Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 53 - Tangisan Lian Sheng


__ADS_3

Setelah berhasil mendapatkan barang-barang yang diinginkan Xin Fai memutuskan untuk kembali ke penginapan, namun di jalan utama kota terlihat kegaduhan yang dikerubungi banyak orang.


Xin Fai mendekati kerumunan dengan rasa penasaran dan sebenarnya arah itu juga menuju penginapannya.


Tubuh pendeknya membuat Xin Fai tak bisa melihat apapun, dia mendengus jengkel karena usahanya melihat apa yang sedang terjadi sia-sia. Bahkan kakinya sampai diinjak beberapa kali, Xin Fai mengumpat dalam hati saat melihat kakinya memerah.


Sambil membuang napas Xin Fai berniat meninggalkan tempat itu, ia berjalan menghindari keramaian takut diinjak seperti tadi. Namun mendadak tubuh seorang pengawal terpental menabraknya.


Xin Fai ditimpa oleh tubuh kekar pengawal, dirinya mencoba bangkit namun pengawal yang lain juga jatuh ke tempat yang sama. Ditimpa oleh dua orang lelaki dewasa sungguh membuat tulang-tulang Xin Fai menjerit.


Terlihat seorang pria bergaya kebangsawanan memandangi kedua pengawal itu penuh amarah, sorot matanya dilalap emosi.


"Jangan bercanda! Istriku tak mungkin meninggal, aku sudah menyewa lima pendekar terbaik di kota ini untuk mengawalnya! Tidak mungkin.... Tidak mungkin!!" Lelaki dengan rambut cokelat agak pirang itu hendak menangis, bibirnya bergetar dengan tenggorokan tercekat.


Perlahan dia meneteskan air mata membuat seorang gadis yang mirip dengannya maju mengelus pundak lelaki itu.


"Kakak, aku juga tidak akan percaya dengan berita itu... Kita harus menyelidiki kebenaran ini secepatnya."


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Xin Fai batuk keras di bawah dua pengawal, mereka beralih menatap Xin Fai.


"Ada seorang anak kecil? Bagaimana bisa, hei minggir kau dia hampir gepeng!" Seru seorang pengawal yang ikut ditimpa oleh pengawal satu lagi. Mereka minggir teratur membuat Xin Fai bisa menarik napas setelahnya.


"Aku hampir saja mati konyol..." gumam Xin Fai mengelus dadanya. Kedua pengawal itu meminta maaf seraya memastikan bahwa Xin Fai baik-baik saja.


Sesaat datang dua orang pendekar menghadap pada dua bangsawan itu. Mereka berlutut.


"Lapor, kami sudah memeriksa Hutan Terkutuk sesuai perintah Tuan dan melihat hanya kereta kuda Nyonya Xia He bersama pengawalnya yang tersisa di sana. Orang yang tinggal di sana bilang bahwa siluman raja tikus yang bersemayam di sana telah dibunuh."


Seorang pendekar yang lainnya memberikan penjelasan berikutnya. "Di sana kami menemukan belasan makam milik Nyonya bersama pengawalnya. Seseorang telah membuatnya untuk beliau, kami menduga orang tersebut adalah orang yang membunuh raja siluman tikus."

__ADS_1


Pria bangsawan di depan mereka hampir saja pingsan mendengar laporan itu, dia tak bisa menerima istrinya sudah tiada.


"Yang benar saja? Kenapa... Kenapa?!" Ia mencengkram rambut cokelatnya depresi, air mata mengalir begitu saja di pipi mulusnya.


Sedangkan orang di sekitar mereka turut berdukacita mendengar berita buruk tersebut. Nyonya Xia He adalah seorang anggota kerajaan, meskipun bukan keluarga inti namun dia memiliki pengaruh di Kekaisaran. Suaminya yang bernama Lian Sheng tak bisa menerima hal itu, ia tetap menganggapnya sebagai kebohongan bahkan semua ini mimpi belaka.


Namun pendekar tersebut mengeluarkan hanfu yaitu sebuah hiasan rambut dengan deretan bunga putih milik Xia He yang merupakan barang kesayangannya.


Lian Sheng menerimanya dengan tangan bergetar, ia menggelengkan kepala tetap menolak kenyataan.


