
Xin Fai memasuki sungai itu kembali dan berhadapan langsung dengan ratusan belut, dia seolah terbakar emosi sendiri.
Sedangkan Rubah Petir yang sedari tadi mengintip di kejauhan hanya bisa tersenyum kecil. "Anak itu, walaupun dia bisa mengabaikan perintahku sekarang namun dia tidak melakukannya. Kurasa setelah ini aku tidak akan menyesal telah mengangkatnya menjadi muridku."
Dari permukaan air tampak Xin Fai mengangkat sebelah tangannya yang berhasil memegang satu belut. Dia segera berlari menuju tepi sungai dan membunuh belut itu menggunakan pisau cahayanya.
Rubah Petir menjadi heran saat menatap Xin Fai seolah menaruh dendam amat sangat pada satu belut di tangannya yang kini memberontak. Baik Xin Fai maupun para belut listrik masing-masing memiliki dendam kesumat.
Kepala belut listrik tadi pecah dalam dua kali serang, Xin Fai tersenyum puas dan mengusap kedua tangannya dengan wajah seseram mungkin.
"Setelah ini kalian semua harus mati seperti dia, hahahaha!"
Dalam kurun waktu setengah hari entah sudah ke berapa kalinya Xin Fai mondar-mandir membawa belut listrik, dia mengumpulkan banyak sekali sampai bertumpuk. Akibat terlalu sering disetrum tubuh Xin Fai mulai mati rasa, semua serangan dari mahkluk ganas ini seperti tidak mempan untuk menahannya.
Ketika Rubah Petir datang, Xin Fai telah berhasil mendapatkan sepuluh ekor belut listrik.
Angka dua kali lipat dari yang sebenarnya diperintahkan Rubah Petir tentu saja membuatnya puas, dia menganggap Xin Fai memang layak dijadikan murid.
Sedangkan itu Xin Fai ingin sekali menangkap lebih banyak belut, dia tidak peduli akan khasiat mahkluk ini dan hanya memikirkan balas dendamnya pada mereka.
Xin Fai bertahan di dalam air setidaknya dalam kurun waktu tiga menit dengan bantuan permata siluman di tubuhnya, dia kembali menyatukan pisau cahaya yang membuat penglihatan belut listrik terganggu kemudian mengangkat tinggi-tinggi tangannya lalu menghantam kepala belut ke arah bawah.
Alhasil dalam kurun waktu singkat dia kembali membawa dua ekor belut listrik, totalnya jumlah kini ada 12 belut listrik yang berhasil ditangkap.
Rubah Petir melihat keseluruh belut tersebut sebelum mengatakan sesuatu. "Belut-belut ini bisa kau makan untuk menambah tenaga dalam, hari sudah gelap. Aku ingin kembali ke tempatku. Kusarankan kau jangan meninggalkan goa ini selama beberapa bulan, di luar sana masih ada manusia yang mengincarmu."
Malam harinya Xin Fai membaringkan tubuh di atas bebatuan goa yang amat dingin, napas ditariknya perlahan masih tidak begitu stabil. Bagaimanapun juga mengonsumsi belut listrik bukanlah hal mudah, terlalu cepat memakannya akan membuat tubuhnya tersetrum. Bahkan rambut Xin Fai mulai berdiri sejak memakan belut ke sepuluh.
Tekstur kulit belut listrik yang keras juga membuatnya kehabisan napas, dia menatap langit-langit goa yang kini hanya terlihat gelap gulita. Entah kenapa, sejak tadi pagi dia begitu ingin melihat dunia seperti dulu.
Harapan itu dikubur dalam-dalam sejenak, sebelum dia memiliki kekuatan yang besar untuk menghadapi para monster di luaran sana ada baiknya terus berlatih seperti ini.
"Baiklah, bukan waktunya bermalas-malasan!" Xin Fai melompat lalu mendarat dalam posisi berdiri, dia mulai memasang kuda-kuda seraya menghancurkan batu besar di hadapannya.
Latihan keras malam itu membuatnya menjadi lebih baik, dia merasakan tubuhnya lebih kuat dari sebelumnya dengan bantuan belut listrik. Ketika matahari hendak bersinar, tiba-tiba dia merasakan keberadaan seseorang secara samar.
Xin Fai menolehkan pandangannya mengikuti sumber suara tetapi masih tidak menemukan apa-apa.
__ADS_1
Rubah Petir masuk dari lubang di atas goa, dia memerhatikan gerak-gerik Xin Fai yang terasa mencurigakan.
