Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 154 - Tiga Macan Tutul


__ADS_3

"Hahaha, puluhan ribu tahun lebih tepatnya..." Mata peraknya bersinar saat bias matahari terpantul di sana, sang rubah menatap ke lubang di atas goa. Sesekali helaan napas berat terdengar dari mulutnya.


"Apa segitu membosankannya untuk para siluman seperti kalian?"


"Bisa dibilang begitu, puluhan ribu tahun bukan waktu yang sebentar. Kami seolah dikurung dalam kandang, kehadiran kami justru akan membuat dunia manusia tidak akan damai seperti saat ini."


Dikatakan damai pun rasanya kata itu tidak cocok, namun Xin Fai hanya bisa mengangguk mengiyakan, suara aliran sungai menemani obrolan mereka siang itu. "Kalau kalian hadir di tengah-tengah manusia pasti banyak yang ingin menjadikan kalian hak milik diri sendiri. Seluruh kekaisaran di belahan bumi ini akan mengincar kekuatan kalian, tapi aku bingung akan satu hal," Xin Fai menarik napas sejenak.


"Dengan kekuatan itu seharusnya kalian bisa membunuh semua manusia tanpa terkecuali, jadi kenapa tidak melakukannya saja?"


Rubah Petir tersenyum kecil. "Kami sesama siluman dewa tidak pernah akur. Mustahil hanya menggunakan satu kekuatan siluman dewa untuk membunuh kalian semua. Lagipula, aku juga tidak berniat melakukannya."


"Jadi begitu..." Xin Fai mengangguk pelan karena pertanyaannya telah terjawab. "Jadi kau memilih tinggal di tempat membosankan seperti ini?"


Kenyataan pahit yang dikatakan Xin Fai memang benar adanya, Rubah Petir ingin sekali mengamuk melampiaskan kekesalannya selama ini. "Benar sekali, hanya melihat matahari terbit di timur dan tenggelam di barat setiap hari sangat membosankan."


"Mau melihat yang tidak membosankan?"


"Bagaimana?"


"Kalau begitu kau ingin melihat matahari terbit dari barat?" Xin Fai tertawa dengan cengiran lebar.


"Bodoh! Itu namanya kiamat!"


"Hahahahha!"


Si Rubah Petir berhenti menengadah kemudian menoleh ke arah Xin Fai pelan.


Meskipun kini Xin Fai sudah tidak bisa melihat lagi tak terlihat raut kesedihan di wajahnya. Dia masih saja terlihat ceria seperti tanpa beban.

__ADS_1


"Sepertinya hari-hariku tidak akan membosankan lagi setelah ini."


Xin Fai memasang wajah lempeng. "Apa mataharinya sudah terbit dari barat?"


"Bukan itu! Tapi sekarang aku melihat matahari yang bersinar lebih terang dari yang di atas."


"Haaa? Kau mengatakan apa juga aku tidak paham, paman rubah!"


Rubah Petir tidak memedulikan omelan Xin Fai setelah itu. Sejenak tidak ada obrolan lagi, merasa suasana begitu lengang Xin Fai berinisiatif mengalihkan topik pembicaraan.


"Dengan tubuh kecil seperti itu seharusnya kau bisa menyelinap di antara para manusia."


Rubah Petir terdiam tidak mengerti akan apa yang Xin Fai katakan. Dia menunggu sambil berpikir-pikir banyak kemungkinan, lebih dulu Xin Fai menjelaskan. "Mungkin hanya sebentar saja kita keluar dari tempat ini sekedar jalan-jalan, bukannya kau juga ingin melihat keadaan di luar sana?"


"Huh! Kukira apa!" Rubah Petir mendengus kencang, Xin Fai mengernyit heran akan perubahan sikap Rubah Petir yang begitu drastis. "Kalau sebentar saja aku bisa pergi sendiri!"


Sembari menggaruk telinganya tak tahu harus menjawab apa Xin Fai menyengir, sepintas dia mengingat sesuatu yang akan menjadi tujuannya di petualangan nanti. "Kau tahu di mana Dataran Yang?"


Sejenak Rubah Petir teringat akan sesuatu yang terjadi di masa lalu, sedikitnya saat para siluman dewa sepertinya masih berkeliaran di bumi ini dia pernah mendengar nama seseorang yang akrab dengan siluman dewa itu.


"Xin?! Apa kau keturunan Xin?"


