
"Mereka memasukkan darah itu ke dalam minuman orang-orang! Karena itulah jumlah mereka semakin banyak! Mau itu anggota resmi atau bukan..." Xin Fai mengeratkan kepalan tangannya. "Mereka tetap bergerak atas hasrat membunuh itu, mengikuti iblisnya..."
"Perbuatan kotor ini benar-benar tidak bisa dimaafkan!" Zhuan Ang menghentakkan tangannya di meja menimbulkan suara dentuman, Gong Li mencoba menenangkan namun pemuda itu sudah terlanjur kalap.
Pikiran semua orang tentu sama seperti apa yang dirasakan Zhuan Ang, tidak ada yang ingin membantah karena memang perkataannya benar. Rapat kembali dilanjutkan, mereka yang lebih berpengalaman menyampaikan usulan yang sekiranya bisa membantu menghadapi permasalahan ini.
"Kita harus menyiapkan puluhan ribu pasukan untuk menghadapi musuh terbesar ini, dengan begitu, aku akan melakukan apapun yang ku bisa dan kau," nenek tua itu menunjuk Xin Fai. "Aku tahu kau memiliki kekuatan untuk menghadapi ini semua, terserah bagaimanapun caranya, kau yang harus memimpin peperangan ini!"
Keriuhan melunjak dengan banyaknya pertanyaan keluar dari mulut mereka, tentu saja penasehat itu memiliki reputasi kuat dan jarang sekali keputusannya salah. Dia dengan tanpa ragu langsung menunjuk Xin Fai.
Xin Fai berdiri menunjukkan hormatnya. "Aku bersedia, setelah aku resmi diangkat menjadi Pilar Kekaisaran kita akan langsung menyambut mereka di kandangnya."
***
Kain layar berkibar kencang akibat angin selatan yang begitu kuat, air laut bergerak-gerak bersama suara burung camar sore hari. Pelabuhan kota ramai dalam sekejap mata dan perjalanan menuju Kuil Teratai menjadi cukup sulit dilakukan karena tidak ada kapal yang bergerak menuju arah tujuan mereka.
Shen Xuemei menghela napas berkali-kali, sudah berapa lama dia menunggu Xin Fai kembali namun dilihat dari kejauhan saja dia sudah tahu tidak ada yang bersedia membawa mereka. Sembari menunggu pemuda itu memikirkan sesuatu. Keputusan rapat tertutup pagi tadi adalah suatu rencana besar dan melibatkan banyak pihak, pasti akan terjadi pro dan kontra di seluruh Kekaisaran Shang nantinya.
Selain itu sekte Gunung Angin Timur secara langsung mendukung perang besar yang mungkin akan terjadi dalam kurun beberapa tahun lagi, tergantung seberapa lama persiapan dilakukan. Mengumpulkan puluhan ribu pendekar tentu dibutuhkan waktu cukup lama, bahkan banyak yang berkemungkinan besar menentang keputusan ini.
Mau bagaimana lagi, sekte Gunung Angin Timur memiliki pengaruh kuat. Bukan tidak mungkin mereka mengajak sekte besar lainnya bergabung. Apalagi klan Ren memiliki pengaruh besar dalam politik Kekaisaran, cepat atau lambat lautan darah akan kembali terjadi lagi di depan matanya.
__ADS_1
"Oi, Senior Shen!" Xin Fai mengibaskan tangan beberapa kali di depan mata Shen Xuemei namun pemuda itu tidak sadar sama sekali. Beberapa saat akhirnya dia berkedip dan terkejut saat melihat Xin Fai tengah berdiri di depannya.
"Aku menemukan satu kapal yang searah dengan tujuan kita, sekarang, ayo kita berangkat." Xin Fai berlari sambil memakai isyarat tangan menyuruh ikut bersamanya.
Zhu Yue memaksakan senyumnya kala Shen Xuemei berdalih menatap. Entah apa yang sudah terjadi saat dirinya sibuk melamun hingga wakil Aliansi Pedang Suci itu bergemetar ketakutan. Terlihat pemilik kapal setengah berlari ke memasuki kapalnya, dia segera melambaikan tangan menyuruh mereka masuk.
Angin sore yang terlihat damai saat berada di daratan berubah menjadi gulungan awan mencekam saat tiba di tengah laut. Gelombang mulai naik mengangkat lambung kapal, angin menghempas beberapa barang dan menceburkannya ke dalam laut dengan kecepatan tinggi.
