
Terjadi sedikit perselisihan di antara anggota, Zhu Yue awalnya tidak terlalu setuju dengan keputusan ini namun saat berpikir lebih lama lagi dia juga tidak bisa membiarkan semua orang di desa ini mati mengenaskan di tangan Manusia Darah Iblis.
Seandainya dirinya yang berada di posisi para penduduk tentu dia akan mengharapkan pertolongan dari para pendekar. Itulah yang mereka rasakan saat ini.
Xin Fai tidak ingin bergabung dalam perselisihan dan dia hanya membiarkan para anggotanya berdebat sampai pusing sendiri. Pemuda itu beralih menatap ke arah tong-tong minyak di sekitar perumahan warga dan jumlahnya pun terbilang cukup memadai.
Terpikirkan sesuatu olehnya dalam detik itu, Xin Fai bertanya pada pemilik rumah tersebut dan dia mengatakan tong minyak itu tidak terlalu digunakan untuk saat ini.
"Boleh aku memakainya? Kurasa dengan ini kami bisa dengan mudah membunuh mereka."
Usulan tersebut disetujui oleh si pemilik tong minyak, apapun tujuan Xin Fai dia yakin adalah demi melindungi desa.
Malam hari tiba lebih cepat karena mereka harus melakukan persiapan di perbatasan desa. Xin Fai memusatkan perhatiannya pada sekitar dan menyadari terdapat banyak persediaan makanan dan bahan sandang lainnya yang bernilai tinggi. Jika Manusia Darah Iblis datang kemungkinan mereka akan membakar ini semua sampai tidak bersisa.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka menyentuh desa ini bagaimanapun juga."
Zhu Yue mengangguk pelan. "Persiapan telah selesai dilakukan, anggota sudah berdiri di posisi masing-masing Ketua."
"Beritahu mereka jangan lengah, musuh bisa saja datang lebih awal dari yang kita kira."
Sementara itu seluruh penduduk berhasil dievakuasi di satu titik yang dilindungi oleh dua puluh Aliansi Pedang Suci, sedangkan sisanya berpencar di seluruh penjuru demi bisa memastikan dari mana musuh akan datang. Langit masih begitu gelap saat hendak memasuki fajar tiba, cahaya matahari mulai terlihat di balik gunung tinggi. Para pemanah desa bersiap di atap-atap rumah sembari memerhatikan sekitar teliti.
Di hadapan sana tong-tong minyak disusun berderet pada padang rumput yang luas, Xin Fai masih bersiap dengan panahnya. Dia berdiri di salah satu rumah tinggi dan memutar pandangannya beberapa kali.
Tak begitu lama dari kejauhanan telinganya dapat menangkap suara derap kaki terdengar begitu banyak memasuki jalan penghubung antara desa, dia mengangkat panahnya dan bersiul memberitahu yang lain bahwa musuh telah datang.
Seperti strategi yang telah disusun semalam, sepuluh orang maju dengan pedang menyusul ratusan musuh di padang rumput itu.
__ADS_1
Para pendekar aliran hitam tidak begitu memedulikan tumpukan barang di padang tersebut dan mengira itu hanyalah rongsokan sampah. Beberapa pemanah di antara mereka sudah menyadari banyak yang menggunakan serangan jarak jauh menggunakan panah. Mereka segera menyerang dari jarak jauh membunuh para pemanah di atap perumahan warga.
Para Manusia Darah Iblis mulai bergerak lebih cepat, pedang telah ditarik dari tempatnya dan kini sepuluh orang Aliansi Pedang Suci mundur saat merasa musuh telah masuk dalam jebakan.
Selanjutnya Xin Fai menarik anak panah berapi miliknya, panah tersebut meluncur deras ke arah tong-tong minyak dan meledakkan gerombolan musuh yang tengah berlalu lalang di dekatnya. Daya ledak yang dihasilkan oleh lima belas tong minyak sekaligus amatlah besar, bahkan puluhan dari jumlah musuh meninggal seketika dalam satu ledakan tersebut.
Usai menggunakan panah hampir semua Aliansi Pedang Suci maju selagi rombongan musuh terpecah belah, peperangan sebenarnya telah dimulai di pagi buta. Beberapa anggota aliansi berjaga-jaga di tempat evakuasi warga demi menghindari adanya korban jiwa.
Dikarenakan penduduk tak bersalah kerap kali menjadi korban di tangan Manusia Darah Iblis. Mereka memang sengaja membunuh demi mendapatkan kekuatan dan uang.