Anggukan Xin Fai menjadi jawaban, si rubah itu tidak habis pikir mengapa ini semua terlihat seperti kebetulan semata. Xin Fai adalah generasi penerus tubuh Manusia Iblis yang lahir seribu tahun sekali, dan juga keturunan dari keluarga Xin.


"Aku akan membawamu ke sana jika sudah menemukannya, jika aku bisa."


"Sudahlah, tidak usah. Aku juga tidak menginginkannya," tolak Rubah Petir mentah-mentah. Seperti yang dikatakannya tadi siluman dewa tidak akan pernah akur dikarenakan mereka selalu merasa lebih kuat dari yang lainnya. Pertarungan dua siluman dewa seperti mereka saja bisa meluluhlantakkan satu kota penuh. Maka dari itu setiap siluman ini tidak pernah tinggal di satu tempat yang sama.


"Ya sudahlah kalau kau tidak mau," Xin Fai beranjak dari tempatnya menuju tepi sungai, dia berniat menceburkan diri lagi.

__ADS_1


Rubah Petir masih berpikir-pikir di tempatnya, sejenak hanya suara percikan air yang terdengar. Satu per satu belut listrik dibawa ke darat, Xin Fai mengambil belut sebanyak yang dia bisa.


Sejauh yang dilihatnya selama ini, satu ekor belut listrik dapat menambah sebanyak 2 lingkaran tenaga dalam, dia juga tak begitu yakin angka itu akan tetap sama meskipun mengonsumsi lebih banyak belut lagi.


Setelah mendapatkan enam belut listrik berikutnya Xin Fai beristirahat sebentar, dia mengambil salah satu belut dan memakannya. Sensasi aneh terasa selama beberapa saat sebelum khasiat hewan itu mengalir dalam tubuhnya.


"Selain belut listrik ada banyak yang lain untuk menambah tenaga dalammu."


Rubah Petir meloncat ke atas batu kemudian berkata. "Ikuti aku."


Xin Fai mematung selama beberapa detik karena merasakan kecepatan berlari Rubah Petir sangat mengerikan, ditambah lagi tidak bisa melihat ke mana arah rubah itu pergi dirinya menjadi semakin kebingungan.


"Mataku sekarang adalah telinga dan hidungku sendiri. Ck, aku harus menyusul rubah itu secepatnya!"


Mengandalkan pendengarannya yang tajam Xin Fai membelah semak-semak, dia masih dapat mencium aroma tubuh Rubah Petir secara samar-samar. Sejak penglihatannya tak berfungsi lagi indera lainnya menjadi sangat sensitif, bahkan suara tapak kaki rubah yang sudah terpaut ratusan meter bisa didengar olehnya.


"Cepat susul aku, atau kau akan berada dalam bahaya!" Rubah Petir bersuara kencang di kejauhan. Xin Fai mengumpat kesal karena perkataan itu benar-benar terjadi saat ini. Tiga macan tutul datang bersamaan menghampirinya.


Ukuran tubuh yang setara dengan sebuah pohon besar membuat langkah binatang itu terdengar berat, Xin Fai bersiap menarik pedangnya demi menghadapi segala serangan berbagai arah.


Di tempat lain sang rubah yang baru saja kembali ingin melihat keadaan murid barunya itu tersenyum puas. Dia sengaja membawa Xin Fai dalam bahaya, demi melatihnya agar menjadi lebih kuat.


"Keberuntunganmu jelek sekali, harus bertemu dengan tiga rombongan binatang yang cukup kuat di hutan ini."


Sang Rubah Petir menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin di atas pohon. Ekor tebalnya melibas memerhatikan langkah yang akan Xin Fai ambil selanjutnya.


"Mari kita lihat seberapa besar kekuatan anak kecil ini."


Tiga ekor macan tutul memandangi Xin Fai waspada cukup lama, mereka justru merasakan tekanan berat dari mangsa kecil di hadapan sana. Xin Fai sengaja mengeluarkan aura pembunuh sebanyak mungkin untuk menakuti mereka namun sayangnya hal itu hanya berlangsung sebentar sebelum salah satu dari mereka menyerang.

__ADS_1


Macan tersebut menikam, mulut dengan gigi taring sangat tajam itu bersiap mengoyak tubuh Xin Fai. Dua macan tutul lainnya memulai untuk menyerang juga sedang Xin Fai melompat mundur. Dia beralih menaiki dahan pepohonan tinggi, sesaat dua dari macan tutul menanduk pohon yang disinggahinya sampai bergetar.


__ADS_2