Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 155 - Si Penguasa Danau


__ADS_3

Xin Fai membatin dalam hati. "Dalam sekali tanduk saja pohon ini terasa hampir tumbang. Kurasa bertarung di atas pohon justru malah tidak menguntungkan sama sekali bagiku..."


Tapak kakinya mendarat mulus di atas tanah, dia mendengar cermat segala pergerakan di sekitarnya.


Saat merasa serangan datang dari kirinya Xin Fai mengayunkan pedang tapi justru macan itu membelokkan arah sampai membuatnya terkecoh habis.


Cakaran melintang membuka luka lebar di tubuh Xin Fai, anak itu melompat mundur namun seekor macan tutul lainnya sudah menantinya di belakang.


Pedang di tangannya beradu nyaring dengan kuku tajam macan tutul. Belum sempat beradu dua detik serangan tak diduga kembali berdatangan. Merasa nyawanya terancam Xin Fai berusaha mencari jalan keluar namun dia bisa merasakan semua jalan sudah ditutup oleh tiga macan tutul ini.


Xin Fai berusaha menggunakan wujud roh saat itu juga namun sambaran tersebut masih terasa di tubuhnya.


'Apa maksudnya ini?!' Xin Fai membatin ketika serangan dahsyat itu berhasil menembus kulitnya, dia menjaga jarak sejauh mungkin sembari memulihkan luka berat yang baru saja dialaminya. 'Kekuatan rohku tidak ada lagi?'


Xin Fai berusaha mengingat kembali pertarungan di lokasi Turnamen Pendekar Muda. Dia mengepalkan tangannya sangat kencang.


"Roh-roh itu sudah tidak lagi di tubuhku... Sial, aku lupa akan hal itu."


Terlalu banyak hal yang terjadi membuatnya tak bisa mengingat secara rinci. Xin Fai kini telah mendapat belasan cakaran yang cukup dalam dari macan tutul, di antaranya bahkan nyaris mengenai bagian vital.


Lompatan macan tutul yang begitu tinggi membuat binatang itu seringan angin saat menerkam Xin Fai. Mereka bertiga saling berebut mangsa saat menyadari anak itu dalam posisi terpojokkan.


Selagi ketiga macan tutul berseteru satu sama lainnya Xin Fai menggunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan.


Seekor macan terkena telak sabetan panjang yang datang tiba-tiba hingga tubuhnya mulai mengeluarkan darah, binatang itu mengaum keras hingga suaranya terdengar membelah langit. Satu dari tiga macan lainnya menyerang brutal, dengan menggunakan batu sebagai dorongan ketika meloncat sang macan tutul berhasil menggapai posisi Xin Fai dalam satu kedipan mata.


Pedang dan cakar saling beradu kekuatan, tekanan tubuh macan tutul yang sangat berat membuat Xin Fai menahannya hampir terjongkok. Beberapa detik mereka saling bertahan di posisi masing-masing hingga Xin Fai melepaskan begitu saja pedangnya dan menendang macan tersebut dari arah berbeda.

__ADS_1


Pertarungan jarak dekat memang masih berada dalam kendali Xin Fai, dia menarik napas dalam setelah membuat satu macan lagi mengalami luka berat. Tendangan Bulan Sabit penuh mampu merontokkan tulang rusuk macan tutul itu.


Kini tersisa hanya satu macan lagi yang masih setia di tempatnya, dia tidak seagresif macan tutul lain namun kelihatannya binatang itu lebih cerdik.


Keduanya lebih lama membatu dengan posisi siap serang, saling membaca pikiran untuk mengetahui kemungkinan gerakan satu sama lain. Dan pada detik terakhir sebelum pertarungan, Xin Fai memutar tubuhnya secara tiba-tiba sehingga membuat macan tutul tertipu dengan tebakannya sendiri.


Kelebat pedang menyambar di atas tanpa kendali, serangan gerilya tersebut menghantam tempurung kepala sang macan tutul sepenuhnya hingga menimbulkan bunyi tengkorak yang retak.


Rubah Petir yang bertengger di pohon pun ikut terkejut melihat serangan tersebut, dia meneliti lebih jauh lagi. Kekuatan anak itu tidak bisa diremehkan. Tulang seekor macan tutul yang hampir menjadi siluman seperti lawannya ini tidak bisa dibelah mudah dengan pedang biasa milik Xin Fai kecuali dia memiliki teknik pedang dan tenaga dalam yang mumpuni.


