Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 27 - Kota Anguo


__ADS_3

Matahari pagi menyapa tubuh Xin Fai dengan hangat, anak itu mengedipkan matanya berulang kali ketika melihat sebuah Padang rumput yang luas. Belum sepenuhnya sadar, dia bisa mendengar suara geraman Lang di bawahnya.


"Grrrhhhh... Dasar pemalas. Tidur saja kerjamu."


Xin Fai terbangun di atas punggung Lang, serigala tersebut berjalan cukup pelan agar majikannya tak jatuh dari tubuhnya. Anak itu mengerutkan alis, seharusnya dia yang mengatakan hal itu mengingat Lang yang suka tidur selama di penginapan.


"Tubuhku sakit semua..." keluh Xin Fai ketika mencoba duduk, dia kembali telentang sembari menatap langit biru di atasnya.


Saat ini sendi tulangnya sangat nyeri, ia mencoba bergerak sedikit dan bisa merasakan sakit yang sangat amat membuatnya tersiksa.


"Ahhk apa yang terjadi dengan tubuhku?"


Lang mendengus pasrah. "Kau melampaui batas kemampuanmu semalam, lihat sendiri tenaga dalammu sampai habis tak bersisa."


"Ah iya, aku bisa merasakannya." Xin Fai membuang napas berat, jika mengingat kejadian semalam dia sendiri pun tak percaya mengapa kekuatannya sebesar itu.


Mungkin karena kematian Mu Liong membuatnya begitu sedih sampai hilang kendali, untuk kesekian kalinya hati Xin Fai kembali berkabung. Meski baru mengenal Mu Liong sebentar tapi dia sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


Xin Fai mengalihkan perhatiannya, ia menengok ke padang rumput yang luas penasaran.


"Di mana kita sekarang? Paman Gui ke mana?"


Lang menunjuk ke sebelahnya, terlihat pasukan berkuda yang dipimpin oleh Chuan Gui di sana.


"Kita akan ke Anguo sambil memulihkan tenaga dalammu. Mereka bilang akan mengobatimu sesampainya di sana."


Dalam perjalanan Chuan Gui mengatakan bahwa mereka telah merampas beberapa koin emas dan pil-pil yang berguna untuk meningkatkan tenaga dalam ataupun penawar racun. Dia berjanji akan memberikannya sebagian pada Xin Fai dan sebagian lagi untuknya mengingat Pasukan Seribu Kaki juga berperan banyak dalam pertarungan semalam.

__ADS_1


Xin Fai mengangguk setuju tanpa banyak pertanyaan, dia menghela napas berat saat mendengar perutnya keroncongan.


"Baiklah, kurasa tidak ada salahnya kita pergi ke kota Anguo, perutku sangat kelaparan dari semalam." Anak itu tertawa kecut sambil membaringkan tubuhnya, ia melipat kedua tangan di bawah kepala seraya memandang langit dengan lama. Banyak hal yang berkelebatan di kepalanya.


"Mei Lian... Apa dia dan penduduk lainnya selamat?"


"Sepertinya, aku melihat tapak kaki mereka melewati arah ini." Lang menjawabnya dengan cuek.


"Baguslah kalau begitu."


Perjalanan memakan waktu hingga petang sampai akhirnya mereka tiba di sebuah kota yang padat, di sana banyak orang berlalu lalang dengan menenteng barang bawaan.


Xin Fai membuka peta untuk melihat kota Anguo, setelah mengamati dengan seksama setidaknya ia harus melewati tiga kota besar untuk mencapai Kota Zhu letak Kuil Teratai yang menjadi tujuannya.


Perjalanan menuju kota Zhu bukanlah hal yang mudah, meskipun sudah menyadarinya Xin Fai tetap saja tidak menduga akan membunuh banyak orang dengan tangannya.


Lang hanya membiarkan Xin Fai membiasakan diri dengan hal tersebut, cepat atau lambat seorang pendekar akan mengambil nyawa orang demi melindungi apa yang akan dilindunginya.


