
Selama menempuh perjalanan, Li Yong–pendeta dari Kuil Teratai itu dibuat kewalahan oleh Xin Fai yang terus saja menolong orang-orang selama perjalanan.
Sampai mereka tiba di suatu desa yang mengalami kekeringan Xin Fai lantas turun tangan membantu membuat aliran air dari danau agar mengalir di sawah para petani. Hal ini membuat Xin Fai semakin terkenal di kalangan rakyat miskin, berkat itu juga perjalanan mereka jadi semakin lama.
Li Yong yang saat itu baru saja bersiap melanjutkan perjalanan hanya bisa mendengus pasrah melihat Xin Fai membagikan sejumlah koin emas pada seorang lansia yang hidup sebatang kara.
"Dengan ini nenek tak perlu khawatir lagi harus makan apa besok, sedikit koin emas dariku mungkin bisa membantumu."
"Terimakasih, kau sungguh anak yang sangat baik. Aku berjanji tidak akan melupakan kebaikanmu ini."
Lang mendengus kasar beberapa kali karena tak sabaran, mereka sudah tertahan di desa ini selama dua hari karena Xin Fai bersikeras menolong.
Li Yong sendiri meralat ucapannya beberapa hari yang lalu saat pertama kali bertemu dengan mereka. Xin Fai memang bukan orang berbahaya, bahkan dia terlalu baik untuk menolong orang lain sedangkan dirinya sendiri juga dalam situasi yang lebih gawat.
"Hei bocah, sebaiknya kita harus bergerak cepat. Lihatlah matamu sebelah kanan pun ikut menjadi merah."
Xin Fai meraba matanya dan tak merasakan keanehan apapun, dia menghela napas lalu berpamitan dengan sang nenek.
Akhirnya Li Yong bisa sedikit lega karena perjalanan kembali dilanjutkan, mengingat perjalanan mereka selalu tertunda karena Xin Fai yang tak bisa menahan diri untuk menolong orang lain, sedangkan dirinya sendiri sebenarnya harus ditolong juga.
Li Yong memutuskan untuk mengambil selembar kain hitam dan menutupi mata Xin Fai, kemudian dia mengangkat anak itu layaknya karung beras.
"Hei apa yang terjadi? Kenapa kau mengangkutku begini?"
Li Yong berkilah. "Matamu sudah merah sepenuhnya sekarang, kalau tidak ditutupi akan menimbulkan masalah baru."
"Kenapa harus menggendongku segala?" Xin Fai ingin memberontak lagi, kecepatan berlari Li Yong sangatlah cepat dan terkesan terburu-buru.
"Memang dengan penutup mata itu kau bisa melihat jalan?"
Setelah meyakinkan anak itu beberapa kali Xin Fai akhirnya menurut, dia hanya bisa pasrah diperlakukan demikian.
Sebenarnya tujuan Li Yong menutup mata Xin Fai adalah agar dirinya tak tahu apapun yang terjadi selama di perjalanan. Mengingat belakangan ini Manusia Darah Iblis melakukan pergerakan di mana-mana sudah pasti banyak masalah yang ditimbulkan seperti di desa kecil yang mereka lalui sebelumnya.
Untuk mencapai sekte Kuil Teratai diperlukan waktu sekitar sepuluh hari perjalanan sementara Xin Fai mulai menimbulkan gejala-gejala aneh seperti berbicara sendiri atau tidak bisa tidur karena terus terbayang monster iblis saat menutup matanya. Beberapa kali dirinya juga kehilangan kesadaran selama berjam-jam.
Li Yong menyadari tubuh Manusia Iblis Xin Fai telah memasuki tahap ketiga yaitu penyesuaian jiwa. Wajah pendeta itu kini lebih sering terlihat berkerut, tak pernah lagi senyum ramah terlihat di bibirnya.
Lang sendiri mengernyit saat menyadari permata siluman singa iblis yang dia simpan telah hilang, dan Xin Fai sama sekali tidak mengaku telah mengambil permata itu.
