Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 254 - Nada Seruling Kematian


__ADS_3

Lan An sontak menoleh ke belakang, menggerakkan kepalanya ke segala arah hingga di balik lemari usang terlihat sosok bayangan hitam yang terbentuk dari kegelapan malam. Tidak terlihat jelas mahkluk apa yang tengah berdiri di sana.


Xin Fai hendak mendekatinya namun tak berselang lama kemudian sebuah tiupan seruling terdengar, nadanya membuat siapapun akan risau saat mendengarnya. Pikiran Lan An kacau dalam beberapa detik, Xin Fai merasakan hal yang sama. Dia menyuruh Lan An untuk berkonsentrasi agar tak terdampak serangan dari bentuk suara ini, nyatanya efek yang dirasakan Lan An jauh lebih besar darinya. Dikarenakan batu permata di dalam tubuh Xin Fai dapat menahan suara ini sebanyak lima puluh persen. Permata itu sendiri didapatkannya dulu ketika berada di goa siluman kelelawar bernama Fu Shi.


Lan An jatuh bersimpuh dengan telinga berdarah, dia menahan teriakan di ujung tenggorokan sangat kesakitan. Tidak memiliki cara lain Xin Fai berusaha mencari sumber suara tersebut, dia dapat melihat sosok bayangan di balik lemari telah berpindah tempat. Pergi ke luar jendela dan menghilang dengan meninggalkan sisa bunyi yang masih terdengar di mana-mana.


"Sepertinya ini baru permulaan saja..."


Lan An berusaha bangkit usai mendengar kalimat itu, diiringi lengkungan alisnya yang menurun menunjukkan rasa takut. Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan yang sangat pelan.


Keduanya terdiam dalam hening. Mencoba menerka-nerka siapa yang melakukannya di pintu depan. Macan yang berdiri di samping mereka bahkan tidak mau bergerak satu langkah pun, dia juga dapat merasakan bahaya besar sedang mengepung mereka.


Pintu berderak-derak sampai terlepas dari tempatnya, suara dentuman yang begitu besar menyusul setelah itu. Suara-suara aneh timbul tenggelam di depan sana sedangkan Lan An dan Xin Fai masih membatu. Suasana mengerikan ini membuat tubuh mereka sama sekali mati rasa.


Xin Fai mulai bisa mengendalikan diri dari tekanan berat yang menghimpit dadanya, udara seakan menipis lambat laun dan itu semua pasti memiliki sebabnya. Dia menarik pedang dari sarungnya kemudian mengarahkannya sejajar dengan bahu sembari menarik napas dalam.


Saat itu dia seperti kembali ke masa lalu, bertahan hidup sendirian di hutan gelap bahkan dalam keadaan tak bisa melihat apapun. Xin Fai tersenyum sekilas, dia bersuara setelahnya.


"Kalau kita bisa bertahan sampai besok pagi kurasa ini akan menjadi berita yang cukup mencengangkan. Dua orang pemuda selamat dari desa kematian Guangfu, bukankah itu keren?"


Lan An tertawa mengejek, nyaris seperti tidak percaya apa yang baru saja dia dengarkan. "Bertahan hidup? Mereka hanya menakutkan, tidak sehebat itu untuk membunuh kita berdua."

__ADS_1


"Kau yakin?"


Angin kencang beserta petir membuat atap rumah seketika terbuka, membuat hujan deras memasuki ke dalam tanpa henti. Lantai bergetar sebentar dan di saat bersamaan pula suara seruling kembali terdengar di sekitar mereka. Lan An menarik pedangnya seraya mendecak kesal, anehnya si pengguna seruling ini sama sekali tidak bisa dilacak keberadaannya. Bunyi yang mereka dengar terdengar di segala arah, sulit untuk menentukan di mana musuh berada.


Sementara itu hal lain telah terjadi, saat ini ratusan tengkorak yang sebelumnya mereka lihat tergeletak di atas tanah bangkit. Sinar cahaya merah mengelilingi kerangka sebagai pengendali, mereka berjalan beriringan memasuki rumah kedai mengikuti alunan seruling musik


Terpaksa ataupun tidak mereka harus menghadapi gerombolan mayat tulang ini berdua, meskipun hanya tersusun dari tulang-tulang tapi kekuatan mereka bisa sebanding dengan pendekar menengah, meski lebih banyak yang kekuatannya sekelas pendekar kelas teri. Macan juga melakukan hal yang sama, binatang itu mengaum dan menanduk apapun yang berada di depannya.


