
Malam panas ketika itu menjadi pertanda akan turun hujan lebat, acara api unggun terhenti karena derasnya air yang memadamkan api tersebut. Fen Gong beserta yang lainnya segera kembali ke penginapan untuk mengeringkan diri. Dia mengumpat kesal karena tidak bisa menikmati acara ini.
"Hujan ini sangat menyebalkan! Aku sampai bosan melihat hujan air seperti ini setiap hari!" umpatnya ketika berteduh, dia terus menatap ke genteng di mana air hujan mengalir deras di sana.
"Bagaimana jika melihat sesuatu yang lebih menarik?"
Seseorang berkata di belakang Fen Gong membuatnya membalikkan badan sangat panik.
"Ah, kau rupanya! Anak baru!"
Xin Fai menarik senyumnya lebar-lebar, dia seperti ingin mengatakan sesuatu. "Bagaimana kalau hujan air ini diganti dengan hujan darah?"
Fen Gong menelan ludah sambil mundur beberapa langkah, sikap refleks itu spontan dilakukannya saat melihat tatapan Xin Fai berbeda dari sebelumnya. Tatapan wajah pembunuh itu menggetarkan kakinya selama beberapa detik.
"Apa–"
Saat mulut Fen Gong baru saja hendak berbicara sedetik kemudian kepalanya melayang membentur dinding. Lehernya yang terpotong mengalirkan darah deras bak air terjun, tidak ada orang lain selain mereka berdua di tempat itu.
Xin Fai berdiri tepat di bawah tetesan air hujan, pedangnya meneteskan darah korban bersama air hujan.
"Seharusnya dua petinggi itu masih di sini, aku harus membunuh mereka dulu."
Xin Fai berlari kencang tidak memedulikan beberapa penjaga melihatnya, mereka tidak menaruh curiga karena pakaian yang dikenakannya adalah milik penjaga markas dan menganggapnya sebagai bagian dari mereka.
**
"Bagaimana? Apa kalian berhasil membunuhnya?" Gao Lan mengangkat cangkirnya lalu menopang siku di meja, dia menanti jawaban dua orang di depannya ini agak lama.
Si pendekar bocah menjawab. "Dia sudah mati dalam satu tebasan pedangku asal kau tahu."
"Hais, sebenarnya dia itu mangsaku kenapa kau membunuhnya?"
__ADS_1
"Hahaha lamban! Aku akan membuat laporan pada Ketua karena telah memberantas satu cecunguk ini! Tidak lama lagi aku pasti akan merebut posisi keempat Manusia Darah Iblis!"
Dua temannya tidak mau memberikan tanggapan lebih jauh, dan larut dalam pikiran masing-masing.
Gao Lan angkat bicara. "Tapi kurasa orang yang kumaksud itu tidak semudah itu dibunuh... Maksudku, paling tidak dia bisa melakukan satu perlawanan?"
Brak!
"Apa kau meragukan kekuatanku!? Aku ini seorang petinggi!" Pendekar itu menggebrak meja begitu kuat hingga menimbulkan retak, matanya berubah padam ingin membunuh.
"Ma-maafkan kelancanganku, aku tidak meragukan kekuatanmu hanya saja..." Gao Lan tidak memiliki kata-kata lagi untuk melanjutkan, dia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Aku memiliki firasat buruk tentang hal ini."
"Sudahlah apa yang perlu kau takutkan?! Orang itu sudah mati, kalaupun dia masih hidup aku sendiri yang akan memotong lehernya!"
Pintu terbuka lebar.
"Benarkah?"
Ketiga orang itu menoleh ke arah suara tergesa-gesa, di depan sana terlihat seorang pemuda dengan pedang dilumuri darah. Dapat dilihat di belakang sana para penjaga telah tewas terkapar. Dia berhasil membunuh puluhan penjaga tanpa menimbulkan suara bising.
"Cih, bocah! Rupanya kau-!?"
Gao Lan melebarkan matanya saat melihat orang yang dia curigai masih hidup. Ada dua kemungkinan, jika saja petinggi ini memang berhasil membunuhnya itu artinya dia hidup lagi. Kemungkinan kedua adalah mereka salah sasaran dan malah membunuh peserta lain.
"Sepertinya kau salah sasaran tadi. Sekarang daripada kau terbengong seperti itu lebih baik cepat-cepat pergi ke neraka, orang-orang di sana sudah menunggu kedatanganmu."