__ADS_1
Padahal jelas-jelas Lang bisa merasakan kekuatan dari permata siluman singa iblis itu kini ada pada diri Xin Fai.
Malam harinya hal gawat lain mulai terjadi, Xin Fai mulai kehilangan kesadaran dan kemudian terdengar tawaan monster iblis dari mulutnya, walaupun hanya beberapa detik hal itu membuat Li Yong semakin mempercepat langkah kakinya untuk segera sampai ke kuil.
Esok harinya saat sedang berlari kencang tiba-tiba tubuh Xin Fai mengeluarkan aura pekat mematikan membuat Li Yong segera melepaskan anak itu dari gendongannya.
"Xin Fai?" Li Yong ingin memastikan bahwa anak itu masih memiliki kesadarannya, wajah Xin Fai berangsur berubah. Wajah ceria yang biasanya terpancar darinya sama sekali tidak terlihat.
Lang serta merta memasang sikap waspada karena aura yang dikeluarkan Xin Fai bukan aura milik dirinya sendiri. Di sebuah hutan dengan banyaknya pohon bambu yang tumbuh, Xin Fai tiba-tiba tertawa keras.
"Apa menurutmu aku adalah bocah menyedihkan ini?" Suara Xin Fai berat dan terkesan seperti suara monster.
"Kau-?! Tak mungkin kau bangun secepat ini!" Li Yong terlihat ketakutan, seharusnya dalam beberapa jam lagi mereka bisa sampai di Kuil Teratai.
"Memang menurutmu setelah mendengar kau ingin membawa anak ini ke tempat menyebalkan itu, aku akan diam saja?"
Lang menggeram di belakang, sekuat apapun dirinya dia tetap ketakutan oleh sang monster iblis yang kini berhasil merasuki Xin Fai. Sementara itu Li Yong berdiri dengan tangan gemetar tanpa berani menjawab.
"Dan juga, kau kira aku akan melemah hanya dengan segel menyedihkanmu itu?" Terdengar tertawaan mengejek, Li Yong mundur beberapa langkah ketika aura membunuh menyerangnya dengan tajam. Dia tahu monster itu sangat kesal padanya karena Li Yong belakangan sering menyegel iblis itu agar tak berkembang lebih jauh.
Tubuh Xin Fai melayang di udara membuat keduanya terkejut, di saat bersamaan aliran energi berwarna merah darah bergerak liar di sekelilingnya. Angin seketika bertiup kencang serta petir menggema di seluruh penjuru.
Menurut Li Yong sendiri untuk mengambil alih tubuh Xin Fai dibutuhkan setidaknya sepuluh persen kesadaran Xin Fai. Dan untuk mendapatkannya, Iblis tersebut harus bertambah kuat.
"Angin Desa Daan!"
Xin Fai yang telah dirasuki mengibaskan tangan begitu saja dan seketika kekuatan dahsyat keluar dan ratusan pisau angin menumbangkan pohon-pohon bambu yang berada di belakang mereka.
Li Yong melompat mundur bersama Lang, mereka melompat lagi ketika Xin Fai melepaskan serangan lain yang lebih mematikan.
Tanpa menggunakan pedang atau senjata apapun keadaan telah luluh lantak dibuat monster tersebut, di atas telapak tangan monster muncul sebuah pusaran api yang terbentuk dari perubahan energi berwujud api.
Li Yong menyadari api itu bukan api biasa, dia berteriak pada Lang. "Jangan sampai kau terkena Api Dewa Iblis!"
Tangan monster melibas mengeluarkan semburan api hitam yang memiliki tingkat kepanasan sangat tinggi. Dalam radius seratus meter hawa panas terasa seperti membakar kulit.
Lang serta Li Yong mengurangi dampak api tersebut menggunakan tenaga dalam, meskipun tak terlalu berdampak seperti sebelumnya tetap saja hawa panas itu sama sekali tak menghilang.
