
Lan An dan Chuan Gui yang baru saja menatap kepergian Xin Fai akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah. Lan An menawarkan Chuan Gui untuk bertamu dan meminum teh hangat namun tidak diduga sesuatu yang buruk telah terjadi di rumahnya.
Di depan pintu, Ibu Lan An sedang berlutut dengan mulut mengeluarkan darah di hadapan empat pendekar besar dan salah satunya pendekar Agung.
Lan An menyadari niat mereka yaitu merebut Mustika 7 Musim milik ibunya, dia tak pernah mengatakan pada Xin Fai bahwa mustika itu sangat berharga. Mustika tersebut hanya ada di Kekaisaran Qing.
Kemangi Lima Daun berniat merebutnya dan mengaktifkan suatu segel untuk membangkitkan manusia. Segel tersebut adalah ilmu terlarang dari Kekaisaran Qing dan hanya dipakai pendekar aliran hitam untuk membangunkan kembali sosok legenda yang telah wafat.
Dibutuhkan 7 mustika untuk mengaktifkan segel, yaitu ketujuh Mustika Musim yang tersebar di seluruh dunia. Warna mustika itu sendiri melambangkan musim yang diwakilinya, contohnya warna oranye untuk Mustika Musim Semi.
Cokelat melambangkan Mustika Musim Gugur sedangkan Mustika Musim Kemarau berwarna kuning terang. Mustika Musim Panas berwarna biru sapphire. Mustika Musim Dingin berwarna seperti berlian, dan Mustika Musim Hujan berwarna hijau daun.
Ada satu mustika yang memiliki kekuatan tertinggi, yaitu Mustika Hujan Darah yang berwarna merah dan kini berada di tangan Manusia Darah Iblis.
Lan An tentu mengetahui hal itu semua dari neneknya yang kini sudah tiada, dia tahu yang berada di tangannya saat ini adalah salah satu dari tiga mustika terkuat yaitu Mustika Musim Semi. Neneknya mengatakan, jika mustika itu jatuh ke tangan yang salah maka akan terjadi kehancuran di dunia ini.
Ketujuh Mustika itu dikabarkan bisa membangkitkan Dewa Iblis yang bersemayam di makam Pendekar Kaisar Langit. Hal itu tentu saja tidak bisa dibiarkan, Lan An bersumpah akan melindungi mustika itu bahkan jika harus bertaruh nyawa sekalipun.
"Ibuu!" teriak Lan An berlari dengan Langkah Cahaya, dia segera menerobos masuk untuk memastikan kondisi Ibunya.
__ADS_1
Dia mengepalkan tangannya dengan erat sambil mengeluarkan hawa pembunuh.
"Jadi kau anaknya?"
Lan An menopang kepala ibunya di pahanya dengan tatapan ingin membunuh, sorot matanya menusuk. "Apa yang kau inginkan dari kami?!"
Chuan Gui tak tinggal diam, dia maju di hadapan Lan An sambil menarik pedang. Meskipun kekuatannya hanya setara pendekar besar namun ajaran sekte Pasukan Seribu Kaki membuatnya tidak takut mati dalam membela kebenaran.
"Salah satu Mustika 7 Musim ini dimiliki mantan selir raja bernama Lien Hua. Bisa dipastikan ibumu adalah orang yang kami cari."
Lan An menyeru keras hingga urat di lehernya menonjol. "Memang ibuku melakukan kesalahan apa?! Mereka telah membuang kami dari kerajaan dan apa yang mau kau rampas lagi dari kami berdua, hah?!"
"Hei tidak perlu menggonggong seperti itu, bocah. Bawa kemari Mustika 7 Musim kepada kami. Dan mungkin kami akan mengampuni nyawa kalian berdua."
"Mengampuni? Aku tidak bisa memegang kata-katamu." Lan An hendak bangkit sebelum ibunya mengeluarkan suara dengan mulut bergetar.
"An'er... Apa kau yang menyimpan mustika itu? Berikan saja kepada mereka, aku tidak mau kau terluka." Lien Hua mengelus pipi anaknya dengan meneteskan air mata, Lan An tidak bisa membantah jika perintah itu keluar dari mulut ibunya. Dengan pasrah dia membuka kantong kecil dalam sakunya namun tidak menemukan mustika tersebut.
"Ke mana perginya?!" Lan An membelalakkan matanya sambil merogoh saku dengan panik walaupun akhirnya tetap tidak mendapatkan apapun, dirinya mulai kehilangan kendali. Sempat berpikir bahwa mustika itu sudah duluan dicuri oleh orang-orang di hadapannya.
__ADS_1
"Kemarikan mustika itu cepat! Kami tidak punya banyak waktu, atau mau kubantai kalian semua di sini?!"
"Aku benar-benar tidak memilikinya, mustika itu hilang..." Lan An mencoba mengingat-ingat di mana ia meletakkan terakhir kali namun karena panik dia tidak bisa berpikir jernih.
"Alasanmu saja! Cepat bunuh mereka dan geledah isi rumahnya!" Seru pendekar paling kuat, keempat pendekar besar menerjang ke arah Lan An bersamaan. Sedangkan pendekar agung itu bertarung melawan Chuan Gui.
Chuan Gui hendak membantu Lan An yang sedang dikeroyok oleh empat orang, anak itu berupaya melindungi ibunya yang sedang terluka. Namun salah satu dari mereka lolos dan hendak menebas kepala Lien Hua dengan pedangnya.
"Mati kau!"
Lan An tak sempat menolong ibunya, dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk menghentikan laju pedang tersebut. Hingga sebuah suara familiar terdengar dari arah samping.
"Tendangan Bulan Sabit!"
"A-adik kecil?!" Lan An terkejut melihat Xin Fai kembali, namun yang lebih membuat dirinya terkejut adalah sosok Serigala Berbulu Emas yang datang ke rumahnya.
"Bukan, kau bukan adik kecil. Kau... Seorang Kaisar Langit." ucap Lan An ketika melihat tubuh Xin Fai dipenuhi pisau cahaya keemasan.
***
__ADS_1