Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 185 - Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Hahaha, hari ini hasil tangkapan kita banyak! Bagian barat sekarang bisa kita kuasai hampir setengahnya!"


"Aih, kalau tidak ada Lan An kita tidak bisa mungkin melakukan ini..."


"Benar, benar sekali! Kau lihat bagaimana dia memotong musuhnya? Seperti memotong daun saja!"


Lan An menopang dagunya dengan tatapan nalas menuju ke luar jendela, dia nampak tidak peduli dengan sekitarnya yang terus berputar. Pikirannya menerawang jauh hingga akhirnya dia semakin lelah berpikir. Matanya yang kelam terpancar oleh lampu dinding yang menyala terang, minumannya menguap begitu saja tak tersentuh.


Suasana malam ini mengingatkannya kembali pada tujuh tahun silam, ketika dirinya datang sendiri memberanikan diri ke Hutan Kabut untuk menjemput adik kecilnya itu. Yang terlihat di depan hutan tersebut hanyalah sisa anak panah dan mayat-mayat para pendekar aliran hitam yang mencoba menerobos hutan. Dia mencium bau darah siluman dan menyadari itu adalah bau Lang.


Ketika berusaha mengikuti bau tersebut ternyata dia dikagetkan dengan suara siluman yang menggema membelah langit, jantungnya terasa berhenti berdetak namun kakinya tak ingin berhenti untuk terus masuk ke dalam hutan dan menemukan Xin Fai bagaimanapun caranya.


Lan An terdiam di tengah gelapnya malam, mencoba melihat ke sekitarnya dengan teliti dan menyadari sesuatu yang aneh mulai terjadi. Sambaran petir bertubi-tubi menjerit di atas langit, mencoba menghantam ke bumi dan menghanguskan tubuhnya, Lan An melarikan diri menghindari setiap petir yang menyerangnya. Jumlahnya semakin lama semakin banyak, pohon-pohon tumbang tanpa henti di setiap detiknya hingga dia jatuh ketika batang pohon menghantamnya.


Lan An mencoba menyingkirkan pohon tersebut namun tangannya berhenti ketika melihat beberapa siluman mengangkut tubuh Lang dan Xin Fai. Seekor siluman dengan kekuatan yang lebih hebat berdiri di depan sana.


"Kau! Oi, tunggu! Berhenti!" teriak Lan An mengais-ngais tanah, dia menjerit kencang agar siluman rubah mau mendengarkan.


"Kumohon! Kembalikan adik kecilku, sial! Tunggu!"


Siluman rubah tidak menggubrisnya dan berlalu begitu saja, tidak ada lagi tanda-tanda petir akan menyambarnya lagi. Esok paginya Lan An terbangun di penginapan, Pasukan Seribu Kaki menjemputnya dan membawanya kembali ke kota Renwu.


Sejak hari itu tidak ada senyuman lagi menghiasi wajahnya, dia sadar malam itu dirinya tidak bisa merasakan lagi keberadaan Xin Fai. Adik kecilnya itu sudah tiada. Hanya itu yang bisa dia simpulkan.


Lan An melepaskan rangkulan pendekar di sampingnya malas, dia membuang napas berat. Masih banyak yang harus dikerjakannya besok dan dia memilih untuk segera kembali ke penginapan.


Baru berjalan satu meter dari tempatnya duduk Lan An disambut oleh kedatangan Yong Tao dan seorang pemuda di sampingnya, dia menunduk memperlihatkan hormatnya pada Yong Tao dan beralih menatapi orang yang rasanya tidak asing. Wajah dinginnya berubah lunak saat matanya bertatapan dengan Xin Fai yang kini tersenyum kecil.


"Senior Yong, ada apa kau datang kemari? Kurasa kedai arak bukan pilihanmu jika ingin sekedar beristirahat?"


"Ah tidak, bukan aku. Tapi pemuda ini, dia ingin berbicara denganmu."

__ADS_1


Lan An mengerutkan keningnya heran, dia berusaha menuruti perkataan Yong Tao. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Entah, aku juga belum sempat memikirkan apa yang hendak kubicarakan denganmu. Kalau begitu kita keluar dulu dari sini sambil berpikir-pikir," ajaknya tanpa meminta persetujuan Lan An.


Lan An memperlihatkan keengganannya mengikuti perkataan Xin Fai.


Melihat itu Xin Fai segera berkata. "Senior Yong tidak akan membawaku padamu jika aku adalah orang yang berbahaya."