"Apa yang sedang kau cari?"
"Heee paman Rubah, itu kau?"
Rubah Petir masih ingin mengatai Xin Fai karena memanggilnya paman namun apa daya, panggilan itu sudah melekat di otaknya.
"Maksudmu?"
"Kukira kau tadi lewat di belakangku."
"Kau bodoh? Aku bahkan baru masuk ke sini. Itupun lewat atas." Sang Rubah Petir melepaskan seekor ayam jantan dari mulutnya, dia tahu Xin Fai tak begitu terbiasa memakan belut listrik. Namun nampaknya meskipun sudah tertidur selama empat hari dirinya terlihat tidak kelaparan sama sekali.
Merasakan bau amis Xin Fai mencoba menerka-nerka apa yang dibawa oleh rubah itu.
"Kau bisa menebak apa yang kubawa ini? Jika bisa aku akan membawamu hadiah nanti."
Xin Fai menopang dagunya sembari berpikir-pikir, "Hm... Sekarang rasanya hidung, telinga dan tangan menjadi pengganti mataku sendiri."
"Itu pasti bebek!"
Rubah Petir memasang wajah merenggut. "Anak bodoh! Ini bukan bebek!"
"Jadi?"
"Ayam jantan!"
"Nah, itu dia jawabanku. Mana hadiahnya, aku tidak sabar ingin mendapatkannya."
Jawaban Xin Fai tadi membuat Rubah Petir hendak mengamuk, namun karena hadiah yang dia janjikan ini sudah terlanjur dibawa maka dari itu Rubah Petir segera memberikannya.
Sebuah cincin tersodor padanya, Xin Fai mengambil cincin tersebut berusaha menebak maksud si rubah.
"Aku mendapatkannya dari jasad pendekar yang kubunuh tadi."
"Memang ini apa?" Xin Fai bertanya bingung.
__ADS_1
Lantas saja Rubah Petir tak habis pikir, dia kira Xin Fai mengetahui betapa pentingnya benda itu bagi seorang pendekar.
"Itu cincin ruang, dengan cincin itu kau bisa menyimpan semua barang berharga milikmu."
"Oh, aku baru tahu. Ini untukku, kan?"
"Ya, ambil saja. Aku pun tidak membutuhkannya."
Xin Fai mengalihkan pandangannya ke aliran sungai, dia dapat merasakan para belut di sana seperti mengutukinya karena telah membunuh teman-teman mereka.
Seringai jahil terpampang di wajahnya. "Sepertinya kalian ingin jadi tamu pertama dalam cincin ruang ini, hehehehe...."
Tawa iblis itu terdengar nyaring, para belut listrik di dalam sana menjadi waspada meskipun tak mengerti apa yang Xin Fai katakan, namun dari ekspresi mengerikan itu mereka dapat merasakan suatu bahaya.
"Oi bocah, sebelum itu teteskan darahmu ke cincin ruang agar dia bisa mengenali pemiliknya."
Xin Fai meneteskan setitik darah dari jarinya ke cincin tersebut, dia mulai belajar menggunakan cincin ruang dari Rubah Petir.
"Setelah itu coba kau praktekkan sendiri cara memakai cincin tersebut."
Xin Fai mengibaskan tangannya hendak menyimpan dua belut listrik yang tersisa di genggaman sebelah kanannya. Dua belut tersebut menghilang seketika seperti sulap.
"Keren! Apa dengan cincin ruang ini aku bisa menyimpanmu juga?" Xin Fai berkata tanpa berpikir dua kali, sontak saja perkataan tersebut membuat Rubah Petir menjawab aneh.
"Menyimpan Siluman Penguasa Langit sepertiku? Kau gila? Mana mungkin bisa!"
"Yah..." Xin Fai mendengus pelan, dia teringat dengan naga air yang ingin sekali berpetualang melihat dunia bersamanya, sayang waktu itu entah benar-benar akan terjadi atau justru dirinya akan mengingkari janji. Mengingat banyaknya hal yang harus Xin Fai lakukan untuk ke depannya.
Keheningan terjadi selama beberapa saat, sebelum akhirnya sang rubah membuka suara.
"Jika dipikir-pikir lagi sudah berapa tahun aku hidup di sini terus..."
Tak tahu mengapa Rubah Petir tiba-tiba berkata demikian, Xin Fai tetap menjawab.
"Ribuan tahun?" Dia menebak meskipun sudah tahu berapa jawabannya.
***
__ADS_1