Dua macan yang dalam keadaan terluka di belakangnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika serangan secepat kilat mengarah ke tubuh mereka.


Saat Xin Fai berhasil berpijak di belakang tubuh dua macan tersebut, semburan darah meluncur deras dari tubuh kedua binatang tersebut. Dalam kurun waktu yang relatif singkat mereka tumbang ke tanah meregang nyawa.


Xin Fai mengangkat wajah perlahan menatap ke sekitarnya, dia mulai mendapatkan gambaran di kepalanya berkat pantulan-pantulan suara yang tertangkap di telinganya.


Angin yang menembus dari celah-celah pohon menggambarkan sedikit bentuk hutan ini ditambah lagi suara desiran air yang terletak tak jauh darinya.


Ratusan buaya berwarna abu-abu disertai tanduk aneh menatapinya tajam. Mereka mulai memasang ancang-ancang untuk menyerang namun niat itu diurungkan ketika merasakan sebuah hawa keberadaan yang begitu kuat.


Rubah Petir berdiri santai di atas seekor buaya, binatang berdarah dingin itu terdiam tak berkutik seperti patung. Dia merasakan nyawanya akan terancam jika bergeser satu inci saja.


"Satu buaya ini dua kali belut listrik yang kau makan, kau bisa mendapatkannya cuma-cuma hanya di sini."


Senyuman miring di muka sang Rubah Petir membuat para buaya di sekitarnya kembali merasakan ancaman. Xin Fai tidak bisa berpikir jernih dibuatnya.


"Iya, nyawaku juga cuma-cuma menghadapi ratusan buaya itu di air!"

__ADS_1


"Hm? Apa kau ketakutan?"


Xin Fai memegang pedangnya sedikit ragu, rasanya dia agak tertantang dengan perkataan si rubah. Merasa lawan bicaranya termakan omongan sang Rubah Petir melayangkan satu tawaran lagi.


"Di hutan ini ada banyak sekali hewan yang bisa meningkatkan kualitas tubuhmu secara cepat. Aku akan menangkap satu yang terbaik untukmu jika kau berhasil membunuh setengah buaya di sini dalam kurun waktu dua puluh empat jam."


Tawaran Rubah Petir membuatnya mulai bimbang, dia memang tidak begitu tertarik dengan penawaran si rubah namun menolak tantangan itu hanya akan membuat dirinya lemah.


"Baiklah... Baiklah, aku akan membunuh semua buaya ini kalau aku bisa."


"Hahahaha, berani juga kau bocah! Manusia memang mudah sekali termakan omonganku!"


Xin Fai mendecak samar, dia bersiap memajukan diri menyerang sarang buaya tersebut. Saat itu seekor buaya dengan ukuran yang lebih besar muncul di permukaan air.


Kulit kasar serta kilauan matanya yang menyimpan banyak ancaman membuat Rubah Petir mengerutkan wajahnya. Dia beranjak minggir ketika tatapan si penguasa danau ini tertuju pada seorang manusia di tepi sungai.


"Sejak kapan manusia bisa memasuki tempat ini?" Penguasa danau tersebut melayangkan pertanyaan tersebut pada Rubah Petir. Dia menatap seolah ingin sekali menyerang si rubah namun sayang kekuatannya hanya seujung kuku jika dibandingkan siluman itu.


"Hahaha sejak kapan, ya? Intinya anak cucumu di danau ini tidak akan tenang setelah kedatangannya."


"Ch, pernyataan bodoh itu baru saja keluar dari mulutmu? Kukira kau cukup pandai menilai kekuatan manusia golongan lemah sepertinya. Kau lihat saja, berdiri saja dia membuka begitu banyak celah."


Sang Rubah Petir tak mau memberi tanggapan lainnya, dia segera menyarankan siluman buaya itu merasakan sendiri kekuatan Xin Fai.


"Kalau begitu kenapa tidak membuktikannya sendiri?"


"Tanpa kau suruh juga aku akan melakukannya."

__ADS_1


***


jangan lupa follow kakpit ya😆 bantu rate juga kalau berkenan, soalnya rate udah mulai turun lagi tuh, hikd TwT


__ADS_2