
Esok paginya Xin Fai dibuat kaget oleh teriakan Qiao Feng, gadis kecil itu mengaku tak menemukan adiknya sejak tadi pagi dan mengatakan Qiao He pergi ke Hutan Terkutuk sendirian.
Ibunya juga panik, sambil membawa bayi dalam gendongannya dia mengajak Xin Fai untuk pergi ke hutan tersebut. Xin Fai bergegas pergi duluan dibandingkan mereka.
Sesaat Qiao Feng terpana melihat kecepatan berlari Xin Fai, begitupun dengan ibunya.
Xin Fai merasa masih ada beberapa binatang buas di dalam hutan itu, dia meningkatkan konsentrasi ke tingkat tertinggi. Pendengarannya mencapai jarak tiga ratus meter dari tempatnya berpijak dan semakin lama semakin menjangkau tempat-tempat jauh. Dari arah barat dia mendengar bunyi tapak kaki manusia, Xin Fai berlari kencang menyusulnya.
Benar saja saat berhasil mengejar langkah Qiao He dia menemukan gadis itu tengah dikejar-kejar oleh dua tikus bermata merah yang ditemui Xin Fai semalam. Dia yakin tikus itu bukan tikus biasa.
Qiao He melemparkan batu yang berhasil dipungutnya untuk memperlambat laju tikus, namun saat melemparkan batu itu kakinya tersandung batang pohon.
Brukkh!
Dua tikus itu berlari dengan mulut terbuka hendak memakan dagingnya. Seketika angin berembus kencang dan terlihat Xin Fai menyusul dengan Langkah Cahaya yang begitu tinggi. Dia menebas kedua tikus itu dengan lincah.
Butuh empat kali tebasan untuk membunuh mereka tanpa menggunakan tenaga dalam karena kulit tikus itu lebih tebal, ukurannya bahkan dua kali lebih besar dari tikus biasa.
"Apa katamu semalam?! Kau sudah membunuh tikus-tikus di sini?! Lihat, mereka masih ada!" Qiao He merapatkan gigi emosi, matanya mengeluarkan air mata karena ketakutan.
"Yang kukatakan semalam adalah aku telah membunuh siluman raja tikus, sedangkan anak-anak tikus di sini jumlahnya lebih dari ribuan. Mereka tentu saja masih hidup, dan beranak pinak semakin banyak.." Xin Fai memberikan penjelasan namun tetap tak bisa menenangkan gadis tersebut.
Qiao He nampak menyalahkan Xin Fai walaupun telah diselamatkan, dia memasuki hutan karena perkataan Xin Fai semalam.
"Hutan ini jauh lebih berbahaya dari yang kau kira, dalam waktu sedetik saja nyawamu bisa melayang. Hanya dua tikus seperti itu saja sudah membuatmu menangis, apalagi jika melihat ribuan tikus sekaligus.."
Xin Fai merinding mengingat pemandangan lautan tikus bermata merah semalam. Dia hampir saja terbunuh oleh tikus-tikus itu.
__ADS_1
"Ribuan? Kau bercanda?"
"Apa menurutmu aku bercanda?"
Qiao He tak lagi menjawab, wajahnya terus saja jutek. Setelah membujuknya kembali ke rumah, Xin Fai berjalan terburu-buru menyusul Qiao Feng dan ibunya yang berjalan terpisah dari mereka. Xin Fai takut hal buruk terjadi pada dua orang tersebut dan juga bayi yang dibawa bersama mereka.
Untungnya mereka dapat bertemu, Xin Fai berjalan paling belakang memastikan yang lainnya aman. Dia memasang indera pendengaran setajam mungkin, takut sesuatu yang tak terduga akan menyerang tiba-tiba.
"Saat berumur tujuh tahun, ibu hampir saja mati di hutan ini."
Mereka mendengarkan Qiong Lin bercerita. "Tapi salah seorang pendekar yang kebetulan berada di sini rela mengorbankan nyawanya dan menahan raja siluman itu agar ibu selamat."
Jujur saja ketika menceritakan itu wajah Qiong Lin sangat sedih, dia harus berhutang nyawa pada seseorang yang bahkan tidak dia ketahui namanya. Di sepanjang jalan yang dapat mereka temui adalah gunungan mayat, tulang-tulang manusia serta bau busuk yang sudah terpendam begitu lama.
