
Lan An mengedipkan matanya beberapa kali berusaha mengenali sosok anak kecil yang berdiri di bawah terangnya sinar bulan. Matanya bergulir pada serigala besar dengan bulu keemasan yang duduk di sampingnya. Ia terpana, seumur hidupnya baru kali ini dia dibuat sekaget itu.
Jika seandainya dia tidak mengenal orang yang berdiri di sana adalah Xin Fai sudah pasti sejak sedetik sebelumnya dia bersujud pada sosok yang sangat mirip dengan Kaisar Langit itu. Sosok pahlawan diceritakan Ibunya setiap malam.
Xin Fai menarik pedangnya, ukiran emas bercahaya terang saat dia mengalirkan tenaga dalam. Empat pendekar besar tak tinggal diam, dua di antara mereka menyerang bersamaan.
Sedangkan Chuan Gui disibukkan dengan pendekar agung, Lan An dan Xin Fai masing-masing berhadapan dengan dua pendekar besar.
Meskipun samar-samar namun Chuan Gui sempat melirik ke pertarungan kedua anak kecil itu, dia berdecak kagum beberapa kali. Dia yakin, di masa depan kedua anak kecil itu akan menjadi sosok legenda.
Xin Fai menyerang dengan gerakan yang dominan ke arah bawah, membuat dua pendekar yang melawannya sangat kewalahan karena jarak serangan yang begitu rendah. Sesaat dengan Langkah Cahaya Xin Fai melompat dengan kedua tangan memegang pedang.
"Kitab Tujuh Kunci - Jurus Seribu Roh!" Xin Fai membabatkan pedang ke tempurung kepala musuh di depannya, seketika kepala lelaki itu pecah menghamburkan isinya.
Xin Fai memalingkan muka agar tidak menyaksikan isi kepala yang berhamburan itu. Dia hendak muntah namun menahannya sebisa mungkin.
Lan An membelalak beberapa detik, dirinya tak menyangka Xin Fai menguasai salah satu jurus di kitab itu dalam waktu singkat. Jurus Seribu Roh merupakan jurus yang istimewa, pedang yang digunakan Xin Fai mengeluarkan asap hitam yang merupakan perwujudan roh saat menebas.
dia menatapi kitab yang ada bersama Xin Fai kini mengeluarkan cahaya yang indah.
"Kitab itu memiliki roh... Jangan-jangan seribu roh di dalamnya menyukai Adik kecil Xin Fai..."
Dia sadar betul, jika Xin Fai bisa menguasai salah satu jurus terkuat itu kemungkinannya ada dua. Yang pertama, Xin Fai adalah seorang pendekar agung kehormatan dari Kekaisaran Qing yang jelas bisa menguasai jurus itu dalam waktu singkat.
Dan yang kedua, roh yang bersemayam di dalam Kitab Tujuh Kunci menyukai anak itu dan kekuatan tersebut akan dengan sendirinya menyatu dalam darahnya.
Lien Hua tersenyum dengan lebar. "Kitab itu menemukan pemiliknya, seorang reinkarnasi Kaisar Dewa Langit, sang Bunga Api Kerajaan, dia seorang anak yang lahir seribu tahun sekali."
__ADS_1
Legenda tentang Kaisar Langit tentu sangat terkenal di Kekaisaran Qing. Dikatakan oleh leluhurnya, dulu seorang Kaisar Langit telah mengusir seluruh roh yang mengganggu kedamaian desa mereka. Roh-roh tersebut disegel ke dalam sebuah kitab yang bernama Kitab Tujuh Kunci.
"Jika suatu saat aku sudah tiada, tentu aku akan mati dengan tenang. Kitab itu telah berada di tangan yang tepat." Lagi-lagi senyuman di bibir merona Lien Hua terkembang. Lan An masih siaga setiap waktu melindungi ibunya dari serangan musuh.
Di sisi lain satu lawan Xin Fai yang tersisa mundur jauh, dia berniat memohon ampun atas nyawanya.
"Maafkan aku Tuan, aku telah salah menyinggungmu. Mohon berikan aku kesempatan untuk berubah aku akan menjadi orang baik ke depannya, kumohon." Pria itu berlutut mengeluarkan air matanya.
"Bunuh mereka yang membunuh. Bukankah sederhana?" Xin Fai menatap dingin. "meskipun kau bukan Manusia Darah Iblis, tapi seseorang mengatakan padaku kalau orang yang membunuh tak lebih dari sebuah dosa. Dosa harus dihapuskan dari muka bumi ini."
Saat Xin Fai hendak menebasnya lagi-lagi lelaki itu memohon. "Aku punya dua anak dan seorang istri. Mereka menunggu kepulanganku di rumah, setidaknya berikan aku kesempatan sekali lagi."
