepat saat melihat Teo berlatih. Terkadang Rosa masih menguap karena ia jarang bangun dipagi buta. "Pagi sekali ia berlatih? pantas saja ia sampai bisa bertahan hidup saat bertarung dengan naga... Mungkin karena ia selalu berlatih... Entahlah?" batin Rosa sembari menggerakan bahunya.


Selesai berlatih, Teo melihat langit biru yang mulai terang akibat sinar matahari. Ia segera masuk kerumah Rosa dan mendapati Makanan sudah terhidang dihadapannya.


Rosa segera memerintahkan Teo untuk mandi dan segera menyantap sarapan yang ia buat. Tanpa berfikir panjang, Teo menanyakan kamar mandi dan segera membasuh tubuhnya.


"Terima kasih makanannya, masakanmu benar benar enak dibandingkan masakan Mael." ucap Teo datar.


"Mael?" jawab Rosa bertanya tanya.


Teo segera mengingatkan bahwa pria yang ditemuinya kemarin adalah Mael sahabatnya. "Oh... Aku ingat sekarang..." Jawab Rosa.


Hari semakin siang, Teo segera pamit dan mengucapkan terima kasih karena sudah di berikan makanan dan tempat untuk istirahat.


"Terima kasih telah mengantarku kemarin!" Teriak Rosa yang melihat punggung Teo semakin menghilang dengan cepat.


*****


Teo menggunakan langkah kilat menuju penginapannya. Melawati lembah lembah dengan lancar sampai ketujuan dengan selamat.


Teo melihat pintu bengkel tertutup rapat tetapi dari jendela bengkel terlihat Mael memukul besi yang akan dibuat menjadi pedang. Ia tersenyum tipis, "akhirnya kau bekerja kembali... aku tidak akan mengganggu... Lebih baik aku berlatih lagi!" Batin Teo.


Tang... Tang... Tang...


Suara besi yang berbenturan dengan palu. "aku harus bisa membuat pedang terbaik dari cakar naga." Batin Mael yang terlihat kantung mata tebal menghiasi wajahnya.


Mael dari kemarin belum tidur sama sekali, bahkan untuk makan ia tidak melakukannya. Yang ada dalam pikirannya adalah segera menyelesaikan pedang. Hari demi hari berlalu, Teo menyadari Mael belum keluar sama sekali untuk beristirahat.


Melangkahkan kaki dengan membawa roti dan segelas susu hangat, Teo melihat pintu masih tertutup dan segera membukanya. Ia melihat Mael tertidur dan disampingnya terdapat pedang merah tua. Teo memegang pedang itu dan melihat dari ujung keujung dan meletakannya kembali.

__ADS_1


Meninggalkan roti dan segelas susu, Teo membiarkan sahabatnya yang tidur dan terkadang melihat wajah Mael tersenyum sendiri.


__ADS_2