Situasi ini memang sudah diperkirakan sang pemilik kapal sebelumnya, namun karena Xin Fai memaksa dan mengatakan dia harus segera pergi ke tempat tujuan pria itu tidak memiliki pilihan.
Lagi-lagi sebuah gelombang besar datang dan menghantam dinding kapal amat kuat, membuat kapal tersebut bergerak seolah akan tertelungkup. Tiang layar mulai patah kemudian diterbangkan angin ke belakang, kayu tersebut menancap di bahu salah satu anggota aliansi tanpa disadari.
Petir bersambung-sambung di bawah kepulan awan gelap, dalam keadaan serba genting itu mereka tetap bertahan hingga akhirnya satu jam kemudian kondisi mulai stabil. Beberapa orang memuntahkan isi perutnya di pinggir kapal, bersungut-sungut lalu menggelengkan kepala. Hantaman gelombang yang dahsyat tadi begitu mengerikan.
"Akhir-akhir ini cuaca semakin memburuk..." ujar si pemilik kapal menengadahkan kepala ke atas langit.
"Bukannya itu sudah wajar?" Xin Fai menyusul ke arahnya. Sekilas nampak raut ketakutan di wajah pria itu.
"Aih, kudengar belakangan ini di laut lepas yang berseberangan dengan kota Renwu ada seekor Siluman Penguasa Bumi yang menampakkan diri. Bahkan jika kau melihat dari pinggiran laut saja wujudnya akan kelihatan."
"Maksudmu, si naga air itu?"
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan Siluman Penguasa Air itu, mendengar suaranya saja aku sudah ingin meloncat."
Kabar tersebut membuat Xin Fai terdiam agak lama hingga tak jauh dari pandangan mereka tampak sebuah pelabuhan kecil dan beberapa kapal pengangkut barang berhenti di sana. Sayup-sayup suara keramaian mulai terdengar sampai akhirnya kapal disenderkan.
Aliansi Pedang Suci turun serempak dengan tertib, beberapa dari mereka masih pucat pasi akibat mabuk laut. Ho Xiuhan yang diikat agar juga tak sadarkan diri, Xin Fai mengangkut tubuh pria itu dan naik ke atas kuda yang dibeli oleh Zhu Yue.
Sedangkan Shen Xuemei dikawal oleh Zhu Yue sendiri karena kondisinya yang juga tidak bisa dibilang baik-baik saja. Mereka berjalan beriringan melewati desa kecil dan masuk melalui hutan-hutan lebat yang tiada habisnya.
Letak Kuil Teratai terbilang sangat tersembunyi, bangunan kuil-kuil ini didirikan persis di depan gunung dengan hamparan danau luas di depannya.
Aroma dari bunga-bunga liar mulai terasa, suasana lama yang dirindukan Shen Xuemei dan juga Xin Fai mulai terlihat di depan mata. Daun dan bunga berguguran di jembatan yang menghubungkan langsung dengan gerbang sekte. Bendera Kuil Teratai dan juga lonceng besar seakan menyambut kedatangan mereka semua. Namun anehnya tidak ada siapapun di tempat ini, hal itu membuat Aliansi Pedang Suci berhenti saat tiba di gerbang.
Samar-samar hawa keberadaan seseorang mulai terasa, Xin Fai mengangkat wajah kemudian menarik pedang menanggapi serangan secara tiba-tiba di belakang tanpa menoleh.
Sosok yang berniat menyerang mereka terpaku dalam beberapa detik, dia tercekat napasnya sendiri kala melihat Shen Xuemei. Bola matanya yang dulu penuh harapan kini mulai keruh akibat rasa lelah yang tak henti datang melanda. Lelaki itu adalah Li Yong, pendeta Kuil Teratai yang masih berdiri tegap mempertahankan sektenya.
"Shen Xuemei..." Nada bicara pria itu bergetar, dia melepaskan tongkat dalam genggamannya dan beralih mendekati murid kesayangannya itu.
"Kau masih hidup, syukurlah."
Shen Xuemei turun dari kuda, memeluk gurunya yang telah lama dia rindukan. Entah mengapa dirinya merasa ada yang kurang, pemuda itu menoleh mencari-cari keberadaan seseorang namun tak bisa menemukannya.
__ADS_1