Laju langkah seperti membelah udara ini sontak membuat pendekar itu ketakutan dan buru-buru mengambil posisi, pedangnya dan Xin Fai beradu tajam hingga deritanya terdengar seperti jeritan.
Namun siapa sangka pedang milik petinggi Manusia Darah Iblis itu mulai terpotong ketika menahannya, pedang pusaka di tangan Xin Fai berhasil membelah pedang tersebut dan kini hendak menghantam leher lawan.
Senjata lain melesat tajam, tombak tengkorak menghentikan laju pedang Xin Fai tanpa ampun, si petinggi nomor lima mengangkat wajahnya hingga bisa menatap Xin Fai secara langsung.
__ADS_1
"Kau..." geramnya. "Jangan meremehkan kekuatan para petinggi Manusia Darah Iblis!" Libasan tongkat memukul pedang. Gao Lan dan dua petinggi itu mulai memasang formasi serang demi menghadapi lawan yang nampaknya sangat kuat. Mereka yakin dengan menggabungkan kekuatan seperti ini mengalahkannya bukanlah hal sulit.
Tetapi setelah bertukar jurus beberapa lama rasanya hal itu sangat mustahil, Xin Fai tidak tersentuh sedikitpun namun pedangnya mengincar terus menerus tanpa ampun. Gaya bertarung liar dan mematikan itu hanya bisa mereka temukan dari seorang pengelana hebat yang terlatih insting bertarungnya selama hidup di alam bebas.
"Siapa kau sebenarnya!?" tanya petinggi yang menggunakan tombak, sedari tadi tampaknya Xin Fai terus mengincar nyawanya dibanding dua temannya ini.
"Apa itu perlu?"
"Jangan bertanya balik! Siapa namamu?!"
"Cara kalian bertanya saja tidak sopan." Xin Fai menggerutu kesal, dia menarik kembali pedangnya dan bersiap melepaskan satu jurus mematikan.
"Tidak akan kubiarkan!" Si petinggi satu lagunya segera mengejar temannya dan Xin Fai yang berjarak cukup jauh, dia melihat jelas Xin Fai ingin membunuh temannya.
"Kitab Tujuh Kunci - Angin Desa Daan!"
Pergerakan lawan yang hendak menghentikannya terhenti ketika ratusan pisau cahaya datang, bahkan jumlahnya cukup untuk memenuhi satu ruangan ini hingga sesak. Gao Lan berniat kabur dan meminta bantuan pada yang lain namun sayangnya melarikan diri saja dia sudah kesusahan.
"Yakin tidak mau bermain-main denganku dulu?"
Gao Lan mundur sambil berteriak marah. "Siapa yang mau bermain-main denganmu!" Dia mencoba menengok ke belakang dan mendapati satu petinggi telah tertancap bersama ratusan pisau cahaya di dinding dan satunya lagi merangkak dalam keadaan kepala bocor.
Xin Fai menunjuk petinggi dengan kepala bocor itu dengan pedangnya, "Lihatlah dia ingin mengajakmu pergi ke neraka bersama-sama."
"Ti-tidak mau!"
Pisau cahaya dengan jumlah dua kali lipat terbang di belakang pemuda itu hingga membuat kaki Gao Lan bergetar hebat, dia yakin pisau itu bisa mencabik-cabik dagingnya sampai ke bagian terkecil.
"Tapi aku tidak akan membunuhmu sekarang," Xin Fai memasukkan kembali pedangnya. Dia berlalu begitu saja setelah membuat Gao Lan hampir kencing di celana.
"Sial... Siapa anak itu?!" Gao Lan mengumpat keras dan segera pergi meminta bantuan. Dia menyadari dua orang petinggi Manusia Darah Iblis telah mati sekejap tanpa melakukan perlawanan berarti. Hal ini adalah sesuatu yang cukup memalukan baginya. Namun mau bagaimana lagi, lawan yang mereka hadapi kali ini tidak terlihat seperti manusia. Aura yang dikeluarkannya seperti aura monster yang telah tertidur ribuan tahun lalu.
__ADS_1
***
note: kalau ada typo atau kesalahan tolong ingatkan, ya. author gak sempat revisi, batre dah abis duluan haiss 🤣