
Bunyi itu seperti bunyi patuk burung yang menghantam genteng, Xin Fai berusaha fokus dengan isi di dalam kitab tersebut namun bunyi itu begitu mengganggunya. Karena merasa tidak sabar dia keluar dari jendela kamar dan menaiki atap penginapan melihat apa yang terjadi.
Seekor burung gagak terbang kencang menyambarnya, Xin Fai berusaha mencegah gerakannya hingga membuat telapak tangannya berdarah oleh patuk burung tersebut.
"Burung gagak?" Ucapnya. "Ada yang tidak beres dengan kitab itu," sambungnya kemudian. Dia yakin Rubah Petir pasti memiliki alasan akan hal ini, dia begitu menjaga kitab terlarang itu dan memastikan tidak ada manusia yang menyentuhnya selama ratusan tahun namun Rubah tersebut akhirnya memberikannya pada Xin Fai.
Ketika dia melompat masuk dari jendela sebuah energi mengerikan menyambut kedatangannya, Xin Fai jatuh berlutut menahan tekanan yang luar biasa berat menyerang tubuhnya. Barang-barang di dalam kamar pun ikut bergerak.
Dia berusaha mengangkat wajahnya melihat siapa yang melakukan hal ini, ketika matanya bisa menangkap jelas apa yang terjadi rupa-rupanya sosok mengerikan tengah tersenyum angker padanya.
"Sepertinya aku mendapatkan Tuan baru setelah sekian lama..."
Xin Fai bergidik ngeri mendengar alunan suara yang terdengar seperti jeritan kematian itu, bahkan jauh lebih mengerikan dari itu semua. Dia meneguk ludah kasar ketika sosok menyerupai iblis merah ini mendekatinya, ingin sekali dirinya lari namun di sisi lain dia yakin ada sesuatu yang penting akan disampaikan oleh mahkluk itu.
"Kau... Kau siapa?"
"Aku roh penghuni kitab ini. Mulai hari ini kau harus menjadi majikan ku. Lagipula jika dilihat-lihat lagi kekuatanmu lumayan juga, bisa setara dengan kekuatan Tuanku sebelumnya."
"Aku jadi Tuanmu? Hei, jangan asal memutuskan seperti itu! Aku belum tentu ingin menggunakan kitab ini, aku hanya sekedar melihat-lihat saja–"
"Tidak ada pembangkangan." Mata iblis merah melotot seram ke arahnya, aura mengerikan itu seketika menyerbunya lagi dan lagi.
"Tapi–"
"Sekali lagi membangkang aku akan merasukimu."
"Baiklah, maafkan aku." Xin Fai hanya bisa mengalah dari iblis ini, dia memerhatikan sosok mengerikan ini lebih lama.
"Apa kau temannya si Monster Iblis?"
"Maksudmu si Raja Iblis itu?"
__ADS_1
"Y-ya, itulah maksudku."
Iblis merah menimbang-nimbang sebentar memikirkan jawaban. "Kalau kau merasakan auranya memang hampir sama, tapi kami berdua berbeda. Aku memiliki kesadaranku sendiri begitu juga dengan dia."
"Sepertinya kalian saling kenal?"
"Bisa dibilang begitu," ucap iblis merah meraih pedang pusaka milik Xin Fai. Pemuda itu menjadi sangat panik saat senjata satu-satunya itu diambil.
"Tidak perlu takut, tanpa pedangpun kalau aku mau aku sudah menghabisimu."
Merasa Xin Fai mulai bisa menerima kehadirannya iblis merah segera mengatakan hal yang mengganggunya sejak tadi. "Pedang ini begitu usang, tidak cocok dengan kekuatan Manusia Iblis sepertimu."
Xin Fai tidak terkejut akan pernyataan itu, dia yakin iblis merah memang sudah tahu dirinya memiliki tubuh Manusia Iblis sejak awal.
"Jadi? Aku tahu kau bukan makhluk yang suka berbasa-basi, lebih baik kau katakan langsung maksudmu iblis."
