Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 150 - Lembar Baru yang Menyakitkan


__ADS_3

Bunyi suara tetesan air menggema di sebuah tempat asing, bebatuan kokoh melengkung di atas langit-langit yang diisi oleh batu kapur runcing membentuk kerucut ke bawah.


Aliran sungai di dalam tempat ini mengalir pelan bersama dengan suara tiupan angin yang masuk, di samping aliran sungai kecil itu terbaring seseorang yang telah tak sadarkan diri selama kurang lebih empat hari.


Suara tetesan air yang berulang-ulang terdengar membuat dia mengerjapkan mata lalu berusaha bangun dari tempat itu.


Xin Fai memutar pandangan masih mengumpulkan nyawa, dia tidak terlalu mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Namun ketika menyadari matanya sama sekali tidak dapat melihat apapun seketika sepintas ingatan tentang peperangan saat Turnamen Pendekar Muda mengingatkannya pada sesuatu.


Tangan anak itu mengepal keras-keras, dia menggemerutukkan gigi sangat marah berupaya menumpahkan kekesalannya namun hal itu sama sekali tidak berguna. Ketika itu ingatannya langsung saja tertuju pada Lang, dia mencoba merasakan hawa di sekitarnya dan tidak bisa menemukan apapun selain kegelapan dan kesunyian.


"Ah... Jadi begini ya, rasanya jadi orang buta?" Xin Fai menarik napasnya berat menerima kenyataan, meski belum bisa menerima sepenuhnya namun dia harus tetap menjalani hidup tanpa penglihatan lagi setelah ini.


Suara percikan air dan derap langkah kakinya yang bergema membuat Xin Fai yakin dia kini berada dalam sebuah goa, bunyi cicitan kelelawar terdengar di atap-atap goa yang dipenuhi bebatuan tajam, dia masih meraba sekitarnya hingga akhirnya tersandung dan tercebur ke dalam aliran sungai.


"Aghh! Ini benar-benar sial!" Umpatnya berusaha keluar dari aliran sungai itu sebelum sesuatu yang aneh menyengatnya di bawah sana.


Seekor hewan licin dengan tubuh dipenuhi aliran listrik, gigi yang tajam serta wajah menyerupai bentuk naga berkeliaran di dasar air yang hanya sedalam seratus meter ini menyerangnya. Jumlah mereka sangatlah banyak bahkan melebihi angka ratusan, Xin Fai buru-buru keluar dari sungai itu dan menyadari kakinya dalam masalah besar.


Jika seandainya kulitnya sama seperti orang biasa maka Xin Fai yakin kini kakinya sudah terbakar berdarah-darah akibat sengatan tersebut. Dia yang masih tidak terlalu mengerti di mana dirinya berada saat ini dikagetkan oleh suatu aura siluman yang sangat kuat.


Aura siluman tersebut sama seperti aura Siluman Penguasa Air, Xin Fai sangat yakin akan hal itu. Dia meneguk ludah kasar berusaha tak mundur walaupun ingin sekali berlari sejauh mungkin sebab tekanan aura yang dikeluarkan mahkluk itu sangat tidak manusiawi.


"Cepat juga tidurmu, bocah."


Xin Fai bertanya ragu-ragu. "Sudah berapa hari aku tidak sadarkan diri?"

__ADS_1


"Hm? Satu tahun lebih." Suara mahkluk itu sangat santai saat mengatakannya, dia berdiri di sebuah batu besar. Di atasnya terdapat lubang yang disinari oleh cahaya matahari pagi, meskipun tak dapat melihatnya tetapi makhluk yang berada di depan Xin Fai kali ini adalah sebuah Rubah Petir sang Siluman Penguasa Langit.


"Satu tahun?! Kau serius?!"


"Hei bocah, pelankan suaramu sedikit. Aku hanya bercanda tadi." Rubah itu mendengus kesal, dia kembali memejamkan mata menikmati cahaya matahari pagi itu.


"Hah?"


Rubah Petir memutar bola mata peraknya malas, dia sama sekali tidak mengerti mengapa manusia yang diselamatkannya empat hari yang lalu ini sama sekali tidak tahu apa maksud dari kata bercanda. Memilih tak membuang waktu lagi, Rubah Petir langsung ke intinya saja.


"Kau sudah tidak sadarkan diri selama empat hari, kukira kau akan terbangun satu bulan ke depan. Rupanya perkiraanku salah."


Kali ini nada bicara Rubah Petir nampak biasa saja, jika dipikir lagi siluman itu nampaknya tidak berbahaya. Jika dia berniat mencelakai Xin Fai seharusnya dia bisa melakukannya saat dirinya pingsan.


