Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 105 - Sandiwara


__ADS_3

Li Yong menatap Xin Fai dengan mata melotot apalagi ketika dia melihat di sana juga berdiri seorang gadis yang pagi tadi terlibat masalah dengan mereka.


Pikiran buruk dalam kepala Li Yong terbukti benar saat melihat Xin Fai baru saja bertarung dengan seorang pria yang kemungkinan besar adalah tetua dari para murid yang berdiri di samping sana.


"Fai'er? Apa kau mencari masalah lagi?" Li Yong mengatakannya dengan cemas bercampur khawatir, di saat bersamaan Xin Fai mulai ketakutan dan tak sempat memikirkan jawaban untuk mengelak.


"E... Senior Li, aku bisa menjelaskannya..." Xin Fai menggaruk kepalanya dengan kikuk, dia bersiap-siap setelah ini pasti akan mendapat omelan dari Li Yong.


"Ah, kau salah paham sepertinya." Ho Shing berbicara tenang, nada bicaranya sangat berwibawa. "Aku hanya sedikit berlatih dengan muridmu ini, bukan begitu?" Kata Ho Shing berdalih menatap Xin Fai.


Karena merasa ancaman Li Yong lebih berbahaya maka Xin Fai dengan cepat mengikuti sandiwara lelaki itu.


"Ah, iya benar sekali. Aku tadi minta diajari oleh Senior ini."


"Ooh, begitu. Hahaha seharusnya aku tak berburuk sangka dulu tadi." Li Yong menggaruk kepalanya canggung, dia berbasa-basi sebentar dengan Ho Shing tanpa memperdulikan sekitarnya lagi.


Xin Fai membuang napas lega saat melihat gurunya tertipu, dia juga tak mengerti dengan jalan pikiran Ho Shing yang kini berbicara dengan Li Yong seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya.


Tidak lama kemudian Ho Shing mengatakan bahwa dia harus kembali ke kediaman sekte Gunung Angin Timur untuk mengistirahatkan murid-muridnya agar siap mengikuti turnamen. Li Yong menyambutnya dengan ramah dan mengatakan dia juga harus kembali juga.


Sesaat sebelum meninggalkan mereka, Ho Shing menatap Xin Fai lamat-lamat. Di dalam kepalanya berkelebat banyak hal. Kekuatan misterius Xin Fai masih menjadi tanda tanya besar di kepalanya dan dengan kekuatan itu bukan tidak mungkin Xin Fai menduduki posisi juara.


Seandainya pertarungannya dengan Xin Fai dilanjutkan dan Li Yong tidak datang tadi, Ho Shing tak bisa membayangkan bagaimana dia harus memasang muka pada murid-muridnya nanti.


Akhirnya rombongan Ho Shing benar-benar pergi, langit sudah gelap dan bunyi jangkrik pun terdengar.


Li Yong membalikkan badan menghadap Xin Fai.


"Apa kau serius tak mencari masalah dengan mereka?"


"A-aku tidak mencari masalah dengan mereka..." Kata Xin Fai, setelahnya dia membatin. 'Lebih tepatnya mereka yang mencari masalah denganku.'


"Tapi aku melihat gadis bangsawan itu seperti tak senang melihatmu."


"Aih dia memang sejak awal tak suka denganku, apa itu harus diperjelas lagi Senior?"

__ADS_1


Li Yong tak tahu lagi harus berkata apa, dia menggelengkan kepala pelan setelahnya. "Yang penting kau jangan terlibat masalah dengan orang-orang seperti mereka, itu sangat berbahaya. Bisa jadi imbasnya ke sekte kita nantinya."


Mata Xin Fai berkedip dan beralih pada Li Yong. "Apa hubungannya dengan sekte kita?"


"Kau takkan paham dunia politik Fai'er, semua pihak akan saling menjatuhkan untuk bisa berdiri di atas. Sudahlah, sekarang sudah malam. Ayo kita pulang."


Dalam perjalanan Shen Xuemei terus saja memasang wajah kesal. Sedangkan Huang Kun juga melakukan hal yang sama.


"Hei kenapa kalian berdua merengut saja daritadi? Apa aku ketinggalan berita panas? Hahahaha!" Xin Fai mengejek keduanya saat tiba di depan pintu, Huang Kun lebih dulu merangsek maju dan di saat bersamaan Shen Xuemei melakukan hal yang sama.


"Minggir!"


"Kau yang minggir!"


Xin Fai memiringkan kepala dengan penuh tanda tanya, dia bisa memastikan kedua seniornya ini sedang perang dingin.


"Kenapa dengan dua orang ini, Senior Li?" Xin memutuskan bertanya pada Li Yong yang kini sedang duduk.