Xin Fai sudah mulai terbiasa dengan bau itu, beda halnya dengan kedua anak gadis Qiong Lin yang terus muntah saat bau-bau tersebut mampir ke hidung mereka.
"Kalau kalian mau melihat mayat siluman raja tikus seharusnya tak jauh lagi dari sini." Xin Fai berjalan ke arah samping, dia menarik napas mencoba mencium bau amis darah di udara.
Kurang dari lima puluh meter di tempat mereka berdiri terdapat mayat berbulu besar yang tergeletak tak bernyawa.
Qiao He menutup mulutnya dengan mata melebar melihat mayat itu karena dia sendiri tak pernah melihat siluman secara langsung.
"Kau sungguh tidak bohong... Tapi bagaimana kau melakukannya? Ayah kami bahkan mati terbunuh oleh raja siluman itu.." tatapan Qiao He kini berubah pada Xin Fai.
Xin Fai menaikan sebelah alisnya.
"Ayah kalian?"
__ADS_1
"Ya, sekitar dua tahun yang lalu." Kali ini Qiao Feng yang menjawab, dia mengelilingi bangkai siluman sambil menutup hidung. Aroma busuk yang dikeluarkan sangatlah amis.
"Kalau begitu seharusnya jasadnya masih ada di sekitar sini."
Xin Fai memutuskan untuk mengawal Qiong Lin yang kini mencari-cari jasad suaminya untuk dikuburkan secara layak, sesekali dia dikejutkan dengan hal yang sama–seekor ular tiba-tiba terjatuh di atas kepalanya.
Masih pagi namun mereka sudah cukup kelelahan berputar di hutan yang luas. Xin Fai memberi tanda di pohon agar mereka tidak tersesat.
Sesekali saat menemukan mayat pendekar Xin Fai menggeledah barang bawaannya dan menemukan beberapa barang berguna seperti kitab dan beberapa koin emas. Tentu saja dia melakukannya tanpa sepengetahuan Qiong Lin dan anaknya.
Tak diduga sembilan ekor tikus muncul dari dalam gundukan tanah, Xin Fai maju ke depan dan meminta Qiong Lin dan lainnya berhati-hati.
Xin Fai mengeluarkan pedang Manusia Darah Iblis, ia mengalirkan tenaga dalamnya. Garis-garis pedang yang semulanya merah kini berubah warna menjadi emas setelah dialiri tenaga dalam.
Ukiran di pedang Manusia Darah Iblis pun berubah warna seperti yang pernah Xin Fai lihat sebelumnya, perubahan itu yang menandakan bahwa pedang tersebut telah berganti pemilik.
Sensasi aneh terasa saat Xin Fai menggunakan pedang tersebut, dia tak terkejut lagi dengan perubahan warna pedang. Tapi ada yang jauh lebih aneh, dalam beberapa detik Xin Fai samar-samar bisa mendengar sesuatu seperti berusaha berbicara dengannya.
Namun dia tak tahu apa itu. Sedangkan tikus di depannya semakin mendekat, sebisa mungkin Xin Fai tidak membiarkan tikus itu melewatinya.
Ia mengeluarkan Jurus Seribu Roh yang jauh lebih kuat dari sebelumnya, empat di antara mereka menghilang sekejap seperti ditelan bumi.
Qiao He melebarkan matanya lagi tak habisnya dia dibuat terkejut, kali ini betisnya bergetar mengingat kejadian semalam. Mulutnya begitu lancang pada Xin Fai, dan dia merasa harus meminta maaf secepatnya jika tidak mau Xin Fai tersinggung.
Dalam waktu yang terhitung cepat kesembilan tikus itu telah lenyap, Xin Fai menyarungkan lagi pedangnya. Ia menatap ke belakang dan mendapati pandangan Qiong Lin terpaku di satu titik.
"Qiao Guan..."
__ADS_1
Xin Fai menatap ke arah pandang Qiong Lin dan betapa terkejutnya dia setelahnya. Mayat yang menjadi perhatian Qiong Lin adalah pemilik pedang Manusia Darah Iblis yang berada di tangannya.