Chuan Gui memberi hormat ketika Xin Fai telah turun dari Lang, mereka telah tiba di depan sebuah penginapan.


"Untuk sementara kita akan menginap di sini, kami akan mengirim surat kepada Senior Yan tentang kedatanganmu."


"Apa itu masih lama? Aku tidak bisa terlalu lama di sini," kata Xin Fai berterus terang, dia ingin mencapai Kota Zhu secepat mungkin.


Chuan Gui mengerti keadaannya, namun tetap harus menahan Xin Fai karena kondisi tubuhnya tak memungkinkan. "Tunggulah tiga sampai empat hari, Tuan. Kami akan menyiapkan ramuan dan obat untuk memulihkan tubuh Anda."


Tak mau berdebat lebih jauh Xin Fai mengangguk mengerti, setelah mendapat kamar ia masuk ke dalam ingin sekali beristirahat. Lang sendiri tidur di pojokan dengan menggulung ekornya.

__ADS_1


"Pembantaian seperti itu harusnya tidak terjadi lagi," ucap Xin Fai membuka obrolan. Sedari tadi dia tidak bisa membayangkan jumlah korban jiwa yang melayang akibat insiden tersebut jika terus berlanjut.


Saat ini pendekar aliran hitam semakin mengganas, sejak kematian pendekar terkuat nomor dua sudah banyak aksi besar-besaran yang dilakukan oleh mereka. Salah satunya dengan pembantaian desa-desa kecil dan merampas seluruh harta dari desa yang mereka kuasai.


"Pembunuhan akan terus terjadi, kau tidak melihat di mana-mana banyak pendekar aliran putih bergerak?"


Xin Fai mengalihkan perhatiannya. "Aku tidak tahu, tapi kota ini sangat ramai. Apakah akan terjadi penyerangan lagi?"


"Mungkin."


"Hhhh..." Anak itu mendengus seraya membenarkan posisi duduk. "Aku tidak mau orang-orang terus menderita karena manusia-manusia keji itu, atas nama Pejuang Liong aku bersumpah akan membunuh semua Manusia Darah Iblis dari muka bumi ini!"


Xin Fai berkata dengan begitu yakin, Lang mulai mencoba memahami karakter anak itu. Dia sangat ambisius dan keras kepala, namun di balik itu semua hatinya sangatlah bersih.


Lang sempat kagum untuk beberapa saat, di perjalanan sebelumnya Xin Fai yang saat itu telah dirampok berujar bahwa para perampok itu sebenarnya tidak akan melakukan kejahatan seandainya mereka memiliki banyak uang.


Saat masih di Peiyu Xin Fai beberapa kali bertemu dengan orang seperti itu, dan salah satu dari mereka pernah berteman dengannya. Dari perampok tersebut Xin Fai belajar bahwa tidak semua orang jahat adalah orang yang memiliki sifat jahat. Mereka kadang dipaksa berbuat demikian karena keadaan. Untuk menberi makan anak istri semua hal akan dilakukan, termasuk dengan cara merampok.


Menurut Xin Fai sendiri orang yang pantas dibunuh adalah mereka yang membunuh. Begitu katanya sepanjang perjalanan, pemikiran Lang jadi sedikit berubah sejak hal itu. Dirinya semakin yakin untuk menjadikan Tuannya untuk menjadi orang terkuat.


Mengingat Xin Fai yang selalu mengutamakan Lang sepanjang perjalanan. Xin Fai sengaja berburu dan menangkap kelinci kecil supaya bisa memberi makan serigala itu. Meskipun Lang tak pernah memintanya.


"Semakin lama kau makin mirip dengan Qiang Jun." Batin Lang, ia memejamkan mata hendak beristirahat.


Sebuah ketukan pintu terdengar, Chuan Gui menyapa dari luar.


***

__ADS_1


__ADS_2