"Hm... Kau tanya saja pada mereka." Pendeta itu malas menjelaskan karena sudah lelah menghadapi tiga muridnya ini.


"Senior Shen, Senior Huang, kalian berdua kenapa?"


"Jangan mengikuti kata-kataku!"


"Kau yang ikut-ikutan!"


Melihat pertengkaran itu Xin Fai berniat menengahi, dia berdiri di tengah-tengah dua seniornya itu.


"Sudahlah... Ini semua bisa diselesaikan dengan lapang dada..."


Shen Xuemei mendecak. "Karena kau tidur di sana tadi, Senior Li sampai memarahiku."


"Itu karena salahmu juga! Seharusnya kau menjaganya, bukan malah kelayapan ke tempat lain!" Huang Kun menanggapi kesal, sebelumnya saat tadi berlatih dengan Li Yong dia sempat curiga jika Shen Xuemei benar-benar meninggalkan Xin Fai.


Kecurigaannya benar terjadi saat Shen Xuemei pulang sendiri, sontak saja Huang Kun yang tadi menitipkan Xin Fai padanya memaki kesal dan akhirnya Li Yong pun turut mengomeli mereka berdua.

__ADS_1


Keadaan saling menyalahkan itu sudah berlangsung beberapa jam, kepala Li Yong berdenyut dibuatnya. Pendeta itu memilih pamit dan masuk ke kamarnya.


Sedang Xin Fai menatap dua seniornya bergantian, bagaimanapun ini semua salahnya karena tertidur saat latihan tadi. Udara segar dan angin sepoi-sepoi tadi membuatnya tak bisa menahan diri untuk tertidur. Dia tak menyangka hal ini malah membuat kedua seniornya bertengkar.


"Kalian tidak salah, aku yang salah.. maafkan aku."


"Kau lihat itu, dia saja sudah mengakui kesalahannya. Fai'er, jelaskan pada Seniormu itu untuk jangan terus menyalahkanku." Shen Xuemei merasa geram karena terus ditatap penuh kesal oleh orang di hadapannya.


"Senior Huang, sudahlah tidak perlu dipermasalahkan lagi."


"Tidak bisa begitu, Fai'er! Bagaimana jika saat aku dan Shen Xuemei tak ada para pembunuh bayaran datang menculikmu?"


Penuturan itu menyadarkan Xin Fai, dia lupa tentang hal tersebut dan merasa dirinya terlalu lengah, andai saja yang dikatakan Huang Kun benar maka hari ini sudah pasti akan terjadi hal buruk padanya.


Kali ini dua orang di depan Huang Kun terdiam tak sanggup membantah apa-apa lagi.


"Begini, aku tak berniat menyudutkan siapapun. Aku mendengar sedikit informasi dari para murid di sekte Lembah Kabut Putih bahwa kota Renwu kedatangan banyak pendekar misterius. Aku tidak bisa memastikan berita tersebut benar atau tidak... Tapi untuk mengantisipasi lebih baik kau menjaga dirimu Fai'er agar tak terkena masalah."


Xin Fai mengangguk tiga kali seolah menurut padanya.


"Kita tak tahu bahaya akan datang kapan saja, maka dari itu kita harus siaga. Satu kesalahan bisa berakibat fatal bahkan bisa mengancam satu dunia ini."


Meskipun agak berlebihan mengatakan hal tersebut namun yang dikatakan Huang Kun benar adanya.


Dengan mendapatkan tubuh Manusia Iblis, banyak keuntungan yang bisa didapatkan para pembunuh bayaran. Bahkan jasad Manusia Iblis terdahulu masih diperebutkan hingga detik ini. Tiap tetes darah akan sangat berbahaya jika mereka tahu kegunaannya. Apalagi jika Mustika 7 Musim digunakan pada jasad Manusia Iblis.


Ketakutan yang selama ini Xin Fai pikirkan adalah jika Manusia Iblis sebelumnya dibangkitkan kembali menggunakan Mustika 7 Musim dan sosok tersebut malah berada di bawah kendali musuh.


Apalagi saat ini dikabarkan Manusia Darah Iblis gencar-gencaran mencari mustika tersebut. Tapi setidaknya Xin Fai masih merasa aman karena dua mustika telah berada di tangannya.


"Kau mendengar perkataanku, Fai'er?" tanya Huang Kun.


"E... Apa tadi?" tanya Xin Fai balik, dia baru saja tersadar dari lamunannya.


"Hhh...sudahlah lupakan saja. Kau boleh istirahat. Ingat, saat turnamen nanti jangan sampai lengah sedetikpun." Huang Kun nampak serius dengan perkataannya.

__ADS_1


"Baiklah Senior Huang."


***


__ADS_2