Ada sedikit rasa tak tega yang menjalar di dalam hatinya, anak kecil tersenyum kecil membuat pria di depannya mengangkat wajahnya telah merasa diampuni.
"Temanmu juga sedang menunggumu," Xin Fai menunjuk jasad teman pendekar itu yang kepalanya pecah, seketika wajah lelaki di hadapannya pucat pasi.
Tebasan lainnya memotong leher pria tersebut, Xin Fai belajar membuang sisi kemanusiaannya. Bunuh yang pantas dibunuh. Kata-kata tersebut menggema di telinganya setiap kali ia takut membunuh. Dia tidak ingin jadi orang lemah.
Lan An bisa melihat dengan jelas adik kecilnya menggenggam erat pedang di tangannya. Ia bisa melihat ekspresi tersiksa Xin Fai, tentu saja membunuh bukan suatu perkara mudah bagi seorang bocah sepertinya.
Pandangan Xin Fai tertuju pada dua pendekar di hadapan Lan An, mereka mengalami pendarahan cukup banyak akibat serangan Lan An. Dia sendiri tidak bisa bertarung seimbang karena harus melindungi ibunya.
"Biar aku yang menyelesaikannya." Xin Fai maju, namun Lan An menahan dada anak itu sembari berkata. "Biar kakakmu saja yang mengurusnya."
Lan An tidak mau membuatnya terpaksa membunuh lagi, dirinya maju menggunakan sebuah pedang dengan bentuk yang jarang ada di Kekaisaran Shang. Pedang tersebut dalam waktu yang cukup singkat telah mengenai tubuh lawan.
Pendekar besar sebenarnya memiliki kekuatan yang cukup disegani, namun dalam menentukan kuat atau tidaknya seorang pendekar besar dibagi menjadi 6 tingkat. Dan dua pendekar yang dihadapi Lan An hanya pendekar besar tingkat 2.
__ADS_1
Pertarungan antara Chuan Gui dan pendekar agung berjalan cukup sengit, Chuan Gui memuntahkan darah segar ketika terkena serangan mematikan. Dia mundur beberapa langkah namun musuhnya tetap mendesak maju.
Chuan Gui yang dari tadi hanya bisa mundur akhirnya menemukan jalan buntu, dia tidak bisa mundur semakin ke belakang karena terhalang sesuatu.
"Grrhhh..."
Chuan Gui menoleh ke belakang cepat dan mendapati Lang sedang menguap di belakang.
Tanpa basa-basi serigala tersebut melompat dan menikam musuh. Meskipun tidak terlalu membuat pendekar agung itu terluka, Lang tetap saja menikam tanpa menggunakan kekuatan aslinya.
Serigala sepertinya sudah lama tak membunuh, dia menganggap pendekar tersebut menjadi sasaran empuk. Dia akan membunuhnya pelan-pelan untuk melampiaskan rasa jenuhnya selama ini.
Benar saja, bahkan saat Lan An berhasil menumbangkan dua pendekar di hadapannya Lang masih saja bermain-main dengan pendekar agung itu.
"Jangan mempermainkanku siluman gila!" Pendekar yang sudah kehabisan banyak darah itu tentu saja dibuat marah, ketika dirinya mencoba lari justru Lang akan menambah kuat tekanan tubuhnya. Membuat lelaki itu menjerit seperti tikus yang dijerat.
Lang menguap lebar sembari mengaum panjang, Xin Fai menatapi Lang masih dengan wajah yang sama saat mereka pertama kali bertemu.
Sebulan yang lalu di bawah penerangan bulan purnama, bulu emas serigala itu bersinar sangat indah. Membuat Xin Fai hanya bisa berdecak kagum menikmati keindahan bulu serigala itu.
Dan dalam satu terkaman terakhir Lang hendak mengakhiri nyawa pendekar itu, dia mengeluarkan lingkaran cahaya emas yang berputar di sekitar tubuhnya. Pendekar agung di bawah kakinya menjerit keras saat merasakan energi kehidupannya diserap.
"Apaan itu? Menyerap energi kehidupan?" Chuan Gui menatapi pendekar agung itu dengan sorot mata menerka-nerka.
"Dia juga bisa menyerap energi kehidupan?" batin Xin Fai teringat saat di desa Peiyu, ketika dia dibunuh oleh seorang pemanah dan masih hidup esok harinya. Zhishu Yan mengatakan bahwa dia memiliki kekuatan iblis yang dengan alami menyerap energi kehidupan ketika hampir mati.
"Ini semua saling berkaitan... Bagaimana bisa?"
__ADS_1
***