Lan An terkesiap ketika berhasil memotong satu kerangka tulang di hadapannya, mahkluk itu kembali berdiri meskipun tulangnya telah patah. Energi jahat yang mengelilingi tubuhnya tanpa henti memberikan kekuatan, membuatnya sama sekali tidak bisa dimusnahkan.


"Celaka... Ini sama saja seperti menulis di atas air!"


"Membunuh mereka tidak ada gunanya," tambah Xin Fai menarik pedangnya. Dia mendongak ke atas atap rumah berharap sang pengendali mayat ini berada di sana tapi dia sendiri tidak dapat merasakan siapapun di sana.


"Pantas saja semua orang yang memasuki desa ini mati, ada seseorang yang melindunginya dan aku yakin itu bukan manusia..."


"Bukan manusia? Si pengguna seruling itu?"


"Dia seperti roh, aku bisa merasakan energi roh seperti Kaibo. Tapi yang membedakannya adalah kekuatan yang dia miliki lebih condong ke aliran sesat."


"Benar juga, Kekaisaran Qing terkenal dengan ilmu hitam yang hebat. Membangkitkan mayat seperti ini bukan hal yang mengejutkan lagi."

__ADS_1


Selagi terus menghabisi mayat hidup Lan An melirik ke arah macan, dia terpaku di satu titik untuk beberapa lama. Xin Fai tertarik untuk melihat apa yang sedang diperhatikan Lan An, dia menoleh mendapati macan tersebut menerkam mayat di tanah dan menghancurkan batu merah yang berada di balik tulang rusuk mereka. Membuat sinar merah miliknya padam tak bersisa.


Xin Fai dan Lan An saling bertatapan. Merasa memiliki cara untuk menghabisi para mayat hidup ini.


"Tantangan bertahan hidup sampai pagi, bukannya itu menarik?"


"Menarik sekali. Kita lihat siapa yang sesak napas besok pagi," balas Lan An kembali menyalurkan tenaga dalam pada pedangnya, membuat senjata itu bersinar di tengah gelapnya malam.


Pertarungan panjang telah berlangsung selama lima jam tanpa henti membuat hampir seratus mayat hidup tergeletak di rumah kedai, Lan An mulai tidak fokus seperti di awal tadi. Tubuhnya berat dan semakin berat, tempo nada yang terdengar dari seruling tidak bisa ditolerir lagi oleh telinganya yang terus mengeluarkan darah kental.


Xin Fai lebih dulu mengetahui hal ini, dia melompat ke atas atap mencari-cari di mana pengendali mayat hidup ini tapi sama sekali tidak menemukannya. Di bawah Lan An benar-benar hampir ambruk, untungnya sang macan segera melindunginya. Macan itu sepertinya bukan sepenuhnya binatang buas, melainkan siluman yang belum mencapai umur ratusan tahun.


Sedangkan dari atas Xin Fai dibuat kaget saat melihat lautan mayat hidup tengah bergelimpangan berjalan ke arah mereka, dia menajamkan penglihatannya agar bisa melihat di kegelapan malam. Pedang dalam cengkramannya berbunyi saat menggesek atap, dari atas sana pemuda itu dapat melihat sosok bayangan hitam tengah meniup seruling di atas cerobong asap rumah lain.


Segera tanpa membuang waktu Xin Fai mendekati bayangan itu, dia bergegas pergi berupaya mendekat lewat atap-atap perumahan dikarenakan para mayat hidup telah menguasai jalan desa. Kecepatan berlari yang nyaris tak bisa disadari itu membuat sang bayangan kegelapan baru waspada saat Xin Fai telah berjarak hanya dua meter lagi darinya.


Xin Fai mengayunkan pedangnya secara langsung, membuat seruling yang tengah dimainkan itu terpotong kemudian memudar bersama bayangan tersebut. Suara-suara burung gagak terdengar di sekitarnya tapi Xin Fai sama sekali tidak terpengaruh, dia yakin sosok bayangan tersebut masih berada di dekatnya. Untuk itu jurus dari Kitab Terlarang mulai dia gunakan, Ilusi Hujan Darah membuat malam hujan yang dipenuhi oleh kegelapan kini berubah menjadi langit merah darah.


**


seandainya aku pnya editor buat ngedit naskah TnT

__ADS_1


maafkan aku bila ada typo, seharian ngejar 3k kata di sela2 kesibukan aku jd gk sempat revisi


__ADS_2