Xin Fai mengecek tubuhnya dengan meraba menggunakan tangan, terdapat beberapa luka yang masih menganga lebar namun agaknya mulai mengering berkat regenerasi tubuhnya yang sangat cepat. Satu pertanyaan lagi belum terjawab, Xin Fai kini sama sekali tidak mengetahui di mana Lang berada.


"Kau ingin bertanya di mana serigalamu? Kalau iya, kau tidak perlu mencarinya lagi. Dia sudah mati saat kau kubawa ke sini."


Perkataan siluman itu bagaikan petir siang bolong yang menyambarnya, Xin Fai membelalakkan matanya begitu lebar hingga kerongkongannya tercekat. Semua kata-katanya menyangkut di ujung bibirnya.


"Apa-!? Kau.... Ahahahah, aku tidak akan tertipu lagi seperti tadi, jangan bercanda denganku. Cepat beritahu di mana serigala pengembara itu, kami harus segera kembali ke–"


"Apa kau melihat sekarang aku tampak sedang bercanda?" tuturnya dingin, tidak ada lagak menipu seperti tadi. Xin Fai menelan ludahnya dengan keringat dingin. Dia tidak bisa berpikir jernih selain merasakan pelupuk matanya mulai menghangat.


Merasa rubah itu berbohong Xin Fai mencoba memastikannya sendiri.

__ADS_1


"Lang... Lang! Serigala cerewet!? Ke mana kau!?"


Teriakan keras itu menggema sampai beberapa detik, Xin Fai memutar tubuhnya sambil mendengarkan baik-baik namun bisa dipastikan di dalam goa kini hanya ada dirinya dan siluman rubah itu. "Lang tidak mungkin mati! Dia siluman milik Kaisar Langit dan tidak mungkin selemah itu!"


"Hm? Kau menyangsikan omonganku?" Rubah Petir bangun karena merasa tersinggung, dia turun dari batu besar dan menghampiri Xin Fai yang sibuk mencari-cari Lang meskipun tak bisa melihat.


Xin Fai dapat merasakan siluman Rubah Petir mendekatinya, arus sungai bergetar ketika itu bahkan belut listrik di dalamnya bergerak tenang tidak sebuas tadi. Mereka seolah menaruh hormat pada sang Siluman Penguasa Langit tersebut.


"Muncullah."


Sebuah jasad muncul dari ruang hampa, Xin Fai seketika dapat merasakan Lang berada di sampingnya. Dia berjongkok pelan dan ketika tangannya dapat menyentuh tubuh itu, dirinya seperti terguncang tak dapat menerima kenyataan.


Tangan Xin Fai mengepal erat, biarpun berusaha tak menangis namun selama beberapa bulan ini berpetualang dengan serigala pengembara nan cerewet itu membuatnya kembali bangkit ketika dalam keadaan terpuruk, saat dia kehilangan seluruh anggota keluarganya dan mendapatkan kutukan menjadi Manusia Iblis.


"Ini tidak mungkin..." Xin Fai mengelus ekor serigala itu, tubuhnya kaku sekaligus dingin. Tidak ada lagi lontaran kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya yang kini membisu untuk selamanya. Xin Fai mencoba meraba perut serigala itu, terdapat banyak bekas tusukan panah dan juga luka terbakar menganga lebar akibat api siluman dari panah Manusia Darah Iblis yang menembus organ dalamnya.


"Kukira kau tahu separah apa keadaannya sebelum ke sini. Bisa berlari sampai ke tempat ini menurutku sebuah keajaiban dengan kondisinya yang sangat mengenaskan itu." Rubah Petir melanjutkan, "Satu panah api siluman saja itu bisa membakar tubuh manusia biasa dalam kurun waktu tiga puluh detik. Sedangkan serigala itu masih bisa bertahan dengan berlari setengah mati demi sampai ke tempat ini."


Xin Fai menunduk, tak mau dirinya menangis cengeng seperti dulu. Namun Rubah Petir terus saja menyinggung hal yang kini menjadi terdengar sangat menyakitkan di telinganya.


"Aku tak pernah melihat ada siluman yang begitu setia pada majikannya seperti ini, bahkan Tuan Kucing sekalipun akan berpikir dua kali ketika ingin mempertaruhkan nyawanya hanya demi seorang manusia..."


"Tuan Kucing?"


"Kau tidak tahu? Siluman kucing itu bahkan sampai membuat organisasi yang kalian sebut sebagai Pejuang itu."

__ADS_1


**


__ADS_2