
Jurus dari Kitab Terlarang kembali digunakannya, jurus yang dilatihnya setiap malam bersama Iblis Merah di ruang dimensi ini memiliki keunggulan tersendiri. Siapapun yang berjarak seratus meter darinya bisa terkena rantai api dan terbakar hingga menjadi abu, semakin banyak rantai yang dikeluarkan semakin membebani tubuh penggunanya.
Pria yang hendak menerobos jalan masuk terkejut saat tangannya dililit oleh rantai yang panas luar biasa, ketika hendak melepaskan diri api menjalar dari tangan dan melenyapkan tubuhnya dalam hitungan detik saja. Dia tidak sempat berteriak, mulut pria itu kini telah dipenuhi oleh asap dan terbakar menjadi abu mayat setelahnya.
Xin Fai dapat merasakan sakit luar biasa saat menggunakan jurus ini tapi dia tidak memiliki pilihan lain, kini belasan musuh tengah berusaha menerobos masuk dengan api obornya. Dia tidak bisa membiarkan desa ini menjadi lautan api seperti Desa Daan.
Zhu Yue menghabisi sisa musuh yang masuk, dia mendekat ke arah Xin Fai kemudian menopang tubuhnya. "Ketua, kau terlalu memaksakan diri. Kekuatan itu... Sepertinya itu me–"
"Tidak perlu mengkhawatirkanku."
"Tapi Ketua-?"
"Fokus pada musuh, ada ratusan nyawa yang harus kita selamatkan. Salah satu langkah saja mereka akan kehilangan nyawanya."
"Ba-baik."
Rantai api menguap di udara lalu menghilang tanpa jejak, perlahan-lahan musuh yang mengepung di bagian pintu gerbang melemah. Beberapa tewas oleh api obor yang dibawa sendiri. Sisa-sisa musuh berhasil dibereskan oleh sepuluh Aliansi Pedang Suci yang bergerak secara berkelompok, mereka dipimpin oleh Ho Xiuhan dan Chang Wei. Tampaknya kedua sejoli itu mulai akrab sejak pertarungan beberapa hari yang lalu.
Padang rumput kini menjadi genangan darah, lagi-lagi korban jiwa tidak bisa terhindarkan. Beberapa anggota aliansi mulai terluka parah, tak sedikit dari mereka yang sekarat.
Xin Fai duduk mengistirahatkan diri di dekat api unggun, dia termenung lama di sana dan hanya menanggapi sekedarnya ketika ditanyakan. Mau bagaimana lagi, mereka tidak bisa bergerak dalam keadaan begini. Dihadapkan pada dua pertarungan berturut-turut dan dalam jumlah yang tiga sampai lima kali lebih banyak dari jumlah mereka sendiri membuat kondisi anggotanya memburuk.
Bunyi kayu termakan api mengisi suasana malam, salah seorang penduduk desa datang padanya dengan sikap sopan. "Tuan Pendekar, kami memiliki sedikit persediaan makanan dan obat-obatan untuk menyembuhkan luka kalian. Jika tidak keberatan terimalah ini."
__ADS_1
Pemuda itu mengulas senyum sebisa mungkin membuat wanita berusia 40 tahun itu lega, dia tak sendiri melainkan datang bersama beberapa wanita lainnya yang membawa berbagai macam barang. Aliansi Pedang Suci sendiri kini beristirahat di sebuah rumah panggung besar, di mana setidaknya hampir dua puluh persen dari anggota terbaring dalam keadaan terluka.
"Ikut aku, mereka pasti akan senang hati menerima pemberian kalian semua."
Mereka mengikuti Xin Fai memasuki rumah tersebut, belasan orang terbaring dengan kaki maupun perut berdarah-darah. Xin Fai melirik ke sebuah daun yang berguna untuk menghentikan pendarahan, dia melirik sekilas dan memutuskan untuk membantu sosok pria yang kini terbaring lemah ditemani Chang Wei.
"Kau ini, setelah sebelumnya aku yang terluka hari ini malah kau sendiri yang kena." Chang Wei mengomel-ngomel saat membaluri luka Ho Xiuhan yang hanya bisa meringis kesakitan.
"Mau bagaimana lagi, lagipula sudah terlanjur terjadi."
Mereka berdua terdiam saat menyadari siapa yang datang, segera Chang Wei memberi hormat dan menggeser duduknya memberikan ruang untuk Xin Fai duduk.
"Bagaimana lukamu?"
"Setidaknya ini membutuhkan waktu tiga hari agar bisa sembuh, Ketua Xin," ujar Ho Xiuhan agak menyesal. "Ketua Xin, kau boleh pergi lebih dulu bersama anggota yang masih sanggup bertarung menuju Kota Renwu. Kami akan menyusul belakangan."
Zhu Yue mendekat saat mendengar obrolan itu. "Ketua, situasi sekarang memang sangat rumit. Ini begitu genting. Jika menunggu lebih lama aku khawatir Kota Renwu akan jatuh ke tangan musuh."
