
"E... Pahlawan Desa Hemei?" celutuk Huang Kun membenarkan posisi duduknya sedikit tertarik, dia belum mengenal Xin Fai lebih jauh dan tak menyangka juniornya kini memiliki julukan seperti itu.
"Ya, tepat sekali. Aku sudah menduganya, Xin Fai lah yang saat itu menyelamatkan desa kami dari bencana kelaparan." Dong Chyou tersenyum senang, wajahnya terlihat berseri-seri. Xin Fai menanggapinya dengan senyum senang juga, dia berucap pelan.
"Hemei, ya? Jadi bagaimana keadaan desa itu sekarang?"
"Baik, bahkan sudah sangat baik. Berkat bibit padi yang kau berikan itu sekarang desa kami menjadi salah satu desa penghasil beras terbesar di Kekaisaran Shang!" Menggebu-gebu Dong Chyou mengatakannya.
"Ah, aku tidak begitu. Yang melakukannya adalah kepala desa dan kalian sendiri."
"Jangan merendah begitu, adik kecil. Kau layak mendapatkan julukan Pahlawan Desa Hemei. Kakak pertamaku, dia sangat menghormatimu, bahkan berulang-ulang menceritakan tentang sosokmu di desa kami."
Xin Fai tertawa kecil tak tahu harus memberikan respon seperti apa, dia sejujurnya senang karena akhirnya desa itu bisa kembali normal bahkan menjadi salah satu desa penghasil beras terbesar di Kekaisaran Shang hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun.
Li Yong semakin terpana melihat semua tindakan Xin Fai sebelumnya, pantas saja saat terjadi pembantaian di desa yang mereka lewati sebelumnya Xin Fai tanpa pikir panjang langsung turun tangan.
Satu hal yang berbeda, kini tatapan Shen Xuemei pada Xin Fai mulai berubah. Ekspresi pemuda itu sangat sulit ditebak, namun dalam tatapannya sekilas Xin Fai dapat merasakan kesedihan di balik bola mata teduhnya itu.
Xin Fai sempat dibuat bingung melihatnya, namun memilih tak menanyakannya.
Kedua pejuang itu beristirahat sambil menceritakan tentang kepala desa mereka yang sangat ambisius bekerja siang malam dengan segala upaya untuk memulihkan keadaan desa Hemei dan berkat uluran tangan Pasukan Seribu Kaki juga, taraf kehidupan penduduk desa mulai membaik.
Merasa pertolongannya dulu membawa dampak yang positif bagi banyak orang Xin Fai semakin yakin dirinya memang berguna. Setidaknya, setelah ini Xin Fai harus bertambah lebih kuat agar bisa menyelamatkan hidup orang lebih banyak.
Semangat Xin Fai terlihat sangat jelas di mata Li Yong, dia mengerti apa yang sedang muridnya rasakan.
'Sepertinya aku tak perlu takut dengan kekuatannya, dengan sifatnya yang seperti ini, seribu neraka iblis pun takkan mampu mempengaruhinya.'
Hari beranjak sore, burung-burung imigran berterbangan di atas langit. Usai mengistirahatkan tubuh, dua pejuang tersebut kembali memakai topeng kucingnya. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum pergi melanjutkan perjalanan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Li Yong, dia bersiap-siap mengemas barang bawaan dan memastikan tidak ada yang ketinggalan.
__ADS_1
Namun wajah Li Yong berangsur buruk kala melihat perubahan wajah salah satu muridnya. Kesehatan Huang Kun akhir-akhir ini semakin memburuk, wajahnya jauh lebih pucat dari biasanya.
"Kun'er, apa kau baik-baik saja?"
"Tidak perlu cemas, Senior. Murid baik-baik saja."
Namun setelah mengatakan itu badannya huyung ke samping, Xin Fai menangkapnya refleks.
"Tubuhnya sangat panas." Xin Fai akhirnya ikut cemas juga setelah menempelkan tangannya di kening Huang Kun. Sedang Shen Xuemei tak memberi tanggapan apapun, mereka berpikir sejenak.
"Perjalanan ke kota selanjutnya masih membutuhkan waktu tiga hari, kita tidak bisa mendapatkan obat di tempat ini." Li Yong merutuki dirinya karena tak membawa obat demam.
"Kalau begitu kita harus menunda perjalanan sampai Huang Kun sembuh," saran dari Shen Xuemei sama sekali tak berguna.
"Kita tidak bisa menunggu, Mei'er. Kita harus tiba di Kota Renwu sebelum turnamen dimulai. Kalian bisa saja ketinggalan turnamen nantinya," nasehat Li Yong masuk akal juga, Shen Xuemei mencari cara lain.