"Manusia pintar, pedang berkarat ini harusnya kau ganti dengan salah satu pedang pusaka terhebat yaitu Pedang Manusia Iblis. Aku bisa memastikan setelah ini kau akan langsung berada di puncak dunia persilatan dan menggemparkan para cecunguk di luar sana."
Merasa tidak mungkin mendapatkan pedang itu Xin Fai segera menolaknya. "Pedang itu pasti sudah berada di tangan lain, mungkin saja orang itu lebih kuat dariku. Memperebutkannya di antara ribuan pendekar kuat sama saja seperti mengantarkan nyawaku."
"Apa sifatmu memang begini? Kurasa kau bukan orang yang mudah putus asa."
Xin Fai memiliki alasan tersendiri, sejujurnya dia juga memiliki banyak hal yang harus dilakukan dibanding mencari keberadaan pedang tersebut.
"Bukan waktunya untuk mencari pedang itu, aku harus segera membunuh para Manusia Darah Iblis sebelum mereka berulah lebih banyak lagi..."
"Apa kau melupakan sesuatu? Biar kuperingatkan padamu, manusia. Umurmu sekarang sudah 17 tahun dan satu tahun lagi Monster Iblis itu akan bangkit dari tubuhmu. Segel yang ditanam di tubuhmu itu sudah tidak bisa lagi membendung kekuatannya, itulah yang kulihat sekarang ini."
Jelas saja Xin Fai tertegun lagi dan lagi, dia merasakan ancaman dari bicara iblis merah tersebut dan berusaha memahaminya. "Segel itu akan terlepas? Kira-kira berapa lama lagi?"
"Sepuluh bulan dari sekarang. Kau harus bersiap-siap, aku akan membantumu jika kau berhasil mendapatkan Pedang Manusia Iblis itu."
__ADS_1
Saat ingin bertanya lebih lanjut lagi sebuah ketukan pintu terdengar, Xin Fai memandang ke arah pintu dan iblis merah bergantian.
"Kita akan berbicara lain waktu, kalau kau ingin mencari pedang yang kau maksud silahkan cari pedang itu di makam Qiang Jun."
Iblis merah kembali masuk ke dalam kitab tersebut tanpa mengatakan apapun lagi, Xin Fai menggaruk kepalanya frustrasi.
Kebangkitan Monster Iblis yang kedua kali ini memang sempat berkelebat di pikirannya beberapa tahun lalu namun dia tidak terlalu memikirkannya karena merasa waktunya masih cukup lama. Tahu-tahu saja sekarang umurnya sudah menyentuh angka 17 tahun dan akan bertambah seiring waktu.
Xin Fai berdiri dari tempatnya dan segera membukakan pintu, mendapati Lan An berdiri di depannya khawatir. "apa kau mendengar bunyi di atas itu?"
"Kau takut?"
"Bukan begitu! Lihatlah orang-orang di depan penginapan mulai ramai membicarakan ini," pemuda itu menarik lengannya menuju bagian depan penginapan.
Dari luar nampak puluhan mayat burung gagak mati di atap penginapan tersebut. Semua orang ketakutan tak terkecuali Lan An, pemuda itu mewanti-wanti agar tidak terjadi sesuatu yang buruk setelah ini.
"Burung gagak ini pertanda kematian, adik kecil. Daripada kita ditimpa musibah ada baiknya kita pergi mencari penginapan lain."
"Sudahlah tidak ada yang perlu ditakutkan, mungkin ini hanya sekedar fenomena alam." Xin Fai tampak lebih tenang di antara semua orang itu, lebih tepatnya dirinya telah mengetahui penyebab ini semua dan memilih untuk tidak menceritakannya.
"Ikut saja apa kataku..." Kali ini Lan An tampak memaksa.
"Tidak mau, kalau kau mau pindah ya sudah pindah saja. Yang namanya hantu kalau benar-benar ada pasti akan mengikutimu ke manapun kau pergi," ucapnya dengan suara yang dibuat-buat seram.
"Ja-jangan menakutiku!"
***
Habis crazy up jari dan otak mulai capek jadi besok libur sehari ya🙏 jangan lupa terus mendukung cerita ini spy terus berkembang
Byee~🐣
__ADS_1