Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 166 - Misi Penyusupan IV


__ADS_3

Daging pecah berhamburan setelah dilalui oleh Xin Fai yang kini seperti berada dalam cahaya emasnya, dari pedangnya tercipta belasan tebasan mematikan setiap detiknya.


Serangan paling mematikan itu baru pernah mereka jumpai seumur hidup, sedangkan pendekar besar sekalipun hanya bisa menjumpai pemandangan seperti itu ketika perang besar yang melibatkan tokoh-tokoh persilatan terhebat.


"Sial... Siapa pemuda itu?" gumam yang lainnya ketakutan, dibanding menjaga nyawa dari binatang buas mereka lebih memikirkan cara bagaimana tidak terlibat masalah dengan pemuda itu.


***


Genangan darah menetes dari dedaunan yang terciprat dari tubuh binatang, di antara gunungan daging yang terpotong-potong Xin Fai baru saja berhenti mengayunkan pedang. Dia mencoba mendengar pergerakan di sekelilingnya sembari berpikir-pikir.


"Kalau aku menghabisi semua hewan di sini mungkin aku akan telat untuk sampai ke markas pusat. Lebih baik aku berjalan terus seperti ini." Dia berbicara tenang, tanpa disadarinya para peserta mengikuti langkahnya dari belakang.


Mereka merasa berada di belakang Xin Fai aman karena pemuda itu terus membuka jalan bagi mereka.


Sebenarnya Xin Fai sedikit kesal juga dimanfaatkan seperti ini, lagipula orang-orang yang berdiri di belakangnya rata-rata adalah pembunuh kelas teri yang mengharapkan uang banyak. Dia tersenyum miring ketika merasakan banyaknya kelabang beracun di depan sana siap menyerang.


"Sampai di sini saja aku mengantarkan kalian. Selebihnya usaha sendiri, ya? Hahaha!" Xin Fai tertawa mengejek lalu melompat cepat hingga jarak mereka melebar, dia dapat mendengar jeritan minta tolong di belakangnya. Entah ke mana rasa simpatinya dulu, jika saja mereka berasal dari aliran putih dia sudah pasti akan menolong namun beda cerita jika mereka adalah calon bibit para Manusia Darah Iblis selanjutnya.


"Tu-tunggu!"


Xin Fai berhenti berjalan cepat dan menyadari seseorang menyusul di belakangnya, dia adalah petani yang selamat beberapa kali berkat keberuntungan dan tidak disangka kali ini dia kembali beruntung karena para kelabang itu terlalu sibuk memakan peserta lain hingga dia bisa melarikan diri.


Tidak tercium sedikitpun bau darah dari tubuh petani ini, Xin Fai dapat memastikan dia tidak tergores barang sedikitpun. "Kau bisa selamat dari maut beberapa kali tanpa terluka?"

__ADS_1


"Hahaha... Begitulah." Pria itu tergelak menertawakan dirinya sendiri, dia tidak tahu apa harus bangga ataupun malu karena yang dia pikirkan saat ini hanya mencapai pusat markas Manusia Darah Iblis dengan segera.


Keluar dari hutan rimba yang sangat menakutkan akhirnya petani itu bisa menarik napas lega, bersamaan dengan Xin Fai dia berjalan menuju sebuah gerbang berhiaskan tengkorak hitam. Terdapat banyak sekali kandang tempat para siluman iblis bersemayam dan beberapa bahkan mulai bereaksi saat menyadari kedatangan mereka.


Salah seorang pendekar di sana menyambut kedatangan mereka, dia membawa mereka ke tempat yang sangat aneh di mana terdapat seseorang yang tengah membakar besi berbentuk kalajengking dengan sebuah kayu sebagai pegangan. Dia bisa merasakan kehadiran tiga orang di belakangnya dan langsung membalikkan badan.


"Masih terlalu awal, kukira para peserta ini akan tiba sebelum matahari terbenam." Dia tersenyum aneh. "Tidak kusangka ada yang bisa keluar dari hutan itu dalam kurun waktu satu jam."


Tidak ada yang merespon perkataannya, Xin Fai memfokuskan pendengaran di tempat lain. Markas ini dipenuhi setidaknya hampir lima ratus Manusia Darah Iblis dan beberapa siluman. Terdengar banyak suara derap kaki, kemungkinan mereka disibukkan oleh urusan masing-masing. Beberapa orang bekerja dan lainnya pesta arak. Para budak-budak yang berhasil ditangkap dikurung di dalam kotak kayu besar. Kebanyakan adalah para gadis dari desa-desa yang berhasil mereka bantai bahkan di dalamnya adalah rakyat dari kekaisaran lain.