"Maaf... Gara-gara aku kalian harus dalam masalah seperti ini..." Huang Kun sangat menyesal, dia mengutuk diri sendiri karena terlalu lemah. Dalam posisi bertumpu pada Xin Fai, Huang Kun hanya bisa merenungi nasibnya.
Huang Kun dibaringkan di tempat yang nyaman, ternyata makin lama suhu tubuhnya semakin meninggi. Membuat Li Yong panik, dia mengalirkan tenaga dalam ke tubuh muridnya itu untuk menyembuhkannya namun metode itu sama sekali tidak ampuh untuk menangani penyakit alami seperti ini.
"Bagaimana ini? Kita tidak bisa membiarkan Kun'er sakit terus begini."
Kecemasan Li Yong bukan tanpa sebab, kali ini situasi jauh lebih buruk bahkan Huang Kun sampai menggigil. Pendeta tersebut padahal sudah menyalakan api unggun di dekatnya, namun suhu tubuh Huang Kun masih terus naik.
Xin Fai mengembuskan napas pelan, dia mengitari sekitar dan menemukan hutan yang terletak tak jauh dari tempat mereka.
"Senior, aku akan mencari tanaman obat untuknya, mungkin membutuhkan waktu yang agak lama. Selama itu tolong jaga Senior Huang."
Li Yong tak menyetujuinya, Xin Fai masih terlalu kecil untuk menghadapi hutan rimba sendirian.
"Senior, aku sudah pernah bertaruh nyawa di Hutan Terkutuk. Tak perlu mencemaskanku, kondisi Senior Huang jauh lebih memprihatinkan."
__ADS_1
Mendengar nama Hutan Terkutuk, Li Yong sempat terperanjat. Sekelebat kepalanya menerka-nerka maksud omongan Xin Fai ini namun orang yang dipikirkannya telah beranjak pergi dengan kecepatan tinggi.
"Hutan Terkutuk? Jangan-jangan dia... Dia anak kecil yang dikatakan telah membunuh raja siluman tikus itu?"
Langit sudah malam lagi namun Li Yong tak menemukan tanda-tanda kedatangan Xin Fai, bunyi jangkrik membuat suasana hatinya semakin mencekam. Pria itu mondar-mandir di depan api unggun dan berpikir saat ini Xin Fai dalam bahaya, dia kembali berniat menyusul muridnya namun tak bisa pergi begitu saja meninggalkan Shen Xuemei serta Huang Kun di sini.
"Aih... Aku jadi serba salah begini," rutuk Li Yong memijit batang hidungnya lemah, kepalanya sejak tadi sakit akibat berpikir keras.
"Mei'er, apa kau bisa menjaga Huang Kun sebentar? Aku ingin memastikan Xin Fai baik-baik saja di sana."
"Sepertinya kekhawatiran Senior tidak diperlukan, seandainya Xin Fai dihadang oleh binatang buas, dia juga memiliki binatang yang lebih buas bersamanya." Shen Xuemei serta merta mengingat kekuatan Lang yang bisa membantai banyak Manusia Darah Iblis sebelumnya.
Akhirnya Li Yong memutuskan untuk menunggu sebentar namun makin lama suasana hatinya semakin memburuk, meskipun Lang bersama Xin Fai namun berada di hutan rimba seperti itu sudah pasti akan banyak sekali binatang ataupun siluman buas lainnya yang siap membunuh muridnya itu.
Kekhawatiran Li Yong sebenarnya terbukti benar, di tempat lain Xin Fai berhenti saat merasakan ada sesuatu yang mendekatinya dari kejauhan.
Bunyi merayap serta suara desisan membuat Xin Fai berbalik badan hingga mendapati sosok siluman ular sedang mengikutinya.
Lidah ular itu keluar, ukurannya sangat panjang dan Xin Fai merasa lidah itu sangat beracun.
Melihat siluman ular tersebut, sebenarnya Xin Fai hendak memanggil Lang namun seperti kata serigala itu sebelumnya. Xin Fai tak boleh memanggil Lang jika tidak benar-benar butuh, jika dia bisa membereskannya sendiri maka Xin Fai harus melakukannya. Bergantung pada kekuatan Lang juga takkan membuat dirinya berkembang.
Xin Fai menarik pedang dengan ukiran emas, alisnya bertemu dengan gerakan siap untuk bertarung. Sedangkan siluman ular tersebut mendesis lagi.
"Kau... Sssttt... Kau bukan manusia?"
Xin Fai hampir saja terperanjat kaget mendengar siluman ular berbicara, dibandingkan siluman raja tikus yang belum bisa berbicara bahasa manusia, siluman ular ini pasti telah hidup ribuan tahun.
***
jgn lupa untuk like tiap chapter 😉
__ADS_1