"Bagaimana dengan bayiku? Apakah dia selamat?" Lian Sheng menatap penuh harap setelah memastikan hanfu di tangannya benar-benar milik istrinya.


"Kami tidak menemukannya di manapun."


"Apa bayiku mungkin masih hidup? Kumohon, cari dia! Aku tidak mau kehilangan dia setelah istriku, pergi! Cari anakku sampai ketemu!" Lian Sheng berseru kencang membuat dua pendekar itu segera bergerak, mereka berlari dengan kecepatan tinggi.


Sementara pengawal membubarkan kerumunan, Xin Fai tak mau pergi dari tempatnya membuat beberapa dari mereka kesulitan mengusirnya.


"Cepat pergi sebelum kami menggunakan kekerasan!"


Lian Sheng hendak memasuki kediamannya bersama tangis yang tak bisa dibendungnya lagi. Adiknya berusaha menenangkan Lian Sheng namun pria itu sangat mencintai anak istrinya, dia tak menyangka hari ini akan kehilangan kedua orang sangat disayanginya.


Keributan di antara para pengawal membuat adik Lian Sheng terganggu, ia mendekati Xin Fai yang kini diseret-seret. Namun anak kecil itu tidak bergeser seinci pun walaupun sudah ditarik sekuat tenaga.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Wajah gadis itu tersinggung karena Xin Fai. Dia sangat tak suka jika terjadi keributan di kediamannya.


Lian Sheng hendak kembali ke dalam dengan wajahnya yang semakin pucat pasi seperti kehilangan banyak darah. Bola mata pria itu redup kehilangan semangat hidup.


"Apa yang kalian maksud dengan Nyonya Xia He itu pemilik benda ini?"


Xin Fai mengeluarkan sebuah tatahan dengan ukiran indah dalam jubahnya, netra mata gadis itu melebar dan segera merebut benda itu dari tangan Xin Fai.

__ADS_1


"Siapa kau sebenarnya?!"


Lian Sheng yang sebelumnya tak tertarik akhirnya mengembuskan napas melihat adiknya begitu gaduh di sana. Meskipun sekujur tubuhnya lemas namun Lian Sheng tetap tak bisa membiarkan adiknya dalam masalah.


Lian Sheng sempat mengerutkan dahi ketika melihat orang yang berada di hadapan adiknya adalah seorang bocah dengan penampilan sederhana. Namun dari mata anak itu sendiri, Lian Sheng bisa memastikan dia bukan orang sembarangan.


Mata emas Xin Fai terpantul sinar matahari membuat siapapun akan takjub dibuatnya, namun Lian Sheng mengalihkan perhatiannya dan bola matanya bergulir pada sebuah tatahan di tangan adiknya.


"Ini--!?"


Lian Sheng menatap Xin Fai penuh harap.


"Apa kau tahu sesuatu tentang anak dan istriku?!"


"Ikut aku," kata Xin Fai berbalik badan tanpa banyak berkomentar lagi. Lian Sheng dan juga adiknya segera mengikuti dengan kepala dipenuhi pertanyaan, puluhan pengawal mengikuti mereka.


Lian Sheng tak keberatan harus berjalan kaki karena semua ini menyangkut keselamatan anak istrinya.


Sedangkan adiknya terus saja menggerutu karena sungguh tak percaya sepenuhnya pada Xin Fai.


Tatapan penduduk kota kali ini terkunci pada mereka, beberapa yang pernah bertemu dengan Xin Fai menutup mulut ketakutan mengingat kejadian sebelumnya. Saat Xin Fai mengeluarkan aura pembunuh di depan seorang pedagang sombong.


Hingga mereka tiba di sebuah penginapan yang disewa oleh Xin Fai, pemilik penginapan menyambut mereka dengan hormat.


Tatapan pemilik penginapan pada Xin Fai berubah sangat drastis, kini dia memperlakukan anak itu layaknya seorang dari keluarga kerajaan. Dia menyesal telah menaikkan harga kamar terlalu tinggi kepada Xin Fai karena takut anak itu tak bisa membayarnya.


"Mari ikut ke kamarku."


***


jiwa +62 ku bergetar😂klo ada ribut2 pasti langsung rame tuh, apalagi tetangga. kita ribut dikit eh mereka yang heboh

__ADS_1


kira2 di China kyk gitu juga gak? kurang tau sih akunya


__ADS_2