Sejenak keadaan hanya diisi dengan bunyi api di dalam tungku, agak lama setelahnya pria di depan mereka mengangkat ukiran kalajengking itu ke atas hingga terlihat besi itu berwarna merah bercahaya seperti hampir meleleh.


"Nah, buka baju kalian."


"Buka atau aku akan menghantam besi ini di wajahmu." Kata-kata yang terkesan memaksa itu membuat sang petani hanya bisa bercicit, dia menelan ludah kuat-kuat ketika Xin Fai telah membuka bajunya.


Besi panas itu menyentuh kulit Xin Fai hingga menimbulkan bunyi terbakar, asap putih mengepul tebal di depannya. Sang petani tak sanggup membayangkan besi itu akan menyentuh kulit dadanya namun apa daya sejak pergi dari rumahnya tadi nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Dia yakin dalam waktu dekat juga nyawanya akan melayang.


"Sudahlah tenang saja pak tua, rasanya seperti digigit semut saja.." Xin Fai memakai kembali bajunya seperti tanpa beban, melihat wajahnya begitu meyakinkan akhirnya si petani memberanikan diri. Dia membuka baju cepat-cepat dan saat besi panas itu menyentuh kulitnya hingga melepuh pria itu berteriak melengking.


"Agghh! Sial! Kulitku!" matanya mengucurkan aliran air, dia meronta-ronta sambil menjerit kesakitan. Tak sanggup bertahan lama akhirnya petani itu pingsan di tempat.


Pendekar yang membawa mereka ke tempat si pandai besi ini menyuruh untuk segera pergi ke sebuah bangunan berukuran sedang dengan bentuk cukup aneh. Xin Fai menopang petani itu dan bergerak menuju ke tempat yang dimaksud.

__ADS_1


Pintu yang dibuat dari besi hitam dengan ukiran ular merah terbuka kala Xin Fai baru saja hendak masuk. Dia langsung saja disambut oleh seorang wanita nyentrik bergaun hitam.


Xin Fai hanya dapat memastikan sosok di hadapannya ini seorang wanita dari bunyi tapak kakinya yang terkesan anggun. Dia memerhatikan wajah Xin Fai dalam dan rasanya ingin sekali mengurung pemuda itu agar tidak lari dari tempatnya.


"Kau peserta yang berhasil lolos, kan? Selamat, ya!" Wanita itu buru-buru menjabat tangan Xin Fai walaupun pemuda itu tidak mengulurkan tangannya. "Perkenalkan namaku Shi Long. Wakil ketua di pusat markas kota Sanmin."


Tanpa mau banyak berbasa-basi lagi Xin Fai izin masuk ke ruangan itu. Shi Long menyuruhnya duduk sebentar untuk menunggu ketua markas datang.


Hari mulai gelap namun tetap tidak ada tanda-tanda kedatangan ketua markas sedangkan Shi Long terus bertanya panjang lebar mengenai dirinya, sebenarnya Xin Fai sudah merahasiakan seluruh identitasnya sejak awal dan berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan namun nampaknya wanita ini sangat ahli membaca pikiran orang.


"Sedari tadi kau berbicara denganku seperti ingin mengakhirinya saja, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"


Xin Fai tertawa masam. "Eh... Bukan begitu, aku hanya kurang nyaman saja. Hahaha." Dia menggaruk tengkuk lehernya sebentar dan menyadari sikapnya itu semakin membuat Shi Long curiga.


"Argh!" Petani yang sedari tadi jatuh pingsan mendadak bangun, Xin Fai menarik napas lega setelah itu.


"Ah syukurlah..."


Si petani mengernyitkan dahi setelah bisa mengendalikan dirinya. "Apa maksud kata syukurlah itu?"


"Hm? Syukurlah kau masih hidup. Kukira kau sudah pindah alam."


"Ya... Ya! Aku baru saja bertemu dengan penjaga gerbang neraka dan menyuruhnya untuk menjemputmu!" balas lelaki itu kemudian, dia dan Xin Fai tergelak sendiri.

__ADS_1


***


__ADS_2