Sebenarnya Xin Fai sudah memikirkan ini sejak duduk berjam-jam di api unggun tadi, dia hanya tidak tega membiarkan anggota terluka bertahan sendirian di desa rawan seperti ini. Tapi jika dipikir lagi andai saja desa ini benar-benar akan kedatangan gelombang musuh kedua, pertarungan hari ini juga akan sia-sia. Semua penduduk akan tewas terbunuh dengan jumlah musuh sebanyak itu.
Setelah mempertimbangkan dengan hati-hati Xin Fai memutuskan untuk meninggalkan setengah dari anggota Aliansi Pedang Suci di tempat ini yang akan menyusul beberapa hari lagi untuk menyeberang ke Kota Renwu. Pasukan lantas digerakkan langsung tanpa membuang waktu, namun keputusan yang membuat Zhu Yue terkejut adalah dirinya diperintahkan untuk tetap tinggal di tempat ini bersama anggota yang terluka.
Zhu Yue masih belum bisa menyetujuinya, lagipula jika dipikir-pikir lagi mungkin kekuatannya akan dibutuhkan setibanya di Kota Renwu nanti.
__ADS_1
"Wakil Zhu, di Kota Renwu sana kami memiliki banyak pendekar yang akan membantu sedangkan di tempat ini... Besar kemungkinan musuh akan datang lebih banyak lagi, bertahanlah selagi kami belum kembali. Kalau bisa jangan sampai terlibat pertarungan tak berarti. Utamakan keselamatan warga dan anggota, kalau keadaan tidak memungkinkan kau harus melarikan diri bersama yang lainnya."
"Tapi Ketua, bagaimana aku bisa berlari saat desa ini akan dibakar oleh mereka?"
"Wakil Zhu, nyawa yang paling utama. Kau sudah lihat berapa banyak jumlah musuh yang dibawa mereka dalam satu rombongan? Jumlah mereka paling sedikit dua ratus, sedangkan nanti yang kau miliki hanya empat puluhan. Kumohon jangan pertaruhkan nyawa anggota selagi aku tidak ada."
Meski berat menerima namun Zhu Yue memaksa untuk mengangguk setuju, sekitar 41 orang ditinggal bersamanya sedangkan sisanya pergi bersama Xin Fai menaiki kapal.
Lambat laun kapal semakin menghilang dari pandangan mereka semua, Zhu Yue membalikkan badan menatap para pendekar yang dititipkan bersamanya. Rasanya nyawa semua orang di tempat ini menjadi tanggung jawabnya, Zhu Yue menjadi sedikit gelisah. Jika dipikir-pikir lagi inilah yang dirasakan Xin Fai selama ini dan dia baru menyadarinya sekarang.
Para penduduk yang sebelumnya dievakuasi kini telah diperbolehkan kembali ke rumahnya masing-masing, Zhu Yue memperbolehkan mereka beraktivitas seperti biasa karena tidak dapat mengendus pergerakan musuh di mana-mana. Lagipula dalam waktu dekat ini kemungkinan besar tidak akan ada penyerangan yang datang, dia hanya perlu memikirkan cara untuk melindungi desa dari jarak jauh seperti yang Xin Fai lakukan sebelumnya.
Malam itu Zhu Yue menggerakkan beberapa anggota aliansi dan pria dari desa untuk menebang pohon guna membuat benteng desa. Dia hendak membuat pelindung kuat demi bertahan selama seminggu ke depan.
"Ah kita ditinggalkan di sini bersama para penduduk desa itu, Ketua Xin terlalu mengkhawatirkan para penduduk dibanding kota Kekaisaran."
Obrolan itu terdengar tak jauh dari Zhu Yue, mereka berbisik-bisik agar tidak terdengar yang lainnya namun tetap saja Zhu Yue tahu apa yang mereka bicarakan.
"Sudahlah, Ketua Xin masih terlalu muda. Dia hanya berusaha melindungi orang-orang sebisanya..."
"Apa yang harus dilindungi di desa ini? Hanya desa kecil, aku tidak yakin musuh akan datang lagi setelah melihat tumpukan mayat di depan desa."
Zhu Yue berjalan hendak menegur kedua orang tersebut, dia merasa mereka terlalu meremehkan Xin Fai hanya karena dirinya lebih dulu lahir ke dunia. Belum sempat menegur dua orang tersebut, suara teriakan penduduk desa terdengar meminta pertolongan. Zhu Yue menaiki dahan pohon dan matanya terbuka lebar saat menyadari apa yang dikhawatirkan Xin Fai benar-benar terjadi. Firasat buruknya tadi ternyata memiliki alasan.
__ADS_1
Rumah-rumah warga tengah dilalap api besar sedang penduduknya menjerit kala api tersebut membakar tubuh mereka. Zhu Yue membuang pandangan ke arah rumah tempat anggota aliansi yang terluka dibaringkan, rumah itu telah terbakar habis dibakar api.
***