Api Dewa Iblis sendiri sama sekali tak menyebar, ketika mengenai target api tersebut takkan pernah padam selamanya kecuali dipadamkan dengan menggunakan ilmu yang setingkat dengan api tersebut.
__ADS_1
Dalam hitungan detik pohon bambu yang terkena serangan api bukan hanya terbakar, bahkan abu sisa pembakarannya sama sekali tak bersisa. Batu besar yang berada di sekitar mereka dilahap hanya dalam hitungan detik sebelum akhirnya menghilang.
Li Yong mengeluarkan tongkatnya tanpa memikirkan harus mempertahankan nyawa lagi. "Tidak ada pilihan lain selain menghadapinya!"
Sembari mengirimkan sinyal pada sektenya dengan mengandalkan seekor burung, Li Yong maju memainkan tongkatnya.
"Kau hanya manusia bodoh, berhenti membuatku tertawa." Monster tersebut memasang wajah tak suka, dia kembali melepaskan pisau angin yang begitu tajam bahkan ketika Li Yong mencoba menepisnya, ternyata pisau tersebut mengeluarkan bunyi yang sama persis seperti menangkis pedang.
Li Yong terkejut beberapa detik sebelum akhirnya pisau angin mengincar tubuhnya dengan jumlah sangat banyak.
Meskipun berusaha menangkisnya beberapa pisau angin berhasil merobek kulitnya, Li Yong mencoba melawan arus dari pisau angin tersebut hendak mendekati tubuh Xin Fai yang kini dikuasai iblis.
"Xin Fai! Aku tahu kau di dalam! Kau pasti mendengarku!"
Li Yong tak peduli berapa banyak lagi pisau angin yang berhasil menembus kulitnya, jubah birunya kini basah bermandikan darah.
Sedangkan Lang ikut maju menerkam dari arah belakang, lingkaran emas dia lepaskan dalam kecepatan tinggi ke arah monster tersebut.
Namun hal tak diduga terjadi, tubuh Li Yong yang semula berada di depannya kini berpindah ke belakangnya.
Lingkaran emas milik Lang bergerak cepat dan mengenai Li Yong dengan telak.
Li Yong memuntahkan darah segar, dia tak mengerti kenapa tubuhnya berpindah tempat.
"Ilmu Ruang Dimensi?" Lang menggeram, dia melepaskan lebih banyak lingkaran emas.
"Kekuatannya setara dengan dewa. Bagaimana kita bisa mengalahkannya?" cemas Li Yong yang kini memegang dadanya kesakitan, beberapa luka dia sembuhkan menggunakan tenaga dalam. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu menit, dia sudah mengalami luka serius. Padahal Li Yong sudah memasuki tingkat pendekar agung selama setahun ini.
Lang menajamkan penglihatannya. "Kita harus mengeluarkan dua permata iblis dari tubuhnya." Serigala itu melanjutkan.
"Dua permata iblis itu berasal dari siluman tikus dan siluman singa yang kemungkinan besar adalah jelmaan iblis."
"Mengapa kau tak mengatakannya dari kemarin?" Li Yong mulai merasa kesal, seharusnya dua permata iblis itu tidak boleh dipakai oleh manusia. Bukan hanya merebut sisi manusiawi penggunanya namun juga memperkuat Iblis Hati yang berada dalam tubuh manusia.
"Xin Fai butuh kekuatan untuk menghadapi segala pertarungan hidup dan mati, lagipula dia harus mendapatkan ke-33 permata siluman untuk menyempurnakan tubuh Manusia Iblisnya."
Li Yong tak menjawab lagi karena menurutnya yang penting sekarang adalah mengembalikan kesadaran Xin Fai, hidup ataupun mati dirinya harus bisa melakukannya.
Iblis itu belum memiliki jiwa yang utuh, maka dari itu kekuatan sesungguhnya belum keluar. Mungkin tujuannya merebut kesadaran Xin Fai secara paksa agar dirinya tak disegel oleh Pendeta dari Kuil Teratai. Setidaknya itu yang bisa dipikirkan oleh Pendeta itu.
__ADS_1
***