Aksi pertarungan semakin lama menjadi berat sebelah, pihak musuh mulai menguasai medan pertempuran dengan menggunakan siluman burung. Beberapa pemanah hebat menyerang di titik paling aman, tidak ada yang bisa menjangkau mereka selagi berada di udara.
Satu per satu pendekar dari aliansi tertancap oleh panah, beberapa bahkan kesulitan untuk bangun. Cedera parah akibat serangan dari atas membuat mereka tak memiliki daya dalam pertarungan darat. Apalagi dalam satu waktu harus menghadapi dua sampai empat orang sekaligus.
Pimpinan aliansi tidak tinggal diam menyadari situasi genting ini, dia menarik pedang dari tubuh musuhnya membuat darah mencuat membasahi jubah. Xin Fai memusatkan energi roh dalam satu tarikan napas membuatnya melayang di udara.
Tidak ada rasa aman lagi setelah bertahun-tahun hanya bertarung di barisan belakang, dalam setiap pertarungan sebisa mungkin mereka menghindari para pemanah musuh dengan menyerang hanya dari jarak jauh.
Namun hari ini seorang pendekar berhasil menyusul mereka tanpa menggunakan siluman apapun, delapan leher terpenggal dan jatuh menghambur di padang rumput. Siluman burung tak sama bedanya dengan nasib pemiliknya, helai bulu siluman terbang membuat yang lainnya menengadah ke atas.
Bukan hanya musuh, para rekan aliansi bahkan tak beda terkejutnya dengan mereka. Melihat Xin Fai bisa melayang di udara untuk pertama kali membuat mereka ketakutan, Yong Tao sendiri tidak pernah mengatakan kekuatan sebenarnya si pemilik gelar Pilar Kekaisaran berikutnya ini.
"Ketua Xin ini... Sebenarnya seberapa hebat dirinya...?"
"Kau lupa kalau dia sendirian bahkan bisa membantai ratusan orang dalam satu malam, kurasa kita hanya melihat setengah dari kekuatan aslinya saja." Pendekar lain berpendapat.
"Apapun itu alasannya aku ingin diakui orang sepertinya, cepat bereskan para cecunguk di tempat ini!"
__ADS_1
Para pemanah telah tumbang kini saatnya aliansi bergerak penuh, mereka membabat musuh yang semakin merajalela hendak memasuki pintu gerbang desa.
Sedang itu Xin Fai masih dihadapkan pada sosok siluman burung yang tubuhnya jauh lebih besar, kulitnya tebal tak tertembus oleh pedang. Dia bisa menebak siluman itu adalah salah satu siluman iblis terkuat yang dimiliki oleh Manusia Darah Iblis.
Sembari memulihkan tenaganya Xin Fai mundur sejenak dari siluman burung tersebut, dia mengambil panah dan menembakkannya beberapa kali namun tetap saja tidak berguna. Dalam tembakan keempat mata siluman burung tertancap anak panah, Xin Fai memanfaatkan momentum itu dengan melompat tinggi di atasnya dan menancap pedang lurus hingga tembus ke bawah.
Dengan kekuatan iblis miliknya kulit siluman burung dapat ditaklukkan, kepalanya tertembus bilah pedang sampai ke tanah. Xin Fai baru saja selesai mendapatkan permata siluman dari tubuhnya sesaat sebelum menyadari pintu gerbang desa berhasil dibobol musuh.
"Celaka! Mereka memasuki desa!"
"Halang mereka atau para penduduk akan terkena imbasnya!"
"Jangan biarkan mereka masuk!"
Seruan itu terdengar berkali-kali di sekitarnya, sementara itu yang lain tidak memiliki waktu cukup untuk mempertahankan pintu gerbang yang telah rusak. Tiga orang pendekar yang menjaganya mengalami luka bakar dan masih berusaha berdiri tegak menghalau jalan musuh.
Salah satu musuh berhasil memanjat masuk ke dalam desa bersama obor api siluman di tangannya, dia tersenyum miring berniat membakar seluruh desa ini bersama isi-isinya.
"Sudah berapa desa berhasil kami jatuhkan, tak lama lagi Kekaisaran ini akan menjadi milik kami semua.." gumamnya sumringah.
"Katakan itu pada kelompok kalian sendiri!"
Seorang pemuda tepat di muka pintu gerbang, aura gelap kemerahan mengelilingi sekitarnya membuat atmosfer mencekam dalam keheningan. Hawa seakan mengelam membuat siapapun akan bergidik ngeri saat melihat pemuda itu mengangkat wajahnya.
"Kitab Terlarang - Rantai Api Neraka!"
**
__ADS_1