Lan An masih memasang wajah waspada, walau bagaimanapun dirinya masih belum menyadari siapa pemuda ini. Perlahan mereka menyusuri jalan-jalan kota Renwu hingga sampai di titik utama kota tersebut. Beberapa patung dan bangunan bersejarah terpampang di sana begitu gagahnya.


Lan An mengangkat wajah melihat patungnya sendiri, ekspresinya masih datar sedari tadi namun saat matanya teralih pada patung seorang anak kecil di sampingnya, sorot mata pemuda itu menjadi sendu. Binar matanya meredup dalam kegelapan malam.


"Untuk apa kau membawaku ke sini? Jika tidak terlalu penting lebih baik kita sudahi saja, aku ingin beristirahat." Wajah Lan An tetap kaku, mungkin setelah melihat patung itu sesuatu dalam dirinya telah terusik. Dia berjalan terburu-buru meninggalkan tempat tersebut dan Xin Fai pun tidak ingin mencegalnya.


"Padahal aku ingin memberitahumu sesuatu, Kakak An."


Derap kaki Lan An berhenti, kakinya mematung di tempatnya berpijak mendengar sebutan tersebut. Samar-samar suara anak kecil itu menjadi lebih berat dan yang terdengar di belakangnya adalah seorang pemuda yang baru saja memanggilnya dengan sebutan itu.


"Apa aku perlu memperkenalkan diri untuk yang kedua kali?"


Lan An masih tak percaya akan hal ini, dia mengamati wajah Xin Fai lebih jelas karena sebelumnya tidak terlalu memerhatikannya. Perlahan Lan An mendekati pemuda itu sendu, dia berusaha mengenalinya dan benar saja wajah itu memang tidak asing baginya.


"Kau masih hidup? Adik kecil?"


"Aku tidak akan mati semudah itu kalau kau belum tahu." Xin Fai tertawa kecil namun respon Lan An berbeda darinya, matanya mulai berkaca-kaca. Siapapun yang mengenal Lan An sebagai Naga Putih ini tentu akan heran. Wajah tampannya itu terlalu dingin hingga sulit baginya untuk menunjukkan ekspresi.


"Kau benar-benar Xin Fai, kan? Atau hanya arwahnya saja?"


"Hahaha Senior Yong akan menjerit kalau aku memang arwah seperti katamu–"


Lan An mendekapnya erat, sedetik keadaan mulai canggung.

__ADS_1


"Huaah!! Ini benar-benar kau adik kecil!"


Xin Fai tak tahu harus bersikap seperti apa menanggapi sikap kekanakan Lan An ini, dia memakluminya karena saat ini pemuda itu tidak memiliki keluarga lagi dan Lan An menganggap dirinya sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa.


"Sudahlah tidak perlu menangis," ucapnya menenangkan. Dia merasa agak risih akan tatapan para pendekar di sekelilingnya. Mereka antara percaya atau tidak percaya yang menangis itu Lan An atau bukan.


Setelah merasa Lan An mulai bisa tenang mereka memilih duduk di bangku yang tak jauh dari sana, Xin Fai menatap hingar-bingar kota Renwu lamat-lamat. Meskipun telah lama berlalu namun suasana kota ini tidak pernah berubah.


"Bagaimana kabarmu?"


Lan An tersenyum kecil. "Pertanyaan basi itu tidak cocok denganmu," jawabnya.


"Eh? Begitu, ya?"


"Bagaimana kau bisa selamat? Dan juga... Si serigala emas itu ke mana perginya? Kenapa dia sama sekali tidak terlihat?"


Pertanyaan itu membuat Xin Fai terdiam agak lama, merasa salah bertanya Lan An berniat meralat perkataannya namun Xin Fai lebih dulu berkata.


"Serigala itu sudah tidak ada."


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak menanyakannya."


"Sudahlah tidak apa," balas Xin Fai setelahnya. "Dibanding itu, kau sendiri bagaimana? Kudengar sepertinya namamu semakin sering terdengar akhir-akhir ini."


"Hahaha aku tidak seterkenal itu, adik kecil." Lan An menggaruk kepalanya sembari menyengir lucu.


"Aih mana mungkin mereka tiba-tiba menyebut namamu begitu saja kalau tidak mengenalmu."


"Siapa memangnya?"


"Seorang gadis, dia sangat cantik dan rambutnya pun lurus."

__ADS_1


***


__ADS_2